“Aku tidak mau jadi pohon bambu. Aku mau menjadi pohon ek yang berani menentang angin.”
Film Gie merupakan kisah biopik dari sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis keturunan Tionghoa yang vokal terhadap ketidakadilan yang terjadi di sistem pemerintahan Indonesia, tepatnya pada era Orde Lama dan Orde Baru. Disutradarai oleh Riri Riza, film ini tidak hanya menceritakan tentang seorang pemuda dengan idealisme yang tinggi, tetapi juga mengangkat isu-isu sosial dan politik pada masa itu.
Dibuat berdasarkan catatan harian Gie, film ini turut menggunakan format diari yang khas dengan potongan-potongan peristiwa yang ada dalam kehidupan Gie. Riri Riza dengan piawai mengambil garis besar kehidupan dan pemikiran-pemikiran Gie, lalu menampilkannya menjadi sebuah karya yang mudah diikuti oleh masyarakat luas.
Nuansa warna kekuningan memberikan suasana antik yang berhasil menonjolkan atmosfer tahun 1960-an. Suasana yang dibuat pelan tanpa terlalu banyak dialog memaksa penonton untuk merenungkan isi hati Gie melalui monolognya yang tenang dan puitis.
Perjuangan untuk Indonesia
“Kita punya pemimpin. Kita punya bapak yang kita akui sebagai founding father di negeri ini. Tapi, buat gua, bukan berarti dia punya kekuasaan absolut untuk menentukan hidup kita, nasib kita. Apalagi kalau kita sadar bahwa ada penyelewengan, ketidakadilan. Kalau kita hanya menunggu, menerima nasib, kita tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang sebenarnya kita miliki dalam hidup ini.”
Sejak kecil, Gie terkenal dengan kepribadian yang terus terang dan kritis, bahkan tidak jarang ia menentang dan melawan guru-gurunya di sekolah bila ia rasa tidak benar. Dibesarkan oleh keluarga yang sederhana, ia sudah gemar membaca buku-buku berisi pemikiran tokoh-tokoh dunia dan menuangkan keluh kesahnya dalam catatan harian. Ayahnya yang berkutat dalam bidang sastra turut mendukung latar belakang Gie yang tidak asing dengan dunia kepenulisan.
Gie kemudian menempuh pendidikan tingginya di Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Keresahan atas politik Indonesia mendorongnya untuk aktif mengikuti aksi demonstrasi mahasiswa pada masa itu. Menolak untuk diam, kegemarannya dalam menulis juga menuntunnya untuk rutin mempublikasikan kritikan tajam terhadap perpolitikan di media massa.
Tidak hanya mengisi waktunya dengan menulis dan ikut serta dalam demonstrasi, Gie juga tidak jarang mengadakan diskusi film di kampus, saling bertukar pikiran dengan mahasiswa lain. Sebagai seorang pecinta alam yang gemar mendaki gunung, Gie turut menjadi salah satu pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).
Berbeda dengan kebanyakan aktivis mahasiswa di sekitarnya, Gie merupakan sosok pemikir yang merdeka. Ia tidak memiliki keberpihakan politik ke arah mana pun, menjadikannya konsisten dan objektif dalam mengkritik pemerintah yang ia anggap menyeleweng.
Pada awal Orde Baru, di saat para mantan aktivis mulai haus akan kekuasaan demi keuntungan pribadi, Gie lebih memutuskan untuk mempertahankan idealisme dan tetap konsisten dengan netralitas politiknya. Baginya, keadilan dan kebenaran adalah hal mutlak yang tidak dapat diikutcampuri oleh afiliasi kekuasaan apa pun. Keteguhan dalam prinsipnya tersebut tersampaikan melalui kata-kata Gie, “Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Konflik memuncak pada rezim Orde Baru, ketika mulai maraknya pembagian antara blok pro-komunis dan anti-komunis. Perjuangannya untuk menjatuhkan pemerintahan Orde Lama justru membangkitkan Orde Baru yang tidak kalah memprihatinkan. Para penentang komunisme mulai menculik orang-orang yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), bahkan juga salah satu sahabat Gie. Tidak berhenti di situ, Gie pun ikut dilempari dengan berbagai teror, dimulai dari dibuntuti oleh orang-orang asing hingga tulisan intimidasi.
Yang Dapat Dipelajari dari Sosok Gie
“Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.”
Tokoh Gie pantas dijadikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Dimulai dari pemikirannya yang kritis, sikap empatinya pada orang sekitar, hingga kesadarannya akan kondisi politik dan sosial Indonesia. Keteladannya masih relevan di zaman modern saat ini, melihat banyaknya anak muda yang cenderung individualis, apatis, dan mudah terpengaruh oleh pemikiran mayoritas.
Penulis sangat merekomendasikan film ini pada semua kalangan masyarakat Indonesia, terutama golongan mahasiswa dan anak muda. Tidak hanya sebagai hiburan, film ini dapat menjadi bahan refleksi dan inspirasi bagi masyarakat untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kebenaran sekaligus mengenang sejarah Indonesia dalam format film.
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.
Editor: Tim MR – Sastra


Discussion about this post