Keresahan masyarakat mencuat di balik rekor baru yang diciptakan oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa bulan kebelakang. Rupiah yang mencetak nilai tukar terendah sepanjang sejarah hingga menyentuh Rp18.000/USD, tidak menyurutkan semangat khalayak untuk ikut meramaikan tren overconsumption. Fenomena ini terjadi hingga memunculkan sebuah pertanyaan, “Perekonomian negara sedang tidak baik-baik saja, tetapi kenapa pusat perbelanjaan, venue konser, hingga coffee shop tetap sesak pengunjung?” yang mengarah pada asumsi: apakah kondisi ekonomi saat ini benar sedang buruk atau hanya ilusi angka diatas kertas hasil observasi semata?
Beranda media sosial yang menampilkan tren konten rekomendasi berupa “Things That Are Worth The Money”, seringkali berisikan senarai dari affordable-luxury brand yang ketika dikalkulasikan nominalnya dapat dikatakan ‘tidak masuk akal’, untuk kemampuan daya beli masyarakat yang secara kasatmata sedang terhimpit oleh kondisi perekonomian saat ini. Ketika harga bahan-bahan pokok perlahan naik di pasaran, masyarakat justru menaikkan gaya hidup hedonis.
Tulisan ini disarikan dari gelaran diskusi ilmiah dan wawancara mendalam yang diselenggarakan oleh Tim Economica bersama Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, B.Sc., MBA. Diskusi yang berlangsung secara mendalam ini mengupas tuntas realita di balik fenomena anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, dampaknya terhadap daya beli kelas menengah, hingga fenomena perilaku konsumen di Indonesia.
All-Time Low Rupiah
Pada (08/06), nilai tukar Rupiah dengan Dolar mencapai rekor titik terendah sepanjang masa, yaitu mencapai Rp18.171 per dolar AS, setelah berangsur-angsur melemah sejak April 2025 akibat sentimen kebijakan tarif dagang global. Fenomena melemahnya rupiah pada pertengahan tahun 2026 ini awalnya dipicu oleh faktor global. Memanasnya konflik geopolitik Iran-Amerika Serikat, yang melibatkan wilayah vital jalur perdagangan dunia seperti Selat Hormuz, berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia yang sempat naik-turun. Harga minyak dunia yang fluktuatif juga berdampak pada produk turunan minyak, seperti naiknya harga plastik yang ikut dirasakan oleh masyarakat umum.
Hal sebaliknya justru terjadi pada negara tetangga yang tren mata uang nya justru mengalami penguatan nilai tukar seperti Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, hingga Baht Thailand. Lantas, apa yang salah dengan prinsip fundamental dan tata kelola ekonomi di Indonesia? “Karena kalau kita lihat negara tetangga kita kan sebenarnya banyak yang terdampak juga ya. Tetapi tren kita tidak sama dengan mereka,” terang Dipo.
“Nah tetapi kenapa si rupiah melemah? Memang karena jadi pemicunya global, tetapi amplifikasinya sebenarnya lokal. Jadi (melemahnya rupiah) karena masalah domestik.” tuturnya. “Artinya apa? Artinya memang Indonesia ini trennya berbeda dengan negara-negara tetangga kita. Artinya memang ada masalah yang cukup fundamental di ekonomi kita sendiri,” ungkap Dipo.
Menurut pemaparan dan observasi dari kacamata Dipo selaku seorang Ekonom, ada 3 masalah utama pada tata kelola perekonomian di Indonesia yang menjadi amplifikasi dari nilai tukar rupiah yang berangsur-angsur menurun, yakni:
- Kebijakan yang berubah-ubah (unpredictability policy). Selama masa jabatan Kabinet Merah Putih, beberapa kebijakan baru yang dibuat terkesan dadakan dan kurang perencanaan matang (contohnya isu ekspor satu pintu hingga wacana B50).
- Masalah transparansi dan akuntabilitas. Terutama mengenai pengalokasian dana dan program-program baru yang transparansi serta multiplier effect-nya belum jelas.
- Ruang fiskal yang sangat sempit. Pendapatan pajak kita cenderung menurun secara jangka panjang, namun pemerintah sangat agresif dalam belanja untuk program-program prioritas (seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa, rumah rakyat, dan lain-lain).
Tiga masalah utama ini juga merujuk pada penilaian lembaga pemeringkatan internasional seperti Moody’s, S&P, dan Fitch. Dua dari tiga masalah tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kinerja angka fundamental perekonomian, melainkan murni isu tata kelola (governance), kepastian hukum, dan kredibilitas/kepercayaan pasar.
Lipstick Effect: Kenapa Mall dan Hiburan Tetap Ramai?
Lipstick Effect, istilah yang pertama kali muncul dari Leonard Lauder, pemilik brand kosmetik ternama internasional Estee Lauder mencatat kenaikan penjualan lipstik pasca serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat. Di tengah guncangan ekonomi, konsumen memangkas pengeluaran besar, tetapi tetap membeli kesenangan kecil sebagai bentuk pelarian psikologis yang bisa memberikan kepuasan emosional instan (instant gratification).
Pola yang sama terjadi pada perilaku konsumen masyarakat Indonesia ditengah daya beli masyarakat yang menurun. Teori lipstick effect sangat relevan terutama di kalangan anak muda atau kaum urban. Fenomena ini muncul ketika masyarakat membatasi belanja aset besar (seperti rumah atau kendaraan) karena daya beli menurun, namun menggantinya dengan konsumsi kemewahan kecil yang terjangkau (affordable luxury), seperti membeli satu cangkir kopi untuk nongkrong seharian, menonton konser, atau membeli kosmetik/skincare.
Meskipun di sosial media terutama di kalangan anak muda terlihat jorjoran dalam memenuhi lifestyle yang semakin hedon. Fakta berkata sebaliknya, lapangan kerja kian menyempit dan mencari kerja semakin sulit.
“Mungkin di anak muda lipstick effect ini terasa kayak banyak yang nonton konser, beli barang-barang mahal atau mewah affordable luxury, tetapi deep down di angkatan yang lebih tua sebenarnya susah banget cari kerja” ungkap Dipo.
Keramaian di pusat perbelanjaan atau tempat menongkrong belum tentu mencerminkan pertumbuhan nilai penjualan (sales volume). Keramaian tersebut justru menjadi indikator terselubung bahwa daya beli riil masyarakat sedang tertekan. Secara kasat mata, tempat-tempat tersebut terlihat ramai. Namun secara ekonomi mendalam, fenomena ini justru menandakan adanya penyesuaian gaya hidup karena sulitnya mobilitas ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja secara umum.
Kenaikan harga menjadi bagian penting yang paling terasa memberatkan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Hampir semua barang di Indonesia memiliki komponen impor. Ketika rupiah melemah, harga bahan baku naik (berdampak ke pangan dan UMKM), harga suku cadang, oli, serta BBM juga naik. Dampak paling berbahaya dari melemahnya rupiah yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat adalah kenaikan biaya transportasi dan logistik. Transportasi merupakan bagian inti dari seluruh rantai produksi, distribusi, dan konsumsi. Jika biaya distribusi logistik naik, maka harga pakaian, makanan, hingga produk perawatan harian pasti ikut merambat naik.
Beban kenaikan harga pasti sangat terasa bagi kelompok masyarakat kelas bawah. Namun, risiko paling mengkhawatirkan secara struktur ekonomi ada pada kelompok masyarakat kelas menengah. Kelas menengah Indonesia (dengan rentang penghasilan sekitar Rp2 juta – Rp10 juta di Jakarta) berada di posisi serba tanggung dan sangat rentan. Rentang ini sangat mudah mengalami penurunan kelas (downward mobility) begitu ada gejolak harga BBM, kenaikan pajak, atau penyesuaian cicilan. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, hampir 10 juta orang turun kelas dari kelas menengah menjadi calon kelas menengah. Kenaikan harga akibat pelemahan rupiah mengikis daya beli kelas menengah secara perlahan tapi pasti.
Dinamika Rupiah, Ekspor-Impor, dan Dilema Industri Pariwisata Indonesia.
Di tengah dinamika dan kondisi nilai tukar rupiah yang terjadi, aktivitas ekspor dan impor memiliki korelasi yang cukup erat. Di satu sisi, industri manufaktur lokal menjerit karena biaya impor bahan baku melambung tinggi. Namun di sisi lain, merosotnya nilai tukar rupiah justru menciptakan paradoks unik di sektor pariwisata dan perdagangan riil: Indonesia mendadak jadi ‘surga belanja murah’ bagi wisatawan asing.
Fenomena ini belakangan ramai direspons warganet di media sosial. Pusat-pusat perbelanjaan utama di Jakarta, Bali, hingga Bandung makin sering dipenuhi turis dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, hingga Australia. Bagi pemegang mata uang Ringgit atau Dolar Singapura, berlibur dan berbelanja di Indonesia saat ini terasa sangat terjangkau. Bagi mereka, pelemahan rupiah adalah diskon besar-besaran, sementara bagi masyarakat lokal, kenaikan harga bahan pokok dan biaya logistik adalah ancaman nyata bagi kantong harian.
“Pelemahan rupiah ini memang seperti dua sisi mata uang. Bagi ekspor dan pariwisata, ada insentif komparatif di mana produk dan destinasi kita jadi terlihat sangat murah bagi pemegang mata uang asing. Tapi bagi domestik, bayang-bayang imported inflation tetap jadi ancaman riil bagi pasokan pangan dan bahan baku,” terang Mas Dipo dalam wawancaranya.
Kombinasi antara serbuan turis asing yang berburu barang murah dan perilaku Lipstick Effect dari masyarakat lokal inilah yang akhirnya menciptakan impresi visual seolah-olah pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan coffee shop kita selalu “sesak pengunjung”. Padahal, di balik keramaian mata telanjang tersebut, ada daya beli riil kelas menengah yang sedang tergerus oleh kenaikan harga bahan pangan serta bahan baku impor yang merembet ke mana-mana.
Harapan Pemulihan di Tengah Ketidakpastian
Rupiah sempat menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2026. Namun, hal tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat sehingga belum mencerminkan pemulihan yang stabil. Pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, dinamika arus modal global, hingga sentimen investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Di tengah kondisi tersebut, Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Sugiharso Safuan, menilai Indonesia saat ini belum berada dalam kondisi krisis ekonomi, melainkan memasuki fase kewaspadaan moneter. Menurutnya, inflasi masih berada dalam kisaran yang terkendali, tetapi pelemahan rupiah, kenaikan harga pangan, dan energi menjadi sumber risiko yang perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas. Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesehatan ekonomi. “Rupiah melemah adalah sinyal kewaspadaan, bukan tanda otomatis ekonomi hancur,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut perlu dianalisis bersama indikator lain, seperti inflasi, cadangan devisa, transaksi berjalan, arus modal, serta kredibilitas kebijakan Bank Indonesia.
Prof. Sugiharso juga menekankan bahwa tantangan utama Bank Indonesia bukan hanya menjaga inflasi saat ini, tetapi memastikan pelemahan nilai tukar tidak berkembang menjadi ekspektasi inflasi yang dapat mengurangi kepercayaan pasar. Menurutnya, faktor global seperti penguatan dolar Amerika Serikat memang menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Namun, kondisi domestik akan menentukan apakah tekanan tersebut dapat diredam atau justru semakin membesar.
Oleh: Queena Citra Aisha dan Dania Zahra Ayusti
Editor: Tim Redaksi
Ilustrator: Rezkita Vanessa
REFERENSI
LAB 45. (2026). Mata Uang Kepercayaan: Membaca Ulang Pelemahan Rupiah – Publikasi LAB 45. https://www.lab45.id. https://www.lab45.id/detail/498/pstrongmata-uang-kepercayaan-membaca-ulang-pelemahan-rupiahstrongp
ZAIN, Z. (2026, June 11). Lipstick Effect Economy di Tengah Rupiah yang Melemah : Fenomene Nyata atau Sekedar Ilusi? – Kompasiana.com. Kompasiana; Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/zahranzain4928/6a2a7e3234777c44407adf63/lipstick-effect-economy-di-tengah-rupiah-yang-melemah-fenomene-nyata-atau-sekedar-ilusi#goog_rewarded
Millia, H., Balaka, Muh. Y., Saidi, La O., & Tamburaka, I. P. (2023). The Effect of Exchange Rate and Crisis on the Number of Tourist Visits in Indonesia. Proceedings of the Regional Seminar on Community Issues, SSIK 2023, 20 September 2023, Kendari, Province of Sulawesi Tenggara, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.20-9-2023.2340990
Arintoko Arintoko. (2026). EXCHANGE RATE PASS-THROUGH, IMPORT PRICES AND INFLATION UNDER STRUCTURAL BREAKS. Economic Journal of Emerging Markets, 55–75. https://doi.org/10.20885/ejem.v3i1.2320
Aresta, R. V. (2025, August 7). Di Tengah Ekonomi Lesu, Orang Indonesia Mengalami “Lipstick Effect,” Apa Itu? KOMPAS.Com; kompas.com. https://www.kompas.com/tren/read/2025/08/07/123000765/di-tengah-ekonomi-lesu-orang-indonesia-mengalami-lipstick-effect-apa-itu-
[LIVE] Satu Jam Bersama Sugiharso Safuan | Nilai Tukar dan Inflasi:Mitos & Realita Kebijakan Moneter. (2026, June 26). http://www.youtube.com. Retrieved July 28, 2026, from https://www.youtube.com/watch?v=KUO0lEfrO6Y

