Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kajian

Idola dan fans, Amnesia terhadap manusia dibelakang kaca ketenaran

by Athar Abimanyu Pranawa
25 Mei 2026
in Kajian

“Amnesia terhadap manusia dibelakang kaca ketenaran”

Dalam ruangan digital dan spasi internet, ribuan netizen menyaksikan kejadian drama antara Jorginho Frello, sebuah pemenang piala Champions League, Coppa Italia, Europa League, dan-lain-lain. Dengan penuduhan terhadap Chappell Roan, seniman amerika pemenang Grammys dan top five artis internasional pada 2025, atas kelakuan penjaga keamanannya pada 21 Maret 2026. Drama terlahir akibat sikap ‘Pascal Duvier’ yang dalam pernyataan Jorginho, mengaku sebagai anggota keamanan Chappell Roan. Kelakuan Duvier mengancam dan mengintimidasi anak putri Jorginho yang hanya ingin melihat pop artis tersebut. 

“Never meet your heroes, never meet people you admire, you’ll only be disappointed”

– Marcel Proust, In Search of Lost Time

Dalam hari-hari setelah keluarnya berita drama, ribuan netizen dan ‘fans’ kedua selebriti saling melawan dan menangkal satu sisi sama lain, melihat sisi mereka sendiri sebagai yang benar tanpa adanya kesalahan dalam kelakuan favorit mereka. Secara kilas, ini hanyalah masalah kurang komunikasi dari kedua pihak drama dan sebenarnya tidak perlu diperbesar-besarkan sampai menjadi sebuah sorotan berita internet. 

Setelah debu mereda kedua sisi selebriti memberi respon resmi, dengan permohonan maaf dari Chappell Roan, namun tanpa pengakuan Pascal Duvier sebagai anggota tim keamanannya, dan Jorginho menarik kritisisme terhadap penyanyi. Namun bagi anak Jorginho dan berapa individu fans Chappell Roan, adanya realisasi bahwa artis kesukaan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan. Perbedaan aksi, gambaran publik, dan miskomunikasi antara kedua pihak mendorong setiap individu dan penggemar selebrita untuk beraksi ekstrem dan negatif dengan satu sama lain.  Inilah bukan hal yang baru dan tidak tersangka, seringkali gambaran atau public image sebuah individu publik tidak sesuai dengan muka realitas mereka, karena bagi mereka perlu adanya perbedaan antara kehidupan kerja/publik dan kehidupan privat. 

  Seringkali, hal tersebut yang melahirkan celah antara kehidupan di bawah lampu publik dan kehidupan privat. Namun bagi fans, hal yang sama melahirkan parasocial relationship dan perdewaan/ ‘Idolization’ kepada personalitas yang mungkin sekali tidak nyata. Fenomena tersebut dapat melahirkan ketergantungan negatif yang sering kali berdampak besar kepada kehidupan, yakni Stan culture. Pertanyaan yang harus diangkat adalah mengapa hal tersebut seringkali terjadi dalam era modern sekarang, dan mengapa lebih banyak konotasi negatif terkait hal tersebut juga.

Kelahiran dan maraknya Stan Culture

Stan Culture atau Stanning saja, pertama muncul pada tahun 2000 dari rapper Eminem dalam lagunya berjudul ‘Stan’, yang berisi dengan hubungan yang obsesif seorang penggemar terhadap Eminem. Dengan perkembangan medsos dan ruangan internet, kata ‘Stan’ mulai digunakan untuk menggambarkan penggemar yang dianggap obsesif, protektif, agresif, dan terlalu bersemangat terhadap orang dan/atau hal yang mereka cintai. Seringkali kata stan diasosiasikan terhadap ‘Stan army’ yaitu para pendukung/penggemar artis dan penyanyi dalam Kpop atau Jpop. Secara arti intinya, ‘Stan army’ dalam Kpop tidak pasti terobsesi sampai berdampak negatif kepada kehidupan luarnya, hanya saja rasa cinta dan kesukaannya perlu dikeluarkan dan sampaikan ke lingkungannya saja. Secara arti sejatinya, ‘Stan’ juga tidak terikat dengan kultur idol dalam Kpop dan Jpop, artinya juga bisa digeneralisasi dan diberi kepada fans terobsesi dan agresif siapapun, baik fans Ronaldo, Tifosi F1, Swifties ataupun fans pemain Michael Jordan.

Penyebaran ‘Stan’ kultur ini dapat diakibatkan secara langsung pada maraknya internet dan media sosial. Sebuah studi kasus wawancara melihat bahwa progres perubahan dari sebuah fans dan penggemar kpop biasa terjadi dari faktor preferensi terhadap sebuah grup dengan karakteristik spesifik masing-masing, dalam proses tersebut individu tersebut secara aktif mencari saluran untuk mendukung dan mencari semua kemungkinan untuk dapat bertemu dengan idola mereka.

Internet sendiri sudah mengalami perubahan dalam perspektif penggunaan bagi masyarakat general, dari melihat berita terkini ke quality of life dari aplikasi seperti Astro dan Gojek yang dapat digunakan untuk pembelian kebutuhan sehari-hari. Teknologi digital sekarang memang ada efek positif secara riil. 

Yang dapat dilihat dengan tingkat interaksi dan penggunaan internet dan media sosial di berbagai negara dunia. 28% dari 2400 responden berasal dari 24 negara berbeda selalu menggunakan internet dalam aktivitas sehari-hari. Indonesia sendiri mengalami peningkatan 56% dalam populasi pengguna internet dari 2014 sampai 2024.

Namun, individu dan masyarakat manusia sudah mengalami perubahan dalam cara kita berinteraksi dengan media hiburan kami. Sudah menurun aura misteri dan paria para artis dan personalitas publik kita. Melewati media sosial seperti Instagram, Twitter(X), ataupun Youtube, kita punya akses 24/7 kepada orang lain dan berita terkini dari selebriti masyarakat.

Faktor yang berdampak bagi seorang yang setiap hari menggunakan internet dapat berasal dari berbagai hal, seperti korelasi dengan pekerjaan, keperilakuan anti sosial/introvert, ataupun Internet Addiction Disorder (IAD). Hal tersebut pasti sudah disadar oleh berbagai tim marketing dan citra publik berbagai industri (dengan banyak fokus dalam industri musik), dengan tujuan untuk menarik sebanyak mungkin konsumer dan penggemar baru ke dalam gelembung hiburan dan pengetahuan mereka. Untuk dapat sampai tujuan tersebut gambaran yang akan terlihat sempurna dan tidak bermasalah untuk para konsumen mereka, adhering to consumer demand.

Manusia sempurna tidak hidup dalam era modern

Sebuah fakta kehidupan adalah bahwa setiap poros hidup seorang pasti ada yang dapat dikritik dan tidak disukai oleh individu lain. Betapa kecilnya pasti ada bagian personalitas yang tidak dapat menarik dan kepada setiap teman dan anggota keluargamu, apalagi kepada konsumer general, maka adanya gambaran publik bagi para seleb dan personalitas publik. Dalam gambaran publik tersebut, mereka memposisikan diri sebagai teman ataupun ‘pahlawan’, seorang yang dapat dilihat sebagai sebuah ‘pilar’ dari suatu konsep maupun ideologi. Baik JFK, Michael Jordan, JKT48, Prabowo, atau Elmo dari Sesame Street. Mereka menjadi sebuah muka untuk ideologi atau agenda masing-masing yang seringkali tidak dibuat secara sengaja. 

Masalah yang muncul terlihat dalam hubungan antara penggemar dan gemaran publik. Sering sekali standar yang ditetapkan oleh satu sama lain terlalu tinggi untuk dicapai. Seperti ruangan media sosial ‘Manosphere’, dengan keinginan para influencer seperti ‘Clavicular’, Andrew Tate, dan Tristan Tate, untuk para followers lelaki mereka untuk mengembalikan ‘maskulinitas’ tradisional mereka. Standar maskulinitas yang sering dikaitkan dengan kerja keras dan Stoicism, nyatanya mereka hanya ingin mendorong agenda maskulinitas toksik dan misoginis. Mendorong poin-poin anti-feminis sekaligus meminta para fans mereka untuk mengikuti program dan ajaran mereka untuk mencapai standar maskulinitas yang ‘sempurna’. 

Dalam sisi para artis dan selebritis, ada juga tekanan dari para penggemar untuk ‘sempurna’. Hal tersebut terlihat dalam kultur Kpop dan Jpop, dengan larangan implisit para idol dan penyanyi untuk berpacaran. Sebagai gambaran ‘suci’ dan tarikan bagi fans, hampir seluruh porsi industri Kpop dan Jpop melarang talenta perempuan maupun lelaki mereka untuk pacaran agar dapat menarik basis konsumen yang sesuai. Sebuah kasus yang paling mencerminkan aturan dan ratusan larangan yang dialami para idol dan selebriti era sekarang adalah kasus bunuh diri Kim Jong-Hyun. Dalam waktunya dalam industri k-pop, Kim Jong-Hyun terpaksa menghadapi depresi yang perlahan namun terus berkembang dalam dirinya. Hal ini terdorong ke derajat ekstrem karena budaya industri K-pop yang menuntut kesempurnaan pada setiap idola mereka, serta para profesional medis yang meremehkan dan hanya menyalahkan ‘kepribadiannya’ dan bukan standar industri yang represif dan konservatif pada saat itu.Kasus-kasus ekstrim lainnya juga terjadi dalam lingkungan industri idola dalam korea, seperti anggota grup Sistar Soyou yang mengalami gangguan panik dan pingsan selama aktivitas sehari-hari hanya untuk mempertahankan berat badan sesuai standar ‘kesempurnaan’ industri. 

Hubungan ini akibat dependensi pendapatan dan perhatian dari penggemar mendorong para artis dan selebriti untuk mendorong agenda yang ekstrem dan meracuni, menarik emosi obsesi dan negatif dalam para fans mereka. Sehingga lahir siklus ekspektasi dan racun antara satu sama lain. Siklus konsumtif dan beracun tersebut lahir dari asumsi awal dan pertama terkait selebritas dan personalitas publik, bahwa mereka akan selalu mendorong untuk hasil akhir paling positif bagi fans dan pengikut mereka, sebuah ‘idol’ dan paradigm.

Sebuah studi mengemukakan bahwa waktu perkembangan perempuan sangat terdampak oleh keberadaannya selebriti dan idola pada masa kecil mereka. Hubungan anak kecil dan status idola mereka sebagai sebuah personalita publik yang dapat dilihat sebagai contoh dewasa teladan, dapat berevolusi menjadi hubungan parasosial yang di masa depan sebagai remaja mungkin menggantikan peran orang-tua mereka sebagai individu yang anak tersebut mengidolakan. Sebagai contoh cara dewasa hidup, kebiasaan idola mereka mungkin sekali diadopsi bagi para pengikutnya, menjadi sebuah poros perbandingan antara badan mereka dan badan selebriti. Seperti yang terlihat dalam sebuah studi survei yang dilakukan, dimana dikemukakan 67.7% dari 121 responden membandingkan badan mereka dengan idol-idol k-pop mereka. 

Asumsi tersebut membuat para konsumen mengalami suatu fenomena amnesia bahwa sebenarnya kegemaran mereka adalah manusia yang tidak sempurna. Kita sebagai konsumen konten para artis memberi balik kekayaan dan perhatian kepada mereka, akhirnya kita merasa berhak atas semua aspek kehidupan dan kerja keras sebuah artis. Menghilangkan aspek kemanusiaan dibalik muka artis, mendorongkan hubungan parasosial antara kedua pihak artis dan konsumen tersebut.

Bibit awal hubungan parasosial

Penanaman bibit hubungan parasosial tersebut berasal pertama dari para individu konsumen. Pertama diartikan oleh Horton dan Wohl (1956), dimana konsep tersebut diartikan sebagai fenomena dimana sebuah penonton merasa adanya koneksi dan hubungan dengan sebuah artis atau selebritas dalam sebuah film, walaupun tidak ada pengakuan timbal balik dari artis tersebut. Biasa dapat terjadi akibat artis tersebut yang mengeluarkan seni yang resonan dan personil bagi penggemarnya. 

Hubungan parasosial tersebut tidak pasti akan terjadi dengan semua penggemar dan pengikut sebuah artis, seringkali hanya sebagian saja yang merasa koneksi ‘personal’ dengan artis mereka. Populasi stan dan penggemar obsesif tersebut berkumpul dan bergabung untuk menyanyikan cinta dan pujian mereka kepada ‘idola’ mereka,  menghasilkan sebuah ruang gemaan yang hanya menerima prinsip dan cinta sama pada idola mereka. Banyak artis dan personalita modern sudah sadar atas kejadian hubungan parasosial, namun mengatasi masalah tersebut dengan tujuan untuk memaksimalkan kesenangan para konsumen dalam aksi menonton mereka. Sebuah studi dalam media sosial ‘Twitch’ yang digunakan untuk live streaming menemukan tingkat interaksi antara sebuah konten kreator dan kesenangan penonton mempunyai korelasi positif. 

Idolisasi terhadap sebuah artis ataupun individu spesifik memang normal bagi anak-anak dan remaja, namun sebuah struktur identitas yang terganggu dan mudah terpengaruh dapat menggusarkan hubungan parasosial tersebut. 

Sebuah model ‘absorption-addiction’ menjelaskan bahwa fenomena tersebut adalah percobaan individu terpengaruh untuk membuat atau mencari rasa pengakuan diri dan kepuasan, absorbsi personalitas tersebut yakni mirip menjadi sebuah adiksi yang mendorong psikologi yang lebih ekstrem untuk mengakui dan menjaga ideologi dir dan sumber dari ideologi tersebut, yaitu para artis dan idol sebuah individu. 

Walaupun apresiasi dan cinta terhadap hasil kesenian seorang dan interaksi dengan sebuah selebriti modern tidak bermasalah bagi anak-anak dan remaja , idolization yang dapat terlahir dari kekaguman tersebut dapat menghancurkan kehidupan kedua sisi konsumen dan artis. 

Kemudahan interaksi dengan sebuah artis modern lewat internet, dan mudahnya mencari informasi privat seorang sekarang, sudah melelehkan rintangan-rintangan zaman dulu dalam dalam kutipan tebal ‘mengenalkan’ seorang. Semua interaksi sebuah stan dengan artis mereka sebenarnya dangkal, tanpa peduli seberapa baik niat seorang artis, dan seberapa dekat seorang penggemar menganggap mereka, keduanya tidak saling mengenal. Sebagian besar interaksi mereka termasuk dalam kategori transaksi yang lebih dangkal, meskipun tampaknya lebih personal bagi kedua belah pihak.

Introspeksi diri dan desentralisasi prinsip

Kita sebagai individu manusia akan selalu mencari sebuah bentuk koneksi dengan individu lain. Masalah dan anugerah yang ada dalam era modern sekarang berasal dari kemudahan dalam pembuatan koneksi tersebut melewati media sosial. Hanya perlu koneksi data dan HP untuk dapat berbincang dan melihat senian orang ribuan kilometer jauh dari kita. Seringkali manusia lain memposisikan diri melewati koneksi tersebut untuk menjadi kekaguman publik dan sebuah idol bagi anak-anak dan remaja yang mudah dipengaruhi. Internet dan media sosial sudah menjadi gerbang mudah untuk manusia terdisosiasi dari realita kehidupan, melupakan bahwa hal-hal yang terjadi di media sosial dapat berdampak ke dalam realita kehidupan mereka. Sebuah individu dapat ‘mengalami’ kehidupan yang berbeda dari kehidupan mereka.

‘Amnesia’ yang kita seringkali dialami manusia sebagai konsumen ribuan hiburan dalam era sekarang dapat dilihat sebagai sebuah kejahatan modern. Sebuah kesalahan kita sebagai manusia untuk dapat melupakan bahwa tidak ada selain yang sudah ada di bumi ini, yakni kehilangan empati terhadap manusia lain. Maka, bisa diubah perspektif kalau amnesia tersebut hanya kekurangan dalam prinsip manusiawi kita yang dapat dikalahkan. Oleh karena itu, kita harus siap menjadi sebuah kritik amatir. Melawan ‘amnesia’ yang terjadi dalam ego kita, akibat sistem dan industri yang bertujuan untuk membuat para konsumen seperti kita buta terhadap fakta bahwa betapa ‘sempurna’ seleb dan idola dalam dunia, mereka pada akhir hari masih manusia dengan ratusan kesalahan dan ketidaksempurnaan, manusia yang tidak perlu menjadi idola tapi layak diapresiasi.

Editor: Tim Kajian

Illustrator: Lumatul Jauharoh

Daftar Pustaka

Belalcazar Vivas, V. (2025). Prevalence of disturbance of body image perception and engagement in risky behaviors for eating disorders motivated by the Korean wave. International Journal of Social Psychiatry, 71(1), 109–115. https://doi.org/10.1177/00207640241280719

Canan, F., Ataoglu, A., Ozcetin, A., & Icmeli, C. (2011). The association between Internet addiction and dissociation among Turkish college students. Comprehensive Psychiatry, 53(5), 422–426. https://doi.org/10.1016/j.comppsych.2011.08.006

Giles, D. C. (2002). Parasocial interaction: A review of the literature and a model for future research. Media Psychology, 4, 279–302.

Japan Powered. (n.d.). The no dating clause in J-pop girl bands. https://www.japanpowered.com/japan-culture/the-no-dating-clause-in-j-pop-girl-bands

Korelasi keperilakuan introvert dalam penggunaan internet. (n.d.).

McCutcheon, L. E., Lange, R., & Houran, J. (2002). Conceptualization and measurement of celebrity worship. British Journal of Psychology, 93, 67–87.

McIntyre, E., Wiener, K. K., & Saliba, A. J. (2015). Compulsive Internet use and relations between social connectedness, and introversion. Computers in Human Behavior, 48, 569–574. https://doi.org/10.1016/j.chb.2015.02.021

Merriam-Webster. (n.d.). Stan. In Merriam-Webster.com dictionary. https://www.merriam-webster.com/dictionary/stan

Pew Research Center. (2025, September 8). Most adults across 24 countries are online at least several times a day. https://www.pewresearch.org/short-reads/2025/09/08/most-adults-across-24-countries-are-online-at-least-several-times-a-day/

Ravi, N., & Patki, S. M. (2025). Parasocial relationships, social support and well-being: A mixed-methods study among Indian youth. International Journal of Adolescence and Youth, 30(1). https://doi.org/10.1080/02673843.2025.2480712

ResearchGate. (2023). A case study of the stan process in K-pop fandom on Twitter. https://www.researchgate.net/publication/369180586_A_Case_Study_of_the_Stan_Process_in_K-Pop_Fandom_on_Twitter

The Star. (2024, December 31). Panic disorder, anorexia and unexplained rashes: K-pop idols recount cost of fame, adulation. https://www.thestar.com.my/lifestyle/entertainment/2024/12/31/panic-disorder-anorexia-and-unexplained-rashes-k-pop-idols-recount-cost-of-fame-adulation

Wulf, T., Schneider, F. M., & Queck, J. (2021). Exploring viewers’ experiences of parasocial interactions with videogame streamers on Twitch. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 24(10), 648–653. https://doi.org/10.1089/cyber.2020.0546

World Bank. (n.d.). Individuals using the Internet (% of population) – Indonesia. https://data.worldbank.org/indicator/IT.NET.USER.ZS?locations=ID

People Editorial Guidelines. (n.d.). Jorginho says Chappell Roan sent security after his 11-year-old daughter made her cry. People. https://people.com/jorginho-chappell-roan-sent-security-after-11-year-old-daughter-made-her-cry-11931719

EBSCO. (n.d.). Parasocial interactions. https://www.ebsco.com/research-starters/communication-and-mass-media/parasocial-interactions

Related Posts

144 atau 145 SKS? Informasi Syarat Kelulusan yang Sempat Tidak Merata
Hard News

144 atau 145 SKS? Informasi Syarat Kelulusan yang Sempat Tidak Merata

Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono Bukan Makna Sebenarnya
Opini

Kata-kata pada Puisi “Hatiku Selembar Daun” Karya Sapardi Djoko Damono Bukan Makna Sebenarnya

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide