Kemarin kau begitu teguh tegap saat kita bertembung se-acara,
Tak kusapa dengan benar karena kukira waktunya masih lama,
Siapa sangka waktunya datang secepat ini pak,
Kini aku kanjai karena duka.
Karena jatuh lagi satu martir pembela rakyat,
Yang dulu keras melantang derita pada pejabat,
Pejabat korup tak pernah mangkus membisu-mu,
Kau yang dulu tak pernah kalah debat,
Tapi tampaknya kali ini izrail tak berdebat.
Karena benar bagimu ekonomi bukan hanya hitungan angka,
Ia mengalir sebagai napas dan nasi,
Yang ditelan kami, para jelata.
Karena dalam gelap, kita teringat suaranya,
Menggugah yang tertidur, menyalakan harapan,
Meski kini ia telah hilang dari pandangan,
Ia tetap hadir dalam setiap perjuangan.
Selamat jalan, kau yang setia pada nurani,
Kami yang tertinggal akan terus berdiri,
Meneruskan mimpi-mimpi yang kau tinggalkan,
Hingga keadilan benar-benar terwujud di tanah pertiwi.
Kami bersumpah di bawah langit yang sama,
Dengan nestapa menggantung di pelupuk mata,
Akan kami lanjutkan perjuanganmu,
Meski jalan penuh duri, meski mimpi kian getir.
Terima sumpah ini sebagai persembahan kami.
INNALILLAHI
Do’a kami kian mengiringi.
Semoga semua ibadah dan do’amu diamini.

