Latar Belakang
Sistem asisten dosen dan pembelajaran kelas asistensi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bertujuan untuk membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan lebih dalam. Selama pandemi, kelas asistensi diadakan secara daring dan asisten dosen akan merekam sesi asistensi agar dapat dilihat kembali oleh para mahasiswa ketika dibutuhkan. Namun, tidak jarang juga terdapat asisten dosen yang memberlakukan sistem asinkronus, di mana asisten dosen hanya memberikan rekaman kelas asistensi yang telah direkam secara terpisah tanpa mengadakan kelas daring. Walaupun terdapat himbauan dari pihak FEB UI untuk mengadakan kelas asistensi secara luring setelah masa pandemi, terdapat beberapa asisten dosen yang tetap mengadakan kelas asistensi dengan sistem daring maupun asinkronus. Selain itu, terdapat beberapa keluhan mengenai komitmen dan kompetensi asisten dosen dalam mengajar. Mulai dari asisten dosen yang tidak mengajar sama sekali atau hanya di beberapa sesi tertentu, hingga kurangnya kemampuan asisten dosen dalam mengajarkan materi perkuliahan sehingga mahasiswa harus mencari sumber pembelajaran lainnya menjelang ujian.
Problematika sistem kelas asistensi tidak berhenti sampai disitu. Pada semester ganjil 2023/2024, muncul problematika baru terkait dengan honor asdos. Dimulai dari permasalahan honor yang belum cair sejak awal semester, hingga penurunan honor yang awalnya sebesar Rp150.000 untuk kelas reguler dan Rp250.000 untuk kelas KKI, kini disamaratakan menjadi Rp100.000 per sesi mengajar. Selain itu, sebelumnya terdapat biaya transportasi (sit in) sebesar Rp50.000 setiap mengikuti kelas dosen dari mata kuliah yang diajar. Hal ini bertujuan agar asisten dosen tetap dapat mengikuti materi perkuliahan yang sedang diajarkan. Namun, setelah diberlakukan regulasi terbaru, pemberian penggantian uang transportasi ini dihapuskan.
Sistem asisten dosen dan pembelajaran kelas asistensi memiliki banyak problematika, baik dari pihak asisten dosen maupun pihak FEB UI. Maka dari itu, Tim Cerita Data Badan Otonom Economica berusaha melakukan observasi dan survei mengenai pandangan mahasiswa FEB UI mengenai kesesuaian antara kinerja dan honor asisten dosen FEB UI karena diperlukan evaluasi mengenai sistem asisten dosen FEB UI, baik dari pihak FEB UI maupun dari asisten dosen.
Profil Responden


Tim Cerita Data melakukan survei terhadap mahasiswa FEB UI melalui Google Form. Berdasarkan survei, kami berhasil mengumpulkan 154 responden yang tersebar di seluruh jurusan FEB UI dengan 33,8% atau sebanyak 52 responden berasal dari jurusan Ilmu Ekonomi, 29,9% atau 46 responden berasal dari jurusan Akuntansi, 24,7% atau sebanyak 38 responden berasal dari jurusan Manajemen, serta 10 responden dari jurusan Bisnis Islam dan 8 responden dari jurusan Ilmu Ekonomi Islam. Sementara itu, responden survei ini tersebar dari angkatan 2020 hingga angkatan 2023 dengan 40,9% atau sebanyak 63 responden merupakan mahasiswa angkatan 2022, 26% atau sebanyak 40 responden merupakan angkatan 2023, dan 18,8% atau sebanyak 29 responden merupakan mahasiswa angkatan 2021.
Sistematika Kelas Asistensi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 29,9% responden mengatakan bahwa rata rata kelas asistensi yang diselenggarakan pada satu mata kuliah dalam satu semester terdapat sebanyak 3 hingga 5 sesi. Sementara itu, sebanyak 44 mahasiswa atau 28,6% responden menjawab bahwa kelas asistensi yang diselenggarakan untuk satu mata kuliah berkisar 6 hingga 8 sesi dalam satu semester.


Sebanyak 90,3% atau 139 responden menjawab bahwa rata-rata kelas asistensi diselenggarakan selama 1 hingga 2 jam. 7,1% menjawab bahwa rata rata kelas asistensi dilaksanakan kurang dari 1 jam, dan sisanya menjawab bahwa kelas asistensi diadakan selama lebih dari 2 jam. Sementara itu, berdasarkan preferensinya, hampir seluruh responden memilih kelas asistensi yang berdurasi 1 hingga 2 jam per sesi. Jawaban ini mewakilkan 79,9% atau sekitar 123 responden. Sisanya sekitar 20,1% memiliki preferensi durasi sesi kelas asistensi kurang dari 1 jam. Jika dibandingkan, dapat dilihat bahwa preferensi durasi mahasiswa telah sejalan dengan realitas lama waktu mengajar untuk satu sesi kelas asistensi.

Berdasarkan data survei, sebanyak 41,6% memiliki preferensi metode asistensi luring. Diikuti 33,8% responden lainnya yang memilih metode daring. Sementara itu, 24,7% lainnya memilih metode asistensi asinkronus.
Kinerja Asisten Dosen

Mayoritas responden sebanyak 70,1% atau 108 responden setuju bahwa materi yang diajarkan asisten dosen sangat sesuai dengan silabus mata kuliah tersebut dengan skala kesesuaian tertinggi yakni 4. Sementara itu, 29,9% responden lainnya berpendapat bahwa materi yang diajarkan asisten dosen sesuai dengan silabus dengan skala kesesuaian yakni 3 dari 4.

Sebanyak 66,2% atau 102 responden sangat setuju bahwa asisten dosen membantu pemahaman materi perkuliahan, hal ini ditunjukkan dengan skala yang dipilih adalah skala tertinggi yakni 4. Sisanya, 29,2% responden setuju bahwa asisten dosen membantu pemahaman materi perkuliahan dengan skala 3. Akan tetapi, terdapat 4,5% responden yang merasa bahwa asistensi dosen kurang membantu pemahaman materi perkuliahan. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sesi pengajaran asisten dosen sangat membantu pendalaman materi bagi mahasiswa.

Pada poin berikutnya, mayoritas responden, yakni sebanyak 94,8% menyatakan setuju bahwa penyampaian materi yang dibawakan oleh asisten dosen mudah dimengerti oleh mahasiswa. Di sisi lain, ada responden yang beranggapan bahwa materi yang disampaikan tidak begitu jelas. Secara detail, terdapat 7 orang atau sekitar 4,5% tidak setuju dengan pernyataan tersebut, dan 0,6% atau 1 responden menyatakan sangat tidak setuju.

Dengan selisih 1 responden, mayoritas menjawab setuju dan sangat setuju terkait pertanyaan apakah asdos dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa. Sebanyak 48,1% responden sangat setuju bahwa asisten dosen dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa. Disusul oleh responden yang setuju sebanyak 47,4%. Lain daripada itu, 4,5% responden menyatakan tidak setuju pada pernyataan tersebut.

Pada pertanyaan berikutnya, jawaban didominasi oleh responden yang memberikan jawaban positif terkait apakah asisten dosen memberikan latihan soal yang membantu pemahaman materi perkuliahan. Sebanyak 53,9% menjawab sangat setuju bahwa asisten dosen memberikan latihan soal agar materi perkuliahan lebih mudah dimengerti. Sementara itu, sebanyak 9,9% berada pada rentang yang tidak setuju terhadap pernyataan tersebut.

Sebanyak 43,5% responden setuju bahwa asisten dosen mengajar dengan waktu yang konsisten. Hal ini ditunjukkan pada skala 3 yang mendapat persentase lebih tinggi dibandingkan responden yang menjawab sangat setuju pada skala 4 yakni sebanyak 54 responden atau 35,1%. Lalu, sebanyak 18,8% responden menyatakan bahwa asisten dosen cenderung tidak mengajar dengan konsisten. Responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju.

Mayoritas responden (41.6% atau sebanyak 64 responden) menjawab setuju bahwa asisten dosen memiliki tingkat responsivitas yang baik jika dihubungi melalui media sosial. Diikuti oleh 39.6% responden lainnya yang sangat setuju jika asisten dosen memiliki tingkat responsivitas yang baik melalui media sosial. Ini menunjukkan adanya persepsi positif dari sebagian besar responden terhadap kemampuan asisten dosen dalam merespons komunikasi melalui platform media sosial. Namun, sebagian kecil responden (1.3%) sangat tidak setuju, sebagian besar dari mereka yang tidak setuju (17.5%) tampaknya masih meragukan responsivitas asisten dosen.
Honor Asisten Dosen
Berdasarkan hasil survei, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden (72.1%) berpendapat bahwa honor yang diberikan kepada asisten dosen sebelum adanya regulasi terbaru, yakni sebesar Rp150.000,00 untuk kelas reguler dan Rp250.000,00 untuk kelas KKI, dianggap sesuai dengan kinerja mereka. Sementara itu, sebanyak 27.9% responden berpendapat sebaliknya, yakni bahwa honor tersebut tidak sesuai.
| Tidak sebanding dengan beban kerja/workload, waktu yang asisten dosen berikan, dan kinerja yang dihasilkan, terlalu murah/underpaid |
| Tidak menutup biaya perjalanan |
| Beban kerja asdos reguler dan asdos KKI sama, sehingga gaji mereka juga seharusnya sama |
| Tidak sesuai, karena banyak asdos yang kurang kompeten dalam menjalankan tugasnya |
Beberapa responden yang menjawab tidak sesuai berpendapat bahwa bahwa gaji tersebut tidak sebanding dengan beban kerja atau workload, waktu yang diberikan, dan kinerja yang dihasilkan oleh asisten dosen atau dapat dikatakan honor terlalu kecil.. Alasan tidak sesuai lainnya adalah karena banyak asisten dosen yang kurang kompeten dalam menjalankan tugasnya sehingga penyampaian materi tidak seutuhnya tersampaikan kepada mahasiswa. Selain itu, responden lainnya menambahkan bahwa tidak perlu ada perbedaan antara honor asistensi dosen kelas reguler dan kelas KKI karena beban kerja yang dimiliki sama.

Setelah adanya regulasi terbaru yang mengatur honor asisten dosen menjadi sebesar Rp100.000,00 untuk kelas reguler dan KKI, hampir seluruh responden (96.1%) berpendapat bahwa honor tersebut tidak sesuai dengan kinerja para asisten dosen. Sebaliknya, hanya sebagian kecil responden (3.9%) yang menganggap bahwa honor tersebut sesuai dengan kinerja asdos. Data ini mencerminkan ketidakpuasan yang signifikan di kalangan responden terhadap besaran honor yang diberikan setelah adanya regulasi baru.
| Terlalu kecil dan tidak sebanding dengan beban kerja/workload dan waktu yang asistensi dosen berikan. |
| Tidak mampu menutup biaya akomodasi dan transportasi. |
| Honor awal saja sudah termasuk kurang apalagi jika diturunkan lagi. Seharusnya gajinya dapat dinaikkan dari gaji sebelumnya. |
| Gaji yang turun dapat membuat kinerja asisten dosen ikut menurun |
| Kurang ada apresiasi jika gaji diturunkan, asisten dosen berhak mendapatkan gaji lebih tinggi dan dihargai. |
| Menurut saya, terdapat asisten dosen yang sesuai dan tidak sesuai mendapatkan honor sebesar Rp100.000 karena semua balik lagi terhadap kinerja mereka. Sebab banyak juga asdos yang tidak mengajar dengan maksimal dan tidak konsisten terhadap jadwal. |
| Tidak sesuai dengan rate mengajar di market bimbel. Lebih menguntungkan bagi asisten dosen jika mengadakan bimbingan belajar pribadi. Upah tenaga kerja pendidik saat ini sudah rendah, tidak masuk akal jika diturunkan lagi, yang sebelumnya sudah sesuai. |
| Perlunya insentif terhadap asisten dosen |
| Tidak sesuai dengan perjanjian kerja di awal |
| Kebanyakan mahasiswa lebih paham sama asdos (terutama matkul kuantitatif) |
Alasan responden tidak setuju diklasifikasikan menjadi beberapa kategori seperti tabel di atas. Mayoritas responden menjawab bahwa gaji sebesar Rp100.000 terlalu kecil dan tidak sebanding dengan beban kerja/workload dan waktu yang asistensi dosen berikan. Tak hanya itu, beberapa responden lainnya juga memberikan berbagai alasan seperti tidak cukupnya untuk menutup biaya transportasi, tidak sesuai dengan rate mengajar di market bimbel, tidak sesuai dengan perjanjian kerja di awal, dan masih banyak lagi.

Mayoritas responden (84.4%) tidak setuju dengan regulasi terbaru yang menghapuskan pemberian uang pengganti transportasi sebesar Rp50.000,00 kepada asisten dosen yang mengikuti kelas dosen dari mata kuliah yang mereka ajarkan. Sebaliknya, sebagian kecil responden (15.6%) menyatakan setuju dengan regulasi tersebut. Tim Cerita Data mengklasifikasikan alasan responden tidak setuju sesuai dengan tabel di atas.
| Kurangnya insentif untuk mengajar |
| Tidak etis |
| Tidak sebanding dengan usaha yang diberikan |
| Biaya transportasi yang mahal |
| Terlalu murah/underpaid |
| Melemahnya minat mahasiswa yang berniat menjadi asdos |
| Setuju dengan regulasi terbaru |
Dari 154 responden, 23% menjawab bahwa terdapat ‘kurangnya insentif untuk mengajar’ dengan penjelasan “Insentif bagi asdos untuk mengikuti pelajaran sangat berkurang sehingga berdampak pada performanya.” Dengan jumlah persentase yang hampir sama, sejumlah responden menganggap hal ini sebagai tindakan yang ‘tidak etis’, mempertimbangkan adanya berbagai ketidaksesuaian, seperti ‘tidak sebanding dengan usaha yang diberikan’ dan ‘biaya transportasi yang mahal’ dengan penjelasan “Honor udah dikurangin, lalu uang transport dihapus, kasihan asdosnya udah capek malah nambah expense.” Dalam pandangan yang berbeda, sebanyak 4% responden menyatakan bahwa biaya transportasi yang selama ini digantikan masih ‘terlalu murah/underpaid’ dengan penjelasan “Nggak cukup 50, harusnya 100 ribu.” Hal ini sejalan dengan responden yang khawatir dengan regulasi terbaru ini menyebabkan ‘melemahnya minat mahasiswa yang berniat menjadi asdos’, karena menurutnya “Semakin rendahnya insentif untuk menjadi asdos.”

Mayoritas besar responden (104 responden atau 67.5%) berpendapat bahwa rentang gaji yang sesuai adalah antara Rp100.000,00 hingga Rp150.000,00 per sesi. Sejumlah 26% responden memilih rentang gaji yang sedikit lebih tinggi, yakni antara Rp150.000,00 hingga Rp250.000,00 per sesi. Sementara itu, sekitar 6.5% responden lainnya memandang bahwa rentang gaji yang sesuai bahkan lebih dari Rp250.000,00 per sesi.
Minat untuk Menjadi Asisten Dosen

Sebelum adanya kebijakan penurunan honor asisten dosen, sebanyak 58,4% atau 90 responden berminat untuk menjadi asdos, sedangkan sebanyak 41,6% tidak memiliki niat untuk menjadi asdos sejak semula. Berdasarkan proporsi responden tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat mahasiswa untuk menjadi asisten dosen di FEB masih cukup rendah dan hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Terdapat 5 alasan utama yang melatarbelakangi minat mahasiswa untuk menjadi asisten dosen. Dalam hal ini, keinginan untuk menambah pengalaman semasa kuliah menjadi alasan terbanyak dari mahasiswa yang berminat untuk menjadi asisten dosen, yaitu sebanyak 47,4% dari keseluruhan responden, diikuti dengan keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan relasi dengan dosen di mana kedua jawaban ini menjadi alasan terbanyak kedua dengan proporsi 42,9%. Sementara itu, sebanyak 33 responden berniat menjadi asisten dosen dengan alasan memiliki passion dalam mengajar.

Usai adanya perubahan kebijakan penurunan honor asisten dosen, sebanyak 127 responden atau 82,5% tidak berminat untuk menjadi asisten dosen. Hal ini menunjukkan adanya penurunan minat mahasiswa untuk menjadi asisten dosen yang cukup signifikan, yaitu sebesar 40,9%. Dapat disimpulkan bahwa faktor honor bagi asisten dosen turut menjadi alasan yang sangat memengaruhi minat mahasiswa FEB menjadi seorang asisten dosen.
Penilaian Kerja Asisten Dosen

Secara keseluruhan, sebanyak 54,5% atau 84 responden cukup puas dengan kinerja asisten dosen mereka. Angka ini diikuti dengan 40,3% responden lainnya yang juga sangat puas terhadap kinerja asisten dosen. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berpendapat bahwa kinerja asisten dosen cukup baik dan cenderung positif.anya ada sebagian kecil responden yang menjawab kurang puas dan tidak puas dengan kinerja asisten dosen yang dimiliki.

Secara keseluruhan, penilaian terhadap kesesuaian antara honor dan kinerja asisten dosen cukup bervariasi. Sebanyak 40,3% atau 62 responden menganggap honor saat ini cukup sesuai dengan kinerja yang dihasilkan dari para asisten dosen. Namun, sebanyak 38,9% responden lainnya cenderung menilai adanya ketidaksesuaian antara honor dan kinerja asisten dosen.
Kesimpulan
Terdapat beberapa poin kritik mengenai honor asisten dosen FEB UI, di antaranya: penurunan honor asdos menjadi sebesar Rp100.000 terlalu kecil karena workload yang dimiliki cukup besar. Dari hasil survei pun diketahui bahwa mayoritas mahasiswa FEB UI memiliki kesan positif terhadap asisten dosen yang dimiliki. Secara keseluruhan, hampir seluruh responden merasa bahwa kinerja asisten dosen FEB UI sudah baik. Namun, masih terdapat berbagai pendapat terkait kesesuaian antara honor yang diberikan dengan kinerja asisten dosen. Adapun berbagai saran dan kritik yang diberikan oleh responden kami mencakup dan telah Tim Cerita Data rangkum menjadi beberapa, yaitu: 1) gaji asdos di FEB UI dapat ditingkatkan sebagai insentif untuk meningkatkan minat mahasiswa menjadi asdos; 2) asisten dosen diharapkan dapat lebih menguasai materi, konsisten, dan berkomitmen tinggi dalam mengadakan sesi pembelajaran; 3) responsif dalam menjawab pertanyaan yang masuk; 4) asisten menyesuaikan sesi dengan gaya belajar mahasiswa; dan 5) tersedia recording agar memudahkan pembelajaran menjelang ujian.
Terdapat beberapa poin penting yang dapat menjadi perhatian untuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis terkait kesesuaian honor asisten dosen. Pertama, diperlukan evaluasi mengenai nominal honor yang didapat asisten dosen FEB UI mengingat nominalnya yang terlalu kecil. Kedua, asisten dosen diberikan kepastian terkait cairnya honor mengajar dan biaya transportasi yang seharusnya didapatkan oleh asisten dosen pada semester ganjil 2023/2024. Ketiga, diperlukan kebijakan baru bagi pihak FEB UI untuk mempertimbangkan kesibukan asisten dosen yang akan mengajar pada semester tersebut. Dengan ini, diharapkan bahwa pihak Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat menerima dan merespons kritik-kritik yang ada terkait honor asisten dosen, terutama setelah melihat pendapat mahasiswa mengenai kinerja asisten dosen.
Editor: Yehezkiel Raka Paskalis
Ilustrasi oleh Deasma Hazel

