Pendahuluan
Selama lima tahun terakhir, jumlah publikasi ilmiah di Indonesia telah bertambah secara signifikan. Kebijakan pemerintah menjadi pengaruh utama, mulai dari Permenristekdikti No. 20 yang memberikan tunjangan kehormatan kepada dosen untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah, hingga Permenpan No. 17 dan 46 tahun 2013 mengenai kewajiban dosen untuk memproduksi dan menyebarluaskan publikasi ilmiah. Regulasi tersebut memberikan tambahan beban kerja terhadap dosen di Indonesia, dan berdampak pada tingkat stres mereka. Penelitian oleh Clara Intan, Laurencia Prasetya Limartha, Mochamad Riky Pramudya, dan Fergyanto Efendy Gunawan dalam artikel “Stress Due To Scientific Publication Among Academic Lecturers: Indonesia Case” mengkaji dampak kewajiban publikasi ilmiah terhadap tingkat stres kerja di kalangan dosen di Indonesia.
Melalui model Job Demand-Control-Support (JDC-S), penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kewajiban publikasi pada stres kerja dosen. Fokus utamanya ada dalam perbedaan pada dosen bergelar doktor dan dosen bergelar master, penelitian ini membahas bagaimana dampak dari tuntutan publikasi dan tingkat efektivitas dukungan yang ada dalam mengurangi stres. Penelitian ini juga akan menilai bagaimana kebijakan Permenristekdikti No. 20 tahun 2017, mempengaruhi produktivitas dan kepuasan dosen.
Data
Data yang dikumpulkan menunjukkan angka dari publikasi ilmiah dan artikel ilmiah yang telah mendapatkan banyak kutipan dari penelitian lain dari beberapa negara di Asia dalam periode waktu dari tahun 2004 hingga 2017.


Dari gambar tersebut, menunjukkan secara angka, publikasi ilmiah di Indonesia telah meningkat secara pesat dalam lima tahun terakhir.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, terdapat lima model yang umum digunakan dalam studi stress kerja dan kepuasan, yaitu Job Demand Resources model, Person-Environment Fit model, Job Characteristics model, Diathesis-Stress model, dan Effort-Reward Imbalance model. Pada Model Job Demand Resources, yang juga diketahui sebagai Job Demand-Control-Support model, menilai stres kerja sesuai dengan permintaan, kontrol, dan dukungan. Terdapat empat konstruk dalam penelitian ini, yaitu Job Demand, Job Control, Job Support, dan Job Stress. Job Demand memiliki arti pengaruh beban kerja terhadap kesehatan mental dan fisik. Job Control adalah kebebasan pekerja dalam memenuhi tuntutan pekerjaan melalui petunjuk yang jelas. Sementara Job Support mengarah pada interaksi sosial antara rekan kerja dan atasan.
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah:
- Job Demand mempengaruhi Stres Kerja.
- Job Control mempengaruhi Stres Kerja.
- Job Support mempengaruhi Stres Kerja
Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada dosen akademik di Indonesia dalam periode waktu bulan Mei 2019 hingga Juni 2019. Sampel dipilih secara acak dan kuesioner dibagikan secara online. Kuesioner terbagi pada lima bagian: bagian A berisi informasi dasar mengenai responden, dan bagian B hingga E berisi pertanyaan yang bersangkutan dengan Job Demand, Job Control, Job Support, dan Job Stress. Responden diminta untuk memilih salah satu dari lima opsi dari setiap pertanyaan: Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral, Setuju, dan Sangat Setuju. Bagian B (Job Demand) mengukur beban pekerjaan dalam mengejar target publikasi ilmiah, kerja lembur, disrupsi karena kewajiban publikasi, dan perhatian terhadap peringkat SINTA. Bagian C (Job Control) menilai kontrol atas pekerjaan, seperti manajemen waktu dan kebebasan topik. Bagian D (Job Support) mengukur dukungan institusi dalam publikasi ilmiah. Bagian E (Job Stress) menilai tingkat stres karena publikasi ilmiah.
Untuk menguji tiga hipotesis yang diajukan, digunakan analisis regresi multivariat yang menggabungkan stress kerja dengan Job Demand, Job Control, dan Job Support. Uji statistik seperti t-statistik ANOVA, dan evaluasi R² menjadi elemen utama dalam menilai kecocokan model dengan data yang diterima.
Hasil Penelitian

Hasil deskriptif menunjukkan bahwa secara umum dosen di Indonesia menganggap tuntutan publikasi sebagai sesuatu yang sedang. Namun, mereka juga merasa terganggu dengan kewajiban untuk melakukan publikasi ilmiah. Dalam hal Job Control, opini peserta lebih condong ke arah negatif, menunjukkan bahwa tingkat kontrol terhadap pekerjaan mereka minim. Job Support juga dinilai rendah oleh responden, menunjukkan kurangnya dukungan dari institusi dan rekan kerja.
Reliabilitas respon responden dievaluasi menggunakan Cronbach’s alpha, dan hasilnya menunjukkan bahwa semua konstruk memiliki nilai alpha yang lebih tinggi dari ambang batas 0,7, yang menunjukkan bahwa jawaban responden dapat dipercaya. Dalam analisis regresi multivariat, diukur kesesuaian model terhadap data menggunakan koefisien determinasi (R²), yang hasilnya adalah 0,532, menunjukkan model cukup sesuai. Uji F kemudian menunjukkan bahwa koefisien secara keseluruhan signifikan dengan nilai F-statistik 36,433 dan p-value 0,000. Uji t kemudian menunjukkan koefisien untuk Job Demand (0,672) dan Job Control (-0,389) signifikan, sementara koefisien Job Support (-0,082) tidak signifikan. Hasil ini menghasilkan model regresi:
Job Stress = 2,650 + 0,672 · Job Demand − 0,389 · Job Control − 0,082 · Job Support.
Model ini membuktikan stres kerja bertambah bersamaan dengan tingginya tuntutan pekerjaan dan rendahnya kontrol pekerjaan, sedangkan dukungan pekerjaan tidak memiliki pengaruh signifikan. Evaluasi normalitas dan keacakan residual mengkonfirmasi asumsi model dipenuhi.
Diskusi
Penelitian ini mempelajari stres di kalangan dosen Indonesia dalam peraturan publikasi ilmiah melalui teori JDC-S. Data memperlihatkan hubungan kuat antara Job Stress – Job Demand dan Job Stress– Job Control, namun korelasi antara Job Stress – Job Support lemah. Walau demikian, teori JDC-S secara umum menjelaskan masalah dengan baik.
Analisis pada Gambar 6 menunjukkan jika sebagian besar dosen merasa tuntutan kerja sedikit tinggi dan rendah, dengan kemungkinan lebih tinggi stres pada dosen berpendidikan magister daripada doktor. Tabel 5 mendukung perkiraan ini, menunjukkan dosen dengan gelar doktor biasanya merasa tingkat stres mereka rendah, sedangkan dosen berpendidikan magister berpendapat yang variatif mengenai tingkat stres mereka.

Kurangnya Job Support tidak berpengaruh pada Job Stress, tetapi kurangnya Job Control mempengaruhi Job Stress.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Clara Intan, Laurencia Prasetya Limartha, Mochamad Riky Pramudya, dan Fergyanto Efendy Gunawan, menyajikan bahwa rata-rata dosen di Indonesia menganggap tuntutan publikasi ilmiah berada di tingkat sedang, serta dorongan untuk merasa terganggu oleh kewajiban tersebut. Sebagian besar dosen merasa mempunyai kendali yang rendah pada publikasi ilmiah mereka dan juga menerima dukungan yang rendah dari institusi dan rekan kerja. Namun, walaupun dukungan dianggap rendah, hal ini tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat stres. Model regresi yang digunakan menunjukkan bahwa Job Demand dan Job Control adalah penyebab yang paling penting dalam mempengaruhi stres kerja.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah disarankan untuk memberikan dukungan, seperti memberikan pelatihan dan bantuan efisien dalam proses publikasi. Selain itu, perhatian khusus juga penting diberikan kepada dosen bergelar magister, yang juga bisa merasakan tekanan lebih besar dengan publikasi. Melalui cara ini, diharapkan semoga tingkat stres dapat berkurang, dan dosen mampu lebih fokus pada penelitian dan publikasi ilmiah.
Reviewed from: Intan, et. al. (2019). STRESS DUE TO SCIENTIFIC PUBLICATION AMONG ACADEMIC
LECTURERS: INDONESIA CASE. doi.org/10.24507/icicel.13.12.1121


Discussion about this post