Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Sejauh Mana Efektivitas Kelas Asistensi? Sorotan dari Mahasiswa dan Asisten Dosen

by Muhammad Syakhsan Haq & Faiz Attaqi
31 Desember 2023
in Umum

“Kalo gak ada yang proposed jadwal ke gue gapapa sih, nilai asis kalian gue kasih 50, thank you.”

Pernyataan tersebut datang dari salah seorang asisten dosen (asdos) mata kuliah Matematika Dasar Ekonomi dan Bisnis melalui group chat di LINE. Usut punya usut, sebelumnya telah terjadi kesepakatan antara mahasiswa dan asisten dosen tersebut bahwa kelas asistensi akan diadakan pukul empat sore. Akan tetapi, sang asdos justru membatalkan jadwal kelas secara sepihak dan mengancam akan memberikan nilai asistensi yang rendah kepada mahasiswa apabila tidak segera memberikan jadwal asistensi alternatif. 

Elsa (bukan nama asli), mahasiswa FEB UI sekaligus orang yang pernah mengikuti kelas asistensi tersebut, mengaku bahwa selama satu semester sang asdos tersebut hanya melakukan kelas asistensi offline sebanyak sekali, selebihnya asistensi hanya dilakukan dengan mengirimkan recording kelas asistensi lain di mana bukan sang asdos yang mengajar. “Asdos Matdas saya hanya mengirimkan rekaman asistensi dari kelas lain. Dia hanya mengadakan pertemuan offline (di FEB UI) satu kali,” ucap Elsa.

Di semester berikutnya, Elsa — untuk kedua kalinya — mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan dengan asisten dosen lain di mata kuliah Pengantar Ekonomi 2. Ia merasa kurang memahami penjelasan asdosnya tersebut. Kebingungan tersebut bukan hanya dirasakan oleh Elsa saja, melainkan juga teman-temannya yang mengikuti kelas tersebut. Ia mengungkapkan, “Saya juga bertemu dengan asisten dosen di semester kedua yang hanya berbagi layar buku paket (saat mengajar di kelas maupun saat mengajar online). Menurut saya, itu tidak efektif, bahkan begitupun menurut teman-teman sekelas saya.”

Keluhan lainnya datang dari Ana (bukan nama asli). Salah satu keluhannya adalah mengenai substansi materi yang diajarkan dalam kelas asistensi. Ia menegaskan, “ Ternyata kelas asistensi tersebut tidak sesuai dengan silabus yang tertera.”

Tidak berhenti di sana, keluhan lain juga dilayangkan oleh seorang mahasiswa yang dengan kekecewaannya menyampaikan, “Kebetulan ada salah satu asisten dosen mata kuliah Matematika Ekonomi dan Bisnis yang sejak awal jarang banget ngadain kelas. Beliau cuma ngasih tugas di setiap minggunya, lalu baru ngadain kelas setelah didesak oleh para mahasiswa. Cuman waktu ngajar seperti tidak all out dan teman-temanku juga kurang puas sama beliau.”

Terlepas dari keluhan-keluhan tersebut, keberadaan kelas asistensi yang dilakukan secara intensif pada banyak mata kuliah merupakan keunikan tersendiri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Di sini, asisten dosen bukan sekadar menjadi pelengkap saat dosen memerlukan bantuan di kelas, tetapi juga berperan aktif dalam mengajar mahasiswa pada sesi asistensi. 

Berdasarkan artikel yang disusun oleh tim investigasi Cerita Data Economica, sebanyak 54,5% atau 84 responden cukup puas dengan kinerja asisten dosen di FEB UI. Angka ini diikuti oleh 40,3% responden lainnya yang juga sangat puas terhadap kinerja asisten dosen. Meskipun begitu, Economica tetap menerima beberapa keluhan mengenai kinerja asisten dosen di FEB UI.

Baca juga: Honor Asdos Menurun Akibat Regulasi: Apakah Sebanding dengan Kompetensi?

Sudut Pandang Asisten Dosen dalam Merespons Problematika ini

Permasalahan mengenai asdos dalam mengajar — seperti yang dirasakan oleh Elsa dan Ana — tentunya bukan tanpa alasan. Kami mencoba menggali beberapa pendapat dari sisi asisten dosen untuk menjawab persoalan ini. Berdasarkan keluhan yang diterima oleh Tim Reportase, mayoritas permasalahan asisten dosen terfokus di Departemen Ilmu Ekonomi (IE), di mana terdapat beberapa asdos yang dinilai kurang kompeten dalam mengajar. Sementara itu, permasalahan juga muncul di Departemen Manajemen, di mana beberapa asdos harus mengajar banyak kelas secara sekaligus. Untuk mendalami informasi ini, kami melakukan wawancara dengan beberapa asisten dosen dari kedua departemen tersebut.

Ero (nama samaran), asisten dosen dari Departemen Manajemen (DepMa), menyatakan kualitas asisten dosen salah satunya dipengaruhi oleh seleksi asisten dosen yang dirasa kurang ketat. Ia mengusulkan, “Tarik mahasiswa yang akademiknya bagus dengan beri insentif lebih (opsional), kemudian perketat lagi seleksi asdos.”

Selain itu, Ero juga mengaitkan persoalan “honor asdos” dengan kualitas mengajar, ia merasa honor asdos masih sering terlambat untuk diberikan. Dengan kata lain, tidak ada kejelasan pasti yang diberikan oleh fakultas mengenai kapan upah asdos ini akan cair. Ero mengeluhkan, “Gaji asdos jangan telat agar asdos tidak malas.”

Baca juga: Problematika Honor Asisten Dosen di FEB UI: Mulai dari Ketidakjelasan Waktu Cair hingga Pemotongan Sepihak

Di sisi lain, Fifo (nama samaran), asisten dosen Departemen Ilmu Ekonomi, mengusulkan untuk memberikan ruang kepada asisten dosen yang memiliki profesionalisme dalam mengajar untuk membuat sesi sharing kepada asdos-asdos baru mengenai bagaimana cara mengajar dengan menarik dan mudah dipahami oleh mahasiswa.

Permasalahan lain adalah mengenai ketersediaan asisten dosen. Ero mengungkapkan, salah satu masalah yang sering dijumpai oleh asdos-asdos di DepMa adalah ketidakseimbangan supply dan demand antara jumlah asdos yang dibutuhkan dan banyaknya kelas asistensi yang harus diampu. “Satu asdos bisa pegang sembilan kelas dan ngasdosin belasan dosen,” keluhnya.

Masalah ini kemudian dibenarkan oleh Jiho (nama samaran), asdos yang juga berasal dari Departemen Manajemen. Menurut Jiho dan Ero, poin utama dari masalah ini merupakan rekrutmen asdos yang dilakukan dalam rentang waktu sebentar dan belum cukup disebarluaskan. “Penyebabnya kurang masif dan kontinu informasi rekrutmennya,” tegas Ero.

Di FEB UI, menurut ketentuan dari fakultas, idealnya sebuah asistensi dilakukan sejumlah enam kali pertemuan sebelum UTS dan enam kali pertemuan sesudah UTS. Akan tetapi, fakta di lapangan terdapat beberapa asistensi yang justru dilakukan dalam proporsi yang kurang dari batas yang telah ditentukan ini. Ini dipertegas oleh pernyataan Ana, “Asistensi yang selama satu semester dilakukan secara online pada jam yang ‘rawan’ dan terasa kurang tepat. Sekalinya tidak asis, asdos meminta untuk tidak melapor dan tidak ada rekaman pengganti.”

Dari kacamata asisten dosen, persoalan mengenai jadwal asistensi bukan perkara yang mudah untuk diatasi. Fifo mengungkapkan salah satu penyebab masalah ini, “Kadang dosen suka cancel kelas dan bikin di sesi 4 yang harusnya dipakai asistensi, akhirnya terjadi tabrakan.”

Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya kesepakatan antara asisten dosen dan mahasiswa mengenai jadwal asistensi. Jikalau terdapat pembatalan kelas secara tiba-tiba, alternatif jadwal asistensi baru perlu segera ditentukan dengan kesepakatan terbaik dari dua belah pihak. 

Di FEB UI, terdapat sebuah etika bahwa asisten dosen tidak boleh mendahului penjelasan dosen di kelas utama. Hal ini membuat asisten dosen mau tak mau harus terus berkoordinasi bersama dosen supaya kelas asistensi dapat berjalan dengan lebih efektif. Ero mengungkapkan, “(Kelas asistensi akan) efektif kalau (asisten dosen) rajin koordinasi sama dosen, jadi bisa sesuain di asis ngajarin sesuai dengan soal yang kemungkinan keluar. Kalau ga gitu, kurang efektif.”

Tim Reportase Economica mendapati beberapa whistleblower yang melapor bahwa adanya asisten dosen di Departemen Ilmu Ekonomi yang hanya memberikan tanda tangan tanpa mengajar secara sungguhan. Menurut laporan tersebut, sang asdos rupanya hanya mengirimkan link recording asistensi kelas lain di mana bukan ia yang mengajar. Hal ini kemudian menimbulkan tanda tanya mengenai efektivitas kebijakan absensi asisten dosen.

Dekanat FEB UI Buka Suara

Untuk memperkuat pemahaman mengenai permasalahan asdos, Tim Reportase Economica mewawancarai Bapak Arief Wibisono Lubis (Wakil Dekan FEB UI Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan), Ibu Nanda Ayu Wijayanti (Wakil Dekan FEB UI Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum), dan Ibu Prani Sastiono (Kaprodi S1 Ilmu Ekonomi). Wawancara ini menghasilkan beberapa pernyataan.

Menanggapi adanya laporan mengenai kompetensi asisten dosen, Arief menekankan, “Proses seleksi asisten dosen bervariasi antar-departemen, tergantung pada mata kuliah dan jumlah peminat.” 

Di sisi lain, Nanda memberikan himbauan bahwa jika menemukan asisten dosen yang melanggar ketentuan, mahasiswa dapat mengajukan pengaduan melalui aplikasi SIAPP (Sistem Informasi Administrasi Perkuliahan). “Pengaduan tersebut akan ditindaklanjuti oleh pihak terkait, dan aplikasi ini memberikan jalur formal untuk menyampaikan masalah,” ungkapnya. 

Sementara itu, Ibu Prani menyoroti kendala saat ini, yaitu tingginya kesibukan mahasiswa tingkat akhir di luar kampus, seperti magang. Hal ini dianggap sebagai opportunity cost tersendiri dan dapat mengurangi supply dari asisten dosen.“

Sudah baikkah Sistem Kelas Asistensi Kita?

Meski kami mendapat banyak keluhan dari para mahasiswa, secara keseluruhan semua mahasiswa yang kami wawancarai tetap menyatakan cukup terbantu dengan adanya kelas asistensi. Hal ini kemudian dipertegas dengan survei yang dilakukan oleh Tim Cerita Data Economica di mana sebanyak 54,5% atau 84 responden cukup puas dengan kinerja asisten dosen di FEB UI. Angka ini diikuti oleh 40,3% responden lainnya yang juga sangat puas terhadap kinerja asisten dosen.

Masih dalam survei yang sama, Economica menemukan adanya penurunan minat menjadi asisten dosen dari mahasiswa karena adanya penurunan honor asdos. Lebih lagi, sebanyak 96,1% dari responden memilih bahwa honor asdos yang ditetapkan setelah regulasi tidak sesuai dengan kinerja yang dilakukan asdos tersebut. Selain itu, Tim Cerita Data Economica juga menemukan sebanyak 41,6% memiliki preferensi metode asistensi secara luring, disusul dengan 33,8% responden yang lebih nyaman dengan metode asistensi daring. Sehingga pengawasan menjadi hal yang perlu dilakukan agar asistensi tidak hanya dilakukan sepenuhnya secara daring, dengan begitu mahasiswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan.

Dari poin-poin tersebut, ada beberapa catatan yang perlu dibenahi: 

  1. Persoalan rekrutmen asisten dosen harus lebih disebarluaskan dan jangka waktunya harus lebih diperpanjang. Hal ini agar masalah asisten dosen yang mengajar banyak kelas sekaligus di Departemen Manajemen tidak terjadi.
  2. Meski mayoritas responden cukup puas dengan kinerja asdos. Tidak dapat dipungkiri tetap ada laporan yang kami terima mengenai performa beberapa asisten dosen yang kurang baik dalam mengajar. Sehingga seleksi mengajar asisten dosen harus lebih diperketat.
  3. Kami menerima laporan mengenai asisten dosen yang hanya absen tanpa mengajar secara sungguhan. Untuk itu, pengawasan sistem absensi dan sistem mengajar (daring/luring) asisten dosen harus lebih diperketat. 
  4. Terakhir dan yang paling penting honor asisten dosen harus ditingkatkan dan harus ada dengan kejelasan waktu cair.

Related Posts

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?
Soft News

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata
Hard News

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide