Jakarta—Indonesia, 2026
Ruang teater kampus itu disekapi dingin. Seisi kotaknya dituang penuhi oleh gema walau barang sejentik kecil suara tersiar, bagaikan rongga besar yang menganga dikosong melompongkan dari segala riuh agar setiap napas yang menguar auri udara terdengar serekat nadi. Cahaya panggung proscenium memantul tepat ke atas muka lantai kayu yang nampak jenuh membeku, mencipta barisan garis temali emas yang terurai, memperlihatkan serpihan kristal debu yang melayang tanpa segentayang berkas bayang. Di antara senyap yang merayap lahapi setiap sudut dan celah ruangan, deretan kursi penonton telah dipenuhi para dosen dan Guru Besar dari Fakultas Seni yang siaga menilai Tugas Akhir dari salah seorang mahasiswi mereka—Mary Arudelia—yang kini berstatus mahasiswa tingkat akhir Jurusan Seni Peran dan Teater.
Nama itu menggantung cukup lama di udara, sebelum tenggelam kembali dalam sunyi. Mary Arudelia menjadi sesosok gadis yang sejak awal lebih sering dikenal lewat keberaniannya membantah pakem ketimbang kepatuhannya pada kurikulum. Ia bukan mahasiswa yang gemar mencuri perhatian, namun setiap gagasan yang keluar darinya selalu menuntut ruangnya sendiri; keras kepala, sunyi, dan tak mau disederhanakan.
Dua minggu sebelumnya, semua dewan yang bersangkutan telah secara resmi menerima poster dan undangan secara daring. Sebuah undangan digital dengan ilustrasi yang memukau para penerimanya. Mary sendirilah yang memilih ilustrasi itu. Sebuah undangan dengan penekanan kuat pada sebaris judul yang terpampang menggunakan font serif tegas—“The Another ‘Swan Lake’ ”. Tidak ada keterangan tambahan; sinopsis beserta penjelasan pendukung apa pun di bawahnya. Ia menghapus sinopsisnya, menanggalkan penjelasan, dan membiarkan judul tersebut berdiri sendiri. Judul yang menggantung dan menuntut rasa penasaran siapa pun yang membacanya. Namun bagi beberapa dosen, itu sudah cukup menjadi pertanda akan akhir yang mengapuk buruk.
Sungguh suatu keputusan yang ia sadari sejak awal akan mengundang lebih banyak tatapan nyalang dengan mulut terbuka lebar daripada sorak sorai tepukan tangan. Namun baginya, kisah ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk dijelaskan; ia hanya ingin dipertunjukkan hingga diakui beradanya.
Harinya pun kini tiba. Alunan lagu pengiring mulai menyemai suai suara, menari teramat merdunya meliuk masuki gendang telinga setiap insan yang menanti sedari lama. Di balik tirai merah yang menutupi setepi panggung, Mary berdiri nyaris tanpa menjejak gerak. Gaun hitam sederhana membungkus tubuhnya—tanpa ornamen, tanpa kemewahan—seperti penanda bahwa ia tidak ingin menjadi pusat sorot. Namun justru dari caranya berdiri, dari dagu yang terangkat tipis dan mata yang tak berkedip, tampak jelas: gadis ini bukan penonton dari karyanya sendiri.
Tak lagi memakan waktu lama, lampu panggung mulai menyala perlahan menampar remang kemuning yang hiasi tiap tepian anakan tangga kursi penonton. Sosok pertama yang diyakini merupakan pemeran utama pentas hari ini pun berjalan ke luar dari balik bilik panggung, bertepatan selepas tirai merah tersibak sepenuhnya. Namun, bukannya perempuan bergaun putih sebagaimana dunia mengenal White Swan sejak berabad-abad, pemeran utama yang berdiri di sana justru merupakan sesosok laki-laki muda dengan tubuh yang dibaluti kostum putih suci, seorang pangeran yang berbudi luhur dan membawa segenap wibawa pada sepasang pundaknya.
Tiada satu pun gerakan balet klasik yang diperagakan: pas de chat, arabesque, maupun lompatan demi lompatan elegan yang dikira akan ditampilkan pada pentas ini. Laki-laki itu hanya berdiri, menatap jauh ke arah puluhan penonton yang merelakan waktu mereka untuk menghadiri teater ballet Swan Lake yang melegenda sepanjang masa. Ia geming di atas tempatnya berdiri, tepat di tengah panggung, seolah memulai kisah dari ruang hening yang tak tercatut cantumi buku sejarah mana pun.
Di sebalik bilik layar panggung teater itu, Mary pun mengatupkan rahangnya. Di wajahnya, tak ada senyum gugup atau kecemasan yang biasa ditemukan pada mahasiswa tingkat akhir. Yang ada hanyalah ketegangan sunyi—sejenis keyakinan yang tidak meminta izin untuk ada.
Belum genap satu menit pertunjukan berlangsung, baru hendak membuka sepatah suara si pemeran utama di atas panggung, lebih dulu sulutan gaduh aksi protes meluncur dari jajaran bangku penilai. “Ini apa?” salah satu Guru Besar berdiri dari duduknya, suaranya cukup lantang terdengar oleh deretan penonton di belakangnya. Kemudian segera disusul dosen lain yang kritiknya dua kali lebih tajam ditodongkan, “Saya kira ini akan jadi interpretasi tari. Ini bahkan bukan balet!”
Mary tidak terkejut. Ia sudah membayangkan nada ini, bahkan mungkin lebih buruk. Namun tetap saja, dadanya mencelos. Bukan karena kritik itu salah, melainkan karena ia tahu betul betapa mustahilnya menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak ingin dipercaya sejak awal. Sulit untuk cepat dipercayai.
Di lain sisi, aktor lelaki yang tengah merajai panggung saat ini, tidak goyah dengan terpaan badai yang berkibas di hadap wajahnya. Kepalanya hanya berpusat pada potongan adegan yang berulang kali dibaca dan diperagakannya. Dirinya kembali mengambil langkah, bukan dengan gerakan tari melainkan gestur teatrikal yang berat dan penuh simbolik bermartabat. Ruang besar itu telah diselimuti ketidaknyamanan seutuhnya. Salah satu dosen tamu kehormatan lintas negara mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan titah supaya pertunjukan dihentikan detik itu juga.
Melihat hal tersebut, Mary yang sedari tadi berdiri di sisi panggung tepat di balik tirai merah yang tersingkap, pun lekas melengos keluar menuju ke tengah panggung, berniat mengambil alih acara sementara dengan tegas tetapi tetap merendahkan diri, merunduk hati. Ia melangkah mendekati pusat panggung, langkahnya ringan namun mantap. Derap langkah yang dibawa alas kaki d’Orsay flat miliknya nyaris tak menciptakan seentak suara pun di atas lantai kayu panggung, kehadirannya benar-benar bagaikan bayangan yang akhirnya memilih menampakkan diri tanpa disereti keraguan.
Turut ditunduki sedikit kepalanya beberapa saat, meminta waktu untuk menyela. Di balik itu semua, dirinya menahan degup yang makin kencang menghantuki selongsong dadanya tatkala diharuskan dirinya menghadapi sorotan puluhan mata yang mencari-cari celah kesalahan persembahan tugas akhirnya.
“Bapak dan Ibu sekalian,” ucapnya membuka ruang bicara. Suaranya tidak tinggi, tidak pula bergetar. Ada serak tipis di ujungnya—bukan karena takut, melainkan karena emosi yang terlalu lama disimpan di dada. Ketika ia berbicara, matanya menyapu satu per satu wajah para penilai, tidak mencari simpati, hanya memastikan mereka mendengarnya. Mary bukan orator ulung, tapi ia terbiasa membela pikirannya sendiri, sekali pun dunia memilih tidak bersudi diri mendengarkan.
”Dari poster dan undangan yang saya kirimkan secara hormat kepada kalian semua, saya sudah menyebutkan judulnya—The Another ‘Swan Lake’. Jadi tentu di sini saya ingin menunjukkan potongan kisah lain dari Swan Lake. Juga, saya ingin mengingatkan kembali, kalau saya ini mahasiswa Seni Peran dan Teater, bukan Seni Tari. Maka dari itu, sudah sangat jelas bahwa tugas akhir yang saya garap bukanlah tarian balet klasik dari Swan Lake.”
Benar saja, penjelasan darinya itu jauh dari mampu untuk meredam protes. Berujung tak lagi hanya berupa tetes per tetes ujaran ketus, justru kian menjadi-jadi, menguak sambuti banjiran kritik yang menghantamnya bertubi. “Tapi kalau kamu memakai nama ‘Swan Lake’, kamu wajib bertanggung jawab pada pakem aslinya! Ini tugas akhir loh, sudah bukan lagi waktunya untuk sesuka hatimu!” seru seorang dosen dengan nada menekan. Sepasang tangannya terbuka, terulur merujuk pada dosen tamu kehormatan yang datang dari negeri “Tanah Biru”, negeri kelahiran dari kisah Swan Lake sendiri.
“Interpretasi boleh dan disahkan. Tapi ini sudah bukan lagi interpretasi. Ini fiksi liar. Laki-laki sebagai White Swan? Itu tidak pernah ada!”
“Literaturnya sama sekali tidak mendukung. Tidak ada catatan sejarah seperti yang kamu klaim dalam judul tugasmu ini. Kamu mengarang namanya ini!”
Kata ‘mengarang’ menggores nuraninya jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sepekan sebelum tibanya hari ini. Wajah ovalnya yang terpahat sempurna mengeras dibuatnya. Bibirnya memucat, dan untuk sesaat matanya kehilangan kilau obsidian yang biasanya bergenang tenang. Kata itu menghantam tepat pada ketakutannya yang paling purba: ketakutan dianggap berbohong tentang sesuatu yang justru terasa lebih nyata baginya daripada hidupnya sendiri.
Akan tetapi, Mary tetap kembali mengangkat wajahnya, menegakkan tubuhnya sembari merematkan kecambah berani yang dibungkusi kedua telapaknya. “Tidak, Bu. Tidak, Pak. Saya tidak mengarang,” bantahnya telak dengan percaya diri yang penuhi genggaman tangannya. “Semua saya ambil dari manuskrip sejarah yang saya dapatkan dari perpustakaan Ibu Kota. Kalau Ibu dan Bapak sekalian tidak percaya, saya bisa kasih lihat buku manuskrip yang saya pegang dan saya bawa hari ini.”
Mary mengangkat sebuah buku tebal yang terbungkus sampul kulit yang sudah digerogoti masa, yang tak lepas dari tangannya sedari sebelum para penilai dan penonton memasuki ruangan. Tepiannya dilapuki usia namun jelas terawat dengan sepenuh hati. Buku itu selalu bersamanya—lebih sering dipeluk ketimbang diletakkan. Seperti benda hidup yang perlu dijaga agar tidak terlelap utuh nyawanya. Buku itu tampak kontras di tangannya yang kurus—terlalu besar, serta terlalu tua untuk seorang mahasiswi seusianya.
Jemarinya yang terbilang cukup lentik itu menyentuh sampul kulitnya dengan cara yang terlampau berhati-hati, seolah ia sedang menenangkan makhluk hidup yang teramat rapuh, yang dengan satu sentuhan saja bisa menyihirnya menjadi abu. Lekas dibukanya di hadapan para juri dan tamu yang hadir, menampilkan halaman demi halaman yang menurut pandangannya penuh terisi oleh tinta yang menjelma bait kata yang saling mengikat jadi ribuan kalimat. Tulisan yang diyakini tinggal menetap di tiap lembarnya, memenuhi tiap milimeter halaman kertas yang menguning termakan waktu dengan kisah yang menunggu dibangkitkan.
Sayang seribu sayang, begitu buku itu tersodorkan kepada para penguji, respons yang dilimpahkan padanya jauh dari yang diharapkan. Dentingan hening bergeming di tengah-tengah ramainya insan. Hingga kemudian gumaman kebingungan pun menyebar lebarkan sayapnya. “Mary, buku itu … kosong. Tidak ada apa-apa di dalamnya.”
“Halaman-halamannya bersih dari setitik pun noda tinta. Tidak ada tulisan apa pun di dalamnya.”
”Kamu jangan main-main, Mary Arudelia!” Seorang Guru Besar memegang kaca mata bacanya, mencondongkan tubuh untuk memastikan. Namun hasilnya tetaplah sama, tak berubah dari orang-orang sebelumnya. Nihil. “Bahkan bekas tinta yang luntur pun benar-benar tidak ada. Ini buku kosong!” tukasnya mengerutkan kening dalam-dalam.
Mary membalas tatapan menusuk dari para dewan yang memojokkannya, wajahnya mengeras karena ketidakpercayaan. “Tidak mungkin. Tidak mungkin kosong. Saya melihat tulisan-tulisannya setiap hari. Saya membacanya berulang kali. Kisah ini … saya tidak mengarangnya, saya bersumpah.”
Para aktor yang memainkan peran dalam tugas akhirnya hari ini, segera berbondong-bondong keluar menghampirinya secara serentak. Secara serempak juga mereka semua ikut menambah-nambahi suara, bahkan pemeran White Swan—laki-laki yang barusan tampil—berdiri paling depan mewakili. “Mary, Lo nggak pernah kasih lihat kita manuskrip itu. Dari awal direkrut sampai hari ini, Lo cuma kasih kita semua hard copy script yang lo ketik sendiri.”
“Iya, Mary. Kita cuman terima script hasil dari ketikan laptop Lo sendiri, bukan dari buku itu.”
Mary terpaku pada buku yang kini tergeletak di atas meja, ditelanjangi di depan banyak mata yang haus akan kebenaran. Pupil matanya membesar, napasnya tercekat. Untuk pertama kalinya, tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Bahunya merosot sedikit, seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan. Di detik itulah keyakinannya dikeroposi percayanya yang akhirannya bermuram durja. Bukan karena orang lain, melainkan karena dunia yang selama ini berbicara padanya mendadak memilih bungkam pada seluruh insan yang mengurungnya dengan beribu tuntutan, secara membabi buta.
Meski begitu, meski kini pundaknya digelantungi kekalutan, dirinya sama sekali tak mengambil hiraukan runtutan protes yang datang dari para aktornya. Gadis itu kembali membuka tutup halaman demi halaman dengan gemetar yang hinggapi ujung-ujung jemarinya, disimak pandanginya satu per satu dengan mata yang mulai disalur sambari getar gentar. Di tengah semua kacau yang merancau balau, Mary masih tidak mempercayai semua tuduhan dari dosen dan Guru Besar yang hadir sebagai pengujinya.
Mustahil matanya menipunya. Mau berjuta kali tangannya membolak-balikan lembaran buku yang ada di hadapannya, tiap kata dan kalimat yang mengisi lembar halamannya tiada yang sirna satu pun, sepenggal pun. Lantas mengapa gerangan yang dilihat oleh semua orang di ruangan ini hanyalah kertas kosong; putih, tanpa noda, dan tanpa adanya jejak sejarah?
Padahal Mary melihat tulisan-tulisan itu dengan jelas, tegas mengalir seperti bisikan masa lalu yang enggan padam nyala nyawanya yang senantiasa berkobar-kobar tanpa berkoar. “Tidak…,” bisiknya, hampir tidak terdengar oleh telinga mana pun.
“Tidak. Kalian semua salah. Tulisan-tulisan ini ada, mereka ada.”
Ya, tulisan-tulisan itu tetap ada dalam sepasang matanya, menyala halus seperti jejak cahaya yang tidak bisa ditangkap manusia mana pun selain dirinya sendiri. Seakan-akan manuskrip tersebut hanya ingin berbicara padanya seorang. Hanya sudi membuka diri padanya semata.
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

