Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

Di Ruangan Itu

by Shafia Ansor
7 Agustus 2015
in Sastra

Di ruangan itu, kau bungkam lagi mulutmu. Tidakah kau tahu dunia ingin mendengar suaramu? Kini yang tersisa hanyalah gebrakan pintu di belakangku. Kau sendirian…Hanya berduaan dengan alam pikiranmu. Tak sedikitpun aku tahu tentang siapa dirimu, apa yang kau mau untuk hidupmu, dan akan kemanakah pelabuhan akhir kapal indukmu.

Ya, tak sedikitpun, kecuali bahwa kau adalah seorang introvert.

Sekarang jam makan siang, namun akupun menyusuri lorong tanpa arah tujuan. Ah, kesendirian ini menyiksaku!

Bagiku sendirian berarti tiada yang menimpali kelakarku. Tiada yang mengiringi tawaku. Tiada yang dapat mendengar suaraku. Tiada yang membantuku menyeka air mataku. Tiada yang merasakan kehadiranku…

Kecuali Aku, si extrovert ini.

Belum setengah dari lorong aku susuri. Tetiba langkahku terhenti. Alam bawah sadarku menggerakan tubuh ini untuk berbalik arah. Lalu kedua kakiku melangkah dengan pasti. Berpacu beriringan mengantar nyawaku kembali ke tempat dia tadi berada. Di ruangan itu.

Setelah sampai di depan ruangan, pandanganku terhampar melewati jendela menulusuri dimensi udara hingga tertuju kepada dirinya. Dia masih disana. Berkutat dengan buku-bukunya. Tenggelam dan terbuai dengan buah karya pemikiran penulis-penulis terkenal dari berbagai pelosok negeri. Tidakah engkau bosan? Gumamku dalam hati.

Aku tertunduk lesu. Pandanganku kosong tertuju pada lantai yang berdebu. Melepas genggaman tanganku dari gagang pintu. Kali ini benar-benar beranjak pergi. Meninggalkan dirinya sendirian lagi. Di ruangan itu.

Dalam lunglainya derap langkahku, sayup-sayup terdengar suara engsel pintu berdecit. Tiba-tiba dari belakang seseorang memanggil namaku. Deru angin menerbangkan rambutku sembari aku menengok ke belakang. Kala itu perasaanku bercampur aduk. Ternyanalah degup jantung dalam rongga rusuk ini bertalu-talu.  Aliran darah yang menderu memancarkan jelas rona merah pada pipi kuning lansat ini. Rasa heran, kaget, dan senang beradu menjadi satu.

Ya, dengan jelas aku mendengar dia memanggil namaku. Lalu memintaku mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan ini hanya seluas 36 meter persegi, namun cukup untuk diisi 5 set meja-kursi dan satu papan tulis.

Dengan perlahan aku duduk disebelahnya. Mendengarkan saat ia bercerita, menjawab saat ia bertanya. Sesederhana itu.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya. Entah berapa lama, namun di ufuk barat kini sinar sang surya sudah sepenuhnya sirna menandakan malam mulai merajai atap dunia. Aku pun membantunya merapihkan buku-buku.

Di depan pintu ruangan, kami berjabat tangan lalu berpisah. Setelah beberapa langkah, aku menengok untuk melihatnya sekali lagi. Ternyata ia melakukan hal yang sama. Sambil saling melontarkan senyum dan saling melambaikan tangan, akhirnya kami benar-benar berpisah untuk saat ini.

Selama di metromini menuju kosan, memoriku bagai black box saja. Mengulang-ngulang momen-momen bersamanya di ruangan itu. Setiap tutur katanya, gerak tubuhnya, semuanya tentang dirinya, terekam jernih dan kuputar tanpa henti.

Kini aku sadar. Ada dalam dirinya merekflesikan sesuatu tentang diriku. Anehnya bagian itu sama namun berbeda. Sama bahwa hal itu ialah hal yang terpatri kuat tak kuasa untuk diubah dan mengisyaratkan sesungguhnya jati diri. Berbeda bahwa hal itu ialah keintrovertan jiwanya yang mulai bisa kuselami, yaitu tidak serta merta introvert sepenuhnyaintrovert.

Maka mulailah keskeptisanku terhadapnya luntur dan rasa menghargai terhadap dirinya muncul. Begitulah yang terjadi setelah aku paham sebagian dalam dirinya merupakan refleksi dari diriku.

Ya, terkadang orang sepertiku pun butuh waktu untuk sendiri…

Tiba-tiba aku terperanjat oleh suara khas tabuhan bedug di perempatan. Dengan spontan aku setengah berteriak,“Kiri, Baaang….!”.

Lalu sambil aku membayar, pa sopir memberi kembalian diikuti omelan yang kental dengan logat bataknya. Sadar aku bersalah karena menyetop dengan tiba-tiba, aku hanya bisa bilang maaf sambil senyam-senyum masam.

Penulis: Shafia Anshor – Staff Divisi Penelitian BO ECONOMICA FE UI 2014

Related Posts

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind
Kilas Riset

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind

Hari Hutan Sedunia: Swasembada Energi di Atas Deforestasi
Soft News

Hari Hutan Sedunia: Swasembada Energi di Atas Deforestasi

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide