Jagat media sosial X sempat diramaikan dengan tagar #JanganJadiDosen. Tagar tersebut memicu polemik sekaligus memantik diskusi. Banyak pro-kontra terhadap diskursus tersebut. Namun, tampaknya argumen pro menjadi arus utama, entah setuju karena mengalami sendiri hidup sebagai dosen atau karena rasa empati terhadap nasib para dosen di Indonesia. Usut punya usut, tagar ini lahir dari keresahan seorang dosen yang merasa hidup sebagai dosen tidak adil. Upah kecil, beban administrasi, dan kurangnya penghargaan ibarat api dalam sekam.
Asal-Usul Diskursus #JanganJadiDosen
Tagar “JanganJadiDosen” mulai populer di Indonesia melalui media sosial, terutama Twitter–sekarang X. Tagar tersebut naik atas dasar kekecewaan dan keluhan dari para dosen serta masyarakat akademik terhadap berbagai aspek profesi dosen di Indonesia. Dosen memainkan peran penting dalam sistem pendidikan tinggi, bertanggung jawab untuk mengajar, meneliti, dan memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, berbagai tantangan seperti beban kerja yang berat, kesejahteraan yang tidak memadai, dan tekanan administratif telah memicu diskursus ini.
Diskursus “JanganJadiDosen” menjadi signifikan karena mencerminkan krisis dalam pendidikan tinggi yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan. Masalah utama yang menjadi sorotan dalam wacana ini adalah biaya pendidikan pascasarjana yang tidak murah. Namun, kompensasi yang diterima dosen tidak selalu sebanding dengan investasi pendidikan yang mereka keluarkan.
Dalam diskursus ini, muncul beberapa poin utama yang memperkuat argumen di balik tagar #JanganJadiDosen. Salah satunya adalah gaji dosen yang sering kali berada di bawah standar layak, terutama jika dibandingkan dengan sektor lain yang memerlukan kualifikasi pendidikan serupa. Sebagai ilustrasi, gaji dosen yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) bervariasi berdasarkan golongan, dengan kisaran sebagai berikut 1Putra, S. (2024, May 29). Ingin Tahu Berapa Gaji Dosen PNS 2024? Simak Artikel Ini! – Lembaga Publikasi Jurnal Nasional & Internasional. Lembaga Publikasi Jurnal Nasional & Internasional. https://ridwaninstitute.co.id/gaji-dosen-pns/:
- Golongan I: Rp1.685.664 – Rp2.901.420
- Golongan II: Rp2.183.967 – Rp4.125.600
- Golongan III: Rp2.785.752 – Rp5.180.760
- Golongan IV: Rp3.287.844 – Rp6.373.296
Meski terdapat tunjangan lainnya seperti tunjangan keluarga, kinerja, jabatan, transportasi, fungsional, dan kesehatan, yang besarnya bervariasi tergantung pada jabatan, kinerja, dan jumlah tanggungan akan tetapi dengan kisaran gaji tersebut, pendapatan dosen belum optimal. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim riset kesejahteraan dosen dari Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) yang melibatkan 1.200 dosen dari berbagai institusi, tercatat bahwa 42,9% dosen masih menerima gaji di bawah Rp3 juta per bulan 2Tagar #JanganJadiDosen ungkap realita gaji dosen – “Tunjangan anak buat popok saja tidak cukup” – BBC News Indonesia. (2024, February 25). BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c1w150jlj11o.
Hal ini lagi ditambah dengan mempertimbangkan tuntutan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan yang harus dipenuhi. Berdasarkan UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, seorang dosen diwajibkan memiliki kualifikasi akademik minimal S2 (Magister) untuk mengajar di program diploma atau sarjana, dan S3 (Doktor) untuk program pascasarjana. Syarat ini diberlakukan secara nasional sejak tahun 2014 sehingga setelah tahun tersebut, hampir tidak ada lagi dosen yang hanya lulusan S1 di Indonesia.
Di sisi lain, dosen memiliki tiga kewajiban utama sebagaimana tercatat dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, dimana tugas dari dosen ada 3 sesuai isi Tri Dharma, yaitu:
- Melaksanakan pendidikan dan pengajaran.
- Penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
- Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Menurut Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), privatisasi pendidikan telah membuat institusi, baik negeri maupun swasta, harus menekan biaya, termasuk anggaran untuk gaji dosen. Akibatnya, banyak dosen terpaksa mencari pekerjaan sampingan atau proyek lain untuk memenuhi kebutuhan, yang sering kali mengurangi waktu dan perhatian mereka untuk mahasiswa. Hal ini mencerminkan minimnya dukungan yang diterima dosen dari institusi mereka 3Tagar #JanganJadiDosen ungkap realita gaji dosen – “Tunjangan anak buat popok saja tidak cukup” – BBC News Indonesia. (2024, February 25). BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c1w150jlj11o.
Diskursus ini menggarisbawahi masalah-masalah yang dihadapi oleh dosen, seperti gaji yang rendah, kurangnya dukungan dari institusi, dan tuntutan administratif yang berlebihan. Makin banyaknya dosen yang mengungkapkan pengalaman dan kekecewaan mereka di media sosial, tagar “JanganJadiDosen” menjadi simbol dari seruan kolektif untuk perubahan dan perbaikan kondisi kerja dosen di Indonesia.
Siak War: Menilik Persepsi Mahasiswa terhadap Kinerja Dosen
Setiap kali semester baru dimulai di Universitas Indonesia, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), terdapat satu tradisi yang tak pernah luput dari perhatian mahasiswa: proses pemilihan kelas yang dikenal sebagai Siak War. Tradisi ini melibatkan persaingan sengit antar mahasiswa untuk mendapatkan jadwal terbaik dan dosen yang dianggap paling favorit. Proses ini tidak hanya sekadar memilih mata kuliah, tetapi juga merupakan cerminan dari bagaimana mahasiswa menilai kinerja dosen berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan, baik dari pengalaman pribadi maupun dari sumber-sumber seperti “Regol Kit” yang berisi ulasan-ulasan anonim dari mahasiswa lain. Pada suasana yang penuh dengan ketegangan ini, mahasiswa berusaha mengatur strategi sebaik mungkin agar bisa mendapatkan kombinasi kelas dan dosen yang sesuai dengan harapan mereka. Hal ini menjadikan Siak War sebagai momen yang menegangkan setiap semesternya.
Istilah “Siak War” merujuk pada proses pemilihan mata kuliah dan dosen yang diperebutkan oleh mahasiswa untuk mendapatkan jadwal terbaik dan dosen favorit. Dalam konteks ini, persepsi mahasiswa terhadap kinerja dosen berperan penting, dan berbagai metode digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang dosen sebelum mereka membuat keputusan.
Di FEB UI, mahasiswa memiliki akses ke sebuah alat bantu yang dikenal sebagai “Regol Kit”. Regol Kit merupakan kumpulan review dosen yang dikumpulkan secara anonim dan subjektif oleh mahasiswa dari tingkat yang lebih tinggi. Kit ini berisi berbagai ulasan tentang kinerja dosen, mencakup aspek-aspek seperti gaya mengajar, kemampuan komunikasi, ketersediaan untuk konsultasi, dan tingkat kesulitan mata kuliah. Informasi ini sangat berharga bagi mahasiswa yang ingin memilih dosen yang sesuai dengan gaya belajar mereka dan yang dapat memberikan pengalaman belajar yang optimal.
Berikut contoh beberapa penggalan Regol Kit yang telah beredar di FEB UI:
Hijau menunjukkan bahwa dosen yang bersangkutan direkomendasikan:
Kuning menunjukkan bahwa dosen yang bersangkutan direkomendasikan dengan beberapa catatan:


Merah menunjukkan bahwa dosen yang bersangkutan tidak direkomendasikan:


Berbeda dengan FEB, mahasiswa di fakultas lain, seperti FISIP UI, misalnya, mengandalkan rekomendasi secara langsung dari kakak tingkat. Mahasiswa FISIP akan bertanya kepada senior mereka tentang dosen-dosen yang mengajar mata kuliah yang akan mereka ambil. Metode ini menjadi sumber utama informasi bagi mahasiswa FISIP UI dalam memilih dosen.
Di sisi lain, di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI, sistem pemilihan kelas sedikit berbeda. Meskipun mahasiswa memilih kelas, dosen yang mengajar biasanya tidak berubah dari tahun ke tahun. Ini berarti mahasiswa secara tidak langsung memilih dosen setiap periode Siak War, meskipun terkadang dosen yang mengajar berganti. Selain itu, untuk mata kuliah yang bukan dari fakultas internal, seperti mata kuliah RIK, mahasiswa sudah dibagi ke dalam kelas masing-masing, sehingga tidak perlu berpartisipasi dalam Siak War. Informasi mengenai dosen dan kelas biasanya didapat dari pengalaman kakak tingkat, dengan fakultas hanya memberikan informasi dasar seperti apakah kelas tersebut menggunakan bahasa Inggris atau tidak.
Mahasiswa juga cenderung memilih dosen yang dianggap mampu memberikan kualitas pengajaran yang baik, seperti yang tercermin dalam hasil penelitian oleh Kurle, et. al 4Kurle, D., Goyal, S., Joshi, S., Singh, K., & Sarkate, P. (2017). Perception of students and teachers of a good lecture: A questionnaire-based cross-sectional study in a tertiary care teaching hospital. National Journal of Physiology, Pharmacy and Pharmacology, 8(3), 1. https://doi.org/10.5455/njppp.2018.8.0833512102017. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa beberapa faktor yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran meliputi:
- Jadwal kuliah yang diumumkan jauh hari sebelumnya.
- Mengadakan kuliah pada sesi pagi hari.
- Menggunakan PowerPoint sebagai media pengajaran.
- Merangkum kuliah sebelumnya di awal sesi.
- Mengadakan sesi tanya jawab di akhir kuliah.
- Menjaga durasi kuliah agar tidak melebihi 45 menit untuk mencegah kebosanan.
Mahasiswa yang memiliki informasi mengenai metode pengajaran dosen dan reputasi mereka melalui Regol Kit atau rekomendasi dari kakak tingkat akan cenderung memilih dosen yang menerapkan praktik-praktik tersebut. Hal ini karena mahasiswa mencari dosen yang dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik dan efektif.
Fenomena Siak War dan persepsi mahasiswa terhadap kinerja dan gaji dosen juga dapat dijelaskan melalui konsep asymmetric information. Mahasiswa sering kali memiliki informasi yang terbatas mengenai kinerja dan kualitas dosen sebelum memilih mata kuliah, sementara dosen dan institusi memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang kemampuan dan beban kerja dosen. Alat bantu seperti Regol Kit dan rekomendasi dari kakak tingkat adalah upaya untuk mengurangi asymmetric information tersebut, meskipun informasi yang disampaikan sering kali tidak mencakup gambaran penuh tentang kinerja dosen.
Akan tetapi, perlu dicatat bahwa persepsi mahasiswa terhadap kinerja dosen yang diperoleh melalui metode-metode ini sangat subjektif. Review dan rekomendasi bisa saja dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan preferensi individu.
Tak hanya itu, dengan ramainya diskursus “JanganJadiDosen” persepsi mahasiswa terhadap gaji dosen juga dapat mempengaruhi proses decision-making mereka dalam memilih karier di masa depan. Jika mereka melihat banyak keluhan dan ketidakpuasan di kalangan dosen, minat mereka untuk menjadi dosen ataupun akademisi di masa depan bisa berkurang. Sebaliknya, jika mahasiswa melihat bahwa dosen dihargai dan didukung dengan baik oleh institusi dan pemerintah, mereka mungkin lebih tertarik untuk mempertimbangkan karier sebagai akademisi.
UKT : Harga yang Harus Dibayar Untuk Kinerja Dosen yang Lebih Baik?
UKT atau Uang Kuliah Tunggal merupakan besaran uang yang harus dibayar oleh mahasiswa tiap semester. Universitas Indonesia sendiri menerapkan apa yang disebut sebagai diskriminasi harga dalam penentuan besaran UKT yang harus dibayar oleh mahasiswa. Artinya, setiap mahasiswa membayarkan besaran yang berbeda satu sama lainnya. Mekanisme penentuan besaran yang ditentukan oleh UI berdasarkan pada kesanggupan orang tua atau wali mahasiswa bersangkutan.
UKT diasumsikan sebagai harga yang harus dibayar oleh mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan selama berkuliah di Universitas Indonesia. Sama halnya dengan barang dan jasa lainnya yang dibeli dengan uang, mahasiswa tentunya menginginkan kualitas yang baik. Kualitas pengajaran diasumsikan hanya berasal dari dosen, fasilitas dan penunjang dalam belajar lainnya tidak diperhitungkan. Terdapat suatu “masalah” yang disebut sebagai asymmetric information, seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya. Asymmetric information merupakan kondisi dimana satu agen ekonomi memiliki informasi yang lebih baik dibanding agen ekonomi lainnya. Dalam kasus ini, dosen sebagai penyelenggara pengajaran memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai kemampuannya dalam mengajar, yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas pendidikan yang diberikan. Mahasiswa yang tidak tahu-menahu mengenai dosennya terjebak dalam kondisi asymmetric information. Namun, si mahasiswa tentunya menginginkan dosen yang sesuai dengan preferensi yang diinginkannya.
Beban Kerja Dosen Terlalu Berat, Gaji Terlalu Kecil, Kualitas Pengajaran Menjadi Korban
Penelitian yang dilakukan oleh Serikat Pekerja Kampus (SPK) bertajuk “Gaji Minimum, Beban Kerja Maksimum: Perbaiki Kondisi Kesejahteraan Dosen dan Pekerja Kampus Demi Mimpi Indonesia Emas 2045.” 5(SPK), S. P. (2024). Gaji Minimum, Beban Kerja Maksimum: Perbaiki Kondisi Kesejahteraan Dosen dan Pekerja Kampus Demi Mimpi Indonesia Emas 2045. Serikat Pekerja Kampus (SPK). mengungkapkan fakta miris mengenai dunia “perdosenan” di negeri ini. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 tersebut memaparkan kenyataan pahit mengenai tidak indahnya kehidupan menjadi seorang dosen.
“Kehidupan seorang dosen tak seindah cita-cita Tri Dharma perguruan tinggi,”
Ungkapan tersebut menjadi sintesis dalam penelitian tersebut. Penelitian yang disajikan dalam bentuk policy brief tersebut mengungkapkan beberapa pokok temuan yang menjadi perhatian bagi mereka yang masih peduli terhadap nasib dosen. Temuan-temuan tersebut adalah rata-rata gaji pokok dosen di bawah UMR (Upah Minimum Regional), upah yang tak sepadan dengan kualifikasi, dan perlunya pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup (SPK, 2023). Lebih lanjut lagi, dosen juga dibebani dengan berbagai pekerjaan administratif di luar kewajiban mereka untuk mengajar 6Dzulfikar, L. T. (2024, March 4). Gaji Secuil, Lingkungan Toksik: Potret Buram Kesejahteraan… Magdalene.Co. https://magdalene.co/story/gaji-dosen-kecil/. Hal ini tentunya memberatkan pekerjaan mereka untuk menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi yang sejalan dengan peningkatan kualitas pengajaran. Muara dari permasalahan tersebut tentunya adalah penurunan kualitas pengajaran oleh dosen itu sendiri. Hal ini sangat disayangkan karena pada akhirnya kualitas sumber daya manusia yang jadi taruhan. Perlu adanya pembenahan terhadap apa yang terjadi saat ini.
Konklusi
Profesi dosen yang sangat mulia di mata banyak orang masih kurang dihargai. Tugas utama dosen untuk memberikan pengajaran dibebani oleh tugas-tugas administratif dan upah yang tergolong rendah, insentif bagi dosen untuk mencari pekerjaan tambahan. Dampak dari masalah tersebut adalah berkurangnya kualitas pengajaran yang diberikan oleh dosen. Hal ini direfleksikan oleh adanya fenomena “menilai” dosen di kalangan mahasiswa. Di satu sisi, fenomena ini merupakan hal yang baik karena mengungkapkan persepsi mahasiswa mengenai dosen yang sempat menjadi pengajarnya sehingga mahasiswa dan pihak kampus mengetahui bagaimana si dosen, secara nyata, mengajar mahasiswanya di kelas. Namun, di sisi lain, kita harus cermat dan hati-hati dalam mengambil kesimpulan dari persepsi-persepsi tersebut. Tak sedikit persepsi-persepsi itu memunculkan bias, bahkan jauh dari kebenaran.
Referensi


Discussion about this post