Tinta kering
Kertas sobek
Tangan keram
Akal hilang
Jalan buntu
…..
Penulis berteriak:
Tuhanku! Tuhanku!
Penulis gusar.
Ia mencecar-cecar.
Lalu turunlah ilham:
Jalan adalah
Sebuah garis tanpa kekangan
dan intervensi, gema yang diciptakan dari
suara, menjadi aliran sungai
yang membawa batu kerikil menuju
langit yang mungkin tak bisa dicapai.
Tabahlah,
sebab siksa hanyalah khayal dan angan-angan.
Karena itu Penulis tak pernah butuh
darah dan airmata
untuk mengenang derita.
Karena di atas bumi…
Di atas bumi ada gelak tawa
yang ditembangkan oleh mereka yang sebentar lagi
akan menangis yang
dikeluarkan oleh mereka yang sebentar lagi
akan bahagia yang
dipancarkan oleh mereka yang sebentar lagi
akan bersedih.
Jadi apa beda
antara kapal di dermaga dengan
kapal di lautan?
Antara matahari terbit
dan tenggelam?
Cuma Waktu, yang sementara
meminjamkan jasadnya.
Tapi bagi Penulis lain:
Waktu, meskipun sementara,
bisa dicatat, dirampungkan, dan disimpan.
Maka menarilah!
Menarilah dengan pena di tangan.
Menarilah di atas apapun —
putihnya awan, hamparan rumput,
atau bahkan kubangan lumpur.
Sebab apa-apa yang sekarang
akan diterbangkan angin dan hilang dari pandangan.
Penulis: Ibrahim – Staff Penerbitan BO ECONOMICA FE UI 2014


Discussion about this post