Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Resensi

Monster…

by Agam
26 Juni 2025
in Resensi, Sastra

Life is not fair. It never was, and it never will be. – Johan Liebert

Di dunia tempat keadilan hanyalah ilusi, cinta bisa berubah menjadi kutukan, dan harapan orang tua menjadi awal dari sebuah tragedi. Monster tak selalu tentang makhluk legam karena dendam, liar karena nafsu, cekung karena busung. Ia bisa menjadi pria tampan di seberangku yang saat ini memainkan kursor MacBook-nya dengan senyum ramah yang siap memikat semua orang—maaf karena berburuk sangka untuk siapapun dikau.

Ia adalah cerita tentang bagaimana sifat tamak, luka masa lalu, dan cinta yang salah arah bisa menciptakan sesuatu yang mengerikan: manusia tanpa nama. 

 

Ini Tentang… 

Atau setidaknya, itulah cengiran yang disembunyikan dalam Monster, adaptasi anime dari manga karya Naoki Urasawa. Dirilis pada tahun 2004 dan diproduksi oleh studio Madhouse, anime ini terdiri dari 74 episode yang perlahan menggiring penontonnya ke dalam labirin keputusan moral, luka masa lalu, dan pertanyaan tentang nilai sebuah kehidupan.

Alih-alih memanjakan penonton dengan aksi cepat atau visual mencolok, Monster memilih untuk merayap pelan. Ketegangannya bukan berasal dari letupan, tapi dari tatapan yang kosong, dari percakapan yang menggantung, dari lorong rumah sakit yang terlalu sunyi, dan dari suara pelan seseorang yang sedang memutuskan apakah hidup seseorang patut diselamatkan—atau dibiarkan mati.

Dengan latar Jerman pasca-Perang Dingin, anime ini menjelma bukan sekadar kisah antara dokter dan pembunuh, tapi juga refleksi getir tentang bagaimana cinta, harapan, dan ketamakan bisa saling bertubrukan hingga melahirkan kehancuran.

 

Bagaimana Ini Dimulai?

Saya tidak akan berepot-repot memaksa kalian membaca alur demi alur yang sudah pasti tidak ada izin dari Naoki. Maka sebagai gantinya saya hanya akan merunut garis merah besar dan sekelebat perasaan yang memang sengaja saya titipkan. Hal ini saya lakukan demi menyelamatkan nama saya dari label “Penebar rahasia picisan”.

Semua bermula di Düsseldorf, Jerman, awal dekade 1990-an, sebuah masa transisi ketika bayang-bayang Perang Dingin belum benar-benar surut, dan batas antara Timur dan Barat masih menyisakan luka struktural. Di sinilah kita diperkenalkan pada Dr. Kenzo Tenma, dokter bedah saraf jenius asal Jepang yang meniti karier di Rumah Sakit Memorial Eisler. Tenma muda adalah sosok idealis: percaya pada nilai kehidupan, percaya bahwa semua nyawa itu setara, setidaknya sebelum dunia membuktikan bahwa “kesetaraan” sering kali hanya ilusi.

Tenma diberi pilihan: menyelamatkan Wali Kota Roedecker, atau seorang bocah kembar yang terluka akibat penembakan brutal. Tanpa ragu, ia memilih bocah lelaki bernama Johan Liebert—dan kehilangan segalanya. Tunangannya, Eva Heinemann, anak direktur rumah sakit, meninggalkannya karena ia dianggap telah menghancurkan reputasi keluarga. Kariernya membeku. Nama baiknya pudar. Dan dalam ironi yang terlalu kejam untuk disebut takdir, sang bocah yang ia selamatkan… menghilang—meninggalkan jejak kematian di belakangnya.

Tahun berlalu. Dan Tenma, yang semula percaya bahwa ia telah menyelamatkan hidup seseorang, mulai sadar bahwa mungkin ia telah menyelamatkan akhir dari begitu banyak kehidupan. Karena Johan, si anak pendiam bermata tenang, bukan hanya korban. Ia adalah arsitek kehancuran.

Perjalanan pun dimulai. Bukan perjalanan yang megah atau penuh ledakan, tapi perjalanan dalam diam yang panjang. Tenma menjadi buronan. Dikejar polisi, terutama Inspektur Heinrich Lunge yang terlalu percaya pada logika, hingga mengabaikan absurditas yang sedang mereka hadapi. Lunge meyakini bahwa Tenma-lah dalang dari segala kekacauan, karena konsep tentang “manusia sempurna namun jahat” terlalu sulit dinalar.

Di tengah pelarian, Tenma menjelajahi Jerman hingga ke perbatasan Republik Ceko. Ia menelusuri jejak masa kecil Johan, menyusuri panti asuhan gelap bernama Kinderheim 511, tempat anak-anak tidak dibesarkan—melainkan dikonstruksi menjadi alat. Di sinilah, aroma eksperimen psikologis, rekayasa ideologi, dan trauma kolektif mulai terasa. Monster bukan hanya soal satu tokoh jahat—melainkan tentang bagaimana sistem membentuknya.

 

Namun, cerita ini bukan hanya tentang Tenma dan Johan.

Ada Nina Fortner, nama baru dari Anna Liebert, saudari kembar Johan yang juga selamat dari malam kelam itu. Tak seperti Johan yang tenggelam dalam kekosongan, Nina berusaha mengingat, memahami, dan pada akhirnya, membebaskan diri. Ia adalah potret dari seseorang yang mencoba menjadi manusia—meski darah yang mengalir dalam dirinya sama.

Ada pula Dieter, bocah kecil yang hampir mengalami nasib serupa Johan, tapi diselamatkan oleh Tenma. Dieter menjadi lambang harapan kecil: bahwa satu tindakan baik, meskipun sederhana, bisa mencegah lahirnya monster baru.

Dan kemudian datang Grimmer, jurnalis eksentrik yang selalu tersenyum, menyebut dirinya “The Magnificent Steiner”, nama dari tokoh kartun masa kecilnya. Tapi senyumnya menyimpan luka. Ia juga produk dari sistem yang rusak. Di balik gestur ceria itu, tersimpan trauma mendalam dari eksperimen psikologis masa kecilnya—dan pertanyaan: apakah ia masih manusia, jika ia tak tahu bagaimana seharusnya merasakan?

Semua tokoh ini, semua kota ini—Frankfurt, Munich, Prague—tersambung oleh satu benang tak kasat mata yang bernama Johan. Tapi Johan bukan hanya orang. Ia adalah gagasan. Ia adalah kehampaan yang merambat, menular lewat ketakutan, luka masa kecil, dan cinta yang tak diberi bentuk.

Monster bukan kisah kejar-kejaran biasa. Ini kisah tentang orang-orang yang mencoba berdamai dengan keputusan yang pernah mereka ambil. Tentang cinta yang berubah menjadi obsesi, harapan yang membusuk menjadi dendam, dan ketakutan bahwa kita semua… bisa jadi seperti Johan, jika cukup hancur.

Tenma tak pernah benar-benar ingin membunuh. Ia hanya ingin tahu: apakah hidup yang pernah ia selamatkan… layak untuk diselamatkan?

Dan kita, yang mengikuti dari balik layar, pelan-pelan mulai mempertanyakan hal yang sama—bukan hanya pada Johan, tapi pada diri kita sendiri.

Karena pada akhirnya, Monster bukan hanya soal siapa yang menjadi monster, tapi: siapa yang diam saat monster itu diciptakan?

 

Kataku… Pelan-pelan, Kita Menjadi Monster

Dalam narasi Monster, kita tidak disuguhi jawaban, melainkan dipaksa menggali ulang pertanyaan yang mungkin sudah lama kita hindari: apakah moralitas itu absolut, atau hanya konstruksi rapuh yang mudah runtuh saat realitas mengguncangnya? Apakah manusia menjadi jahat karena pilihan, atau karena dunia telah lebih dulu membunuh sisi baiknya?

Keyakinan bahwa setiap nyawa berharga terdengar luhur. Tapi dalam dunia yang tak adil, niat baik bisa menjadi bumerang. Menyelamatkan satu kehidupan bisa jadi berarti melepaskan kehancuran ke banyak kehidupan lain. Maka lahirlah dilema yang paling menyakitkan: apakah berniat baik cukup, jika hasilnya justru menyuburkan keburukan?

Secara filsafati, utilitarianisme mungkin akan berkata: nilai moral diukur dari hasil. Tapi deontologi—seperti yang diyakini Kant—berdiri pada prinsip bahwa niat baik dan kewajiban moral tetap benar, meskipun dunia tidak memberi ganjaran. Dan di sanalah kita, manusia biasa, sering terjebak di tengah: memilih dengan cinta, dihukum oleh akibat.

Namun di antara kebingungan itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih menusuk: jika seseorang bisa tumbuh menjadi monster, siapa yang gagal? Orang tuanya? Sistem? Kita semua?

Karena yang membuat kisah ini begitu menggigit adalah kenyataan bahwa si “monster” tidak muncul dari kehampaan. Ia adalah hasil dari sejarah yang dibisukan, trauma yang diwariskan, dan sistem yang lebih memilih eksperimen daripada empati. Di dunia Monster, kekejaman tak selalu datang dalam bentuk senjata atau darah, tapi dalam bentuk abaian, pembiaran, dan suara-suara yang memilih diam saat kekelaman mulai tumbuh.

Namun, Monster juga tak mendorong kita jatuh dalam nihilisme. Masih ada secercah yang bisa dipertahankan dari seseorang yang tetap memilih menyelamatkan, dari anak kecil yang tidak jadi rusak, dari tawa palsu yang perlahan menemukan maknanya, dari perempuan yang perlahan mengingat dan memilih tak membalas.

Di titik ini, aku mulai merasa bahwa cerita ini tidak lagi tentang mereka, tapi tentang kita. Tentang bagaimana dalam setiap dari kita, mungkin ada sedikit ruang yang bisa menjadi monster—jika dibiarkan tanpa cahaya.

Dan mungkin, pelajaran paling penting adalah ini: kita tidak bisa mengendalikan siapa yang menjadi monster, tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari sistem yang menciptakannya. Atau setidaknya, memilih untuk tidak diam saat yang lain mulai kehilangan bentuk kemanusiaannya.

Pelan-pelan, dunia memang bisa hancur. Tapi pelan-pelan pula, ia bisa diselamatkan—oleh keberanian kecil untuk bertanya, untuk mendengar, untuk tidak memalingkan wajah.

Kataku, aku telah menulis terlalu banyak, moga ampunan dari Naoki Urasawa menyertai terbitnya tulisan ini. Dan Tentu asaku-pun agar para pembaca berbaik hati dan tidak menghujatku. 

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide