Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind

by Alena Noura Jadwa Laduni Asad
22 Maret 2026
in Kilas Riset, Penelitian

Pendahuluan

Temuan teoritis muncul selama dekade terakhir mendukung studi hubungan antara keterlibatan popular fiction dengan perkembangan theory of mind. Dengan teori yang sudah ada mengenai perbedaan literary fiction dan popular fiction menunjukkan dampak yang berbeda terhadap kognisi sosial, jurnal ini akan meneliti apakah literary fiction akan mengurangi esensialisme psikologis dibandingkan dengan membaca popular fiction.

Membaca fiksi bukanlah sekadar menyerap teks secara harfiah, melainkan sebuah proses di mana otak kita aktif mengisi kekosongan informasi. Proses ini mencapai titik puncaknya saat kita membaca fiksi naratif, karena kita diajak untuk menciptakan gambaran mental mengenai karakter, peristiwa, dan latar cerita. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah jenis bacaan tertentu—fiksi sastra dibandingkan fiksi populer—dapat mengurangi cara pandang kaku kita terhadap manusia, yang sering disebut sebagai esensialisme psikologis.

Fiksi Naratif dan Theory of Mind

Membaca fiksi bagaikan masuk ke dalam simulasi kehidupan sosial. Saat membaca fiksi populer, kita sering kali terbawa masuk ke dalam pikiran karakter, merasakan emosi mereka, dan membayangkan apa yang mereka inginkan. Proses ini memiliki kaitan erat dengan Theory of Mind, yaitu kemampuan manusia untuk menebak, memahami, dan merepresentasikan kondisi mental atau perasaan orang lain. Dengan kata lain, rutin membaca fiksi dapat menjadi ajang latihan yang baik untuk mempertajam keterampilan Theory of Mind atau empati kognitif kita.

Fiksi Naratif dan Kategori Sosial

Terdapat perbedaan mencolok antara bagaimana karakter dibangun dalam fiksi populer versus fiksi sastra:

  1. Fiksi Populer: Tokoh-tokohnya cenderung lebih sederhana dan sangat mudah dikelompokkan ke dalam kategori sosial atau stereotip tertentu, seperti profil remaja, lansia, atau tipe kepribadian ekstrovert.
  2. Fiksi Sastra: Menghadirkan karakter yang sangat kompleks, mendalam, dan kehidupan mentalnya tidak dijelaskan secara gamblang. Karakter-karakter ini sulit ditebak dan menolak untuk dimasukkan ke dalam kotak kategori sosial tertentu.

Karena karakter fiksi sastra sangat rumit, pembaca dipaksa untuk menggunakan Theory of Mind yang lebih kuat dan menilai tokoh tersebut sebagai individu yang unik, bukan sekadar pelabelan stereotip. Jika kita terbiasa mengonsumsi fiksi sastra, kebiasaan kita untuk memandang dunia atau orang lain berdasarkan kategori sosial yang kaku lambat laun akan memudar.

Esensialisme Psikologis

Esensialisme psikologis ditransmisikan secara budaya dan tetap mudah dibentuk dalam hal pola pikir atau kategori sosial. Pandangan ini membentuk hipotesis mengenai dampak literary fiction yang akan mengeskpos pembaca pada keragaman dan kompleksitas umat manusia, dan menelisik sejauh mana pembaca terlibat dalam esensialisme psikologis. Esensialisme adalah sebuah keyakinan bahwa di balik penampilan atau perilaku yang kita lihat, terdapat sebuah esensi bawaan yang menjelaskan mengapa suatu kelompok memiliki sifat yang mirip. Sebagai contoh, kita percaya semua kucing terlihat seperti kucing karena ada semacam sifat dasar mutlak tak kasat mata yang membuat mereka menjadi kucing.

Dalam interaksi antarmanusia, pola pikir esensialis ini digunakan sebagai jalan pintas kognitif untuk mengkategorikan orang secara tegas dan kaku. Karena fiksi sastra memaparkan pembacanya pada kompleksitas dan keberagaman sifat manusia seutuhnya, paparan fiksi jenis ini diprediksi dapat menurunkan tingkat esensialisme psikologis, sehingga kita tidak lagi mudah menghakimi orang lain berdasarkan stereotip.

Hasil Analisis Regresi: Studi 1


Tabel 1. Hasil regresi dengan discreteness sebagai kriteria (Studi 1)

Tabel 3. Hasil regresi dengan discreteness sebagai kriteria (Studi 1)

Studi pertama melibatkan partisipan sebanyak 758 warga Amerika Serikat yang direkrut melalui platform Amazon Mechanical Turk sebagai sampel. Komposisi partisipan didominasi oleh perempuan, dengan rentang usia rata-rata 34 tahun. Menggunakan dua alat ukur, yaitu Tes Pengenalan Penulis atau Author Recognition Test (ART), peserta diminta untuk mengenali nama-nama penulis dari sebuah daftar. Semakin banyak nama penulis sastra yang dikenal, semakin tinggi skor keterpaparan seseorang terhadap fiksi sastra, begitu pula untuk fiksi populer. Alat ukur kedua yaitu skala esensialisme psikologis digunakan untuk mengukur sejauh mana para partisipan percaya bahwa manusia dapat dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang jelas, tegas, dan alamiah.

Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa fiksi sastra terbukti menurunkan kecenderungan seseorang untuk mengklasifikasikan orang lain ke dalam kategori tertentu, sedangkan fiksi populer tidak menunjukkan efek yang signifikan. Efek dari temuan ini bertahan meskipun faktor lain seperti ideologi politik dan tingkat pendidikan partisipan turut menjadi pertimbangan.

Hasil Analisis Regresi: Studi 2

Tabel 2. Hasil regresi (Studi 2)

Tabel 4. Hasil regresi (Studi 2)

Studi kedua dirancang untuk memperkuat studi pertama. Studi ini telah melalui proses registrasi di muka (pre-registered), di mana para peneliti secara terbuka mendaftarkan hipotesis, metode, dan rencana analisis sebelum pengumpulan data dimulai. Sebanyak 300 partisipan dengan rata-rata usia 40 tahun dilibatkan sebagai sampel. Alat ukur yang digunakan serupa dengan studi pertama, namun skala esensialisme psikologis diperluas dengan mengukur tiga aspek:

  1. Kekategorian (Discreteness): keyakinan bahwa seseorang dapat dikelompokkan ke dalam kategori yang jelas dan terpisah.
  2. Keinformatifan (Informativeness): keyakinan bahwa mengenali seseorang dalam satu situasi sudah cukup untuk memprediksi perilakunya di situasi lain.
  3. Dasar Biologis (Biological Basis): keyakinan bahwa sifat-sifat manusia bersifat bawaan dan sulit diubah.

Hasil studi kedua ini tidak hanya mengonfirmasi, tetapi juga memperluas temuan sebelumnya. Membaca fiksi sastra juga terbukti menurunkan keyakinan bahwa seseorang mudah ditebak dari satu konteks saja (informativeness) dan keyakinan bahwa sifat seseorang adalah bawaan biologis (biological basis), bukan hanya kecenderungan mengklasifikasikan orang lain secara jelas (discreteness).

Signifikansi Temuan

Fiksi sastra, dengan karakter yang kompleks dan tidak mudah ditebak, misalnya karya penulis seperti Virginia Woolf atau Margaret Atwood, menantang pembaca untuk memahami individu secara utuh. Karena karakternya tidak bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam kategori sosial yang sederhana, pembaca dipaksa untuk terus-menerus memikirkan motivasi, konflik batin, dan keunikan mereka. Proses inilah yang mengasah kemampuan kita untuk melihat orang lain berdasarkan keunikan individual mereka, bukan berdasarkan stereotip atau prasangka kelompok.

Esensialisme psikologis yang terhubung dengan pandangan seseorang akan terpengaruhi seiring seringnya terpapar fiksi sastra. Membangun koneksi yang sangat dalam kepada karakter dan world building yang kompleks membuat seseorang tidak mudah “menghakimi” orang lain. Seseorang akan berusaha memahami seluruh kepribadian orang lain karena paham akan kompleksitas manusia.

Sebaliknya, fiksi populer yang karakternya lebih mudah dipahami akan membuat seseorang lebih mudah menstereotipkan orang lain. Kurangnya pemahaman akan kompleksitas dan keragaman manusia menjadikan fiksi populer cenderung tidak memiliki keterlibatan dalam esensialisme psikologis seseorang.

 

Diulas dari:

Castano, E., Paladino, M. P., Cadwell, O. G., Cuccio, V., & Perconti, P. (2021). Exposure to literary fiction is associated with lower psychological essentialism. Frontiers in Psychology, 12, Article 662940. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.662940

Related Posts

Another Swan Lake: “The Long Lost Ancient Manuscript”
Sastra

Another Swan Lake: “The Long Lost Ancient Manuscript”

Alamat Retak
Sastra

Alamat Retak

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide