Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Nasional

Memori Masa Gemilang: Universitas Indonesia dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

by Eva Julida Parningotan Situmorang & Stefani Shinta Wita
17 Agustus 2023
in Nasional, Riset, Soft News, Tokoh

Dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya, Indonesia tidak lepas dari bantuan para tokoh cendekiawan yang beruntung dapat mengenyam pendidikan pada masa itu. Mereka memperoleh pendidikan dari berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan formal berupa perguruan tinggi.

Universitas Indonesia (UI) terbukti telah memainkan peran yang sangat penting dalam mencetak tokoh cendekiawan yang berperan aktif dalam proses perolehan kemerdekaan Indonesia. Melalui pendidikan yang berkualitas, riset inovatif, dan pengabdian masyarakat, UI juga berhasil menjadi motor penggerak bagi institusi pendidikan lainnya di Indonesia di masa lampau.

UI Sebagai Pelopor Lahirnya Berbagai Institusi Pendidikan di Indonesia

Universitas Indonesia merupakan tempat di mana berbagai cendekiawan Indonesia lahir dan berkembang. UI yang merupakan pelopor lahirnya berbagai institusi pendidikan telah mengalami berbagai transformasi dari masa ke masa. Universitas Indonesia pada mulanya bernama Dokter-Djawa School dan kemudian berubah menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (School of Medicine for Indigenous Doctors) atau dikenal juga sebagai STOVIA pada tahun 1898.

Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi di Surabaya awalnya berasal dari UI dan sekarang menjadi bagian dari Universitas Airlangga (Unair) sejak 1954. Fakultas Ekonomi UI di Makassar juga menjadi dasar bagi Universitas Hasanuddin (Unhas) sejak 1956. Fakultas Teknik UI bergabung dengan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam untuk membentuk Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1959.

Perkembangan ini berlanjut pada 1963, di mana Fakultas Pertanian, Kedokteran Hewan, serta Peternakan dan Perikanan Laut di Bogor menjadi dasar pendirian Institut Pertanian Bogor (IPB University). Setahun setelahnya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UI menjadi cikal bakal bagi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Melalui pemisahan dan perkembangan ini, fakultas-fakultas UI terbukti telah membantu membentuk institusi-institusi pendidikan yang memiliki peran penting dalam pengembangan berbagai disiplin ilmu di Indonesia.

Pada era awal kemerdekaan Indonesia, Universitas Indonesia (UI) menjadi simbol semangat perubahan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam membangun negara baru. Pada tahun 1947, UI yang pada saat itu bernama Universiteit van Indonesie bergabung dengan Badan Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (BPTRI) menjadi Universiteit Indinesia/Balai Perguruan Indonesia Serikat. Perubahan ini merupakan sebuah langkah berani yang bertujuan memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Fokusnya beralih dari hanya menjadi pusat pembelajaran ke pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan negara.

Nama STOVIA berubah menjadi Nood-Universiteit lalu menjadi Universiteit van Indonesie lalu menjadi Universitet Indonesia dan akhirnya menjadi Universitas Indonesia pada tahun 1954. Hal ini menjadi salah satu bukti peran UI dalam menunjukkan semangat untuk menghadirkan pendidikan yang sesuai dengan perjuangan bangsa serta menegaskan komitmen dalam memajukan kemerdekaan. UI juga menjadi tempat mewujudkan cita-cita kemerdekaan melalui pendidikan dan semangat perubahan.

Mengenal Tokoh-Tokoh Cendekiawan UI di Masa Kemerdekaan Indonesia

Prof. Soepomo, Tokoh Arsitek Konstitusi Indonesia

Selain menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan keterlibatannya dalam sidang satu dan dua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Prof. Soepomo juga pernah menjabat sebagai Rektor Kedua Universiteit Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjadi Profesor Hukum Pidana di universitas ini.

Tidak dapat dipungkiri, peran Prof. Soepomo pada masa awal kemerdekaan Indonesia sangatlah penting. Melalui perannya dalam BPUPKI dan PPKI, ia bersama tokoh-tokoh lainnya berhasil memberikan berbagai keputusan penting bagi Indonesia. Perlu diketahui juga, Prof. Soepomo juga pernah memegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan awal Indonesia, seperti Menteri Kehakiman dan Menteri Negara Indonesia Timur. Pengabdiannya di bidang pendidikan dan politik telah memberikan sumbangsih yang tak ternilai dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun dasar negara Indonesia.

Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, Tokoh Penggali Ilmu Pengetahuan Nasional

Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo

Tokoh UI lainnya yang memiliki kontribusi dalam mengisi kemerdekaan Indonesia adalah Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo. Beliau memiliki ambisi untuk membangun kelembagaan ilmu pengetahuan di Indonesia. Berangkat dari ambisinya tersebut, Prof. Dr. Sarwono bersama tiga temannya, Sutomo Tjokronegoro, Sudiman Karto Dihardjo, dan Slamet Imam Santoso mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI setelah masa penjajahan Jepang. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, balai ini resmi dilebur bersama Universiteit van Indonesia pada 1950 dan beliau berkiprah sebagai Guru Besar Ilmu Kebidanan FKUI.

Melihat dedikasinya dalam dunia ilmu pengetahuan, beliau ditunjuk menjadi Ketua Panitia Persiapan Pembentukan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) pada tahun 1952 sebelum akhirnya MIPI resmi terbentuk pada tahun 1956 dengan Prof. Dr. Sarwono sebagai ketuanya. Pada awal perjalanannya, MIPI berhasil menyelenggarakan Kongres Ilmu Pengetahuan pertama di Malang tahun 1958 dan kedua di Yogyakarta tahun 1962. Pada tahun 1965, MIPI yang masih diketuai oleh Prof. Dr. Sarwono berganti nama menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), setelah dilebur dengan Lembaga Riset Nasional (LRN).

Prof. Dr. Emil Salim, Tokoh Pendorong Pergerakan Mahasiswa UI

Prof. Dr. Emil Salim

Sepanjang sejarah Indonesia, anak muda, khususnya mahasiswa, memegang peran yang penting dalam pergerakan membangun negara. Salah satunya adalah Prof. Dr. Emil Salim. Beliau merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh signifikan dalam pergerakan mahasiswa di Universitas Indonesia (UI), terutama dalam lingkup dewan mahasiswa.

Ketika masih menjadi mahasiswa, beliau dan teman-temannya berupaya untuk menyempurnakan beberapa dewan mahasiswa yang masih terpecah berdasarkan lokasi kampus menjadi satu Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia. Upaya tersebut berhasil diwujudkan pada tanggal 20 November 1955 di mana Dewan Mahasiswa UI resmi menjadi satu-satunya organisasi yang mewakili Mahasiswa UI. Prof. Dr. Emil Salim kemudian menjabat menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI selama periode 1956–1957.

Akhir Kata

UI sebagai universitas tertua di Indonesia merupakan sebuah bukti nyata pandangan para tokoh terbaik bangsa yang melihat bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu jalan untuk membawa Indonesia menuju kemajuan dan kesejahteraan. Selain pendidikan, pergerakan anak muda juga merupakan katalis dalam pembangunan Indonesia di awal masa kemerdekaan. Berbagai tokoh yang telah berperan dalam sejarah UI merupakan tokoh yang sama yang berjuang untuk membesarkan Indonesia yang baru saja “lahir”. Merekalah yang bahu-membahu menciptakan ruang bagi anak muda Indonesia untuk dapat menggali pengetahuan dan menyampaikan aspirasi mereka — hal-hal yang sangat terbatas untuk dilakukan sebelum kemerdekaan.

Di usia Indonesia yang ke-78, para anak muda, khususnya mahasiswa UI, memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mewujudkan pembangunan Indonesia. Maka dari itu, semangat para tokoh untuk mengenyam pendidikan, berkumpul, dan bergerak dalam satu tujuan mulia patut diteladani oleh seluruh anak muda Indonesia agar terwujud Indonesia Emas 2045.

Editor: Anindya Vania dan Muhammad Syakhsan Haq

Referensi:

Safwan, M. dan Haris, T. (1986). Sarwono Prawirohardjo: Riwayat Hidup dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Somadikarta, S. (1999). Tahun Emas Universitas Indonesia, Jilid 1. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Soemadikarta, S. dkk. (1999). Tahun Emas Universitas Indonesia, Jilid 3 (Karya Bakti). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Related Posts

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata
Hard News

Wajah Baru PBKM FEB UI Pascavakum: Siap Berikan Dampak Nyata

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi
In-Depth

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide