Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

Sekadar Like atau Benar-Benar Peduli? Membongkar Sisi Gelap dan Terang Slacktivism

by Aisha Dinar Farahita
1 Mei 2026
in Kilas Riset, Penelitian

Pendahuluan

Pernahkah kalian merasa sudah berbuat baik hanya dengan mengubah foto profil dengan filter tertentu, mengunggah tagar populer, atau menandatangani petisi daring? Fenomena ini sering disebut sebagai slacktivism, sebuah perpaduan dari kata slacker (pemalas) dan activism (aktivisme). Di era digital ini, banyak pihak mencibir bahwa tindakan tersebut hanyalah cara malas untuk merasa jadi pahlawan tanpa pengorbanan nyata. Namun, apakah benar dukung-mendukung di media sosial justru mematikan niat kita untuk membantu secara nyata di lapangan?

Artikel karya Kristofferson, White, dan Peloza (2014) yang berjudul “The Nature of Slacktivism: How the Social Observability of an Initial Act of Token Support Affects Subsequent Prosocial Action” memberikan jawaban yang sangat menarik. Melalui tulisan ini, kita dapat melihat bahwa dampak slacktivism tidaklah hitam-putih; semuanya bergantung pada faktor sosiopsikologis yang disebut sebagai observabilitas.

Inti Cerita: Dilema Antara Pencitraan dan Nilai Diri

Penelitian ini berangkat dari sebuah teka-teki: Mengapa terkadang dukungan kecil, seperti memakai pita atau like di Facebook, mendorong orang untuk berdonasi lebih banyak, tetapi di lain waktu justru membuat mereka merasa sudah cukup dan tidak mau membantu lagi?

Kristofferson dan rekan-rekannya menemukan satu variabel kunci: Observabilitas Sosial, yakni apakah aksi kita dilihat orang lain atau tidak.

Secara garis besar, riset ini menemukan bahwa:

  1. Dukungan Publik (Dilihat Orang): Saat kita memberikan dukungan secara terbuka, misalnya mengunggah stiker dukungan di Instagram, kita cenderung fokus pada manajemen kesan (impression management). Kita ingin terlihat baik di mata orang lain. Begitu kebutuhan untuk terlihat baik itu terpenuhi lewat like atau komentar, motivasi kita untuk melakukan aksi nyata yang lebih berat, seperti menyumbang uang atau menjadi relawan, justru menurun. Kita merasa tugas sosial kita sudah selesai.
  2. Dukungan Privat (Hanya Kita yang Tahu): Sebaliknya, jika dukungan awal dilakukan secara tertutup, misalnya menandatangani petisi tanpa membagikannya ke media sosial, kita lebih fokus pada nilai-nilai internal diri sendiri. Tindakan kecil ini menjadi pengingat bagi diri kita bahwa “Saya adalah orang yang peduli pada isu ini.” Untuk menjaga konsistensi diri tersebut, kita justru lebih terdorong untuk memberikan bantuan yang lebih besar di kemudian hari.

Mengapa Ini Terjadi?

Para peneliti menjelaskan ini melalui teori konsistensi diri versus pencitraan. Ketika aksi awal bersifat privat, individu menghubungkan tindakan tersebut dengan identitas mereka. Efeknya adalah consistency effect, “Karena saya sudah mendukung ini secara privat, aku harus membuktikannya lagi dengan aksi nyata.”

Namun, ketika aksi awal bersifat publik, fokus bergeser menjadi pemuasan citra sosial. Setelah citra positif didapatkan dari publik, motivasi untuk membantu lebih lanjut sering kali menguap. Inilah yang menjelaskan mengapa kampanye media sosial yang sangat viral terkadang gagal menghasilkan donasi yang sebanding dengan jumlah share-nya.

Metodologi: Mengukur Kebaikan dalam Laboratorium Sosial

Untuk membedah perilaku manusia yang kompleks ini, Kristofferson dan kolega tidak sekadar menggunakan survei opini. Mereka merancang metodologi yang sangat ketat melalui lima studi eksperimental terkontrol. Tujuannya adalah untuk mengamati perilaku prososial nyata, yaitu tindakan menolong orang lain yang memerlukan pengorbanan waktu atau uang, setelah seseorang memberikan dukungan simbolis (token support).

Para peneliti menggunakan desain eksperimen dua tahap (two-stage design). Pada tahap pertama, partisipan diminta memberikan dukungan kecil untuk sebuah isu sosial seperti kampanye lingkungan atau bantuan bagi veteran. Variabel bebas utama yang dimanipulasi adalah Observabilitas Sosial. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Kondisi Publik: Dukungan diberikan secara terbuka, seperti memakai pin atau menandatangani petisi di mana orang lain bisa melihat.
  2. Kondisi Privat: Dukungan diberikan secara rahasia, misalnya memasukkan surat dukungan ke dalam amplop tertutup.

Setelah tindakan awal tersebut, partisipan kemudian dihadapkan pada tahap kedua, yaitu kesempatan untuk memberikan bantuan yang lebih substansial, seperti mendonasikan uang atau mendaftar sebagai relawan. Teknik analisis data yang digunakan mencakup Analysis of Variance (ANOVA) untuk melihat perbedaan rata-rata bantuan antar kelompok, serta uji mediasi untuk memahami proses psikologis yang mendasarinya.

Hasil Penelitian: Dampak Nyata dari “Mata” Orang Lain

Temuan hasil rangkaian eksperimen Kristofferson dan kolega cukup mengejutkan publik, terutama para pegiat media sosial, dengan hasil yang sangat konsisten. Motivasi untuk membantu antara kelompok dengan kondisi publik dan kondisi privat memiliki perbedaan yang signifikan. Partisipan yang memberikan dukungan secara rahasia cenderung berkontribusi nyata dengan bantuan yang lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan partisipan yang melakukannya secara terbuka.

Perbedaan peran manajemen kesan (impression management) bagi kelompok publik dan privat juga terpapar jelas di hasil penelitian. Motivasi utama kelompok dengan kondisi publik adalah terlihat baik di mata orang lain. Alhasil, keinginan mereka untuk membantu di kemudian hari menurun drastis begitu mereka merasa telah memperoleh pengakuan sosial dari publik. Sebaliknya, fokus utama kelompok dengan kondisi privat adalah konsistensi diri (self-consistency). Mereka menganggap bantuan rahasia mereka sebagai identitas dan nilai diri yang perlu diimplementasikan seterusnya di masa depan.

Menariknya, efek degradasi dari dukungan publik ini dapat dimitigasi jika individu tersebut memiliki nilai internal yang sangat kuat terhadap suatu isu sedari awal. Namun, bagi masyarakat umum dengan atensi yang moderat, dukungan publik justru menjadi bumerang untuk aksi mereka kedepannya.

Diskusi: Mengapa Likes Sering Kali Menjadi Akhir dari Aksi?

Pada bagian diskusi, para peneliti menggali lebih dalam mengenai fenomena psikologi yang disebut lisensi moral (moral licensing), di mana seseorang merasa telah mengumpulkan poin moral yang cukup ketika ia melakukan tindakan positif. Poin ini kemudian digunakan sebagai alasan bawah sadar mereka untuk tidak lagi menyumbangkan pertolongan yang lebih besar. Hal ini terjadi karena mereka merasa dunia sudah melihat “kepedulian” yang pernah mereka bagikan.

Diskusi ini juga menyoroti bagaimana platform media sosial dirancang untuk memaksimalkan observabilitas. Tombol like dan share sebagai alat manajemen kesan yang sangat efisien menjelaskan mengapa sebuah kampanye bisa memperoleh jutaan reaksi tetapi menghasilkan jumlah donasi yang sedikit. Persoalan ini berada pada cara manusia memproses validasi sosial, bukan pada media sosial yang sebenarnya berpotensi menjadi alat yang efektif jika digunakan secara tepat.

Meskipun demikian, para peneliti dengan optimis menyisipkan catatan yang menyatakan bahwa slacktivism tidak sepenuhnya merusak. Pada organisasi nirlaba yang bisa merancang kampanye yang memicu refleksi identitas pribadi secara privat sebelum mereka meminta dukungan ke publik, potensi pengkonversian dukungan digital ke aksi nyata akan meningkat jauh lebih tinggi.

Catatan Penting: Koreksi Akurasi dalam Dunia Akademik

Sebagai informasi tambahan, terdapat ralat (erratum) yang diterbitkan tahun 2020 terkait artikel ini. Dalam koreksi tersebut, Kristofferson dan kolega secara khusus memperbaiki beberapa angka statistik dalam tabel regresi seperti nilai koefisien (b) dan signifikansi (p) dengan nilai yang benar. Walaupun demikian, temuan kualitatif, yakni pola hubungan dan kesimpulan utama, mengenai peran observabilitas tetap valid dan tidak berubah. Bagi penulis yang ingin merujuk spesifikasi angka, sangat disarankan untuk menyanding artikel utama dengan erratum dalam upaya menjaga integritas riset.

Kesimpulan dan Refleksi

Penelitian oleh Kristofferson, White, dan Peloza memberikan tamparan sekaligus pencerahan bagi publik terutama para pengguna media sosial. Mereka membuktikan bahwa dukungan sosial publik yang seharusnya mendorong aksi nyata justru sering menjadi penghalangnya. Artinya, seseorang cenderung berhenti membantu di titik di mana ia mendapat pujian sosial dari tindakan kecil. Sebaliknya, dukungan yang dilakukan secara pribadi dapat memicu rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk benar-benar membantu.

Jangan biarkan satu klik menjadi akhir dari kepedulian kita. Perubahan yang nyata tidak dihitung dari seberapa banyak engagement yang kita dapatkan, tetapi dari seberapa besar dampak nyata yang kita hasilkan. Gunakan media sosial sebagai pintu pembuka, bukan tempat berhenti hanya untuk merasakan citra menjadi “pahlawan”.

 

Diulas dari:

Kristofferson, K., White, K., & Peloza, J. (2014). The nature of slacktivism: How the social observability of an initial act of token support affects subsequent prosocial action. Journal of Consumer Research, 40(6), 1149-1166. https://doi.org/10.1086/674137

Kristofferson, K., White, K., & Peloza, J. (2020). Erratum: The nature of slacktivism: How the social observability of an initial act of token support affects subsequent prosocial action. Journal of Consumer Research, 47(2), 314-315. https://doi.org/10.1093/jcr/ucz005

 

Related Posts

Exploring Resilience in Adult Women Abused as Children: Insights from a Swedish Qualitative Study
Kilas Riset

Exploring Resilience in Adult Women Abused as Children: Insights from a Swedish Qualitative Study

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas
In-Depth

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide