Aku tiba di sebuah dunia yang tidak runtuh—
melainkan perlahan dikosongkan dari dalam,
seperti kitab suci yang huruf-hurufnya
ditarik satu per satu oleh waktu
yang lupa cara berdoa.
Di sini, makna tidak mati—
ia ditunda tanpa batas,
menggantung di antara kesadaran dan kebiasaan,
seperti pertanyaan yang terlalu lama disimpan
hingga kehilangan keberanian untuk dilahirkan.
Katakan padaku—
apakah kehampaan adalah ketiadaan,
atau justru kepenuhan yang kehilangan penafsirnya?
Langit tidak lagi biru,
ia hanya kesepakatan visual yang diterima tanpa perlawanan.
Bumi tidak lagi dipijak,
melainkan dinegosiasikan oleh langkah-langkah yang lupa tujuan.
oleh langkah-langkah yang lupa tujuan.
Segala yang dahulu bernama “ada”
kini menjelma arsip
dari sesuatu yang tak pernah sungguh hadir.
Manusia berjalan sebagai bayangan dari intensi yang pudar—
mereka berbicara,
namun kata-kata mereka seperti cermin buram
yang hanya memantulkan bentuk tanpa substansi.
Adakah suara yang masih jujur,
atau semua telah menjadi gema
dari kehendak yang ditunda?
Aku menyaksikan waktu kehilangan arah alirnya—
ia tidak lagi bergerak maju atau mundur,
melainkan berputar dalam lingkaran
yang terlalu halus untuk disadari.
Detik-detik menjadi abstraksi,
dan masa depan hanyalah metafora yang kehilangan tubuhnya.
Dalam dunia ini,
sunyi bukan ketiadaan bunyi,
melainkan keruntuhan relasi
antara makna dan penerimaannya.
Segala terasa penuh—
namun tidak ada yang benar-benar sampai.
Seperti surat yang ditulis dengan kesungguhan,
namun tidak pernah memiliki alamat.
Lalu aku bertanya,
dengan kesadaran yang hampir menyerah:
jika segala sesuatu masih berlangsung,
namun tidak lagi bermakna,
apakah eksistensi masih dapat disebut hidup,
atau hanya perpanjangan dari kehampaan yang terorganisir?
Barangkali dunia ini tidak pernah hampa—
barangkali kita yang kehilangan kemampuan untuk mengisi.
Sebab kehampaan bukan ruang kosong,
melainkan kegagalan manusia dalam memberi arti
pada apa yang tak pernah berhenti ada.
Maka aku berdiri di antara reruntuhan yang tak terlihat,
dan untuk pertama kalinya tidak mencoba memahami—
hanya mengakui bahwa dunia tetap berdenyut,
meski makna telah lama meninggalkan tubuhnya.
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

