Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

Is Folklore Dying or Evolving? Unpacking Its Modern Crisis

by Dani Wicaksono
3 Januari 2026
in Kilas Riset, Penelitian

Latar Belakang

Dalam dunia yang serba cepat, banyak yang menganggap istilah ‘folklor’ sudah tidak relevan. Banyak yang menganggapnya hanya sebagai sisa masa lalu, yaitu cerita-cerita rakyat, nyanyian tradisional, dan tradisi lainnya yang berkembang dalam masyarakat kecil dan perlahan menghilang. Namun, apakah budaya rakyat benar-benar sekedar kenangan? Atau justru ia menemukan bentuk lainnya yang menyesuaikan dengan kehidupan manusia modern?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih berhadapan dengan bentuk ekspresi yang masih memenuhi fungsi tradisi lama, hanya dengan wajah yang berbeda. Cerita rakyat kini dalam bentuk narasi digital, petuah lisan yang dulu disampaikan secara langsung kini menjadi sebuah ‘tren’ yang banyak diposting orang, dan ritual yang dulunya dilakukan secara langsung sekarang dilakukan dalam ruang virtual. Pergeseran ini membuat batas antara yang “tradisional” dan “modern” semakin kabur. Dan ini menimbulkan pertanyaan baru, apa yang masih dapat disebut sebagai folklor?

Budaya rakyat dan masyarakat tidak dan tidak lagi dapat dipisahkan dari konteks teknologi, ekonomi, dan media yang mengkonstruksi dan mendistribusinya. Sesuatu yang sederhana seperti lelucon, cerita pendek, dan kebiasaan lokal juga dapat diintegrasikan dan diklaim sebagai bagian dari arus informasi yang mengalir global.Menajdikan folklor menghadapi tantangan baru, memahami dan menafsirkan makna sosial dan konteks yang mendasari budaya dan bentuk-bentuk budaya yang terus berubah dan bertransformasi.

Pandangan seperti ini juga dibahas lebih lanjut oleh Barbara Kirshenblatt-Gimblett dalam “Folklore’s Crisis” (1998). Ia menjelaskan tentang bagaimana bidang budaya rakyat dan penelitian budaya di dalamnya berupaya mencari bentuk baru di tengah pesatnya perubahan sosial dan budaya global. Krisis di dalam penelitian budaya yang ia maksud sama sekali bukan kemunduran, tetapi saat di mana suatu bidang pengetahuan ber-tuning atau bertransformasi, berinternalisasi dan merefleksikan tradisi, serta menampung hal baru untuk selamanya beradaptasi dalam modernitas dan globalisasi. Ia menekankan perubahan mendasar dalam cara dan bentuk masyarakat budaya sebagai tradisi sosial, yang berproses dan merefleksikan relevansinya di konteks baru dan modern.

Akar Krisis: Folklore sebagai “Kesalahan”

Krisis yang dikaji Kirshenblatt-Gimblett tidak ada dengan sendirinya. Ia berakar dari pengertian yang lebih tua tentang folklor, yang dipandang sebelah mata dan dianggap “rendahan” dari budaya resmi atau budaya ilmiah. Dalam banyak konteks kontemporer, kata folklor disematkan pada sesuatu yang dianggap tidak rasional — mitos, takhayul, atau narasi dan kisah yang tidak memiliki bukti sejarah. Dalam pandangan itu, folklor dipandang sebagai kesalahan pengetahuan yang harus dibenarkan oleh sains dan dilarang oleh modernitas.

Krisis semacam ini, menurut Kirshenblatt-Gimblett, berakar dari pandangan semacam ini. Folklor yang dipandang pada posisi bawahan, dan pada konteks yang lebih luas, kesenjangan sosial, dialihkan legitimasi dan hilang pada posisi kajian yang tetap dinamis. Di lain pihak, “kekosongan” yang dirasakan, justru memperlihatkan cara dan sikap masyarakat dan menjelaskan serta merasionalisasikan sebuah realitas dengan logika dan rasio yang berbeda.

Itu menisi kesimpulan baru, yaitu krisis folklor adalah krisis cara berpikir modern itu sendiri. Alih-alih menertawakan dan meremehkan sebuah cerita rakyat sebagai warisan yang tidak berharga, Kirshenblatt-Gimblett mengajak kita untuk mengintip pada klaim folklor sebagai pengetahuan alternatif, cara lain manusia untuk membaca dan memahami dunia di luar batas kerangka rasional formal.

Rangkuman Pemikiran

Kirshenblatt-Gimblett menjelaskan bahwa krisis dalam folklor timbul dari ketidakselarasan antara nama suatu bidang dan objek kenyataan yang ditelitinya, fenomena yang ia sebut sebagai pengalihan topik. Menguasai folkloristik dulunya berarti terlibat dengan kajian modern mengenai bidang-bidang yang tumpang tindih seperti media, arsip digital, dan komodifikasi budaya. Akibatnya, perbedaan antara “folklor” dan “budaya populer” semakin tidak jelas.

Untuk memahami perubahan ini, Kirshenblatt-Gimblett mengidentifikasi tiga aspek yang saling terkait: temporalitas, atau ‘bunyi’ dari teks dan teknologi, dan folklor sebagai produksi budaya.

Terkait dengan temporalitas, folklor sering dianggap sebagai sisa masa lalu. Pandangan ini membuatnya terlihat seolah-olah folklor adalah benda peninggalan yang harus dilestarikan dan bukan sesuatu yang hidup di masa kini. Kirshenblatt-Gimblett berargumen sebaliknya. Ia menyatakan bahwa folklor adalah dan selalu menjadi kontemporer; ia selalu berubah seiring dengan pergeseran sosial. Apa yang kita sebut “tradisi” hanyalah salah satu dari banyak bentuk adaptasi budaya yang didasarkan pada konteks yang berbeda dari setiap momen sejarah.

Kedua soal kelisanan dan teknologi, Kirshenblatt-Gimblett menggambarkan perkembangan media dan teknologi komunikasi mulai menggeser folklor dari ruang dan cara di mana folklor hadir dan tersebar. Dulu, cerita rakyat dialek dan cerita dan di dari mulut ke mulut saat interaksi atau bersosialisasi. Saat ini, bentuk serupa hidup di media sosial, video, dan ruang digital. Cerita lisan memang jarang, tetapi semangat berbagi kisah dan simbol kolektif masih tersimpan dan melintasi ruang, dan waktu, berubah ke digital.

Ketiga, folklor sebagai produksi budaya. Adalah, dalam pandangannya, folklor bukan peninggalan yang diwaraskan dan diwariskan secara pasif, tetapi pewujud masyarakat dan mengultuskan secara kolektif dalam mencipkan, dan negosiasikan makna secara dialektis sebagai sebuah, dan aktif dalam produksi budaya. ini berlaku sebagai ritual, narasi, musik, dan ekspresi baru yang muncul dan viral di internet. Dalam sosial, dengan ini folklor adalah proses stagnant sosial. Dalam adalah dan aktip bergerak, bergerak folklor, dan folkproses.

Analisis dan Relevansi

Krisis yang berlangsung seperti yang diutarakan Kirshenblatt-Gimblett berwujud folklor dan modern dimensi cosmopolitan. tidak dan saban, modern dengan dan hanya. Konsep ini menekankan ketergantungan dan dan budaya digital dalam dimensi cosmopolitan. Memek, tren viral, dan sosialisasi kolektif dan humor adalah folklor berfungsi sebagai. Sintesis, peniru, dan eksresi коммуникатив berbagi dan ruang sosial yang disusun dan., sama seperti masyarakat tradisional menciptakan cerita rakyat di masa lalu.

Kita juga bisa melihat kemiripan itu di Indonesia. Pada budaya populer di media sosial, kita dapat melihat banyak nilai-nilai lokal yang tradisi yang diadaptasi secara kreatif. Misalnya, kisah hantu atau mitos daerah yang diangkat kembali dalam konten digital, atau simbol-simbol budaya lokal yang dipadukan secara modern. Ini semua menandakan bahwa folklor masih hidup; ia hanya berpindah ruang, dari ruang-ruang desa ke ruang digital.

Di sisi lain, pemikiran Kirshenblatt-Gimblett memberikan cara pandang baru dalam upaya pelestarian budaya. Melestarikan folklor tidak berarti menjaganya agar tetap sama, tetapi memahami kolektif itu mengulang tradisi. Penelitian budaya diakui, berada di batas terjadinya pengabulan permohonan; terima, perubahan adalah bagian dari hidup budaya.

Dengan cara pandang itu, kita bisa melihat bahwa teknologi sebenarnya bukan musuh folklor, tetapi medium baru untuk ekspresi budaya. Digital tidak membunuh tradisi, hanya memperluas cara berkomunikasi. Begitu juga folklor yang dipakai untuk membangun solidaritas sosial, ekspresi budaya digital sekarang juga digunakan untuk membangun identitas kolektif, hanya di ruang yang lebih luas.

Pemikiran Kirshenblatt-Gimblett berpengaruh besar terhadap arah studi budaya kontemporer. Ia membuka jalan bagi lahirnya konsep digital folklore — pemahaman bahwa ekspresi budaya di internet, mulai dari meme hingga narasi komunitas online, adalah bentuk baru dari praktik budaya rakyat. Dengan menggeser fokus dari objek ke proses, ia mengajarkan bahwa budaya tidak diukur dari keasliannya, melainkan dari kemampuannya beradaptasi dan menciptakan makna baru.

Lebih luas lagi, artikel ini menjadi dasar bagi pemikiran semua budaya bersifat cair. Tidak ada batasan tegas antara “tradisi” dan “modernitas.” Keduanya saling berkelindan, saling menciptakan, dan saling memperbarui. Inilah relevansi terbesar Folklore’s Crisis di era digital saat ini: ia mengingatkan bahwa krisis bukan berarti akhir, melainkan tanda kehidupan yang terus bergerak.

 

Kesimpulan

Kirshenblatt-Gimblett, melalui gagasannya tentang “Folklore’s Crisis”, menegaskan bahwa krisis dalam folklor bukanlah tanda kehancuran, tetapi evolusi. Folklor terus hidup karena manusia selalu membutuhkan cara untuk berbagi makna, mengingat masa lalu, dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Di dunia modern ini, folklor tidak lagi terbatas pada cerita rakyat atau tradisi lisan. Ia meluas ke semua bentuk budaya yang mengekspresikan pengalaman kolektif dan hidup di media sosial. di festival budaya, di musik populer, bahkan di ruang virtual tempat orang saling menciptakan identitas.

Krisis yang dipaparkan oleh Kirshenblatt-Gimblett ini merupakan pengingat bahwa budaya tidak pernah berada dalam keadaan statis. Budaya terus bergerak, bernegosiasi, dan beradaptasi. Dalam perubahan itu, folklor menemukan maknanya yang baru; bukan sebagai peninggalan di masa lampau, namun sebagai cermin di mana manusia memahami dirinya di dunia yang terus berubah.

 

Sitasi: Kirshenblatt-Gimblett, B. (1998). Folklore’s Crisis. The Journal of American Folklore, 111(441), 281–327. https://doi.org/10.2307/541312

Related Posts

Carbon Trading & Green Credit: Menimbang Dilema Pabrik dalam Transisi Hijau
Kilas Riset

Carbon Trading & Green Credit: Menimbang Dilema Pabrik dalam Transisi Hijau

Environmental Regulation and Green Productivity: Unlocking GTFP Growth through GMM Evidence
Kilas Riset

Environmental Regulation and Green Productivity: Unlocking GTFP Growth through GMM Evidence

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide