Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Soft News

Perjalanan Menemukan Monster Putih: Memahami Dampak Pemutihan terhadap Lahan Gambut

by Nazzala Hanif Aghnati
8 Desember 2023
in Headline, Nasional, Soft News

Pada Rabu (06/12), Economica berkesempatan untuk menghadiri peluncuran permainan “Perburuan Monster Putih” yang diinisiasi oleh Pantau Gambut di Sekretariat Pantau Gambut, Jakarta. Permainan ini merupakan permainan edukasi yang bertujuan untuk mengampanyekan isu pemutihan terhadap lahan gambut di Indonesia.

Pantau Gambut merupakan organisasi non-pemerintah (NGO) yang berfokus terhadap riset, kampanye, dan advokasi mengenai lahan gambut di Indonesia. Organisasi ini bertujuan untuk menjadi jembatan agar masyarakat dapat mengamati isu-isu terkait lingkungan lahan gambut yang sedang terjadi. Pantau Gambut sendiri juga aktif dalam menyuarakan permasalahan lingkungan lahan basah melalui media sosialnya.

Mengenal Gambut dan Berbagai Manfaatnya

Seringkali, orang-orang mendefinisikan gambut sebagai sekadar tanah yang subur. Namun, ternyata definisi gambut lebih luas dari itu, yakni bahan organik yang tidak terdekomposisi (penyederhanaan) secara sempurna karena terdapat kondisi anaerob (kedap udara). Proses ini terjadi dengan jangka waktu yang lambat sehingga terbentuklah lapisan gambut. 

Gambut memiliki segudang manfaat yang memiliki peran krusial dalam keberlangsungan ekosistem lingkungan. “Walaupun dia (gambut) cuma 3% dari luas daratan di dunia, tapi dia tuh bisa menyimpan sebesar 550 gigaton karbondioksida atau setara dengan 75% sebaran CO2 di atmosfer,” ucap Abil Salsabila (Abil) selaku juru kampanye Pantau Gambut. 

Lahan gambut juga memiliki kemampuan daya serap air yang tinggi, yaitu berkisar 80% hingga 90%. Gambut juga merupakan habitatbagi keanekaragaman hayati yang terancam punah, seperti harimau Sumatra, tapir, dan orang utan.

Permasalahan Gambut di Indonesia beserta Risiko yang Ditimbulkan

Dengan segudang manfaat yang diberikan lahan gambut, sayangnya lahan tersebut tidak diberdayakan dengan semestinya. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas ilegal yang dilakukan oleh 278 perusahaan sawit yang beroperasi di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Mirisnya, 44% di antara perusahaan tersebut beroperasi di fungsi ekosistem lindung gambut. 

Yang lebih disayangkan lagi, pemerintah akhirnya memberlakukan kebijakan pemutihan, yaitu upaya membuat sesuatu yang ilegal menjadi legal melalui pembuatan kebijakan baru dengan keharusan memenuhi syarat dan membayar denda administrasi. Kebijakan ini tertuang dalam pada pasal 110a dan 110b dalam Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). erusahaan-perusahaan sawit ilegal bebas beroperasi di dalam kawasan hutan dengan mengandalkan kebijakan pemutihan ini yang sebetulnya merusak konsep pertanggungjawaban terhadap lingkungan dan melanggar transparansi prosedur administrasi hukum yang ada.

Pada tahun 2023 sendiri, telah terjadi kasus pemutihan terhadap kepemilikan kebun sawit dalam kawasan hutan. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah, mengatakan bahwa terdapat sekitar 550.000 ha lahan perkebunan sawit yang telah diputihkan hingga saat ini. 

Pengalihfungsian dan pemutihan lahan gambut menyebabkan malapetaka baru seperti terancamnya keanekaragaman hayati, munculnya bencana hidrometeorologis hingga konflik masyarakat. “Jadi, konsekuensinya adalah ketika perusahaan itu kemudian tidak melalui proses perizinan yang semestinya, mereka tidak ada tuh proses konsultasi yang transparan ke masyarakat,”  ungkap Abil. 

Meskipun memiliki risiko yang cukup besar untuk kehidupan manusia, Yoga Aprillianno (Yoga) selaku tim komunikasi Pantai Gambut berujar bahwa masih banyak orang yang tidak familiar dengan isu pemutihan lahan gambut. Ia dan timnya menemukan beberapa penyebab mengapa isu ini tidak relevan dengan masyarakat luas.

“Kalau dilihat dari diskusi di media sosial, pasti pembahasannya jarang ngobrolin (isu) di luar Pulau Jawa. Yang paling jadi masalah adalah karena kurangnya sumber daya manusia dan dana untuk berangkat ke lokasi (Sumatera, Kalimantan, Papua) yang harganya mahal. (Perjalanan) dari kota menuju titik lokasi (daerah) juga masih jauh,” jelas Yoga.

Ia juga menambahkan bahwa alasan lainnya adalah kompleksitas isu serta misinformasi yang ada. “Masalah pemutihan ini cross issue, mulai dari gambutnya itu sendiri, pendapatan negara, dan banyak isu lain yang saling bertubrukan yang menyebabkan misinformasi,” terang Yoga.

Invensi Permainan sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Pantau Gambut sendiri sadar bahwa sulit untuk meluruskan hal-hal terkait isu pemutihan gambut yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, mereka menciptakan permainan “Perburuan Monster Putih” sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait isu pemutihan. 

“Kami akhirnya mencoba berpikir bagaimana caranya supaya isu ini tuh lebih gampang dicerna, lebih menyenangkan, enggak cuma ngomongin data, tetapi bagaimana membangun sebuah narasi dan membuat sebuah cerita yang lebih enak untuk dicerna oleh publik tentang pemutihan ini,” jelas Yoga.

“Perburuan Monster Putih” merupakan sebuah permainan diInstagram yang mengajak kita untuk berpetualang memburu sang tokoh utama, Monster Putih. Dimulai pada bulan Oktober lalu, Pantau Gambut mengadakan sayembara kepada ilustrator untuk membuat karakter-karakter dan peralatan pendukung gim ini. Setelah itu, tim Pantau Gambut menciptakan alur cerita dengan tiga ending yang berbeda.

Monster Putih merupakan karakter antagonis yang merepresentasikan kebijakan pemutihan yang ditetapkan oleh pemerintah. Karakter ini digambarkan sebagai sosok monster berwarna putih dengan jas dan dasi yang membawa palu keadilan kemanapun ia pergi. Palu ini merupakan hasil rampasan Monster Putih dari manusia bumi yang memiliki kekuatan sebagai penegak hukum di bumi.

Selain Monster Putih, terdapat karakter karakter pendukung lainnya, yaitu Dr. Raflessia, Ota Deborne, Citra Puspita, Rich Boy, Prof. Bagus, dan Chiky. “Dari lima ilmuwan tadi, kami masukkan peralatannya untuk membantu pemain menemukan dan menaklukan Monster Putih,” ujar Yoga. 

Pemain dapat memulai permainan dengan membuka akun Instagram Pantau Gambut, @pantaugambut dan memilih unggahan Perburuan Monster Putih. Pada unggahan tersebut, Pantau Gambut menyajikan alur cerita permainan yang membuat pemain harus memilih jalan ceritanya masing-masing. Yoga menuturkan, “Hati-hati jika salah langkah, pemain bisa mati di permainannya dan harus kembali ke awal. Jika salah, kami akan arahkan untuk mempelajari dampak pemutihan.”

Melalui upaya ini, permainan “Perburuan Monster putih” akan membuka mata publik  mengenai isu pemutihan yang terjadi terhadap lahan gambut. Besar harapan Pantau Gambut agar permainan ini dapat memicu perubahan terhadap isu-isu terkait yang telah terjadi. 

“Memang kami tidak ingin banyak data di dalam permainannya, tetapi kami ingin memberitahu kalau di dalamnya juga terdapat informasi berupa temuan di lapangan serta data dan faktanya. Kami susun menjadi satu paragraf di mana teman-teman bisa pelajari tentang apa yang sedang terjadi,” terang Yoga.

Baca juga: Board Game “Emisi”: Sarana Belajar sambil Bermain tentang Krisis Iklim

 

Editor: Anindya Vania dan Titania Nikita

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide