Sempat vakum saat pandemi, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Indonesia (KMNU UI) telah resmi aktif kembali beberapa minggu lalu. KMNU UI adalah sebuah organisasi di tingkat Universitas Indonesia yang didirikan pada tahun 2015 dengan tujuan mewadahi mahasiswa yang memiliki kedekatan dengan NU. Untuk mendapat informasi lebih lanjut, Economica berkesempatan mewawancarai Anggito Damar Abimanyu (Anggito) selaku Ketua KMNU UI saat ini.
Dibalik Bangkitnya KMNU UI
Sejak vakumnya pada tahun 2020 lalu, KMNU UI kini kembali aktif dan tengah menjalani proses revitalisasi kegiatan organisasi. Anggito menyebutkan bahwa pada saat ini, KMNU UI telah menyelesaikan pemilihan pengurus inti yang baru dan sedang melakukan proses perekrutan badan pengurus harian dan staf.
Alasan utama dari bangkit kembalinya organisasi KMNU ini tidak lain adalah untuk merangkul kembali civitas UI yang memiliki kedekatan dengan Nahdlatul Ulama (NU) secara terstruktur. “Kita sebagai satu entitas yang punya kesamaan identitas merasa perlu bangkitin (KMNU UI) lagi, karena kalau kita mau berbuat baik, apa salahnya kita organisasikan? Apa salahnya kita gerak (secara) terstruktur?” jelas Anggito.
Alasan pembubaran KMNU UI sebelumnya
Ketika ditanya terkait alasan pemberhentian KMNU UI sebelumnya, Anggito terlebih dahulu mengklarifikasi bahwa KMNU UI tidak pernah diberhentikan kegiatannya. Namun, layaknya sejumlah organisasi lain di lingkup universitas, organisasi ini menghadapi kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi pada masa pandemi.
Belum lagi dengan sistem organisasi KMNU UI yang pada saat itu masih kurang terstruktur, mengingat dininya usia KMNU UI pada saat itu. “Kalau organisasi baru, sekalinya kepemimpinan terputus kaderisasinya terhambat, ya mungkin vakum dan akhirnya perlu waktu untuk bisa bangkit kembali,” terang Anggito.
Perbedaan Kepengurusan KMNU UI Sebelum dan Setelah Vakum
“Landasannya (KMNU UI) tentu Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai dengan landasan yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama. Tapi dengan semangat menjadikan kadernya itu punya keunggulan spiritual, intelektual, dan sosial. Ini (bertujuan) untuk mencetak kader yang berwawasan luas dan juga profesional di berbagai bidang,” jelas Anggito terkait visi KMNU UI di era kepengurusan baru ini. Meskipun visi tersebut secara garis besar masih sama dengan visi sebelumnya, ia menambahkan bahwa KMNU UI bertekad untuk menjadi organisasi yang lebih terbuka dan fleksibel dari sebelumnya.
Disamping itu, KMNU UI juga bertekad untuk membuat tata kelola organisasi yang lebih baik dan profesional demi terlaksananya misi organisasi. Adapun untuk misi utama KMNU UI sendiri pada era kepengurusan baru ini adalah pengkaderan dan menjaga tradisi baik yang dilakukan. “Misalnya di kampung-kampung, (ketika) malam Jumat, kita adain baca Al-Quran, selawat Terus kita juga rutin ziarah,” paparnya. Anggito juga menyebutkan bahwa KMNU UI akan berfokus pada kegiatan-kegiatan di bidang keilmuan seperti pengajian rutin dan diskusi kitab-kitab aqidah, fiqih, dan semacamnya di lingkup universitas.
Langkah KMNU di Era Kepengurusan Baru
“Kita ada perahu besar namanya KMNU UI, kita, sebagai penumpangnya sama-sama gerakin lagi.” Pernyataan dari Ketua KMNU UI 2025 tersebut menggambarkan semangat KMNU UI di era kepengurusan baru ini untuk menjadi pusat pengembangan kader NU di UI.
Langkah yang akan diambil oleh KMNU UI untuk mewujudkan ini adalah dengan mengaktifkan kembali fokus utama KMNU UI, terutama pada aspek internalisasi serta aspek keilmuan. Selain itu, KMNU UI juga akan mengaktifkan kembali media sosialnya dan mengangkat topik-topik hangat pada kajiannya. Sehingga KMNU UI dapat mengikuti perkembangan zaman dan relevan dengan isu-isu yang terjadi pada saat ini.
Arah Baru KMNU UI: Terbuka, Moderat, dan Humanis
Dengan semangat yang baru, KMNU UI kini hadir kembali sebagai wadah kultural yang inklusif bagi siapa pun yang merasakan keterikatan dengan Nahdlatul Ulama. Melalui proses perekrutan yang sedang berlangsung, KMNU UI membuka pintu bagi mahasiswa yang ingin mencari ruang untuk berbagi cerita dan tumbuh bersama. Sebagai penutup, Anggito menyampaikan harapannya untuk KMNU UI kedepannya, “Kita organisasi mahasiswa yang anti politik praktis gitu. Kita sebenarnya moderat, terus juga punya penerimaan terhadap demokrasi yang tinggi, menerima modernitas dan pluralitas. Kita juga menjunjung hak asasi manusia dan menghargai perempuan. Istilahnya, kalau misalkan organisasi Islam kan ada yang strict banget gitu, tapi KMNU ini organisasi Islam yang lebih terbuka aja,” ujarnya sebagai penutup wawancara.
Editor : Tim Redaksi

