Kita pernah menyebut nama
seperti menyebut halte
Tempat singgah yang tak jadi dituruni
karena hujan terlalu rajin
Kau menyimpan diam
di saku jaket musim kemarau
Sementara aku belajar menunggu
tanpa janji dan jam tangan
Cinta tidak selalu tiba
Kadang ia hanya berdiri
menyandarkan punggung pada waktu
lalu pergi tanpa permisi
Aku menuliskanmu
di kertas yang tidak kukirim
Biar rindu belajar
menjadi rahasia yang sopan
Kota mengajarkan kita
cara saling melewati
tanpa harus saling memiliki
Lampu merah, lampu hijau, lampu kenangan
Kau memilih pergi
tanpa alasan yang bisa kugugat
Sebab hati bukan pengadilan
dan aku bukan hakimnya
Malam menua
Di antara bunyi motor dan doa
aku menahan namamu
agar tidak jatuh ke lantai
Cinta, katamu
adalah soal keberanian
Aku tahu itu benar
tapi aku sedang kehabisan napas
Kita sama-sama diam
tapi diam kita berbeda
Kau menutup pintu
Aku hanya lupa cara mengetuk
Alamatmu masih sama
di ingatan yang tak direnovasi
Rumah kecil bernama harap
tanpa pagar dan kunci
Aku tidak menyalahkan siapa pun
bahkan waktu
Ia hanya berjalan
seperti biasa, seperti kejamnya biasa
Jika suatu hari kau membaca ini
anggap saja surat yang tersesat
Sebab cinta tidak selalu sampai
kadang ia hanya berangkat
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

