Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Hard News

Masyarakat Bergerak, Perubahan Iklim Sudah di Depan Mata

by Muhammad Zaky Nur Fajar
6 November 2021
in Hard News, Nasional

Perubahan iklim dinilai banyak pihak merupakan sebuah permasalahan yang nyata dihadapi oleh umat manusia saat ini. Jika tidak ditangani secara bijak, fenomena tersebut dapat mengancam eksistensi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Dengan urgensinya yang semakin tinggi, pemerintah Indonesia dinilai kurang serius dalam membawa isu perubahan iklim di dalam setiap kebijakan yang diambil.

Aksi Damai “Global Day Action: Menolak Solusi Palsu”

Pada Jumat (05/11) siang, aksi damai bertajuk “Global Day Action: Menolak Solusi Palsu” diselenggarakan oleh Aliansi Perlawanan Perubahan Iklim di Balai Kota DKI Jakarta dan Monumen Patung Kuda. Novi, salah satu peserta aksi asal Jeda Iklim, menyatakan telah banyak kegiatan serupa yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia untuk mengawal COP26 (Conference of Parties 26) yang dapat mempengaruhi arah kebijakan terkait iklim dunia. 

“Aksi ini merupakan aksi bersama berbagai elemen, seperti BEM, organisasi, komunitas, bahkan individu untuk menyuarakan global climate strike yang diselenggarakan di seluruh dunia agar dapat memberikan atensi bagi delegasi yang saat ini sedang berdialog dengan pemimpin-pemimpin negara  di COP26 Glasgow,” jelas Novi. 

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa COP26 yang saat ini sedang mempertemukan berbagai pemimpin dunia di Glasgow dianggap merupakan pertemuan para elit yang hanya memberikan solusi-solusi palsu terkait lingkungan. Pidato Jokowi di pertemuan tersebut juga dirasa hanya sekedar bentuk “pelaporan” pencapaian negara terkait lingkungan yang sebenarnya tidak signifikan memperbaiki kualitas lingkungan tanpa memberikan gebrakan berarti. 

Selain itu, ketidakseriusan pemerintah dalam krisis iklim terlihat dari cuitan Siti Nurbaya, Menteri KLHK, yang sempat heboh di Twitter beberapa waktu lalu. Ia menyatakan bahwa “Pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi”. Berbagai kondisi tersebut membuat berbagai lapisan masyarakat tergerak menyuarakan tuntutan kepada pemerintah melalui aksi damai.

Solusi Palsu, Masyarakat Perlu Tahu

Novi juga menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di tengah terik matahari ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap isu lingkungan. “Kita sih berharap aksi ini dapat dilihat oleh teman-teman media dan dapat diekspos baik di media cetak maupun online, kita generasi muda menolak semua janji-janji palsu dan omong kosong pemerintah terkait perubahan iklim,” tegas Novi. 

Novi berpesan bahwa aksi ini sama sekali tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Namun, hal yang mesti digarisbawahi adalah jangan sampai tujuan ekonomi membuat pemerintah dan masyarakat abai terhadap lingkungan. “Mau seberapa besar dan seberapa banyak pertumbuhan ekonomi kita, tapi kalau lingkungan kita rusak ya sudah, duit kita akan habis buat perbaikan lingkungan dan memang perubahan iklim sebenarnya sudah di depan mata kita,” pungkas Novi

Didukung oleh Sejumlah Elemen Masyarakat

Beragam elemen masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, mulai peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan hidup. “Kita sama-sama setuju bahwa krisis iklim merupakan masalah bersama. Aksi ini gua lihat cukup ramai ya dan berarti banyak gitu yang peduli,” terang Basandra, selaku koordinator lapangan BEM se-UI dalam aksi ini.

Menurutnya, alasan ia tergerak untuk tergabung dalam aksi ini karena banyaknya kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang dinilai palsu terkait krisis iklim. Salah satu isu yang menarik perhatiannya adalah mengenai mobil listrik. “Kalau dari segi energi ya, mobil listrik kan dibilang ramah lingkungan, tapi kita harus lihat lagi nih listriknya dari mana, kalau dari energi kotor ya tetap berdampak buruk bagi lingkungan,” jelas Basandra. 

Ia juga menekankan bahwa energi merupakan penyumbang perubahan iklim terbesar kedua setelah deforestasi dan jumlahnya selalu signifikan. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai merupakan solusi ketahanan energi yang cukup riskan di Indonesia. “Energi nuklir rawan terjadi kebocoran karena wilayah di Indonesia hampir semua rawan gempa. Kebocoran ini justru dapat menyebabkan radiasi dalam jangka panjang dan antar regional,” jelas Basandra.

Diawali dengan Longmarch

Aksi damai ini dimulai dengan melakukan longmarch dari Balai Kota DKI Jakarta hingga ke depan Monumen Patung Kuda. Peserta aksi berjalan sambil membawa poster bertuliskan kritik dan tuntutan mereka terkait permasalahan lingkungan yang ditujukan untuk pemerintah. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan orasi yang disampaikan oleh perwakilan berbagai organisasi dan komunitas yang hadir dalam aksi tersebut. 

Selepas orasi, acara tersebut menampilkan sketsa teatrikal yang menggambarkan konferensi tandingan COP26 versi anak muda. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes karena COP26 dianggap hanya mengakomodir kepentingan pihak elit semata. Aksi ini ditutup dengan penyampaian berbagai tuntutan peserta aksi kepada pemerintah Indonesia agar lebih memperhatikan lingkungan dalam pembangunan ekonomi yang selama ini sering dielu-elukan.

 

Infografis oleh Shahifa Assajjadiyyah

Editor: Nismara Paramayoga, Muhammad Ramadhani, Maurizky Febriansyah

Muhammad Zaky Nur Fajar
Ketua Umum at Badan Otonom Economica |  + postsBio

Nyemplung ke bidang jurnalistik secara tidak langsung, tetapi sekarang dibuat jatuh cinta dengan jurnalistik

  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Seri Kepemimpinan BEM FEB UI 2024: Dinamika Pencalonan dan Insentif Berorganisasi
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Problematika Honor Asisten Dosen di FEB UI: Mulai dari Ketidakjelasan Waktu Cair hingga Pemotongan Sepihak
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Board Game “Emisi”: Sarana Belajar sambil Bermain tentang Krisis Iklim
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Batas Waktu Perpanjangan Pendaftaran Pemira Hampir Ditutup, Benarkah Tidak Ada Calon Ketua BEM FEB UI yang Mengambil Berkas?

Related Posts

Hari Hutan Sedunia: Swasembada Energi di Atas Deforestasi
Soft News

Hari Hutan Sedunia: Swasembada Energi di Atas Deforestasi

Harmoni Terkoyak: Hutan Adat Papua Merintih di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
Kajian

Harmoni Terkoyak: Hutan Adat Papua Merintih di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide