Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Hard News

Terapkan Sistem Pengacakan Dosen Dalam Pengisian IRS, Birpend FEB UI: Dosen Tak Pengaruhi Penilaian

by Titania Nikita Aulia Putri, Khansa, Muhammad Syakhsan Haq & Fauziah Nurzijah Adilah
16 Agustus 2024
in Umum

“Selama masih ada kecurangan terhadap integritas akademik, kita harus merespons hal itu, akan terus kami lakukan. Anggap saja (kebijakan baru) ini tantangan bagi mahasiswa dalam kehidupan, seperti halnya nanti di dunia kerja, tidak selalu menemukan atasan kerja yang bisa menjadi panutan. Challenge yourself!“ tambah Ririen Setiati Riyanti (Ririen) selaku Manajer Pendidikan FEB UI.

FEB UI resmi menetapkan kebijakan baru dalam registrasi akademik Tahun Ajaran 2024/2025 ganjil di mana mahasiswa tidak lagi dapat melihat nama dosen yang mengajar di setiap kelas pada seluruh mata kuliah. Mahasiswa baru dapat mengetahui nama pengajarnya ketika periode registrasi akademik sudah berakhir atau pada Minggu (18/8). 

Kabar ini sempat beredar beberapa hari sebelum registrasi akademik dimulai dan akhirnya benar-benar diterapkan. Peraturan baru ini menimbulkan kontroversi di kalangan mahasiswa FEB UI. Merespons hal tersebut, pada Kamis (15/8), Tim Reportase Economica menemui Ririen untuk mencari informasi lebih lanjut.

Biro Pendidikan: Dosen Bukanlah Pengaruh Utama Mahasiswa dalam Mendapatkan Nilai Bagus 

Ririen berpendapat bahwa salah satu pertimbangan dicetuskannya kebijakan baru ini adalah karena pihak fakultas merasa bahwa nilai mahasiswa tidak akan dipengaruhi oleh dengan siapa mahasiswa itu diajar. “Mahasiswa tetap aktor utama. Seharusnya, siapapun dosennya tidak berpengaruh ke penilaian,” ungkapnya.

Bahkan, Ririen sempat menyatakan tidak perlu adanya pemilihan kelas ataupun dosen di setiap semesternya. Ia menjelaskan, “Menurut saya, semua dosen sama. Dosen FEB UI sudah di-assess oleh fakultas sehingga punya kapabilitas untuk mengampu mata kuliah.” 

“Kalau yang saya lihat, kecenderungannya (di) semua kelas ada (mahasiswa) yang mengisi, sehingga apapun (kebijakan) yang dilakukan, baik menutup nama dosen maupun mengacak dosen, seharusnya tidak memiliki dampak negatif untuk mahasiswa. Karena pusat pengendalian nilai yang didapat mahasiswa ialah mahasiswa itu sendiri,” tambah Ririen.

Bot, Joki, dan Sistem SIAK-NG yang Kacau

Maraknya penggunaan bot dan joki pada pengisian IRS menjadi faktor utama  diberlakukannya kebijakan baru ini. Pasalnya, kehadiran bot dan joki menjadi salah satu sumber kekacauan dalam proses pemilihan kelas. “Kekacauan juga terjadi di SIAK-NG karena banyak juga mahasiswa yang protes akibat terlempar (dari kelas yang sudah dipilih) padahal tidak dalam keadaan waiting list,” ungkap Ririen.

Ririen juga berpendapat bahwa bot dan joki mengarah pada suatu pelanggaran integritas akademik dan ketidakadilan. “Sebetulnya, (penggunaan joki dan bot) merupakan hak setiap orang yang mampu membayar orang yang dapat mengoperasikan. Namun, kita juga mempertimbangkan bagi mahasiswa yang tidak mampu. Itu kan ketidakadilan. Apalagi buat mereka yang sudah secara jujur mendapat kelas dan harus terlempar. Jadi, ada pelanggaran terhadap integritas akademik dari sisi registrasi akademik, “ jelas Ririen. 

Bentuk Diskresi Fakultas, Mahasiswa Bisa Apa?

Kebijakan menutup nama dosen yang dilakukan oleh Biro Pendidikan FEB UI  juga dianggap tidak butuh pengadaan suatu diskusi baik dengan mahasiswa ataupun fakultas lain karena hal tersebut adalah sebuah diskresi fakultas. “Menurut saya, pasti mahasiswa tidak akan mau. Kita enggak perlu juga berdiskusi dengan fakultas lain. Intinya, ada keluhan dari mahasiswa terkait joki bot dan (itu merupakan) tanggung jawab fakultas untuk menindaklanjuti. Itu diskresi setiap fakultas,” ujar Ririen.  

Ririen pun menanggapi rasa keberatan mahasiswa atas kebijakan tersebut. Ririen bertanya, “Jika ini (penutupan nama dosen) ditiadakan, apa yang mahasiswa bisa lakukan supaya enggak ada bot? Karena kemarin kita dikomplain mahasiswa karena sistemnya kacau. Kecuali mahasiswa bisa memastikan tidak adanya penggunaan bot. Dan tidak protes dengan kekacauan di sistem.”

Pro-Kontra Kebijakan Baru Registrasi Akedemik FEB UI

Dari sisi mahasiswa, tanggapan yang datang terhadap kebijakan penghilangan nama dosen menuai pro dan kontra. Mahasiswa yang setuju dengan kebijakan tersebut, Angie (EIE ‘23), menilai bahwa penutupan nama dosen di laman SIAK tidak berpengaruh banyak pada dirinya. “Di semester-semester lalu aku kebanyakan dapat dosen yang non-favorit, tapi nyatanya they weren’t that bad tho. Jadi dengan penetapan seperti itu, bagiku, ya sudah aja,” terang Angie.   

Di sisi lain, Metta (EIE ‘23), merasa bahwa kebijakan baru yang diambil oleh Birpend ini cenderung mendadak dan tanpa adanya pemberian informasi yang jelas. Ia menambahkan, “Kemudian, kalau mau ngumumin adanya perubahan (kebijakan) lebih baik di platform yang jelas seperti instagram Birpend. Jadi kita enggak bingung dalam menerima informasinya. Jujur aja kemarin rasanya ini informasinya dapat dari mana? Beneran atau enggak?”

Selain itu, Metta juga mengungkapkan alasan mengapa joki siak war marak terjadi, “Dosen dari penilaian yang ada itu enggak semuanya ngasih nilai baik dan enak ngajarnya, cuma beberapa saja makanya muncullah yang namanya joki siak war biar mahasiswa dapet dosen yang ‘hijau’ dan enggak ‘kalah’ di siak war. Mungkin awalnya cuma beberapa orang aja yang pakai joki tapi pada akhirnya mahasiswa lain kan kaya merasa dicurangi dong (kita war sendiri masa dia joki) dan karena ga ada tindak tegas sejak awal dari birpend makanya joki siak war makin gencar dicari sama mahasiswa.”

 

Editor: Anindya Vania

Related Posts

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?
Soft News

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata
Hard News

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide