Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

Exploring Resilience in Adult Women Abused as Children: Insights from a Swedish Qualitative Study

by Aina Zafira Fitri
17 Februari 2026
in Kilas Riset, Penelitian

 

Pendahuluan

Penganiayaan terhadap anak adalah pelanggaran atas hak anak terhadap kesehatan, keselamatan, dan perkembangan. Penganiayaan terhadap anak terbukti dapat berdampak negatif pada kehidupan seseorang hingga dewasa. Konsekuensi negatif yang umum diketahui dari penganiayaan anak meliputi kriminalitas, masalah kesehatan mental, dan penyalahgunaan alkohol. Diperkirakan antara 1 hingga 16% anak di negara-negara berpenghasilan tinggi pernah mengalami beberapa bentuk penganiayaan fisik, seksual, atau emosional, dan perempuan lebih menjadi korban dari semua jenis kekerasan intrafamilial. Lebih lanjut, perempuan yang menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang seperti orang tua dan pasangan cenderung memiliki lebih banyak masalah kesehatan mental. Selain itu, khususnya bagi perempuan, menjadi korban kekerasan selama masa kanak-kanak juga meningkatkan risiko untuk menjadi korban kekerasan sebagai orang dewasa.

 

Meski demikian, tidak semua korban mengalami konsekuensi negatif pada tingkat yang sama. Sebagian tetap mampu beradaptasi secara positif meskipun menghadapi penganiayaan yang berat, yaitu, dengan menunjukan resiliensi setelah pengalaman traumatis tersebut di masa kecil. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa 15–47% orang yang mengalami penganiayaan di masa kecil tetap dapat mengembangkan fungsi sosial yang sesuai dan memiliki kesehatan mental yang baik atau dapat dimaknai bahwa 15–47% orang yang mengalami penganiayaan di masa kecil mampu membangun resiliensi.

 

Resiliensi pada konteks ini dimaknai sebagai proses dinamis dan berkelanjutan yang melibatkan interaksi antara faktor internal (diri sendiri) dan eksternal (lingkungan sosial dan kondisi hidup) seseorang untuk memulihkan kendali atas hidup, membangun makna baru, dan menciptakan kesejahteraan, setelah mengalami penganiayaan di masa kecil. Mengingat tingginya prevalensi penganiayaan terhadap anak di kalangan anak perempuan, studi terhadap perempuan menjadi sangat penting. Oleh karena itu, studi ini hadir untuk mengeksplorasi bagaimana perempuan dewasa yang merasa sejahtera dan berfungsi dengan baik setelah mengalami penganiayaan selama masa kecil menunjukan resiliensi, dengan 22 perempuan Swedia sebagai subjek penelitiannya.

 

Metode Penelitian

Studi ini berlandaskan penelitian secara kualitatif dengan metodologi analisis grounded theory. Sampel yang diambil menggunakan purposive sampling adalah 22 orang perempuan berusia 31–64 tahun (dengan rata rata usia = 48 tahun) yang pernah mengalami penganiayaan sebagai kanak-kanak dan dan mengkategorikan diri mereka sebagai orang dewasa yang dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret-Juni tahun 2018 melalui wawancara tatap muka dengan para partisipan yang berdurasi 47 hingga 110 menit. Wawancara yang bersifat semi terstruktur ini memiliki tiga objektif besar, yaitu: 

  1. Pendefinisian subjek tentang kesejahteraan dan tingkat fungsionalitas diri beserta mengapa mereka memilih untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
  2. Kesulitan yang mereka alami di masa kecil, dan
  3. Perefleksian atas pengalaman hidup subjek dan menjelaskan pengalaman apa yang mereka anggap berkontribusi dalam menuju kesejahteraan hidup dan fungsionalitas mereka.

 

Selanjutnya, analisis data dilakukan oleh kedua peneiliti melalui lima langkah, yaitu initial coding, focused coding, axial coding, theoretical coding hingga validasi & konsensus. Kelima langkah ini dimulai sejak wawancara dengan subjek berlangsung untuk memahami pola dan mekanisme resiliensi para subjek.

 

Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis data yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan empat dimensi utama dari membangun dan mempertahankan resiliensi sebagai korban penganiayaan di masa kecil, yang memiliki inti“To live, not only survive–an ongoing endeavor”. “Live” atau hidup dalam konteks ini mengacu pada kemampuan untuk menikmati hidup secara utuh, merasakan kebahagiaan, dan tidak membiarkan pengalaman buruk di masa kecil mendefinisikan mereka sebagai individu. Di sisi lain, “survive” merujuk pada kemampuan bertahan hidup dan memenuhi tanggung jawab yang mereka miliki. “To live, not only survive–an ongoing endeavor” berarti kemampuan untuk terus melakukan upaya yang berkelanjutan agar seseorang dapat berfungsi dengan baik dan merasakan kebahagiaan serta kesejahteraan dalam hidup meskipun mengalami penganiayaan di masa kecil. 

 

Empat dimensi ini meliputi membangun dan mempertahankan kendali atas hidup (establishing and maintaining command of life), menggunakan sumber daya pribadi (employing personal resources), mengelilingi diri dengan orang-orang yang berharga (surrounding oneself by valuable people), dan mencapai tahap penerimaan (reaching acceptance). Para subjek menggambarkan penggunaan keempat dimensi tersebut, tetapi semua menggambarkan penggunaan lebih dari satu, dan jelas bahwa antar dimensi tersebut biasanya saling mendukung. 

 

Gambar 1.  Bagan 4 dimensi utama

Establishing and maintaining command of life

Membangun dan mempertahankan kendali atas hidup seseorang dapat dilakukan melalui beberapa cara, salah satunya adalah dengan memproses pengalaman buruk tersebut melalui dialog, baik secara internal (melalui refleksi diri) maupun eksternal (dengan para profesional, teman, atau orang yang memiliki pengalaman serupa). Bagaimanapun cara yang dipilih, inti dari langkah ini adalah memproses pengalaman tersebut secara aktif dengan seseorang yang mereka percayai, sehingga mereka dapat lebih memahami dan menjauhkan diri dari pengalaman penganiayaan tersebut. Cara lain yang dilakukan oleh subjek adalah dengan menetapkan batasan dalam hubungannya dengan orang lain untuk fokus pada perkembangan dan perlindungan diri sendiri, termasuk memutus kontak dengan pelaku penganiayaan di masa kecil. Di samping kedua cara tersebut, subjek juga menunjukan tendensi untuk membuat pilihan hidup yang strategis seperti memilih pasangan yang tepat, menempuh pendidikan, dan/atau mencari pekerjaan atas dasar keamanan serta menumbuhkan minat yang menyenangkan dan bermakna seperti terlibat dalam kegiatan dan hobi. 

 

Employing personal resources

Meliputi tiga aspek utama, yaitu menikmati kebahagiaan hidup (embracing the joy of living), daya tahan batin (releasing inner strength), dan menempatkan tanggung jawab pada tempatnya (assigning responsibilities). Menikmati kebahagiaan hidup merujuk pada kemampan untuk tetap merasakan kebahagiaan di masa-masa sulit, baik itu berasal dari sifat bawaan maupun secara sadar memutusukan untuk hanya berfokus pada hal-hal yang positif. Daya tahan batin merupakan suatu hal yang sulit dijelaskan oleh subjek, namun inti dari aspek ini adalah memiliki suatu kemampuan internal yang membantu mereka bangkit kembali meski mengalami kesulitan berat. Menempatkan tanggung jawab pada tempatnya berarti menyadari bahwa untuk membangun kehdiupan yang lebih baik merupakan tanggung jawab pribadi, meskipun penganiayaan yang terjadi pada mereka di masa kecil bukanlah kesalahan mereka.

 

Surrounding oneself by valuable people

Mengelilingi diri dengan orang-orang yang berharga memiliki dua dimensi, yaitu dipedulikan oleh orang lain dan mempedulikan orang lain melalui hubungan yang penuh kepercayaan, saling menghargai dan menerima. Dipedulikan oleh orang lain mengacu pada memiliki pihak yang dapat diandalkan oleh subjek dalam prosesnya membangun kehidupan yang lebih baik sedangkan mempedulikan orang lain merujuk pada peran subjek dalam keluarga yang mereka bangun yang memberi makna hidup dan kekuatan untuk terus berjuang, sekaligus memicu pemrosesan pengalaman masa lalu yang berat. Pada studi ini, diungkapkan bahwa menjadi seorang ibu membantu subjek membuka kesadaran akan kesalahan pola asuh masa lalu dan menumbuhkan tekad untuk memutus siklus yang abusif.

 

Reaching acceptance

Penerimaan dapat dicapai melalui memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dengan menerima kekurangan dan kelebihan diri. Beberapa partisipan mencari penjelasan atas perilaku orang tua/pelaku atau bahkan memaafkan dan berekonsiliasi dengan mereka demi kesejahteraan hidup dan fungsionalitas mereka.

 

Hasil dan Diskusi 

Fungsionalitas dan kesejahteraan pada korban penganiayaan di masa kecil dapat dicapai dengan membangun dan mempertahankan resiliensi. Membangun dan mempertahkan resiliensi merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dan dibangun di atas empat hal yang saling terkait: membangun dan mempertahankan kendali atas kehidupan; memanfaatkan sumber daya pribadi; mengelilingi diri dengan orang-orang yang berharga; dan mencapai penerimaan. Keempat dimensi ini bekerja bersama, bukan terjadi dalam urutan linear atau kronologis dan meliputi faktor internal maupun eksternal. Hasil penelitian ini mendukung penemuan dan teori pada penelitian-penelitian yang telah ada, misalnya terkait resiliensi sebagai proses yang dinamis, pengaruh faktor eksternal dan internal dalam membangun resiliensi, dan pentingnya hubungan yang sehat dengan orang lain. 

 

Diulas dari: Gunnarsdóttir, H., Löve, J., Hensing, G., & Källström, Å. (2021). To live, not only survive—An ongoing endeavor: Resilience of adult Swedish women abused as children. Frontiers in Public Health, 9, Article 599921. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.599921

Related Posts

Sekadar Like atau Benar-Benar Peduli? Membongkar Sisi Gelap dan Terang Slacktivism
Kilas Riset

Sekadar Like atau Benar-Benar Peduli? Membongkar Sisi Gelap dan Terang Slacktivism

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas
In-Depth

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide