Berbahasa di kidung elegi,
sudahlah mati
Semesta hanyalah menyuruh angih bergemuruh,
bukan membunuh
Tatkala iritasi meraup sabit tanpa kendali,
habislah sang diri
Sang baitpun akhirnya tahu
menjaraki, adalah cara untuk memahami
Tirai itu, singkirkan saja
Bukan kah sang ruang pun perlu nutrisi matahari?
Toh, tanda titik sudah mengakhiri si tanda tanya kemarin
Kini, tangan kanan dan kirilah yang saling menopangi
Dengar bukan untuk sang mata,
Kelahiran anginlah untuk merekah
Di lorong itu, mungkin ada pintu
Kata napas spasi yang memberi arti waktu.

