Hustle culture telah menjadi fenomena yang melekat pada dunia mahasiswa, di mana mereka berlomba-lomba mengejar berbagai aktivitas untuk mematangkan diri. Mulai dari pencapaian akademik, lomba, kepanitiaan, magang, organisasi, hingga kegiatan sosial. Budaya ini tidak hanya didorong oleh tuntutan kampus dan persaingan untuk mendapatkan sebuah posisi di dunia kerja, tetapi juga diperkuat oleh tekanan media sosial dan lingkungan sekitar yang membuat mahasiswa merasa harus terus produktif, menempatkan kesibukan dan produktivitas tinggi sebagai standar kehidupan.
Di satu sisi, budaya ini mendorong mahasiswa untuk berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Di sisi lain, tekanan yang berlebihan berisiko menimbulkan stres dan komparasi sosial yang tidak sehat, hingga membuat mahasiswa mengejar segala hal tanpa arah yang jelas dan terjebak dalam toxic productivity. Lantas, sudah seberapa lekat budaya ini di kalangan mahasiswa FEB UI dan bagaimana mereka menelusuri budaya tersebut?
Hustle Culture di FEB UI
Berdasarkan hasil wawancara tim Economica dengan mahasiswa FEB UI, mereka mengakui bahwa fenomena hustle culture ini benar adanya. Pratisara Khansa, mahasiswi jurusan Bisnis Islam, mengatakan bahwa budaya hustle culture sangat melekat pada mahasiswa FEB UI. “Kita memang dari tahun pertama sudah dibiasakan untuk aktif dalam kepanitiaan dan organisasi,” ujarnya. Menurutnya, hustle culture sudah menjadi kebiasaan mahasiswa FEB UI. Ia menambahkan, “Dari kuliah, kita sudah terbiasa mengejar sesuatu yang akan dicapai sehingga akan sangat berpengaruh terhadap karier kita di masa depan.”
Hal serupa juga dilontarkan oleh Dzulfikar, mahasiswa Ilmu Ekonomi. “Di FEB UI, hustle culture cukup terasa karena banyak mahasiswa yang aktif dan ambis,” tututnya. Dzulfikar juga menambahkan bahwa rasa Fear of Missing Out (FOMO) sangatlah wajar dan menganjurkan untuk selektif dalam memilih kegiatan. Menurutnya, mahasiswa perlu mempertimbangkan value added dari kegiatan yang diikuti.
Sebagai mahasiswi yang turut aktif dalam kegiatan di luar kampus, Pratisara menjelaskan bahwa pengalaman magang sangat penting, khususnya karena dapat menerapkan langsung pembelajaran yang selama ini kita lakukan di kelas melalui penjelasan dosen ataupun presentasi. “Menurutku, selain dari organisasi, magang juga perlu banget sih untuk kita. Banyak perusahaan yang memilih fresh graduate karena experience di magang,” jelasnya.
Di sisi lain, Dzulfikar menyatakan bahwa pengalaman organisasi sangat penting untuk melatih teamwork. Jika tidak memiliki pengalaman bekerja sama dalam tim, mahasiswa akan kebingungan bekerja di dunia nyata. Menurutnya, mahasiswa harus bisa menyeimbangkan kepentingan organisasi dan magang. “Nah, kalau semisal kita organisasi terlebih dahulu, kita membangun network dan melatih event management kita. Kita melatih teamwork kita, yang merupakan awal dari bagaimana kamu bisa bersikap secara profesional pada saat magang dan kita bisa menghadapi stakeholders,” terangnya.
Work-Life Balance: Does It Make Sense?
“Work-life balance doesn’t make sense karena semuanya memiliki porsi masing-masing. Ketika kita mencoba untuk fokus pada satu hal, pasti ada hal yang dikorbankan,” ujar Pratisara. Pengorbanan yang mungkin terjadi adalah kurangnya waktu untuk bermain bersama teman atau kegiatan akademik yang terlantar. “Pintar-pintar aja untuk nentuin prioritas dan apa kira-kira hal yang harus dikerjakan terlebih dahulu,” tambahnya.
Pengalaman nyata terkait pentingnya menahan diri dari jebakan FOMO ini turut dibagikan oleh Dzulfikar. Meski sebelumnya pernah berkesempatan magang di UN, ia menyadari bahwa memaksakan diri untuk terus magang di tengah beban akademik (SKS) yang belum tuntas bukanlah langkah yang bijak. “Kalau misalnya masih belum settle, better focus on academics. Jika ada satu atau dua organisasi yang diikuti juga tidak apa-apa,” tegasnya.
Tanggapan Mahasiswa tentang Toxic Productivity
Motivasi utama di balik padatnya aktivitas mahasiswa adalah kesadaran akan ketatnya persaingan dan pentingnya networking. Pratisara mengungkapkan bahwa sejak semester awal, ia sudah proaktif mengikuti berbagai kegiatan untuk memperluas relasi. “Aku enggak merasa bahwa itu adalah bagian dari toxic productivity karena aku enggak compare diriku dengan orang lain gitu. Kita semua punya jalannya masing-masing gitu. Ya, mungkin ada orang yang ikut Business Case Competition karena targetnya ke consulting. Ada juga yang sibuk dengan penelitian karena ingin memiliki karier di bagian research,” tuturnya saat ditanya mengenai tanggapan terkait dengan toxic productivity.
Pengalaman yang kontras dirasakan Dzulfikar. Menurutnya, hustle culture di FEB UI dapat dikategorikan sebagai toxic productivity. “It’s not normal, productivity yang ada di FEB UI,” ujarnya. Menurutnya, ada beberapa temannya yang sudah masuk ke ranah toxic productivity. Dia juga merasa bahwa dia melakukannya. Untuk mengatasi hal tersebut, dia berpendapat bahwa kita harus memilah kegiatan yang kita lakukan. Kita harus bisa membedakan produktivitas dan kesibukan. “Stop comparing yourself with other people,” ujarnya. Kita harus bisa memahami kemampuan kita masing-masing.
Menjaga Motivasi di Tengah Maraknya Kesibukan
Banyaknya kegiatan di dalam dan di luar kampus mengundang rasa kewalahan dan demotivasi. Bagi Pratisara, itu adalah hal yang wajar. Jika hal tersebut terjadi, ia menyarankan agar kita beristirahat, mengetahui batas diri kita, dan memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan agar kita bisa mencari tahu penyebab burnout itu sendiri dan menghindarinya di masa depan. Kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain karena setiap orang memiliki career path masing-masing. Ketika memiliki hari kosong dan tidak melakukan hal apa pun, tidak jarang Pratisara merasa bersalah dan merasa harus memiliki kegiatan. Namun, ia juga menyadari bahwa ia harus menikmati waktu yang dimiliki.
Tekanan hustle culture ini nyatanya kerap memunculkan rasa takut tertinggal yang membayangi mahasiswa. Dzulfikar mengaku sering merasa tertinggal ketika melihat teman-temannya memenangkan lomba dalam bidang yang berbeda. Perasaan ini bahkan membuatnya merasa bersalah jika harus melewati hari yang kosong tanpa kegiatan. Untuk menghindari overthinking atau perasaan tidak produktif, ia memilih mengisi hari liburnya dengan aktivitas lain seperti pergi ke mal atau berolahraga.
Dzulfikar punya cara tersendiri untuk menghadapi fase overwhelm. Selain menjadikan keluarga sebagai safe space untuk bercerita, ia menerapkan disiplin waktu dengan mengusahakan untuk tidur pukul 9 malam dan bangun pukul 3 atau 4 pagi untuk kembali belajar dengan kondisi yang lebih segar. Selain itu, Dzulfikar menyatakan bahwa kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. “Bukan berarti kita enggak bisa mengejar mereka. Kita bisa mengejar mereka, tapi dengan cara yang berbeda karena kita harus adjust with our own capacity,” ungkapnya.
Pandangan Kemahasiswaan Mengenai Hustle Culture di FEB UI
Menanggapi fenomena hustle culture di kalangan mahasiswa, khususnya di FEB UI, Anna Amalyah selaku Manajer Kemahasiswaan FEB UI menilai bahwa budaya tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa hustle culture telah lama menjadi bagian dari identitas FEB UI. “Bukan hanya Gen Z (di FEB UI) yang ada hustle culture. FEB UI dari dulu standarnya sudah tinggi, sehingga mahasiswa sudah terbiasa untuk bekerja keras,” ujarnya.
Menurutnya, persepsi hustle culture yang semakin kuat di kalangan mahasiswa saat ini juga dipengaruhi oleh perubahan kondisi, terutama sejak pandemi Covid-19. Ia menambahkan, “Gen Z merasakan hustle culture karena ada Covid-19, yang menyebabkan performa mahasiswa menurun, sehingga merasa tertinggal.”
Selanjutnya, peran media sosial turut memberikan efek yang besar terhadap tekanan yang dirasakan mahasiswa dengan melahirkan fenomena FOMO. “FOMO itu dari dulu udah ada, tapi sekarang dampaknya lebih besar karena ada media sosial,” jelasnya. Mahasiswa sekarang tidak hanya membandingkan diri dengan lingkungan terdekat lagi, melainkan juga dengan banyak orang di sosial media, yang pada akhirnya memicu kelelahan akibat multitasking dan tuntutan untuk terlihat produktif.
“Do you toxicate yourself?” menjadi salah satu kutipan yang diberikan Anna mengenai FOMO ketika menanggapi algoritma sosial media yang menampilkan pencapaian-pencapaian orang lain.
Hubungan Hustle Culture terhadap Perkembangan Karir dan Toxic Productivity
Anna menyebutkan bahwa riset yang dilakukannya mengenai tren lulusan FEB UI di job market menunjukkan adanya perubahan. Ia menjelaskan bahwa sebagian lulusan belakangan ini tidak langsung terserap ke pasar kerja seperti sebelumnya, sehingga memunculkan tuntutan baru bagi mahasiswa FEB UI berupa pengalaman.
Anna menegaskan bahwa pengalaman menjadi sebuah kebutuhan, “Magang is a must, tapi organisasi build your personality (dan) how you deal with people,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa soft skill menjadi faktor penting dalam menghadapi dunia kerja.
Di kala hustle culture yang memiliki potensi dalam mengembangkan kemampuan dalam diri, budaya ini memiliki beban secara intrapersonal berupa burnout akibat merasa perlunya mengejar segala hal. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa hustle culture ini tidak selalu berdampak negatif. “Apabila dibilang hustle with productivity, enggak. Tapi kalau hustle untuk kegiatan tidak penting, ya pasti negatif,” jelasnya.
Selanjutnya, ia menekankan pentingnya membedakan produktivitas yang sehat dan toxic productivity. Menurutnya, produktivitas yang sehat adalah aktivitas yang mampu meningkatkan kemampuan, seperti agility dan ketahanan diri, serta didorong oleh motivasi internal untuk berkembang, bukan sekadar tekanan eksternal seperti FOMO sehingga merasa tertinggal, yang pada akhirnya memasuki ranah toxic productivity.
Ia juga menambahkan bahwa perbedaan latar belakang sosial ekonomi turut memengaruhi cara mahasiswa dalam memandang dan menjalani hustle culture. Mahasiswa yang terbiasa menghadapi keterbatasan cenderung memiliki gigih adversity dan agility yang lebih kuat dibandingkan mereka yang berasal dari kondisi lebih mapan. Ia mengatakan bahwa prinsip yang perlu dipegang adalah, “Today I am better than yesterday. Tomorrow, I am better than today.”
Oleh: Mahbub Zein, Olivia Astrid Debora Sinaga
Editor: Izma, Linda, Rafa
Ilustrasi: Rezkita Vanessa Situmeang
#SebatasKataKataBukanBudayaKami


Discussion about this post