Sudah tidak diragukan lagi bahwa Taylor Swift merupakan penyanyi paling populer dengan pengaruh yang sangat besar di era ini. Pengikutnya di Instagram berjumlah lebih dari 200 juta dan berasal dari berbagai macam negara. Swift telah berbicara mengenai beberapa masalah termasuk kesulitan yang ia alami dengan eating disorder dan diet culture. Lizzy Pope dan Kelsey L. Rose dalam studinya membahas apakah terdapat pengaruh dari cerita kesulitan Swift akan makan dan citra tubuh kepada penggemarnya. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan hasil temuan kedua peneliti tersebut dengan bahasa yang lebih sederhana.
1. Pendahuluan
Sepanjang karirnya, Taylor Swift memiliki pengaruh besar dalam membuat tren, terutama selama ia mengadakan Eras Tour yang dimulai pada tahun 2023. Swift tidak hanya memiliki pengaruh besar di industri musik, tetapi juga di lain sektor seperti politik. Pada September 2023, ia mendorong pengikut Instagram-nya untuk mendaftar di vote.org untuk memberikan suara mereka, situs tersebut mencatat kenaikan sebesar 23% pendaftar dari tahun 2022. Selama The Eras Tour, penjualan bahan perhiasan mengalami peningkatan akibat tren gelang persahabatan (friendship bracelet) di antara Swifties (sebutan untuk penggemar Taylor Swift). Jelas bahwa Swift memiliki pengaruh besar melalui musik, tindakan, dan juga pesan-pesannya.
Dalam film dokumenter Netflix yang rilis pada 2020 lalu, Miss Americana, Taylor Swift mengungkapkan bahwa sebelumnya ia pernah mengalami eating disorder dan body image issues, terutama saat promosi album 1989 di tahun 2014. Pada tahun 2022, Swift merilis lagu berjudul ‘You’re On Your Own Kid’ di albumnya yang berjudul ‘Midnights’, menggambarkan eating disorder yang pernah dialaminya. Terdapat beberapa lirik yang jelas menunjukkan kondisinya waktu itu,
I hosted parties and starved my body / Like I’d be saved by a perfect kiss / I search the party of better bodies / Just to learn that my dreams aren’t rare.
Penelitian yang sudah ada, menunjukkan bahwa selebriti dapat mempengaruhi citra tubuh penggemarnya secara negatif, dimana selebriti ini mempromosikan citra tubuh yang kecil atau kurus. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi anti-fat bias (sikap atau perilaku dan sistem sosial yang memarjinalkan orang-orang gemuk) dalam berbagai cara. Adapun, hubungan parasosial yang kuat membuat para penggemar merasa bahwa mereka sangat mengenal idolanya, sehingga dapat mempengaruhi tindakan atau perilaku di kehidupan sehari-hari mereka. Hubungan parasosial adalah perasaan atau koneksi sosial-emosi satu arah antara selebriti dan penggemarnya yang dapat terbentuk melalui komunikasi di sosial media. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana penggemar Taylor Swift terpengaruh oleh cerita kesulitan yang dialami Swift terkait makan dan citra tubuh, serta apakah ia juga berkontribusi terhadap penolakan diet bagi para penggemarnya.
2. Metode Penelitian
Data dikumpulkan dalam jangka waktu lima tahun terakhir melalui dua platform media sosial yaitu TikTok dan Reddit agar dapat dilakukan analisis mendalam terhadap perasaan penggemar terkait masalah gangguan makan (eating disorder) dan citra tubuh (body image) yang dialami oleh Swift. Berikut bagaimana postingan dan komentar dikumpulkan dan kemudian dianalisis.

Pendekatan template analysis digunakan untuk mengembangkan daftar kode. Dengan memanfaatkan Braun and Clarke qualitative thematic approach, peneliti meninjau data kualitatif yang didapatkan dari TikTok dan Reddit untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mendapatkan tema utama.
3. Hasil dan Diskusi
Figur di bawah merupakan model konseptual yang menggambarkan bagaimana Taylor Swift dan tema-tema yang ditemukan dapat memengaruhi perkembangan eating disorder.

a. Taylor Swift sebagai role model
Tema yang paling populer dalam data adalah ekspresi cinta dan kekaguman untuk Swift di TikTok dan Reddit oleh penggemarnya. Di tema ini, muncul juga penggemar-penggemar yang mengekspresikan kebanggaan atas keberanian Swift dalam mengungkapkan pengalamannya saat mengalami kesulitan gangguan makan dan citra tubuh. Dalam analisis, terdapat banyak penggemar yang menyatakan hubungan Swift dengan makanan dan tubuh relatable (sesuai dengan pengalaman mereka), dan menceritakan kesulitan pribadi mereka di beberapa konten atau komentar. Banyak penggemar Swift yang merasa terinspirasi dan berterima kasih karena akhirnya dapat pulih dari gangguan makan.
Terdapat penelitian yang menunjukkan dampak dari hubungan parasosial terhadap diet yang bisa berbahaya tetapi penelitian ini memperlihatkan bahwa hubungan parasosial juga dapat mempromosikan perilaku kesehatan yang positif dan kesejahteraan individu. Penggemar yang merasa sangat terhubung dengan Swift, mengubah tindakan makan dan pengartian tubuh mereka setelah pengungkapan Swift. Efek ini konsisten dengan teori social-cognitive, penggemar akan melihat selebriti sebagai karakter role model mereka ketika figur selebriti tersebut dianggap sebagai orang baik. Data yang dikumpulkan mendukung bahwa banyak penggemar dari berbagai usia mengagumi Swift sebagai role model dalam citra tubuh dan gangguan makan. Sesuai dengan penelitian yang sudah ada, hal ini dapat menciptakan pengaruh positif kepada penggemar. Analisis konten yang dilakukan memperlihatkan pengaruh kejujuran Swift dalam membantu penggemarnya untuk pulih sekaligus merobohkan hambatan terhadap upaya pemulihan.
b. Objektifikasi dan ironinya
Tema lainnya yang paling umum adalah objektifikasi. Data dikodekan untuk konten baik yang mengobjektifikasi tubuh Swift di postingan dan komentar atau yang mengkritik objektifikasi Swift, kerap kali kode-kode ini muncul di dalam satu postingan yang sama. Ironisnya, konten yang mengobjektifikasi tubuh Swift sebenarnya bertujuan untuk menyoroti kekaguman penggemar kepadanya atau untuk membelanya dari kritik media, misalnya seperti komentar ini: ‘She hasn’t just gained weight she has gained a smile.’ di postingan yang menunjukkan foto tubuh Swift terbaru. Ini menunjukkan kurangnya pemahaman konseptual tentang bagaimana berbicara mengenai tubuh seseorang secara positif dapat melanggengkan naratif objektifikasi, yang juga telah ditekankan oleh Swift di Miss Americana. Konten-konten yang mengobjektifikasi dengan jelas menggunakan foto Swift dengan komentar yang langsung berhubungan dengan tubuhnya, sedangkan konten yang mengkritik lebih general seperti: ‘Let’s leave body shaming in the 90’s.’
c. Dalam lagu-lagunya
Taylor Swift terkenal dengan musiknya yang sering bercerita mengenai pengalaman hidupnya, termasuk juga masalah gangguan makan dan citra tubuh yang ia lalui. Dua lagu yang paling umum digunakan oleh penggemar Swift adalah ‘Tied Together With a Smile’ dan ‘You’re On Your Own Kid.’ Penggemar berdiskusi bagaimana seseorang sebesar Taylor Swift mampu melewati masalah tersebut dan meyakinkan penggemarnya bahwa mereka mampu melewati hal yang sama. Penggemar dapat menginterpretasikan lagu dengan cara yang berarti bagi mereka, banyak yang berkata bahwa itu membantu mereka dalam pemulihan gangguan makan. Studi yang ada juga mengindikasikan bahwa musik dapat membantu kondisi kesehatan mental seseorang.
d. Anti-hero dan anti-fat bias
Pada 2022 lalu, Swift merilis video untuk lagunya yang berjudul ‘Anti-Hero’ dengan salah satu adegan kontroversial dimana Swift berdiri di atas timbangan dengan tulisan ‘fat’ dan alter ego-nya menegurnya. Setelah mendapatkan berbagai kritik, Swift akhirnya mengubah adegan tetapi tidak membuka suara dan menerima semua kritik. Banyak penggemar yang menegur swift dan menekankan bagaimana video ini bisa saja menyakiti banyak orang. Namun, ada juga kelompok penggemar yang percaya bahwa Swift hanya menunjukkan pengalamannya. Kelompok penggemar ini tidak sadar bahwa cara yang dilakukan oleh Swift tetap dapat menyakiti orang dengan tubuh gemuk. Mereka yang pernah mengalami kesulitan terkait pandangan tubuhnya dan masalah makan seperti Swift dapat tanpa sengaja melanggengkan anti-fat bias. Meskipun Swift mampu membantu penggemarnya untuk pulih dari gangguan makan dan pandangan tubuh mereka, Swift mungkin tidak membantu penggemarnya dalam memahami bagaimana anti-fat bias terwujud.
4. Kesimpulan
Pengaruh selebriti terhadap citra tubuh penggemar tidak selamanya negatif. Taylor Swift mampu mempengaruhi dan menolong penggemarnya dalam melewati masalah gangguan makan dan citra tubuh melalui ceritanya. Namun, sayangnya pengaruh tersebut tidak banyak membantu penggemar untuk paham mengenai objektifikasi dan anti-fat bias. Dengan suaranya, Swift punya cukup kekuatan untuk mengedukasi penggemarnya dan menciptakan lingkungan di industri musik yang lebih baik lagi.
Reviewed from
Pope, L., & Rose, K. L. (2024). “It’s All Just F*cking Impossible:” The influence of Taylor Swift on fans’ body image, disordered eating, and rejection of diet culture. Social Science & Medicine, 355. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2024.117100
Editor: Amira Nisa Adli
Ilustrator oleh Rally Salsabila A


Discussion about this post