Awal tahun lalu, tagar #JanganJadiDosen mulai mencuat dan meramaikan dunia Twitter Indonesia, setelah seorang dosen dengan username @ardisatriawan mengajak seluruh dosen untuk menunjukkan Take Home Pay (THP) mereka masing-masing dan mulai menyuarakan tagar tersebut.
Dari sinilah, mulai terungkap kembali bahwa ternyata banyak sekali dosen di Indonesia yang digaji sangat rendah, bahkan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Padahal, beban kerja dan ekspektasi yang dibebankan pada mereka tergolong sangat berat. Misalnya saja, mereka dituntut untuk bisa mendidik mahasiswa supaya semuanya bisa berhasil dan menjadi generasi unggul. Sebuah beban yang terlihat mudah, namun sangat sulit dilakukan bukan?
Isu rendahnya gaji dosen ini bukanlah isu baru, melainkan isu lama yang terus menerus menjadi perhatian masyarakat karena tak kunjung mendapatkan perubahan atau solusi dari pemerintah. Menurut survei tim riset kesejahteraan dosen dari Kaukus Indonesia yang dilaporkan oleh BBC News, terbukti bahwa sebanyak 42.9% dosen di Indonesia masih mendapatkan gaji di bawah Rp 3juta/bulan.
Tentunya nominal ini sangat memprihatinkan, mengingat pengeluaran pekerja pada masa kini setidaknya berada di kisaran Rp 3-10juta/bulan, bahkan ada pula yang lebih dari nominal tersebut. Maka, tak jarang banyak dosen yang memiliki pekerjaan sampingan untuk bisa menutup pengeluaran mereka tersebut karena tak bisa hanya mengandalkan gaji sebagai dosen saja.
Panjang dan Lama: Perjuangan Menjadi Seorang Dosen
Untuk bisa mendapatkan gambaran mengenai realitas sebenarnya kehidupan seorang dosen, Badan Otonom Economica berkesempatan mewawancarai Dr. Fathimah S. Sigit (Fatma), salah seorang dosen di Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dan Jonathan Marpaung, PhD (Jonathan), dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
Menjadi dosen di sebuah universitas ternama di Indonesia bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak kualifikasi dan proses seleksi yang harus dilalui, dan semuanya membutuhkan proses yang lama serta panjang. Fatma sendiri mengaku memulai pendaftaran di akhir tahun 2022 dan baru resmi diangkat menjadi dosen di awal tahun 2023.
“Panjang banget sih kayaknya, sampe 6 atau 7 tahapan,” tutur Fatma.
Adapun beberapa tes yang harus dilalui antara lain: psikotes, tes pengetahuan umum, tes Bahasa Inggris, tes wawancara sebanyak dua kali, dinamika kelompok untuk melatih jiwa leadership, micro teaching yang mana setiap dosen diberikan waktu 20 menit untuk simulasi mengajar di depan para juri, dan lain sebagainya.
Mengenai proses seleksi yang panjang dan terbilang lama ini, Jonathan juga memberikan penjelasan yang sama dengan Fatma. Beliau pun turut memberikan gambaran proses seleksi dosen di universitas ternama di luar negeri, misalnya MIT dan Harvard di Amerika Serikat, yang bisa dibilang hampir mirip dengan proses seleksi di UI.
“Interview (hanya) sehari. (Durasi seleksi) cuman 2-3 minggu (focus on accomplishments), semua diratain dan ga ngeliat university,” jelasnya.
Insentif vs Beban Kerja
Terkait tugas dan tanggung jawab dosen, UI sendiri memberikan 3 beban utama bagi setiap dosennya yang sama dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, pengabdian masyarakat, dan penelitian.
Pendidikan, sesuai namanya, menuntut dosen untuk bisa mengajar dan membimbing mahasiswanya, baik dalam materi pelajaran biasa maupun dalam tugas akhir. Pengabdian masyarakat menuntut dosen untuk bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Saya gak menganggap itu beban. Di FKM, peluang untuk pengabdian masyarakat itu banyak banget. Kita banyak bikin bakti sosial, terkait stunting dan upaya perbaikan gizi buruk. Jadi tuh banyak banget,” jelas Fatma.
Terakhir, beban kerja yang dirasa paling berat adalah penelitian. Setiap dosen di UI dan PTN secara umum harus menghasilkan setidaknya satu jurnal ilmiah internasional. Banyak dosen yang sangat rajin mengajar dengan mengambil banyak kelas. Namun, sangat kesulitan saat harus menulis jurnal. Standar internasional yang harus menggunakan Bahasa Inggris dalam penerbitan jurnal ilmiah inilah yang menjadi salah satu penyebab kesulitannya.
Fakta menarik pada diskursus ini adalah bahwa penerapan beban kerja dosen ini, realitasnya berbeda antara satu universitas dengan universitas yang lainnya. Meskipun sama-sama menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, nyatanya ketaatan dosen untuk melaksanakan semua tugasnya itu pun berbeda-beda.
Di UI sendiri, setiap dosen harus bisa memberikan output hasil kinerjanya tersebut, misalnya menerbitkan jurnal ilmiah internasional atau membuat laporan kegiatan pengabdian masyarakat.
“Pokoknya gak boleh 0 outputnya di research dan pengabdian masyarakat,” tutur Jonathan.
Sedangkan, banyak dosen Indonesia di luar sana yang malah berbuat menyimpang dan seenaknya sehingga tidak bisa memberikan output maksimal dalam penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Misalnya saja, untuk pengabdian masyarakat, banyak dosen yang hanya berfoto sekadar formalitas untuk memberikan bukti kepada pihak universitas tanpa benar-benar melakukan kegiatannya dengan baik.
Lalu, untuk mendapatkan output penelitian dan pengabdian, tak jarang dosen juga menggunakan joki. Itu semua dilakukan hanya untuk mendapatkan bukti bahwa mereka sudah melakukan tugasnya, meskipun pada akhirnya tidak ada hasil yang dapat benar-benar dipertanggungjawabkan.
“Tapi, balik lagi ke orangnya sih, soalnya gak ada kewajiban buat ada (outputnya),” tegas Jonathan.
Berat atau tidaknya beban kerja dosen tersebut juga tergantung pada pribadi masing-masing. Jika mereka memang memiliki passion untuk mengajar dan membimbing mahasiswa, seberat apapun beban kerja yang diberikan akan tetap mereka jalani dengan semangat. Namun, tentu ada saja orang yang “setengah hati” menjalankan profesi ini sehingga banyak yang kesulitan dan mulai tersadar bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
“Jadi kalau untuk beban kerja dosen, menurut saya sih terbebani, tapi saya sih enjoy aja ngejalaninnya,” ujar Fatma.
Lalu, setelah berusaha memenuhi ketiga tuntutan kerja tersebut, tentu insentif menjadi hal yang paling didamba-dambakan. Di seluruh universitas negeri Indonesia, gaji pokok yang diterima oleh dosen besarnya sama, yaitu Rp 3juta/bulan. Hal yang membedakan adalah tunjangan serta honor tambahan yang diberikan oleh universitas dan fakultas. Bahkan, tiap fakultas di UI pun memberikan tunjangan yang berbeda-beda.
Tunjangan ini antara lain: uang makan, asuransi jiwa, BPJS kesehatan kelas satu, tunjangan hari tua, tunjangan pensiun, dan honor tiap SKS yang diambil dosen. Makin “kaya” suatu fakultas, makin banyak pula tunjangan dan honor yang diberikan kepada dosennya. Banyaknya insentif tambahan selain gaji pokok inilah yang membuat kedua narasumber merasa sudah cukup.
Bergantung Pada Gaji Dosen, Cukupkah?
Namun, tak bisa ditampik bahwa di luar sana masih banyak dosen merasa gaji yang mereka terima tak sebanding dengan jerih payah yang sudah mereka keluarkan. Pasalnya, tidak semua universitas dan fakultas mau memberikan tunjangan serta honor tambahan seperti yang dilakukan oleh UI. Singkatnya, terdapat ketidakmerataan insentif yang didapat oleh para dosen di Indonesia, wajar jika banyak yang masih merasa “kurang”.
Maka, tak jarang dosen di Indonesia memilih untuk mencari pekerjaan sampingan untuk bisa menambah penghasilan mereka. Ada yang menjadi konsultan, peneliti, praktisi, dan lain sebagainya.
“Mungkin saya sebenarnya agak terbantu—secara finansial—dengan fakta bahwa saya masih bisa praktik dokter,” tutur Fatma.
