Kukira kau adalah cahaya,
yang datang setelah sekian lama aku berjalan dalam gelap.
Kukira semesta akhirnya berbaik hati,
mengirimkan seseorang untuk tinggal lebih lama dari yang lain.
Ternyata aku keliru,
yang datang bukan cahaya,
hanya kegelapan lain yang menyamar begitu indah sampai kubuka lagi seluruh pintu yang terkunci.
Kukira akhirnya akan ada cerita.
Ternyata hanya ada luka,
yang harus kupeluk sendirian.
Aku termangu.
Sejak kapan semua ini bermula?
Sejak kapan aku mulai menganggapmu begitu penting?
Sejak kapan aku mulai mencari namamu?
Sejak kapan kabarmu menjadi bagian dari hariku?
Sejak kapan aku lupa tidak semua perasaan harus terbalas?
Ternyata, hanya aku.
Hanya aku yang mengingat banyak hal,
yang terlalu banyak memberi makna pada hal-hal yang bagimu biasa saja.
Aku yang mengingat setiap percakapan.
Aku yang menunggu setiap pesan.
Aku yang mencari-cari namamu di tengah hari yang sibuk.
Aku yang diam-diam menaruh harapan di tempat yang bahkan tidak kau lihat.
Dan mungkin sejak awal aku memang sendirian.
Pernahkah aku menjadi penting bagimu?
Pernahkah kehadiranku membuat harimu sedikit berbeda?
Atau aku hanya seseorang yang kebetulan lewat,
lalu kau sapa seperlunya?
Sayang, kenyataan ini terlalu pahit untuk ditelan.
Aku hanyalah orang asing yang kebetulan kau kenal.
Bukan seseorang yang kau cari.
Bukan seseorang yang kau tunggu.
Bukan seseorang yang kau rindukan.
Tidak ada yang istimewa dariku.
Tidak ada yang membuatmu ingin tinggal.
Dan yang paling menyakitkan:
Kau bahkan tidak pernah benar-benar melukaiku.
Aku yang melakukannya sendiri.
Aku yang terlalu cepat menganggapmu rumah.
Aku yang terlalu cepat menjadikanmu tempat pulang.
Aku yang terlalu cepat menaruh seluruh batinku,
di tangan seseorang yang bahkan tidak pernah memintanya.
Setiap hari aku menggantungkan diriku padamu.
Pada kabarmu.
Pada perhatian kecilmu.
Pada kehadiranmu.
Pada kemungkinan-kemungkinan,
yang ternyata hanya hidup di kepalaku.
Hanya kamu.
Kamu.
Dan selalu kamu.
Sementara bagimu,
aku mungkin tidak pernah lebih dari nama seorang kenalan.
Betapa lucunya aku.
Membangun istana dari isyarat-isyarat kecil,
menghidupi harapan dari hal-hal yang tidak pernah dijanjikan,
mencintai kemungkinan seolah ia adalah kenyataan.
Dan ketika semuanya runtuh,
aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa,
karena sejak awal,
aku adalah satu-satunya penghuni di dalam cerita yang kukira kita tulis bersama.
Akhirnya,
aku sakit sendiri.
Dan yang paling menyedihkan:
Aku tetap menyayangimu,
bahkan setelah tahu,
aku bukan siapa-siapa bagimu.

