“(Acara) ini adalah sebuah tradisi yang baik untuk selalu mendengarkan dari mahasiswa dan merespon isu apa yang sedang terjadi.” – Teguh Dartanto, Dekan FEB UI.
Pada Senin (20/05), Dialog Interaktif (DIARI) FEB UI 2024 dengan tema “Revolusi Pendidikan Penuh Inovasi: Siapkah FEB UI Beradaptasi?” dilaksanakan secara luring di Student Center FEB UI.
DIARI merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM FEB UI. Acara ini bermaksud untuk mempertemukan IKM FEB UI dengan pihak Dekanat untuk berdiskusi secara langsung terkait kondisi FEB UI.
Sambutan dari Dhika Hikmal selaku Ketua BEM FEB UI dan Teguh Dartanto selaku Dekan FEB UI menjadi pembuka dari acara ini. Sesi dilanjutkan dengan pemaparan hasil survei yang dikumpulkan Biro Riset dan Sistem Administrasi (RSA) BEM FEB UI yang disampaikan langsung oleh pihak Adkesma BEM FEB UI.
Keluhan Akademik dari Mahasiswa: Kesulitan pada Mata Kuliah Kuantitatif hingga Kelas Pengganti di Hari Libur
Terdapat tingkat kegagalan yang tinggi pada mata kuliah kuantitatif, khususnya Matematika Keuangan, di mana hampir 45% mahasiswa mengalami kendala. Luluk Widyawati, selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi, menegaskan bahwa banyak upaya telah dilakukan, seperti kelas asistensi, open cheating sheet, hingga tingkat kesulitan materi yang diturunkan. Namun, usaha ini tetap tidak menunjukkan hasil yang signifikan.
“Memang ini feedback buat kita ya. Saya belum bisa menjanjikan apapun saat ini,” tanggap Teguh. Solusi yang dapat diberikan adalah online course untuk mahasiswa baru. Di Departemen Ilmu Ekonomi sendiri pun, program pelatihan untuk dosen telah dilakukan, tetapi tetap akan ada evaluasi dan penyertaan.
Menanggapi preferensi mahasiswa pada Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Prani Sastiono, Ketua Program Studi S1 Ilmu Ekonomi, menjelaskan bahwa PJJ membuat mahasiswa menjadi pasif. Begitu pula dengan rekaman online yang khawatir digunakan sebagai bahan untuk belajar secara SKS (Sistem Kebut Semalam) sebelum ujian. “Itu yang kita tidak mau sebenarnya, karena proses belajar yang benar itu tidak seperti itu,” ungkapnya.
Arief Wibisono, Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, turut menanggapi jadwal kelas pengganti yang tidak sesuai. Arief menyampaikan bahwa keterbatasan sumber daya serta perbedaan jadwal antarpihak dapat menjadi alasan terpilihnya jadwal kelas yang kurang cocok dengan mahasiswa. Arief menegaskan “Kalau ada (kelas pengganti) yang (dilaksanakan pada Hari) Minggu atau tanggal merah, tolong disampaikan sekarang karena saya rasa dari dekan sudah jelas bahwa perkuliahan pengganti tidak boleh (dilaksanakan di) Hari Minggu atau tanggal merah.”
Ketidakpuasan Mahasiswa terhadap Fasilitas FEB UI
Didukung dengan hasil survei, mayoritas mahasiswa setuju bahwa fasilitas penunjang di FEB UI masih perlu ditingkatkan. Fasilitas-fasilitas yang perlu mendapatkan perhatian khusus, antara lain KaFE, smoking area, jam operasional Pusat Studi Belajar (PSB), ketersediaan stop kontak, sampai kapasitas parkir.
Mengenai hal tersebut, Teguh mengakui bahwa memang kapasitas dan perbaikan fasilitas di FEB masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. “Kapasitas kita kurang, ya. Kita sudah ada satu KaFE baru dengan area yang lebih nyaman. Kalau hal (tempat untuk me-) rokok, berkali-kali kamu ngomong, enggak akan pernah direspon,” tegas Teguh.
Teguh juga menyatakan “Masalah parkir dari dulu enggak pernah selesai. Mungkin bisa diadakan sistem stiker untuk mobil dan motor (sivitas akademika FEB UI). Jadi, cuma (kendaraan) yang ada stiker yang bisa masuk karena kapasitas parkir tidak mungkin bertambah.” Selain itu, Teguh juga berpendapat bahwa mahasiswa yang membawa mobil dapat dievaluasi UKT-nya dengan dikenakan pada golongan paling tinggi supaya sekaligus menjadi solusi masalah kurangnya lahan parkir.
Masih terkait masalah parkir, Undang Suwanda, Manajer Facility, Operational, Safety, and Environment (FOrSE) memberikan komentarnya terkait sistem green parking. “Mungkin pakai kartu (yang di-) tap, cuma belum maksimal. Mudah-mudahan semester ini bisa rampung untuk diterapkan di semester depan,” terangnya.
Undang juga menekankan bahwa sistem self–service yang diterapkan di KaFE akan lebih efektif jika piring langsung diletakkan ke tiap-tiap kios. Selain itu, persebaran stop kontak yang diperbanyak di area FEB UI sedang diupayakan. Musala juga diekspektasikan akan diselesaikan pada tahun ini atau tahun depan.
UKT Tanpa Transparansi
Selanjutnya, Dekanat dihadapkan dengan kritik mengenai transparansi UKT. Mahasiswa menginginkan adanya transparansi alokasi UKT serta pengadaan kembali BOP-Berkeadilan dan BOP-Pilihan. Proses-proses lain mengenai UKT seperti aju banding juga dirasa perlu dikaji kembali.
“UKT menjadi isu yang sensitif dan uji banding memang harus dilibatkan lebih lanjut. Namun, untuk BOP, fakultas tidak punya kuasa atas itu,” jelas Teguh. Teguh menyetujui bahwa stakeholders harus terbuka dan perlu diskusi lebih lanjut mengenai transparansi ini, “Dengan menghimpun dana dari publik, mahasiswa berhak tahu alokasi dananya.”
Pihak manajemen juga menyayangkan banyaknya komplain yang masuk setelah timeline BOP berjalan sehingga tidak dapat ditindaklanjuti. Ririen Setiati Riyanti, selaku Manajer Pendidikan, menyampaikan, “Sering kali mahasiswa menghubungi prodi setelah semester berjalan. Itu tidak sesuai dengan timeline-nya KKMA, jadi perlu diidentifikasi. Kalau sekiranya ada komplain, ajukan sebelum timeline-nya berlangsung.”
Tentang Sosialisasi Kampus Merdeka, Beasiswa, dan IISMA
Berkaitan dengan program-program rancangan akademis Kurikulum Merdeka, sebanyak 200 responden sudah mengetahui program-program tersebut. Di sisi lain, Teguh malah menyampaikan keluhannya mengenai kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan rancangan kampus.
“Setiap ngadain acara, yang kita lebih pikirkan adalah ‘ada enggak sih mahasiswa yang akan datang” papar Teguh. Teguh berharap mahasiswa dapat lebih memanfaatkan kesempatan dari kegiatan-kegiatan yang dicanangkan pihak kampus. “Mahasiswa harus bisa mencari informasi yang bermanfaat atau tidak. UI adalah kampus terbesar penyumbang anak-anak IISMA. Sosialisasi tersebut harus dimanfaatkan,” ujar Teguh.
Selanjutnya, Irfani Fithria Ummul Muzayanah, Kepala Kantor Kemahasiswaan FEB UI, menekankan bahwa pihak UI selalu mengadakan sosialisasi terkait IISMA, seperti sharing session dan bantuan tes bahasa inggris. Namun, engagement mahasiswa terhadap kegiatan terkait masih sangat minim. “Mahasiswa harus follow sosial media kampus. Kita sudah libatkan sosial media, tapi kalian engage gak sama kita?” tegas Irfani.
Menanggapi ketersediaan dana beasiswa sebelum pembayaran, Irfani mengungkapkan bahwa banyak peluang beasiswa yang tersedia dengan seleksi dalam periode tertentu dan pembayaran setelah seleksi.
“Tolong kalau misalnya ada laporan (mahasiswa yang membutuhkan beasiswa) di tengah-tengah (periode), kalian catat dulu, bikin database. Jadi, siapa (saja) sih yang membutuhkan beasiswa. Jadi, kalau misalnya sewaktu-waktu ada slot, kita bisa ambil dari database itu,” saran Irfani.
Kurikulum yang Konvensional hingga penerapan One on One Session dengan Dosen
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dengan para jajaran dekanat. Audrey, mahasiswi Akuntansi 2022, menyampaikan kendalanya mengenai kurikulum jurusan akuntansi yang cenderung konvensional dan teoritis, berbeda dengan kebutuhan lulusan Akuntansi yang membutuhkan keterampilan dalam teknologi.
Arief Wibisono meluruskan bahwa survei pada alumni telah dilakukan sebelum penyusunan kurikulum. “Kebetulan, kalau untuk kemampuan teknis, agak minim tuh yang komplain ke kami yang merasa bahwa anak UI kemampuan teknisnya kurang,” jelasnya.
Penanya kedua adalah Pramudya mengenai progres pembuatan Satgas PPKS di level fakultas. Pihak kemahasiswaan mengungkapkan bahwa Satgas PPKS Fakultas sudah pernah dibuat, namun terhenti karena kehadiran Satgas PPKS UI.
Terakhir, Naila, mahasiswi Manajemen 2023, menyampaikan sarannya untuk merealisasikan sistem one on one session guna mendorong interaksi dan diskusi antara dosen dan mahasiswa. “Saya coba raise isunya. Masukannya coba kita sampaikan kepada Pak Dekan dan Pak Arief.” jawab pihak kemahasiswaan.
Apa Kata Mahasiswa?
Dalam wawancara singkat setelah berakhirnya agenda DIARI FEB UI 2024, dua mahasiswa FEB UI, Adinda (Bisnis Islam 2022) dan Rashad (Bisnis Islam 2023) menyampaikan harapan dan kepuasan mereka mengenai atas DIARI FEB UI 2024 ini.
Menurut Rashad, terkait hasil dari DIARI FEB UI 2024 ini, harus dilihat dulu apakah benar-benar terlaksana semua hal yang disampaikan pihak dekanat. “Harus lihat ke depannya dulu. Itu sih yang jadi parameter keberhasilan DIARI tahun ini. Untuk kepuasannya, semua poin sudah terjawab sih,” tutur Rashad. Rashad juga berharap agar DIARI FEB UI selanjutnya, dapat terlaksana tepat waktu. Adinda juga menyetujui poin dari Rashad mengenai perlunya tinjauan ulang mengenai janji-janji pihak dekanat.
Selanjutnya, Adinda menyampaikan rasa kurang puasnya terhadap variasi responden survei.“(Pengisi) surveinya terlihat jomplang, lebih baik kalau proporsi respondennya lebih diperhatikan dan variatif dari latar belakangnya, seperti KKI dan reguler. Mungkin bisa lebih terlihat secara riil hasil surveinya,” jelasnya.
Editor : Anindya, Marshellin, Rafa, Titania, Fauziah, Khansa

