Berjam-jam akan berlalu saat kita menyenaraikan novel-novel kontemporer yang punya akhir bahagia. Happily ever after telah menjadi konstanta khas yang hampir wajib hadir di setiap novel yang berniat laku di pasaran. Penyihir yang akhirnya menghilang, ampul obat yang menyembuhkan penyakit utama, atau sang hero yang pasti menang. Inilah yang saya sebut sebagai “Cerita Anestesi”: karya yang tak lagi bertujuan menggugah, melainkan menenangkan dan membius pembaca dari kerasnya realitas.
Sebagai penyuka akhiran cerita sedih dan “realistis”, saya merasa getir melihat betapa dunia kuli kata hari ini lebih sibuk membungkus luka dengan pita emas daripada mengakui bahwa tidak semua kisah layak berakhir bahagia. Dalam dunia modern yang dibangun di atas ilusi kontrol dan ketidakrelaan menghadapi penderitaan, sastra pun perlahan kehilangan keberaniannya untuk menjadi cermin getir kehidupan.
Salah Mereka
Tentu para penulis tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka hanyalah aktor dalam panggung besar bernama pasar. Seperti yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu dalam The Rules of Art (1996), medan kesusastraan adalah arena di mana kekuatan ekonomi dan budaya bertarung. Penulis yang ingin bertahan harus menyesuaikan diri dengan “hukum emas” pasar: menulis untuk memenuhi harapan pembaca yang lebih menginginkan pelarian ketimbang pencarian makna. Dalam pasar ini, kenyataan tak pernah cukup laku untuk dijual; yang laku adalah harapan, sebentuk ilusi bahwa semua akan baik-baik saja.
Kesimpulan ini tentu terdengar sembrono bagi pembaca yang membiarkan dirinya terhanyut dalam kisah suka-ceria sambil berdansa dengan tokoh utama. Benar, memang tak ada salahnya sesekali lari dan membius diri dengan bacaan ringan yang tidak membuat tegang urat kepala. Tetapi ketika semua buku seolah menjadi anestesi, kita perlu bertanya: apakah kita masih membaca untuk memperluas jiwa, atau hanya untuk menghibur diri?
Memang, ada beberapa penulis beken yang berani menawarkan lebih, kisah yang menggali realitas, membuka luka, bahkan mengundang kecemasan. Namun, mereka seperti suara kecil yang tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar buku yang menuntut kebahagiaan semu. Mereka bak musisi yang memainkan nada-nada muram dalam konser yang lebih memilih lagu pop penuh optimisme kosong.
Bandingkan dengan kisah-kisah dari masa lalu yang saya rindukan: epos Yunani seperti Iliad, hikayat Cina seperti Romance of the Three Kingdoms, atau kisah-kisah Timur Tengah dalam Alf Lailah wa-Lailah. Pembaca jeli tentu akan sadar bahwa kisah-kisah ini lahir di zaman penuh ketidakpastian, penderitaan, dan kelamnya nasib manusia. Justru dalam kelam itu, mereka menemukan cerita-cerita besar, bukan untuk sekedar menghibur, tapi untuk mengingatkan bahwa penderitaan adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan.
Sebaliknya, sastra modern tampaknya kehilangan keberanian itu. Di era sekarang, di mana kenyamanan menjadi norma, akankah kita masih mampu menghargai perjuangan dan pengorbanan? Atau seperti dikatakan Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death (1985), kita telah menjadi masyarakat yang “terlalu terhibur untuk peduli”?
Saya Menggugat Standar Bahagia
Jika berkilah lebih dalam, saya akan mulai menyalahkan Barat.
Barat, terutama Amerika Serikat, telah menjadi kompas budaya dunia—mengaku ataupun tidak. Budaya mereka, menurut Fareed Zakaria dalam The Post-American World (2008), menjadi standar global dalam menentukan seberapa “modern” atau “bermartabat” suatu bangsa. Sastra pun tak kebal: nilai-nilai optimisme kosong dan individualistic happy ending menjadi norma baru.
Di Barat, kegagalan sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari atau “ditebus” dalam narasi akhir cerita. Ini berbeda jauh dengan kisah-kisah dari Timur, di mana kekalahan, kematian, dan penderitaan dilihat sebagai bagian sah dari perjalanan manusia. Dalam kebudayaan Timur, seperti dijelaskan oleh Edward Said dalam Orientalism (1978), realitas yang keras bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan di balik kisah manis, melainkan dihadapi dan direnungi.
Perang, kelaparan, dan pergolakan selama berabad-abad telah meninggalkan luka mendalam di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Kematian dan penderitaan tidak selalu dikaitkan dengan kegagalan, melainkan kadang justru melambangkan keberhasilan tertinggi: keberanian, ketabahan, bahkan martabat. Seorang pahlawan yang mati di medan perang bukanlah kegagalan; ia adalah lambang keberanian. Ini selaras dengan konsep tragic hero dalam tradisi klasik, di mana kematian atau penderitaan tokoh utama justru menjadi puncak keagungan moralnya.
Bukanlah sebuah kesimpulan sembrono jika saya menyatakan bahwa globalisasi budaya telah menyebabkan homogenisasi nilai, yang menyamaratakan preferensi estetis dunia pada satu pakem tunggal: bahagia, optimistis, tanpa getir. Di dunia seperti ini, novel sedih, getir, dan reflektif menjadi semakin langka, bukan karena mereka buruk, melainkan karena mereka tak laku.
Namun, ada harapan kecil yang tumbuh seiring fenomena deglobalisasi belakangan ini. Ketika dunia mulai mempertanyakan kembali dominasi budaya Barat, ada ruang bagi bangsa-bangsa untuk membentuk kembali standar budayanya sendiri. Deglobalisasi, yang biasanya membuat para ekonom dan sosiolog cemas karena memicu ketidakpastian ekonomi, dalam konteks ini justru menjadi peluang: peluang untuk kembali pada cerita-cerita yang lebih autentik, lebih jujur, dan lebih manusiawi.
Data dari UNESCO World Book Trends Report (2022) menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap karya sastra lokal dan tradisional di berbagai negara berkembang. Ini adalah tanda bahwa pembaca mulai mencari suara-suara alternatif, kisah-kisah yang tidak sekadar menawarkan pelarian, tetapi juga perenungan.
Dan saya tak bisa lebih bersyukur lagi, melihat mulai tumbuhnya minat untuk menghidupkan kembali narasi-narasi yang berani: narasi getir, narasi perjuangan, narasi luka, narasi yang mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang meraih “happily ever after”, melainkan tentang memahami dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keberadaan kita.
Karena sejatinya, seperti kata Fyodor Dostoevsky dalam The Brothers Karamazov (1880), “Kecantikan tidak hanya ada dalam kebahagiaan, tetapi juga dalam penderitaan.” Dan barangkali, tugas sejati sastra adalah mengingatkan kita akan keindahan itu.
Sebuah Pengakuan
Pada akhirnya, tiap-tiap besetan kata dalam artikel ini barangkali tak lebih dari masturbasi ide seorang penggerutu—seseorang yang merasa gusar melihat dunia yang semakin candu pada euforia fiktif. Saya tahu, ini adalah keluhan seorang minoritas: orang yang menginginkan kenyataan di tengah arus besar fantasi, yang merasa frustrasi karena dunia kini lebih senang diselamatkan oleh tokoh rekaan daripada berjuang dengan luka nyata.
Namun saya juga harus mengingatkan diri, ini bukan sepenuhnya salah mereka.
Mereka yang mencari penghiburan dalam novel-novel berakhir bahagia bukanlah musuh. Mereka adalah korban dari dunia yang menolak memberi ruang bagi duka, dari sistem sosial yang menuntut optimisme terus-menerus, bahkan saat hidup tak memberi alasan untuk itu. Dalam tekanan hidup yang kian menggencet, harga kebutuhan yang terus naik, relasi yang kian rapuh, mimpi-mimpi yang sulit terwujud, maka tidak heran jika orang-orang berlari ke halaman-halaman fiksi untuk setidaknya mencicipi kelegaan yang tak mereka temukan di dunia nyata.
Dan siapa saya, hingga merasa lebih unggul dari mereka hanya karena saya menyukai akhir yang getir?
Barangkali justru saya yang sedang mencari validasi intelektual, menjadikan duka sebagai estetika, dan menjunjung luka sebagai bentuk kedewasaan padahal seperti mereka, saya pun takut akan kehidupan yang tidak pasti. Mungkin, menulis artikel ini adalah cara saya sendiri mengalihkan kecemasan: bukan dengan bersembunyi dalam dongeng, tapi dengan memproyeksikannya menjadi amarah terhadap mereka yang memilih dongeng.
Di titik ini, saya tersadar: bukan novel bahagia yang salah, bukan juga pembacanya. Yang keliru adalah dunia yang membuat kita hanya punya dua pilihan, menjadi pahit atau berpura-pura manis. Maka mungkin, tugas sastra sejati bukan sekadar memberi pelarian atau memaksa penderitaan, tapi menawarkan ruang yang jujur bagi kita semua, untuk mengakui bahwa hidup ini keras, tapi kita tidak harus menghadapinya sendirian, dan bahwa tak apa-apa jika kadang kita butuh dongeng agar bisa bertahan.
Namun jangan overdosis.
“Pada akhirnya saya gagal klimaks.”
REFERENSI:
Bourdieu, P. (1996). The rules of art: Genesis and structure of the literary field (S. Emanuel, Trans.). Stanford University Press.
Dostoevsky, F. (1880). The brothers Karamazov (R. Pevear & L. Volokhonsky, Trans.). Farrar, Straus and Giroux.
Postman, N. (1985). Amusing ourselves to death: Public discourse in the age of show business. Viking Penguin.
Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.
UNESCO. (2022). World book trends report 2022. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000382568
Zakaria, F. (2008). The post-American world. W. W. Norton & Company.

