Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Soft News

Mereka yang Mendedikasikan Hidupnya sebagai Pendidik: Kisah Bu Nung dan Bu Tika sebagai Pengajar di FEB UI

by Muhammad Syakhsan Haq
19 November 2024
in Soft News, Tokoh

Di balik gemilangnya capaian seorang mahasiswa, ada tangan-tangan tak terlihat yang sering luput dari perhatian. Mereka adalah para dosen—figur yang dengan sepenuh hati mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk perkembangan seorang mahasiswa. Di bulan November, saat kita mengenang arti sejati seorang pahlawan, mereka hadir bukan dengan senjata di tangan atau di medan laga, melainkan melalui dedikasi tanpa pamrih yang menerangi perjalanan mahasiswa dan memajukan ilmu pengetahuan. Meski tanpa tanda jasa, mereka adalah pilar senyap dari tersyohornya nama sebuah univeritas.

Di antara nama-nama tersebut, adalah Tika Arundina Aswin (Tika) selaku Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Islam dan Siti Nurbaningsih Harahap (Nung) selaku Dosen Departemen Akuntansi yang mendedikasikan hidupnya sebagai pendidik di FEB UI. Baru-baru ini, keduanya memperoleh penghargaan sebagai dosen dengan pengajaran terbaik pada perayaan Dies Natalis ke-74 FEB UI. Namun, penghargaan itu hanyalah serpihan kecil dari perjalanan panjang mereka yang penuh pengorbanan.

Di antara kisah pengorbanan itu, salah satunya adalah ketika Nung tengah berada di persimpangan pilihan yang tak mudah. Di satu sisi, ayahnya terbaring kritis di ruang Stroke Care Unit (SCU), membutuhkan kehadiran dirinya untuk menemani. Namun, di sisi lain   jadwal mengajar yang tak dapat ditunda menanti tanggung jawabnya sebagai seorang dosen. Dengan berpegang pada profesionalitasnya, Nung mengambil keputusan untuk tetap mengajar. Ia menjelaskan, “Karena pada waktu itu kelas terakhir sebelum final exam di mana susah untuk mencari jadwal pengganti lainnya.”

“Dosen itu seperti seorang artis yang telah terikat kontrak—meski hati dilanda kesedihan atau pikiran diselimuti masalah, tugas untuk mengajar tetap harus dijalankan,” ujarnya yang diiringi dengan senyum. Namun, di tengah beban itu, ada kebahagiaan yang tak ternilai ketika melihat mahasiswa mulai memahami materi dan terlibat aktif dalam diskusi. Semua rasa gundah dan murung seolah lenyap, digantikan oleh semangat baru yang terpancar dari interaksi tersebut. “Berinteraksi dengan mahasiswa seringkali menjadi obat bagi saya,” tambahnya.

Kisah lain datang dari Tika, kala itu ia dihadapkan oleh realita yang harus segera dibenahi ketika baru menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Ekonomi Islam pada tahun 2018. “Prodi ini awalnya mendapatkan akreditasi C yang menjadi jejak kurang membahagiakan bagi kami,” ungkapnya. Bahkan Tika menjelaskan bahwa posisi tersebut membuat lulusan Ilmu Ekonomi Islam menjadi kesulitan mencari pekerjaan, terutama bagi pekerjaan yang mensyaratkan akreditasi jurusan. 

Namun, melalui tekad dan visi yang jelas, Tika memimpin timnya untuk segera mengajukan reakreditasi, melibatkan mahasiswa dalam proses yang penuh kerja keras dan kolaborasi. Meskipun pandemi menambah tantangan, doa dan usaha tidak sia-sia. “Hal ini menjadi pencapaian besar karena saat itu program studi Ilmu Ekonomi Islam (IEI) menjadi salah satu yang pertama meraih akreditasi Unggul di FE UI, bersama dengan program pascasarjana S3 IE (Ilmu Ekonomi). Ini adalah momen berharga yang saya kenang sebagai hasil kerja keras bersama.”

Mengajar Sebagai Bentuk Kontribusi dan Peluang Memberi Manfaat

Nung menganggap setiap kesempatan mengajar sebagai peluang untuk memberikan manfaat. Baginya, menjadi pahlawan bukan lagi soal perjuangan fisik, melainkan memberikan dampak positif bagi orang lain. “Dalam Islam, manusia terbaik adalah mereka yang memberikan manfaat terbaik bagi orang lain,” ujarnya. “Sekarang, kita harus menjadi pahlawan dalam konteks kita sendiri dengan memberi manfaat.”

Mengisi kemerdekaan bagi Nung adalah dengan berkontribusi di bidang pendidikan. “Saya merasa bahwa pendidikan adalah jalan untuk memajukan bangsa. Sebagai hamba Allah, saya ingin memberi kontribusi terbesar dalam bidang ini,” tambahnya. Hal ini tercermin dalam pengabdiannya yang tidak hanya berfokus pada materi pelajaran, tetapi juga pada pengembangan karakter mahasiswa. Ia merasa sangat tersentuh ketika mahasiswa mengungkapkan rasa terima kasih mereka. 

“Ketika saya membaca EDOM (Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa) dan menemukan apresiasi seperti, ‘Terima kasih, Bu, di kelas Anda saya jadi mengerti,’ saya merasa sangat terharu,” kenangnya.

Sebagai dosen, Nung memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengajar. Ia berusaha mengaitkan materi yang disampaikan dengan contoh-contoh nyata agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami. “Saat mahasiswa mulai ‘nyambung’ dan berkata, ‘Oh, begitu!’ itu adalah momen yang sangat berharga,” ujar Nung dengan senyum bangga.

Menginspirasi dan Memberikan Motivasi

Tika menyampaikan bahwa peran dosen adalah memberikan kontribusi nyata melalui ilmu yang bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa. “Dosen dapat menjadi role model yang membantu mahasiswa menemukan arah hidup atau makna baru, sehingga mendorong mereka untuk terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan hal terberat baginya yaitu ketika ia harus merelakan mahasiswa yang terpaksa dikeluarkan (drop out). “Hal yang paling berat bagi saya adalah ketika melihat mahasiswa harus di-DO. Terutama jika mereka sebenarnya masih memiliki semangat, tetapi terkendala oleh hal-hal di luar kendali kami,” ungkap Tika dengan nada penuh empati.

Sebagai dosen, Tika tetap berusaha menjadi motivator dan pendukung emosional bagi mahasiswa. “Saya percaya bahwa dosen bukan hanya (bertugas untuk) mentransfer ilmu, melainkan juga memberi emotional influence. Saya ingin mahasiswa percaya diri, menghargai orang lain, dan tidak merasa tertekan oleh (perasaan) FOMO (Fear of Missing Out),” jelasnya. 

Harapan dan Pesan bagi Mahasiswa dan Dosen

Dengan mempertimbangkan usia mahasiswa S1, Nung berpesan kepada sesama dosen agar tidak menggunakan bahasa yang terlalu tinggi dan rumit dalam mengajar. Ia menjelaskan, “Penting bagi kita untuk menyesuaikan cara berkomunikasi agar materi lebih mudah dipahami. Terkadang, bahasa yang terlalu teknis justru membuat mereka bingung dan tidak tertarik.”

Sementara itu, Tika juga memiliki pesan untuk agar senantiasa menjaga kualitas dalam setiap aspek kehidupan. “Jangan pernah membandingkan diri kalian dengan orang lain. Ukurlah kemajuan diri kalian dengan diri kalian yang sebelumnya. Perubahan dan kemajuan adalah tentang menjadi lebih baik dari versi diri kalian yang lalu, bukan mengikuti standar orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, jika seseorang menjaga kualitas dirinya, orang-orang akan melihat dan menghargai upaya tersebut. “Terkadang, kesuksesan bukan sesuatu yang datang dengan cepat, tetapi ketika kita menjaga kualitas diri, orang akan memperhatikan dan kesempatan akan datang dengan sendirinya,” tambah Tika. Ia percaya bahwa dengan terus belajar, berusaha memperbaiki diri, dan menjaga integritas, kesuksesan akan mengikuti.

 

 

Editor: Titania Nikita, Khansa, Anindya Vania

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide