Pendahuluan
Pada 2 Desember 2024, istilah brain rot ditetapkan sebagai Oxford Word of the Year. Istilah ini menggambarkan penurunan kondisi mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan konten digital dangkal. Gejalanya mencakup penggunaan layar berjam-jam, kecemasan ketika jauh dari ponsel, serta melemahnya kemampuan fokus pada aktivitas bermakna. Walau belum diakui sebagai gangguan medis resmi, fenomena ini nyata dirasakan terutama oleh Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh dalam dunia serba layar.
Lebih dari 4 miliar anak muda kini menghabiskan rata-rata 6,5 jam sehari online, banyak di antaranya pasif mengonsumsi konten pendek bernilai rendah. Platform digital seperti TikTok menyediakan gratifikasi instan melalui algoritme yang mendorong konsumsi tanpa henti, memicu overstimulasi, desensitisasi, dan menurunnya rentang perhatian. Akibatnya, individu kesulitan menikmati konten panjang dan kehilangan keterlibatan bermakna dalam kehidupan nyata.
Dampaknya tidak hanya kognitif, tetapi juga psikologis dan sosial: penarikan diri, distorsi realitas, kecemasan, depresi, bahkan potensi gangguan perkembangan otak dan risiko demensia dini. Namun, penelitian sejauh ini masih jarang mengaitkan gejala tersebut dengan perilaku digital spesifik. Studi ini hadir untuk menelaah penyebab, dampak kognitif, serta strategi yang efektif bagi remaja dan dewasa muda dalam mengurangi risiko brain rot.
Landasan Teori
Istilah brain rot pertama kali muncul dalam buku Walden karya Henry David Thoreau pada 1854, menggambarkan kemunduran bertahap kemampuan berpikir kritis dan berkonsentrasi. Meski awalnya tak terkait teknologi, istilah ini kini sangat relevan dengan era digital, di mana jutaan video pendek menyebar cepat di media sosial. Konten semacam ini seringkali dangkal, bahkan berbahaya, misalnya body shaming, pola makan tidak sehat, hingga tips kesehatan tanpa dasar ilmiah.
Remaja menjadi kelompok paling rentan karena menghabiskan berjam-jam di depan layar, multitasking antara media sosial, pesan instan, video singkat, dan gim. Paparan berlebihan ini terbukti memengaruhi perkembangan kognitif, memperlemah konsentrasi, mengganggu memori, kualitas tidur, hingga menimbulkan kegagalan fungsi otak. Studi besar dan uji klinis menunjukkan konsumsi konten dangkal secara terus-menerus dapat menyebabkan malfungsi kognitif yang serius.
Penelitian juga menemukan bahwa arus informasi dan emosi dari gim maupun media sosial membuat perhatian terpecah, memicu prokrastinasi, dan menurunkan kontrol diri. Fenomena ini terkait dengan sistem dopamin di otak: setiap notifikasi, like, atau komentar memberi kepuasan sesaat, yang lama-kelamaan menciptakan ketergantungan. Dengan begitu, brain rot bukan sekadar istilah, tetapi cerminan nyata dari bagaimana dunia digital dapat melemahkan fungsi otak dan kesejahteraan mental kita.
Metode Penelitian
Untuk memahami fenomena brain rot dan kaitannya dengan perilaku digital, fungsi kognitif, serta strategi mitigasi, penelitian ini melakukan rapid review. Metode ini menyederhanakan langkah systematic review sehingga bukti dapat dihimpun lebih cepat tanpa mengorbankan relevansi, sangat berguna di bidang yang berkembang cepat seperti kesehatan digital. Pencarian dilakukan pada periode 2023–2024, menyesuaikan lonjakan minat publik terhadap istilah brain rot, dengan fokus pada penggunaan digital berlebihan di kalangan remaja dan dampaknya pada kesehatan kognitif.
Dari lima basis data utama, terkumpul 381 publikasi; setelah penyaringan ketat, 35 studi dipilih. Kajian ini menemukan bahwa meski istilah brain rot jarang muncul eksplisit, tema yang paling dominan adalah “digital addiction” (71%) dan “excessive screen time” (57%), diikuti isu seperti doomscrolling dan zombie scrolling. Analisis teks mengungkap kata kunci yang sering muncul, seperti attention span, cognitive decline, dan digital addiction. Temuan utama menunjukkan brain rot berkaitan dengan penurunan memori, konsentrasi, serta kemampuan problem-solving, khususnya pada remaja dan dewasa muda.
Selain itu, beberapa studi menyoroti strategi mitigasi, mulai dari digital detox hingga pelatihan kognitif dan praktik mindfulness. Dengan demikian, brain rot bukan hanya istilah populer, tetapi fenomena nyata yang menuntut perhatian serius dalam era digital saat ini.
Hasil dan Diskusi
Penelitian eksploratif ini mengurai fenomena brain rot pada remaja dan dewasa muda berdasarkan empat pertanyaan: pengenalannya, perilaku digital pemicunya, dampak kognitif, dan strategi mitigasi. Analisis teks terhadap 35 studi mengidentifikasi tiga faktor utama yang membentuk pengenalan brain rot: waktu layar berlebih, kecanduan jejaring sosial, dan information overload. Kurva frekuensi istilah menunjukkan lonjakan perhatian pada “information overload”, menandakan
banjir konten berkualitas rendah yang mempersempit perhatian dan menaikkan kecemasan.
Perilaku digital yang terkait meliputi doomscrolling, zombie scrolling, dan loop keterlibatan media sosial semua menghasilkan overstimulasi, fragmentasi perhatian, dan kelelahan kognitif. Dampaknya jelas: memori terganggu, rentang perhatian memendek, kemampuan pemecahan masalah menurun, serta masalah regulasi emosi khususnya berisiko bagi otak remaja yang masih berkembang.

Kurva pada diatas memperlihatkan dinamika istilah terkait fenomena brain rot dalam literatur. Istilah cognitive exhaustion dan cognitive decline tampak dominan dengan kurva yang curam, menegaskan fokus penelitian pada kelelahan mental dan penurunan fungsi kognitif akibat paparan digital berlebihan. Sebaliknya, istilah seperti social scrolling dan media zombie hanya muncul secara sporadis dengan frekuensi rendah, sehingga kurang menjadi sorotan utama kajian akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa diskursus ilmiah lebih menekankan pada aspek kognitif substantif dibandingkan istilah populer yang berkembang di ranah media sosial.
Untuk menanggulangi brain rot, kajian merekomendasikan langkah praktis: atur waktu layar, kurasi umpan media, tambahkan aktivitas non-digital (mis. olahraga, musik, membaca mendalam), dan bangun dukungan sosial serta kebiasaan mindful. Intervensi sederhana dari digital detox hingga latihan kognitif menunjukkan perbaikan fokus dan kesejahteraan. Intinya: brain rot bukan sekadar istilah populer, melainkan konsekuensi nyata dari pola konsumsi digital modern yang bisa dikurangi lewat strategi sadar dan berbasis bukti.
Hasil dan Kesimpulan
Brain rot menjadi kekhawatiran nyata bagi remaja dan dewasa muda di era digital. Ditandai dengan kabut mental dan menurunnya konsentrasi, kondisi ini diperparah oleh waktu layar berlebihan dan konsumsi konten daring dangkal. Rapid review 2023–2024 menunjukkan perilaku seperti doomscrolling, zombie scrolling, dan kecanduan media sosial merusak fungsi eksekutif memori, perencanaan, dan pengambilan keputusan melalui overstimulasi dan sirkuit dopamin. Remaja lebih rentan karena otak yang sedang berkembang. Intervensi sederhana membatasi waktu layar, mengkurasi umpan, dan menambah aktivitas non-digital menunjukkan perbaikan fokus dan ketahanan emosional. Penelitian lanjutan dan kebijakan digital literasi penting untuk melindungi kesehatan kognitif generasi muda dan meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial global.
Reviewed From
Yousef, A.M.F.; Alshamy, A.; Tlili, A.; Metwally, A.H.S. Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review. Brain Sci. 2025, 15, 283. https://doi.org/10.3390/brainsci15030283

