Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home In-Depth

Regol Kit: Tolok Ukur Profesionalisme Dosen?

by Firda Putri Kurniasari & Louisa Marisi
8 September 2024
in In-Depth, Kampus, Umum

Mahasiswa tentu ingin mendapatkan nilai terbaik dari hasil kerja kerasnya. Sebagai penentu utama nilai akhir, memilih dosen terbaik menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan mahasiswa. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap dosen memiliki ciri khas dan cara mengajarnya masing-masing. Maka, mengenal dosen melalui proses review menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan sebelum sesi SIAK War, khususnya bagi mahasiswa FEB UI.

Pentingnya Review Dosen dan Regol Kit 

Preferensi yang berbeda terkait dosen membuat mahasiswa cenderung membaca review”, atau yang kerap disebut sebagai regol kit oleh mahasiswa FEB UI, untuk memilih dosen sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Kriteria ini meliputi cara mengajar, nilai, dan beberapa aspek lainnya yang diinginkan. 

Perlu diketahui, regol kit biasanya didapatkan secara turun-temurun oleh mahasiswa di setiap angkatan. Proses penyebarannya pun bisa dibilang sangat cepat sehingga setiap mahasiswa setidaknya memiliki satu file regol kit. Setiap akan berganti semester, biasanya mahasiswa sudah bisa mendapatkan file yang berisi review lengkap dosen-dosen sejak jauh-jauh hari, yang biasanya bisa didapatkan secara turun temurun dari kakak tingkat atau grup-grup angkatan.

Untuk mengetahui lebih dalam seberapa pentingnya regol kit bagi mahasiswa FEB UI, Badan Otonom Economica FEB UI (BOE) berhasil mewawancarai masing-masing satu orang mahasiswa dari angkatan 2021, 2022, dan 2023. 

Narasumber pertama menyampaikan bahwa dirinya memang menggunakan regol kit dengan beberapa pertimbangan spesifik, seperti cara mengajar dosen, komponen penilaian, kesibukan pribadi, dan tipe mata kuliah (kuantitatif atau kualitatif). Sementara itu, dua narasumber lainnya mengungkapkan bahwa selain menggunakan regol kit yang sifatnya subjektif, mereka juga bertanya kepada kakak tingkat yang memiliki cara belajar yang sama sehingga review-nya dapat menjadi lebih valid. 

 

“Sebenarnya tergantung regol kit-tnya juga, sih. Selama ini ada misunderstanding karena regol kit yang baik seharusnya mencakup review cara mengajar dan juga nilai. Tetapi, beberapa cuma ada review salah satu dari cara mengajar atau nilai saja,” ungkap narasumber. 

 

Tingkat kepercayaan mahasiswa dengan review yang tertera pada regol kit cenderung tinggi ketika mahasiswa tahu siapa orang yang menulis review tersebut, dan bagaimana kemampuan akademiknya. Makin dekat ke mahasiswa dan makin pintar orang tersebut, maka tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap review pun menjadi tinggi.

Selain itu, semakin rinci review yang diberikan untuk setiap dosen juga bisa menjadi salah satu faktor kepercayaan mahasiswa pada regol kit. Tidak jarang ditemukan banyaknya regol kit yang hanya berisi sedikit review saja, tidak spesifik, dan kurang mendeskripsikan dosen yang bersangkutan. Jenis regol kit seperti ini biasanya jarang digunakan oleh mahasiswa, karena kurang “kredibel”.

Secara keseluruhan, ketiga narasumber memberi nilai 8 dari 10 untuk tingkat kepercayaan mereka terhadap regol kit ini. 

 

“Gue selalu kalah SIAK War. Dosen yang katanya ‘merah’ malah ternyata gue cocok dengan cara mengajarnya dan yang digaungkan ‘hijau’ pun malah biasa saja,” ujar seorang narasumber. 

 

Sebagai informasi, di regol kit FEB UI, dosen diklasifikasikan menjadi 3 kategori: merah, kuning, hijau. Dosen ‘merah’ adalah mereka yang dikenal karena beberapa hal seperti ketat dalam memberikan nilai, cara mengajar yang kurang nyaman, dan memberikan tekanan berlebih pada mahasiswanya. 

Dosen ‘kuning’ adalah mereka yang dikenal tidak terlalu ‘menekan’ untuk mahasiswa, tetapi tidak terlalu ‘melegakan’ juga. Biasanya, dosen tersebut direkomendasikan untuk dipilih menjadi pilihan kedua jika tidak mendapatkan dosen ‘hijau’. Terakhir adalah dosen ‘hijau’, titel yang dianggap sebagai dosen yang terbaik bagi mahasiswa. Biasanya, dosen dilabeli ‘hijau’ ketika mereka bisa memberikan performa mengajar dan penilaian terbaik bagi mahasiswanya, atau mereka yang paling sesuai dengan kriteria mahasiswa. 

Narasumber lainnya menambahkan, “regol kit memang berguna dan dapat dijadikan sebagai tools untuk memilih, tetapi jangan dijadikan sebagai kitab suci.” Maksudnya, jangan jadikan regol kit sebagai satu-satunya patokan untuk menilai dosen. Bagaimana pun review tiap-tiap mahasiswa belum tentu valid dengan kondisi sebenarnya.

Narasumber lainnya menyatakan bahwa saat awal kuliah ia sangat mempercayai regol kit. Lalu ketika kalah SIAK War—mendapatkan dosen kuning atau merah, perlahan-lahan kekalahan tersebut justru memotivasi dan memacunya untuk memberikan usaha lebih di semua mata kuliah. Akhirnya, meskipun dosennya terkenal ‘merah’, ia tetap mendapatkan nilai terbaik karena usahanya sendiri, bukan semata-mata karena kebaikan dosen.

Relevansi regol kit tentu bergantung kepada siapa yang membuat review tersebut. Beberapa dinilai sesuai oleh mahasiswa, tetapi beberapa juga dianggap tidak sesuai. 

 

“Meskipun begitu, kenyataannya gue masih kesel ketika dosen yang gue pilih ternyata beda banget review dengan realitanya. Akan tetapi, misalkan udah dapet nih yang menurut gue bagus, tetap saja penempatan kelasnya masih bisa dirombak oleh Birpend (Biro Pendidikan FEB UI). Yang terpenting, kalau kuliah, ya udah belajar aja, gak usah ngejar banget siapa dosennya,” jelas narasumber. 

Proksi Lain untuk Memilih Dosen

Selain beberapa kriteria dosen ideal yang digambarkan oleh sebagian besar mahasiswa, narasumber kami juga memberikan proksi lain yang mereka gunakan untuk menentukan dosen. Beberapa proksi tersebut, antara lain penyelenggaran pembelajaran online atau offline, tingkat kehadiran dosen, tingkat fleksibilitas dosen dalam hal perizinan tidak masuk kelas, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, sempat santer diberitakan adanya dosen di sebuah mata kuliah di FISIP UI yang tidak memperbolehkan mahasiswanya untuk izin sakit, padahal sang mahasiswa sudah opname di rumah sakit. Maka, bagaimana dosen bisa membaca dan memahami situasi inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam memilih dosen.

 

“Gue pernah dapet dosen yang strict, bahkan pakai surat izin pun dia tetep gak ngasih izin. Tapi, pandangan gue soal (hal) ini, ya fine sih. Mungkin mereka (dosen) merasa sudah tanggung jawab kalian sebagai mahasiswa—untuk hadir di setiap kelas, kenapa kalian cabut?” tutur salah seorang narasumber. 

 

Para narasumber pun memberikan tips untuk menggunakan jatah absen dengan lebih bijak untuk menghadapi masalah sulitnya perizinan ini.

 

“Harusnya karena mahasiswa ada jatah absen, dosennya ngizinin lah. Aku lebih suka dosen yang kasih izin, toh sesekali.” 

Profesionalisme Dosen dan EDOM

Pada akhirnya, perbedaan preferensi terhadap dosen mendorong hadirnya perbedaan pendefinisian dosen yang profesional menurut masing-masing mahasiswa. 

 

“Paling utama tuh yang bisa ngajar, tepat waktu, dan ber-insight. Jadi ada value added dari kelas beliau. Soalnya selain teori, wisdom juga bisa didapat dari pengalaman hidup beliau,” ujar salah satu narasumber. 

 

Narasumber lain menafsirkan dosen yang profesional adalah dosen yang objektif,  transparan, baik dalam tata cara mengajarnya, jelas silabus dan komponen nilainya, dan sebagainya.

 

“Prefer yang tertib dengan jadwal ngajar, ngga suka mengadakan kelas mendadak, dan mengajar dengan jelas, sih,” jelas narasumber lainnya. 

 

Adanya regol kit bisa dibilang merupakan cara informal untuk memberikan penilaian dan evaluasi terhadap dosen, di samping keadaan bahwa Universitas Indonesia sendiri sudah menyediakan EDOM (Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa) sebagai sarana yang dapat digunakan mahasiswa dalam menyampaikan kritik setiap akhir semester.

EDOM memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan penilaian terhadap dosen yang mengajar selama satu semester berjalan. Komponen penilaiannya sendiri ada empat, yaitu materi pembelajaran, proses pembelajaran, pengelolaan kelas, dan evaluasi pembelajaran, dengan rentang penilaian antara 1-6.

Seharusnya, EDOM dapat diisi sejujur-jujurnya oleh mahasiswa sehingga evaluasi bisa disampaikan kepada masing-masing dosen dengan lebih optimal. Ketika hal tersebut dapat dilakukan, dosen juga pada akhirnya mampu memperbaiki beberapa aspek pengajaran yang masih dirasa kurang oleh mahasiswa. Namun, tak jarang ditemukan bahwa banyak mahasiswa yang mengisi EDOM merasa mekanisme review resmi ini hanya sebagai syarat tak penting sehingga cenderung mengisi dengan asal-asalan dan tidak tulus.

Kami cukup beruntung mendapatkan narasumber yang mengisi EDOM dengan kesungguhan hati dan penuh kejujuran. 

 

“Kalau gue (mengisi dengan) sejujur-jujurnya. Walaupun gue tahu itu ga guna dan ga akan dibaca sih. Gue bahkan juga ngisi notes yang di bawah dan akan berterima kasih buat dosen yang insightful. Kalau dosennya jahat banget, gue bakal protes juga di situ, karena (EDOM) itu the only way untuk bisa nyampein (evaluasi), ” tutur seorang narasumber.

Penilaian Terhadap Dosen: Adakah Solusi selain Regol Kit?

Selain melalui EDOM, yang nyatanya masih dirasa kurang efektif oleh mahasiswa,  kami juga masih ingin mengulik lebih jauh, apakah terdapat “wadah” lain yang lebih efektif dan juga yang bisa lebih menjangkau mahasiswa untuk menyampaikan keresahan dan evaluasi kepada setiap dosen. Untuk menjawab hal ini, kami berkesempatan mewawancarai perwakilan Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM FEB UI.

Sebagai pihak yang paling dekat mahasiswa dengan tujuan utama untuk memberikan pelayanan dan mengadvokasikan isu-isu kesejahteraan mahasiswa FEB UI dalam ranah akademis, finansial, dan fasilitas, Adkesma menjadi andalan dan harapan bagi mahasiswa yang ingin menyampaikan keluh kesah serta evaluasi mereka kepada setiap dosen. Harapannya, melalui Adkesma semua keresahan mahasiswa kepada dosen bisa disampaikan dengan baik karena merekalah yang menjadi penanggung jawab dan penghubung utama para mahasiswa dengan pihak fakultas. 

 

“Untuk akomodasi kritik mahasiswa ke dosen, Adkesma punya tiga program kerja, yaitu Curhadkes, Adpustu (Advokasi Pencegahan Putus Studi), dan Diari,” tutur Dani Huwaiza (Dani), Kepala Departemen Adkesma BEM FEB UI.

 

Curhadkes sendiri merupakan program kerja yang fungsi utamanya adalah sebagai wadah bagi mahasiswa yang ingin curhat mengenai semua hal yang mereka alami selama perkuliahan, termasuk cerita dan keresahan tentang dosen. Adpustu menjadi program kerja Adkesma yang berfokus pada ranah akademik. Di sini, Adkesma akan mengadakan forum bersama Studev/PSDM/Kesma tiap-tiap himpunan yang ada di FEB UI untuk memberikan input mengenai isu tiap jurusan, salah satunya mengenai dosen. 

Sementara, Diari merupakan program kerja yang fokusnya menghimpun semua isu (akademis, finansial, dan fasilitas) yang kemudian akan disampaikan langsung melalui forum terbuka kepada pihak dekanat dan program studi, dan evaluasi dosen pun akan dibahas dalam forum ini.  

 

“Ketiga proker ini ada karena adanya masukan dari mahasiswa-mahasiswa FEB sebelumnya. Parameter keberhasilan untuk Adkesma itu kalau semua input dari ketiga proker tadi berhasil kita sampaikan dan mendapat tanggapan langsung dari pihak dekanat atau prodi,” jelas Dani.

Kesimpulan

Selama bertahun-tahun, mahasiswa FEB UI sangat bergantung pada regol kit sebagai patokan dalam memilih dosen terbaik, yang hal tersebut dianggap sangat berpengaruh pada nilai akhir mereka. Definisi “terbaik” untuk masing-masing mahasiswa mungkin berbeda, tergantung pada preferensi masing-masing. Pendefinisian dapat ditinjau berdasarkan cara mengajar, kehadiran di kelas, dan lain sebagainya.

Namun, seiring berjalannya waktu, adanya Regol Kit mulai tidak seratus persen dapat diandalkan dan menjadi kurang relevan karena berbagai faktor. Nyatanya, banyak dosen jauh berbeda dari persepsi yang dideskripsikan pada regol kit. Maka, selain regol kit, mahasiswa juga—perlu—memanfaatkan ‘wadah’ lain untuk menyampaikan evaluasi mereka terhadap dosen, yaitu melalui pengisian EDOM. 

Selain itu, Departemen Adkesma BEM FEB UI yang merupakan penghubung antara mahasiswa dengan pihak fakultas pun menyediakan telah tiga proker utama yang dapat dijadikan tempat untuk mahasiswa menyampaikan keresahannya pada dosen, yang selanjutnya akan disampaikan kepada pihak dekanat atau program studi. 

Namun, terlepas dari berbagai dinamika dalam isu persepsi dan profesionalisme dosen, masing-masing mahasiswa perlu tetap mengerahkan dan memaksimalkan kemampuan mereka dalam mendapatkan ilmu sehingga mampu mendapatkan nilai terbaik di setiap mata kuliah. Pada akhirnya, tindakan seperti menjadikan dosen sebagai “kambing hitam” ketika perkuliahan yang dijalani tidak sesuai ekspektasi dapat terminimalisasi.

Related Posts

Beyond Motivation and Worthiness: Antara Beban Kerja dan Gaji Dosen
In-Depth

Beyond Motivation and Worthiness: Antara Beban Kerja dan Gaji Dosen

The Impact of Quantitative Performance Indicators in Performance-based Research Funding Systems
Kilas Riset

The Impact of Quantitative Performance Indicators in Performance-based Research Funding Systems

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide