DIARI (Dialog Interaktif) FEB UI kembali diselenggarakan tahun ini pada Kamis (19/5). DIARI 2025 yang merupakan program tahunan Departemen Adkesma BEM FEB UI tampak spesial karena dilaksanakan di tengah proses seleksi Calon Dekan FEB UI periode 2025-2029. Dekan dan ketujuh calon dekan yang telah tersaring untuk maju ke babak selanjutnya turut hadir untuk mendengar aspirasi mahasiswa, memaparkan visi-misi, dan menambah kedekatan dengan mahasiswa.
DIARI yang bertema “Era Baru, Tantangan Nyata: Bersama Bangun FEB UI yang Lebih Sejahtera” diawali dengan sambutan oleh Teguh Dartanto selaku Dekan FEB UI dan sambutan Yatalathof selaku Ketua BEM FEB UI 2025, dilanjut paparan survei mengenai pandangan, harapan, dan refleksi mahasiswa yang disampaikan melalui Adkesma BEM FEB UI. Penyelenggaraan DIARI kali ini pun diapresiasi oleh salah satu calon dekan lantaran mahasiswa sebagai penyelenggara dan peserta masih antusias untuk membangun acara ini meski akan menghadapi pekan Ujian Akhir Semester. “Terima kasih sudah bisa mengadakan acara ini dan hadir karena pasti kalian sedang banyak-banyaknya tugas akhir.”
Sesuai dengan namanya, acara utama DIARI ialah mendengarkan aspirasi mahasiswa yang ditanggapi oleh jajaran dekanat serta calon dekan dengan respons strategi yang akan diterapkan. Adapun aspirasi yang dilontarkan mahasiswa mencakup aspek akademik serta non-akademik, mulai dari pembahasan mata kuliah yang tingkat kelulusannya paling rendah, jaringan WIFI, sarana Pusat Sumber Belajar, hingga perluasan lahan kampus dan variasi makanan untuk Kantin FE (KaFE).
Dari Minimum Kehadiran hingga Sarana Prasarana
Hasil survei mahasiswa mencakup perihal mata kuliah yang sulit bagi mahasiswa, fasilitas yang harus menjadi prioritas untuk diperbaiki, minimal kehadiran mahasiswa di kelas, hingga program MSIB. Mata kuliah yang dianggap sulit didominasi oleh mata kuliah kuantitatif, seperti Matematika Keuangan, Matematika Dasar, dan Matematika Ekonomi.
Pihak dekanat pun mengakui tingkat kelulusan mahasiswa pada beberapa mata kuliah kuantitatif memang cenderung rendah. Oleh karenanya, pihak dekanat menyatakan akan melakukan evaluasi. “Kita tidak akan buat soalnya jadi lebih mudah, tapi proses pembelajarannya jadi yang lebih baik,” ujar Imam Salehudin selaku Kaprodi S1 Manajemen FEB UI.
Selanjutnya mengenai tingkat kehadiran minimum di kelas, pihak dekanat merespons dengan berbagai sudut pandang. “Kebijakan sebelumnya yang 60% minimum kehadiran itu ada dampak dua sisi: dosen jadi ngeluh, mahasiswa jadi seenaknya,” ujar Teguh Dartanto.
Perihal sarana dan prasarana ditanggapi dengan beberapa rencana pembangunan dan perbaikan yang akan dilakukan. Rencana yang disampaikan oleh Undang Suwanda selaku Manajer FOrSE antara lain adalah perbaikan KaFE, akses CCTV, pergantian AC gedung A, dan renovasi ruang kelas di gedung KKI. Untuk menjawab soal variasi makanan di KaFE pun pihak dekanat terbuka apabila ada organisasi mahasiswa di FEB ingin mencari dan bekerja sama dengan usaha makanan atau minuman lain untuk membuka usaha di KaFE.
Pelaksanaan DIARI 2025 juga digunakan sebagai wadah bagi ketujuh Calon Dekan FEB UI dalam memberikan tanggapannya terhadap berbagai isu yang disampaikan melalui survei mahasiswa dalam sesi Tanggapan Calon Dekan. Sesi ini dibuka dengan tanggapan dari Arief Wibisono Lubis, Ph.D. diikuti tanggapan calon dekan lainnya, yakni Prof. Desi Adhariani, Ph.D.; Prof. Dr. Ratna Wardhani; Dr. Siti Nuryanah; Prof. Dr. Sylvia Veronica; Prof. Dr. Ezni Baldiah; dan Yulianti Ph.D. atas pertanyaan mahasiswa
Keluhan dan Harapan
Rangkaian acara DIARI berhasil menjalin keterbukaan antara mahasiswa dan pihak dekanat, namun karena keterbatasan waktu, interaksi langsung dengan para calon dekan dirasa masih butuh waktu yang lebih. “Secara umum gue puas karena adalah budaya yang baik, FEB punya bentuk interaksi antara dekanat dan mahasiswanya. Apalagi sekarang DIARI cukup spesial karena ada para calon dekan juga.
“Cuma kurang puas karena tadi sesi QnA (cuma) bisa menampung satu pertanyaan menurut gue cukup mengecewakan, sih. Jadi kurang waktu untuk kita mengeksplorasi pemikiran para calon dekan .Pertanyaan gue dan kawan-kawan mengenai bagaimana sikap dekanat saat ada yang mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah sayangnya tidak terlontarkan. Gue rasa itu menjadi poin yang penting ya untuk dipertanyakan,” ungkap Jundi selaku Kepala Departemen Kastrat BEM FEB UI.
Diharapkan DIARI kedepannya dapat dimanfaatkan dengan lebih baik sebagai tali penghubung antar mahasiswa dan dekanat. “Semoga dekanat yang baru (bisa) benar-benar melakukan apa yang tadi diuraikan terkait aksesibilitas dan keterbukaan. Sama juga harapan selanjutnya adalah selain tindak lanjut dari dekanat, dari sisi mahasiswa adalah anak FEB bisa lebih terencourage lagi untuk bisa menyampaikan (aspirasinya),” harap Yatalathof selaku Ketua BEM FEB UI.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Tim Redaksi
Ilustrasi oleh: Tazkiya Mahfudhah
#SebatasKataKataBukanBudayaKami


Discussion about this post