Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Hard News

Rafli-Jee vs Kevin-Chiara: Adu Gagasan untuk BEM dan FEB UI yang Lebih Baik

by Muhammad Zaky Nur Fajar, Shafira Taqiyya & Muhammad Ramadhani
2 Desember 2021
in Hard News

Eksplorasi Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB UI dilaksanakan selama dua hari, dan mendapatkan atensi yang cukup banyak dari IKM FEB UI. Pada hari pertama (29/11), dilakukan eksplorasi atas kedua pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB UI 2022 oleh tiga orang panelis, yaitu Syekhan Adesia Ramadhan (Ketua BEM FEB UI 2018),  Vida Kurnia (Wakil Ketua BEM FEB UI 2019) dan Akbar Muhammad (Ketua BEM FEB UI 2020). Panelis banyak membahas mengenai grand design dari masing-masing pasangan calon. Sementara di hari kedua, dilakukan eksplorasi pasangan calon oleh moderator dan tanya-jawab oleh publik. Eksplorasi yang dilaksanakan melalui Zoom ini diwarnai dengan pernyataan komitmen dari kedua pasangan calon untuk kepengurusan BEM FEB UI 2021 ke depannya.

#UnityInnovation vs. #ConnectionThroughDiversity

Pada hari pertama pelaksanaan eksplorasi, pasangan nomor urut 1 (Rafli-Jee) diberikan kesempatan pertama untuk menampilkan grand design BEM yang akan dilaksanakan dalam kepemimpinan mereka jika terpilih. Tagar #UnityInnovation memiliki makna keselarasan dalam mencapai tujuan mereka. “Inovation merupakan cara kami dan proses kami dengan mengedepankan kreativitas, adaptivitas, kolaborasi, serta relevansi dalam proker kami,” sambung Rafli.

Sebagai tandingan pasangan calon nomor urut 1, Kevin-Chiara membawakan tagar berupa #ConnectionThroughDiversity. Mereka menganalogikan IKM FEB UI sebagai warna dengan banyak spektrum, bahwa setiap orang dari IKM FEB UI memiliki warna yang berbeda-beda. “Kami percaya siapapun mereka di FEB UI dengan kepribadian mereka tanpa mengecualikan apapun itu, mereka memiliki hak untuk berekspresi dan memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan dari BEM FEB UI,” sambung Kevin.

Baca selengkapnya: BerkasPEMIRAFEB2021

Menanggapi pemaparan grand design, Vida (BEM FEB UI 2018)  menyayangkan terkait penjelasan makna dan poin-poin yang akan dibawakan dalam tagar Kevin-Chiara maupun Rafli-Jee. Vida menilai tagar Kevin-Chiara seharusnya membawakan kelompok yang dianggap minoritas atau kurang representasinya di lingkungan FEB UI; itulah seharusnya  makna diversity di dalam tagar mereka. Adapun mengenai tagar inovasi yang dibawakan Rafli-Jee, Vida menilai masih banyak inovasi yang disebutkan yang hanya merupakan sebuah “peningkatan”,  dan justru masih banyak hal potensial yang tidak dibahas.

Adaptasi Daring ke Luring

Rafli menjelaskan bahwa persiapan pertama yang akan dilakukan oleh Rafli-Jee adalah melakukan hearing dengan seluruh fungsionaris BEM FEB UI dan para alumni FEB UI melalui program kerja baru dari Departemen PSDM. Rafli-Jee juga merasa bahwa diperlukan adanya cross check ke pihak fakultas terkait kesiapan dalam menghadapi pembelajaran luring, baik dari fasilitas protokol kesehatan maupun pemberian bantuan terkait akses mahasiswa luar daerah ke lingkungan kampus. 

“Fakultas harus menyiapkan wadah untuk mahasiswa apabila mereka mengalami kebingungan bahwa offline itu seperti apa, sehingga fakultas harus menyiapkan wadah tersebut untuk memberikan arahan kepada para mahasiswa, apa yang harus mereka lakukan dan apa yang dapat mereka persiapkan untuk offline ini,” tambah Jee.

Sementara itu, Kevin-Chiara menjawab persiapan terkait adaptasi daring ke luring dengan memeriksa kesiapan fakultas, mulai dari tenaga pendidikan yang telah divaksinasi, fasilitas protokol kesehatan, dan kondisi gedung serta fasilitas di FEB untuk digunakan kembali. 

Chiara menambahkan, “Salah satu yang bisa kami lakukan adalah melalui program kerja Adkesma yaitu DIARI, di mana kita akan menyebarkan survey kepada mahasiswa, kita lihat mahasiswa tuh butuhnya apa sih? Agar hasilnya relevan, kita harus bener-bener melalui survey. Setelah melakukan survey, kita riset dan lihat output-nya apa, baru kita audiensikan kepada pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab seperti dekan, Biro Pendidikan, PKM, dan lain sebagainya.” 

Penurunan Minat Kepanitiaan dan Organisasi Internal FEB UI

Kedua pasangan calon menganggap bahwa kegiatan kuliah online merupakan faktor utama yang melatarbelakangi turunnya minat kepanitiaan dan organisasi internal FEB UI. “Karena online terjadi penurunan vibes kepanitiaan dan organisasi tersebut, sehingga mahasiswa baru (maba) merasa bahwa kepanitiaan dan organisasi tersebut kurang seru,” jelas Kevin. “Stigma bahwa kepanitiaan dan organisasi gak ngapa- ngapain saat online membuat mahasiswa lebih memilih magang karena menganggap bahwa magang dapat memberikan value added yang lebih berdampak di masa depan,” terang Jee.

Eksplorasi isu ini juga mendiskusikan kemungkinan penurunan minat  dikarenakan organisasi dan kepanitiaan internal sudah tidak lagi memberikan value yang dibutuhkan mahasiswa. “Sebenarnya value added kepanitiaan dan organisasi jelas masih ada karena tetap ada yang berminat. Namun, memang karena preferensi yang berubah, misalnya menganggap bahwa value magang lebih bermanfaat bagi mereka,” terang Rafli. Senada dengan Paslon 1, Paslon 2 juga tetap yakin bahwa kepanitiaan dan organisasi internal tetap memberikan value. “Hal yang mesti diperhatikan di sini adalah apakah value tersebut bisa tersampaikan atau tidak. Mungkin permasalahannya adalah cara pengemasan saat oprec,” Jelas Kevin. 

Kekerasan Seksual dan Kesehatan Mental

Rafli-Jee berencana untuk menambah fasilitas Ruang Asa sehingga tidak hanya sebatas isu kesehatan mental, tetapi juga menjadikannya sebagai tempat pelaporan dan validasi kasus kekerasan seksual di FEB UI. Jee menjelaskan bahwa jangkauan Hopehelps UI terlalu besar, dan HopeHelps sendiri menghimbau agar FEB UI mulai membentuk satuan penanganan kekerasan seksual yang lebih dekat dengan mahasiswa FEB UI.

Namun, Rafli-Jee juga memberikan catatan tambahan terkait kapabilitas Ruang Asa untuk mengawal isu kekerasan seksual. “Untuk penanganan isu kekerasan seksual yang mendalam, menurut kami Ruang Asa belum mampu melakukan hal tersebut. Perlu adanya ahli serta lembaga yang hadir untuk menanggulangi masalah tersebut, seperti Hopehelps UI,” jawab Rafli. 

Berbeda dengan Rafli-Jee, wujud komitmen Kevin-Chiara adalah melalui partisipasi aktif dalam tim ad hoc yang dibentuk bila ada laporan, serta mendampingi pelapor dan korban kekerasan seksual yang juga dapat berujung pada masalah kesehatan mental. “Kami sangat ingin mengadvokasikan keberadaan psikolog profesional, karena memang dalam beberapa kasus sudah cukup parah, dan memang harus dilayani oleh tenaga profesional. Kalau kita berbicara Ruang Asa, ini kan masih peer counselor bentuknya, yang hanya sebatas ‘peer’ atau teman sebaya yang akan mendengarkan ceritanya. Tetapi untuk kemudian memberikan masukan, itu membutuhkan tenaga profesional,” jelas Kevin. 

Chiara menambahkan, bahwa mereka akan mengadvokasikan kepada pihak fakultas terkait layanan konsultasi dengan psikolog ini secara gratis untuk mahasiswa. “Mengingat terbatasnya human resources dari psikolog, maka mahasiswa yang ingin mendapat layanan konsultasi tersebut harus melewati problem assessment terlebih dahulu oleh psikolog, untuk mengetahui apakah masalah tersebut benar-benar memerlukan konsultasi atau tidak,” tambah Chiara.

Pergerakan BEM FEB UI dalam Isu Sosial Politik

FEB UI selama ini dianggap sebagai salah satu fakultas yang apatis terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang, baik intra maupun ekstra kampus. Padahal, kedua Paslon sangat setuju bahwa aktivisme mahasiswa masih dibutuhkan oleh masyarakat.

“Saat ini kalau kita melihat masyarakat-masyarakat kecil yang tidak mempunyai akses untuk bersuara dan audiensi menggantungkan harapannya kepada mahasiswa. Hal inilah yang menyebabkan idealisme dari mahasiswa masih dibutuhkan dan relevan pada era sekarang,” terang Kevin. Kesempatan menimba ilmu lebih tinggi juga menjadi tuntutan moral mengapa mahasiswa mesti peduli dengan isu sosial-politik. “Mahasiswa memiliki intelektual, energi, dan massa yang besar, sehingga memiliki kekuatan lebih untuk menjadi wakil dalam menyuarakan isu yang berkembang di masyarakat,” terang Rafli.

Lalu, dalam meningkatkan kesadaran IKM FEB UI akan isu sospol, pembumian isu dinilai oleh kedua paslon sebagai salah satu langkah utama yang mesti dilakukan. “Pembumian dan peningkatan awareness terhadap isu bisa dilakukan dengan tiga gerakan kastrat, yaitu kajian, aksi, dan propaganda. Kita harus membuat propaganda yang kreatif dan membuka wadah diskusi, sehingga diharapkan dapat tercipta sebuah komunitas yang lebih peduli terhadap isu sosial-politik,” jelas Kevin. 

Di lain pihak, Paslon 1 tidak menafikan bahwa preferensi setiap mahasiswa berbeda-beda dalam hubungannya dengan minat terhadap isu sosial politik, dan kita tidak bisa menyalahkan hal tersebut. “Namun, pembenahan tetap perlu dilakukan, seperti pengenalan aksi mahasiswa terlebih kepada maba melalui OPK FEB UI, pengawalan isu dengan berkolaborasi, misalnya dengan BEM UI dan Brigade UI sebagai representasi yang paling tepat lah bagi aksi dan propaganda ini,” jelas Rafli. 

Arah Inklusivitas BEM FEB UI 

Kedua paslon sepakat bahwa akan menghadirkan BEM FEB UI yang lebih inklusif dan mengayomi seluruh mahasiswa tanpa membedakan asal daerah. Dalam membantu mahasiswa daerah yang mengalami kesulitan, Paslon 1 mengedepankan pendekatan kepada teman sekelas dan bekerjasama dengan himpunan. “Kami bisa melakukan tracking melalui teman sekelas yang memiliki rasa kekhawatiran akan teman yang berasal dari daerah, menjadikan Adkesma sebagai tempat yang reachable, serta bekerja sama dengan himpunan karena mungkin memiliki data yang lebih spesifik, sehingga kita punya data yang terintegrasi juga,” tutur Jee.

Paslon 2 menjelaskan pula bahwa usaha mereka dalam menjangkau mahasiswa daerah dilakukan melalui kerja sama dengan paguyuban serta biro pendidikan. “Adkesma sudah memiliki hubungan baik dengan dekanat, khususnya Biro Pendidikan (dalam kasus ini). Nah, ke depannya kita ingin menaikkan trust dari Adkesma agar tidak hanya bisa di-reachout tapi juga me-reachout serta berkomunikasi lebih intense dengan Biro Pendidikan,” tambah Chiara.   

Untuk mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi atau kepanitiaan, khususnya bagi mereka yang berasal dari luar daerah dan memiliki starting point berbeda, kedua paslon menjamin bahwa mereka tetap bisa berkembang. “Kembali pada poin kebermanfaatan di dalam grand design kami. Program-program kerja kami tidak hanya berfokus pada fungsionaris BEM FEB UI, melainkan seluruh IKM FEB UI,” ucap Jee. Paslon 2 menyorot fungsi Ruang Asa dalam masalah ini. “Sebenarnya, teman-teman yang memiliki starting point berbeda butuh wadah atau hanya butuh sekedar didengarkan, karenanya Ruang Asa hadir untuk menjadi tempat mereka curhat dan didengarkan,” jelas Kevin.

Kendati banyak usulan inovasi untuk mengoptimalisasi berbagai program kerja, kedua paslon masih perlu menjelaskan parameter keberhasilan usulan-usulan tersebut. Saat ditanya oleh Panelis 3 (Akbar), dan pada sesi tanya-jawab dengan moderator, kedua pasang calon masih belum bisa menjelaskan secara teknis parameter keberhasilan “optimalisasi” mereka.

Sebagai konseptor, kedua pasang calon terlihat memiliki banyak ide dan niatan baik, tetapi belum disertai rencana realisasi yang pasti. Maka dari itu, warga FEB UI yang akan merasakan dampak dari konsepsi ide tersebut harus dapat terus mengawal agar inovasi dan ide kedua paslon tidak berhenti pada tahap konsepsi semata.

Editor: Tahtia Sazwara, Anugerah Pekerti Islamilenia, Nismara Paramayoga

Ilustrasi: Viona Avinda

 

Muhammad Zaky Nur Fajar
Ketua Umum at Badan Otonom Economica |  + postsBio

Nyemplung ke bidang jurnalistik secara tidak langsung, tetapi sekarang dibuat jatuh cinta dengan jurnalistik

  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Seri Kepemimpinan BEM FEB UI 2024: Dinamika Pencalonan dan Insentif Berorganisasi
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Problematika Honor Asisten Dosen di FEB UI: Mulai dari Ketidakjelasan Waktu Cair hingga Pemotongan Sepihak
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Board Game “Emisi”: Sarana Belajar sambil Bermain tentang Krisis Iklim
  • Muhammad Zaky Nur Fajar
    Batas Waktu Perpanjangan Pendaftaran Pemira Hampir Ditutup, Benarkah Tidak Ada Calon Ketua BEM FEB UI yang Mengambil Berkas?

Related Posts

Seri Kepemimpinan BEM FEB UI 2024: Dinamika Pencalonan dan Insentif Berorganisasi
Hard News

Seri Kepemimpinan BEM FEB UI 2024: Dinamika Pencalonan dan Insentif Berorganisasi

Selangkah Lagi IKM FEB UI Aman dari Kekerasan Seksual
Hard News

Selangkah Lagi IKM FEB UI Aman dari Kekerasan Seksual

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide