Di pagi yang belum sepenuhnya sadar
aku ikut rombongan kecil
tangga impian
menyusuri sunyi Beji
yang katanya menyimpan sesuatu
yang tidak diajarkan di buku
Mungkin ini sesuatu yang tak semua orang miliki,
tapi rasanya lebih seperti pulang
ke sesuatu yang bahkan belum pernah kami miliki
Langkah kami berhenti
di depan tanah yang tampak biasa
Sumur 7
Guru menjelaskan
tentang air,
tentang dulu,
tentang bagaimana orang-orang bertahan
Aku tidak benar-benar mendengar
aku hanya melihat ke dalam
gelapnya tidak menakutkan
justru terasa… akrab
seperti bagian dari diriku
yang belum sempat aku kenal
Teman-temanku tertawa
melempar batu kecil
menghitung berapa detik
sampai suara “pluk” terdengar
“Para kecil, biarkan riaknya lahir sendiri,
bukan dari tangan kalian!”
Aku tidak ikut
aku hanya diam
dan entah kenapa
ingin bertanya,
kalau dulu orang bertahan karena air,
aku akan bertahan karena apa?
Angin lewat pelan
membawa bau tanah basah
dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan
mungkin kenangan,
mungkin harapan orang-orang lama
yang tertinggal di dasar sumur
Aku menunduk lebih dekat
seolah berharap ada jawaban,
tapi yang kembali
hanya bayanganku sendiri
sedikit kabur,
sedikit ragu,
seperti mimpi anak SMP
yang masih mencari bentuknya
“Ayo jalan lagi,”
kata guru sekolah sebelah
dan kami pun pergi,
meninggalkan Sumur 7
tetap diam di tempatnya
tapi anehnya,
sejak hari itu,
setiap kali aku merasa kosong
aku seperti kembali berdiri di sana—
di tepi gelap yang tenang itu
dan untuk pertama kalinya
aku mengerti,
tidak semua jawaban harus ditemukan
beberapa…
cukup disimpan
di dalam,
Seperti sumur
yang tidak pernah benar-benar kering
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

