Pusat Sumber Belajar (PSB) FEB UI kembali menjadi sorotan. Dikenal sebagai ruang belajar yang nyaman dan strategis, PSB belakangan ini diramaikan oleh pengunjung non-FEB, terutama dari Fakultas Teknik (FT). Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah PSB, yang sejatinya berada di bawah naungan FEB UI, memang hanya diperuntukkan bagi mahasiswa FEB atau terbuka juga untuk fakultas lain.
Oleh karena itu, Economica berkesempatan mewawancarai Endang Wahyu Lestari, S.S., M.Hum., selaku Kepala PSB FEB UI pada Selasa (19/11) untuk mencari info lebih lanjut mengenai fenomena ini.
Sekilas Tentang PSB
Perpustakaan FEB UI atau yang dikenal dengan Pusat Sumber Belajar (PSB) merupakan fasilitas belajar yang disediakan FEB UI, menempati gedung tersendiri seluas lebih kurang 4.700 m2 yang terdiri dari 5 lantai. Gedung tersebut berlokasi di kampus FEB UI Depok, tepat di balik Gedung Student Center FEB UI. Koleksi bacaan yang dihimpun berupa buku, majalah/jurnal, prosiding, skripsi, tesis, disertasi, laporan magang, laporan penelitian, pidato pengukuhan guru besar, dan lain lain.
Selain itu, tersedia juga online database yang terdiri dari ribuan jurnal dari seluruh dunia dalam bidang ekonomi, bisnis, manajemen, industri, ilmu-ilmu sosial dan lain-lain yang berkaitan dengan itu dalam database Proquest, JSTOR dan Elsevier. PSB juga telah memasang hotspot untuk mengakses internet nirkabel sehingga ramai dikunjungi mahasiswa untuk belajar, mengerjakan tugas, atau hanya duduk santai menunggu kelas dimulai.
Saat Mulai Dipadati Fakultas Lain
PSB FEB UI memiliki konsep sebagai ruang belajar dan perpustakaan yang sebetulnya tidak eksklusif bagi mahasiswa FEB saja. “Dari dulu FE itu menerima pengunjung dari luar, kayak (mahasiswa) UGM, UNDIP, dari konsultan, departemen, researcher, itu datang ke sini. Mereka cari rujukan di sini, kayak karya akhir mereka baca. Dari yang (universitas) swasta kan, kan bukan tempat mereka yang beruntung, untuk memiliki resources se-kaya kita,” ujar Endang, memberi titik terang tentang untuk siapa saja, peruntukkan PSB yang sebenarnya. Namun, di sisi lain, sejumlah mahasiswa FEB merasa ruang belajar ini mulai dipenuhi oleh pengunjung dari fakultas lain.
Anggito, mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2022, mengakui adanya peningkatan jumlah pengunjung dari luar FEB, terutama setelah Ujian Tengah Semester (UTS). “Iya, setelah UTS terasa banget,” ujarnya. Menurutnya, beberapa pengunjung dari fakultas lain seperti fakultas teknik (FT) datang untuk berdiskusi kelompok dan membahas topik yang berbeda dengan kurikulum FEB.
“Cuma entah kenapa akhir-akhir ini datangnya bergerombol gitu, kayak diskusi-diskusi gitu. Kita tahu itu bukan anak FE soalnya yang dibahas mata kuliahnya bukan mata kuliah FE. Bahasnya tentang beton, fondasi, terus tentang bahan material gitulah. Kalau dipikir-pikir, jurusan apa di FE yang bahas itu kan?” jelasnya. Meski tidak merasa terganggu secara langsung, Anggito menyebutkan bahwa mahasiswa FEB seharusnya memiliki prioritas dalam menggunakan fasilitas ini.
Kepala PSB: Area Terbuka, Namun Terbatas
FEB memiliki komitmen untuk mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk pemenuhan tri dharma perguruan tinggi dan juga undang-undang atau standar perpustakaan di perguruan tinggi. “Artinya kita enggak bisa eksklusif, itu bukan berarti kita menutup teman-teman non-FE untuk tidak bisa memanfaatkan,” pungkas Endang.
“Tapi kita ada batasan, mereka hanya (bisa) menggunakan area belajar, tidak bisa meminjam ruang diskusi. Mereka juga (bisa) baca buku, (tetapi hanya) baca di tempat. Data ekonomi dan bisnis (PDEB) mereka gak bisa akses,” ujar Endang menekankan bahwa ada batasan layanan bagi pengunjung non-FEB.
Jika mahasiswa merasa terganggu karena ada pengunjung yang berisik atau menggunakan fasilitas yang tidak sesuai peruntukannya, mahasiswa dapat langsung melapor pada petugas yang berjaga di setiap lantai atau satpam. “Jika itu terjadi, mahasiswa FEB berhak melaporkannya kepada petugas,” jelasnya.
Endang juga menegaskan bahwa PSB berkomitmen untuk menyediakan fasilitas terbaik bagi semua pengunjung, selama mereka mematuhi aturan yang berlaku. “PSB adalah unit layanan masyarakat terbaik kami. Namun, kami tetap mendorong pihak universitas untuk memperluas fasilitas belajar di fakultas lain agar kebutuhan ini terpenuhi,” tambahnya.
Perspektif Mahasiswa Teknik: PSB Pilihan Ideal untuk Belajar
Di sisi lain, salah satu mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2024 mengungkapkan alasan seringnya mahasiswa FT mengunjungi PSB. “Untuk berdiskusi mengenai tugas atau belajar untuk kuis karena dekat dengan FT dan nyaman,” jelasnya. Ia juga mengaku bahwa di Fakultas Teknik belum tersedia fasilitas belajar sebaik PSB FEB UI.
Mahasiswa FT tersebut berharap agar Universitas Indonesia menyediakan lebih banyak ruang belajar yang nyaman dan memadai. “Harapan saya agar fakultas-fakultas secara keseluruhan mempunyai tempat yang memadai dan nyaman untuk belajar bersama, terutama Fakultas Teknik,” ungkapnya.
Apa yang Seharusnya Menjadi Solusi
Fenomena ini sedikit menunjukkan kebutuhan akan co-working area yang memadai di seluruh fakultas UI. Mahasiswa FEB berharap agar PSB tetap menjadi ruang belajar yang kondusif bagi mereka, tanpa mengesampingkan pengunjung dari fakultas lain. Menanggapi fenomena ini, Anggito menyarankan agar UI membangun lebih banyak area belajar untuk mendukung kebutuhan mahasiswa dari berbagai fakultas. “Kalo alasannya di fakultasnya gak ada fasilitas yang memadai, berarti ada urgensi untuk membangun working space yang lebih banyak di UI,” ujarnya.
Pertanyaannya kini, apakah UI perlu membangun lebih banyak co-working area untuk mengakomodasi kebutuhan semua mahasiswa? Dengan semakin meningkatnya kebutuhan ruang belajar, langkah ini mungkin menjadi solusi yang tidak hanya membantu PSB, tetapi juga mendukung produktivitas seluruh mahasiswa UI.
Editor: Titania Nikita, Marshellin Fatricia, Fauziah


Discussion about this post