Sebagai informasi, Fatma memang masih aktif praktik sebagai dokter umum di Klinik Makara UI setiap Senin dan Kamis. Selain itu, beliau juga sering dimintai bantuan untuk menjadi one time consultant bagi Kementerian Kesehatan ketika ada proyek yang sedang ingin dijalankan.
Terkadang, banyaknya side job yang memberikan penghasilan lebih banyak ini membuat mereka lupa akan tanggung jawab utama mereka sebagai dosen. Sering tidak masuk kelas, mengubah kuliah offline menjadi online, terlambat memberikan penilaian, dsb adalah salah satunya. Hal ini selanjutnya akan berdampak negatif kepada profesionalisme mereka sebagai dosen. Para mahasiswa pun seolah menjadi hilang respect kepada para dosen tersebut. Akibatnya, banyak review buruk yang diberikan dan membuat nama dosen tersebut menjadi buruk.
Dosen tidak bisa serta merta langsung disalahkan terkait permasalahan ini. Banyak dari mereka yang ditunjuk langsung oleh pemerintah untuk menjadi dosen. Namun, berbagai faktor seperti ketidaksiapan secara psikis dan pendanaan yang minim dari pemerintahh menyebabkan mereka belum siap mengajar. Alhasil, banyak dari mereka yang masih kesulitan secara finansial.
Tidak semua dosen juga bisa mendapatkan pekerjaan sampingan dengan mudah. Hal inilah yang makin memberatkan dosen karena beban kerja yang tak sebanding dengan gaji yang mereka terima.
“Jadi ya kalau talking about Indonesia, gak worth it—insentifnya,” ujar Jonathan.
Dosen dan Konsekuensi
Meskipun begitu, cukup atau tidaknya gaji dosen akan kembali lagi pada gaya hidup masing-masing. Seorang dosen juga seharusnya bisa memperhitungkan pengeluarannya agar bisa sesuai dengan penghasilan yang didapatkan. Mobil tidak perlu mewah, makan tidak perlu di restoran mahal, rumah tidak perlu yang luas. Setiap orang, termasuk dosen, harus mengerti dan memahami betul makna dari “cukup”.
Jika bisa mengatur gaya hidupnya dengan baik, gaji yang tidak terlalu besar pun tetap akan bisa dimanfaatkan dengan optimal. Bahkan, jika pandai mengatur keuangan, tetap masih ada sisa uang yang bisa ditabung.
“(Dosen) harus orang yang enjoy sama kerjaannya. Mendidik, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat. Dan harus orang yang bersahaja, gaya hidupnya gak harus selalu yang paling mahal,” tutur Fatma.
Selain itu, terdapat juga insentif nonmateriil yang sebenarnya bisa didapatkan dengan menjadi dosen. Bahkan, insentif ini tak dapat terhitung besarnya. Misalnya, dengan menjadi dosen ada rasa senang tersendiri karena bisa mendidik dan membimbing mahasiswa. Lalu, saat mahasiswa tersebut sudah sukses, pasti akan ada rasa bangga tersendiri yang dirasakan dosen karena bisa menjadi salah satu bagian dari kesuksesan tersebut.
“Makanya kalau dosen tuh kalau ga passionate banget, jangan jadi dosen,” tegas Fatma.
Kesimpulan
Menjadi dosen bukanlah hal mudah. Banyak beban dan tanggung jawab yang harus mereka bawa. Nasib generasi penerus bangsa pun bisa dibilang ada di pundak mereka. Sayangnya, beban kerja tersebut sering kali tak sebanding dengan insentif yang mereka dapatkan. Gaji yang diterima bahkan bisa di bawah UMR berbagai kota besar di Indonesia sehingga banyak yang menyampaikan jangan jadi dosen kalau tidak mau merugi.
Ketidaklayakan gaji dengan jerih payah dosen tersebut merupakan isu tahunan yang terus-menerus dibahas karena tak kunjung mendapatkan titik temu. Banyak harapan yang disampaikan kepada pemerintah supaya permasalahan ini bisa terselesaikan. Misalnya, dengan memberikan insentif yang layak supaya para dosen ini lebih termotivasi untuk mengabdi. Dengan begini, dosen merasa lebih “dimanusiakan”.
Harapan supaya pemerataan pembangunan, infrastruktur, dan pendapatan bisa tercipta di Indonesia juga terus digaungkan. Adanya pemerataan ini membuat ketimpangan gaji dosen juga bisa teratasi. Dosen juga bisa hidup dengan lebih layak dan sejahtera.


Discussion about this post