“We had to keep running. 24 hours a day, 365 days a year. It felt as though if we stopped, even for a moment, someone’s heart would stop, too. So we had to keep running.” – Yang Jaewon
Seakan menarik kembali ingatan pada suatu curahan dedikasi besar yang diberikan para tenaga medis – The Trauma Code: Heroes on Call merupakan serial drama medis Korea yang menggambarkan perjuangan tim trauma di Rumah Sakit Universitas Hankuk dalam menangani pasien di momen-momen krusialnya. Serial ini mengikuti dr. Baek Kanghyuk, sang ahli bedah dengan keterampilan yang luar biasa, melihat pengalamannya dalam melakukan pengobatan medis di lokasi berkonflik. Meski begitu, ia memiliki kepribadian yang tidak peduli aturan, mudah marah, dan memegang teguh prinsip sendiri. Bersama dr. Baek Kanghyuk, tim trauma berjuang memaksimalkan setiap golden hour para pasien.
Sebelumnya, tim trauma memiliki sistem penugasan dokter yang digilir dari setiap departemen yang berbeda-beda, tanpa memiliki tim yang tetap. Alhasil, pekerjaan para dokter yang bertugas tidak didasarkan pada dedikasi, tetapi hanya sekadar tanggung jawab sebagai dokter jaga. Namun, dengan kepemimpinan baru dari dr. Baek Kanghyuk yang memperjuangkan berdirinya Pusat Trauma serta selalu menjunjung tinggi keteguhan dan dedikasi, tim ini mampu menunjukkan loyalitas dan profesionalitas yang tinggi dalam pekerjaannya meski harus menghadapi berbagai tantangan serta dilema etika. Bersama timnya, ia dengan teguh menangkis segala bayaran menguntungkan semata demi sebuah nyawa tidak dihabisi sia-sia.
Serial drama dengan total delapan episode ini membawa para penontonnya menjelajah dunia medis dengan alur dan suasana yang face-paced dan high-stress. Paparan wawasan yang dibungkus melalui bubble penjelasan pada setiap adegan tindakan medis juga memberikan konteks sekaligus pembelajaran bagi para penonton awam. Tidak hanya itu, adegan-adegan medis juga ditampilkan secara eksplisit sehingga mampu menghadirkan nuansa hidup yang nyata dalam setiap adegannya.
Oleh karena beberapa hal itu, drama medis ini menuai banyak penilaian positif dan meninggalkan kesan yang mendalam, melihat serial ini berhasil menempati posisi pertama untuk kategori Acara TV Non-Inggris di Netflix serta berhasil meraih 11,9 juta penonton.
Perbedaan dengan Drama lain
“You need to find your own reason — so that when you are working late and being treated like a sh*t, you’ll always remember why you do this.” – dr. Baek Kanghyuk
Tidak ada unsur romansa dalam serial ini menjadi salah satu hal yang paling membedakan The Trauma Code: Heroes on Call dengan serial-serial Korea pada umumnya. Pilihan ini merupakan keputusan yang berani, melihat drama korea yang khas dengan romansanya.
Namun, ketiadaan unsur romansa ini justru berhasil menyoroti fokus utama serial ini, yaitu perjuangan dan tantangan para tenaga medis dalam menyelamatkan pasien. Dengan terfokus pada realita dunia medis, para penonton diajak untuk lebih menghargai dedikasi para tenaga kesehatan yang bekerja tanpa kenal lelah.
Kasus-kasus darurat yang disajikan juga kompleks dan beragam. Beberapa pasien yang harus ditangani berasal dari lokasi ekstrem dan berbahaya yang umumnya tidak memungkinkan untuk melakukan pengobatan, seperti lereng pegunungan terjal yang berkabut, daerah berkonflik, atau bahkan dalam helikopter yang sedang bergerak. Ini semakin menambah intensitas dan ketegangan selama menonton serial ini.
Tidak hanya itu, tokoh dr. Baek Kanghyuk ini terinspirasi dari kisah asli dr. Lee Gukjong, seorang mantan dokter bedah trauma di Rumah Sakit Universitas Ajou. Banyak bagian dalam drama tersebut yang mirip dengan kisah nyata dari dr. Lee Gukjong, dimulai dari dedikasi sebagai seorang dokter garda depan, sistem rumah sakit yang buruk, misi penyelamatan pasien dalam helikopter, hingga perjuangannya untuk mendapatkan helikopter medis sebagai transportasi untuk menyelamatkan pasien darurat.
Dilema Rumah Sakit: Menekan Budget atau Menyelamatkan Nyawa
“I promise myself that I would never ever give up on a patient.” – dr. Baek Kanghyuk
Secara gamblang, diceritakan bahwa orientasi utama Rumah Sakit Universitas Hankuk yang seharusnya mampu menekan angka kematian Korea pada saat itu berbelok pada profit atau keuntungan dari kegiatan layanan kesehatannya. Hal inilah yang menjadi pemicu gejolak konflik internal yang berawal dari defisit anggaran rumah sakit yang meningkat.
Konflik kian diperburuk ketika diketahui bahwa sumber defisit terbesar datang dari Pusat Trauma sejak kehadiran dr. Baek Kanghyuk sebagai ketuanya. Sifat dr. Baek Kanghyuk yang tidak peduli aturan turut menambah alasan ia tidak disukai oleh jajaran direksi rumah sakit.
Selama menjadi pemimpin Pusat Trauma, dr. Baek Kanghyuk tetap meneruskan keteguhan dedikasinya dalam menyelamatkan nyawa para pasien sebagaimana komitmen yang ia pegang sejak menjadi seorang dokter. Akan tetapi, upaya dedikasinya terhalang oleh dilema rumah sakit yang memiliki kecenderungan untuk menekan budget defisit yang banyak dihabiskan untuk operasional tim trauma dalam memberikan layanan kesehatan.
Kurangnya dukungan dan kerja sama dari pihak rumah sakit sempat membuat Yang Jaewon, dokter muda sekaligus murid dr. Baek Kanghyuk di Pusat Trauma, merasa putus asa dan hampir menyerah dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis. Namun, walaupun orang-orang sekitarnya sudah mulai patah semangat, dr. Baek Kanghyuk tetap teguh berjuang menyelamatkan para pasiennya. Keteguhan hatinya untuk selalu sigap menolong menjadi inspirasi bagi timnya untuk tetap berjuang meski banyak rintangan yang menghadang.
Pembelajaran yang Dapat Dimaknai
Setelah rampung menamatkan delapan episodenya, banyak hal yang bisa dimaknai dari drama The Trauma Code: Heroes on Call. Dedikasi para tenaga medis disajikan dan digambarkan melalui perjuangan tim trauma dalam menekan angka kematian dengan menyelamatkan nyawa tanpa mengenal lelah, luka, bahkan mengabaikan kepentingan pribadinya. Pun menunjukkan sebuah ketulusan – menjalani hari-hari berat mereka yang setiap saatnya ditunggangi harapan sebuah keselamatan. Ketika kebanyakan peran berjatuhan menyerah, hanya tim trauma-lah yang bertahan – karena memang sebuah keharusan.
Setiap orang memiliki mimpi tersendiri, namun tetap harus melewati proses yang tidak melulu halus – masa-masa ingin menyerah, kehilangan percaya diri atau bahkan diri sendiri. Perlu sebuah atau beberapa “kenapa” yang bisa membuat kita bertahan di jalan yang berduri. Sebagaimana dr. Baek Kanghyuk yang punya “kenapa”-nya, untuk tetap bertahan di arena pertandingan yang hampir kehilangan perikemanusiaan.
Penulis menutup serial ini dengan skor 4,8 dari 5. Bagi kalian yang menyukai film atau serial bertema medis dengan unsur komedi dan sedikit action, penulis sangat merekomendasikan serial The Trauma Code: Heroes on Call ini.
“We extend our deepest gratitude to all medical staff who work tirelessly every day at the front lines of saving lives.”


Discussion about this post