Mula-mula adalah riuh yang terencana,
gelanggang tempat marwah dipertaruhkan.
Di sana, di antara megah yang pongah,
berdegup sesuatu yang tak kubantah.
Diapit dua seru yang berseteru,
tersimpan pualam di ceruk paling senyap.
Ia tumbuh sebagai selarik pinta yang lindap,
luruh sebelum jemarinya sempat meraih langit.
Menganga jarak yang tak terjembatani,
sia-sia waktu mengikir celah.
Sebab setiap tapak yang kupaksa berlari,
hanya membentur tembok yang menjulang angkuh.
Harapku hanya sepenggal dekap,
namun cakrawala mengepungku dengan bara.
Semesta mencemooh angan yang dianggap sengketa.
Konon katanya, masa menyapu luka.
Kuarungi sisa letupan yang nyaris padam,
saat sebentuk bayang mendadak lancang.
Barangkali akulah peziarah yang setia,
menatap dunia dari balik kaca yang lama.
Ada yang akrab dalam caranya menyapa,
kehangatan yang sekian lama menjadi damba.
Namun kali ini,
tak ada langit yang meludahkan asa.
Kini rasa itu tak lagi gaduh,
ia menyusup selembut pendar fajar.
Seolah dunia telah letih bersitegang,
dan membiarkan binar matanya menjadi tempatku pulang.
Mungkinkah yang berdiri di hadapanku kini,
tak lebih dari gema,
yang akhirnya menemukan ruang,
untuk terdengar.
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

