Pendahuluan
Perkembangan teknologi telah mendorong perubahan sistem pembayaran global, termasuk kemunculan mata uang kripto yang bersifat terdesentralisasi. Namun, keterbatasan seperti volatilitas harga, rendahnya efisiensi transaksi, dan minimnya regulasi membuat kripto sulit diadopsi sebagai alat pembayaran. Stablecoin hadir sebagai solusi dengan menawarkan kestabilan nilai melalui jaminan aset atau algoritma tertentu, dan kini mulai memainkan peran penting dalam transaksi digital. Artikel ini ini menyajikan tinjauan komprehensif mengenai Stablecoin, meliputi ekosistem, arsitektur sistem, mekanisme stabilisasi nilai, serta kelayakannya sebagai metode pembayaran modern.
Ekosistem Stablecoin
Ekosistem Stablecoin dibangun atas dasar integrasi antara dunia cryptocurrency dan sistem fiat. Sejak awal, Stablecoin dirancang untuk menjaga stabilitas harga dalam sistem yang terdesentralisasi dan diatur oleh protokol, dengan tujuan menjadi uang tunai digital yang dapat digunakan secara luas. Peran ini didukung oleh teknologi Blockchain yang memberikan stabilitas nilai, keamanan, desentralisasi, dan ketahanan terhadap manipulasi data. Dalam konteks pasar kripto yang volatil, Stablecoin juga berfungsi sebagai safe haven bagi investor dan mengurangi kebutuhan pertukaran langsung antar aset digital maupun dengan fiat. Meskipun efisien dan transparan, Stablecoin berbeda dari mata uang fiat yang didukung otoritas pusat, serta dari deposito bank karena nilainya disimpan langsung dalam bentuk token digital, bukan dalam rekening bank. Dalam hal ini, kredibilitas Stablecoin sangat bergantung pada volume transaksi, skala jaringan, dan entitas penerbitnya—baik swasta maupun bank sentral dalam kasus Central Bank Digital Currency (CBDC).

Gambar 1. Applications of Stablecoins.
Lebih lanjut, artikel ini mengidentifikasi lima skenario utama penggunaan Stablecoin dalam sistem pembayaran digital. Pertama, sebagai Exchange Medium yang menjembatani perdagangan di platform C2C, memungkinkan konversi cepat antara kripto dan fiat. Kedua, sebagai Trading Pair yang memudahkan pengguna dalam lindung nilai atau konversi antar aset tanpa harus berpindah ke fiat. Ketiga, sebagai Insurance Asset, di mana investor dapat dengan mudah menghindari risiko pasar kripto dengan mengonversi aset ke Stablecoin. Keempat, untuk Daily Payment, karena nilai yang relatif stabil dan efisiensi transaksi menjadikannya cocok sebagai alat pembayaran sehari-hari. Kelima, dalam Cross-Border Payments, Stablecoin menawarkan kecepatan dan efisiensi yang melampaui sistem perbankan tradisional berkat jaringan Blockchain yang terdesentralisasi dan bebas hambatan lintas negara.
Arsitektur Sistem Stablecoin
Arsitektur sistem Stablecoin terdiri dari tiga lapisan utama: data layer, protocol layer, dan interface layer. Data layer bertanggung jawab atas pencatatan transaksi dan penyimpanan informasi penting sebagai dasar transparansi dan keamanan. Protocol layer mengatur logika operasional, seperti mekanisme penerbitan dan transaksi Stablecoin. Interface layer menjadi penghubung antara pengguna dan sistem melalui aplikasi dompet atau platform digital. Ketiga lapisan ini bekerja secara terintegrasi untuk memastikan bahwa Stablecoin dapat digunakan secara efisien, transparan, dan stabil dalam ekosistem digital.
Pengembangan Stablecoin sangat bergantung pada kualitas dan karakteristik platform blockchain tempatnya dibangun, terutama dalam hal keamanan, desentralisasi, dan kecepatan transaksi. Protokol Omni Layer di atas Bitcoin digunakan untuk USDT, memanfaatkan instruksi OP_Return agar tidak mengganggu sistem utama Bitcoin. Sementara itu, blockchain seperti Ethereum yang bersifat Turing-complete memungkinkan implementasi Stablecoin secara fleksibel melalui smart contract, dan menjadi pilihan populer di berbagai proyek. Pendekatan lain dilakukan oleh Libra yang menjadikan Stablecoin sebagai mata uang asli dalam sistemnya, dan oleh bank sentral seperti Tiongkok dengan sistem DECP yang menggunakan blockchain untuk dompet digital dan audit transaksi secara tertutup. Perbedaan karakteristik masing-masing blockchain turut memengaruhi efisiensi, keamanan, dan skala adopsi Stablecoin secara keseluruhan.
Mekanisme Stabilisasi Stablecoin

Gambar 2. Asset-backed Stablecoin.
Pada model berbasis aset fisik, penerbit menyimpan cadangan dolar atau komoditas yang diaudit sebagai jaminan untuk setiap unit Stablecoin yang diterbitkan. Pengguna menukarkan uang fiat dengan Stablecoin, sementara penerbit mencatatnya di blockchain dengan pengawasan teknologi. Kelebihan model ini adalah kesederhanaannya, tetapi sifatnya yang terpusat menimbulkan risiko manipulasi cadangan seperti pada kasus USDT.

Gambar 3. Cryptocurrency-backed Stablecoin.
Model kedua menggunakan aset kripto sebagai agunan, seperti yang dilakukan oleh Dai yang berbasis Ethereum. Nilai tukar dijaga melalui smart contract yang secara otomatis melikuidasi agunan jika harga turun melewati ambang tertentu. Sistem ini lebih transparan dan terdesentralisasi karena tidak melibatkan perantara, tetapi sangat rentan terhadap volatilitas pasar kripto.

Gambar 4. Algorithm-backed Stablecoin.
Sementara itu, Stablecoin berbasis algoritma tidak memiliki jaminan apa pun, melainkan mengatur pasokan secara otomatis agar nilai tukar tetap stabil. Meskipun sangat efisien dan terbuka, pendekatan ini rawan terhadap krisis kepercayaan dan death spiral yang dapat merusak sistem sepenuhnya jika mekanisme kontrol gagal berfungsi.
Kelayakan Stablecoin sebagai Metode Pembayaran
Stablecoin sejak awal dirancang untuk menjadi mata uang universal dalam sistem pembayaran yang terdesentralisasi. Untuk menilai kelayakannya sebagai alat pembayaran, jurnal ini membandingkan Stablecoin dengan bentuk mata uang lain seperti logam mulia (emas), fiat (USD), dan kripto tidak stabil seperti Bitcoin. Setiap jenis mata uang tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi jaminan, stabilitas, maupun cakupan penggunaannya. Dalam hal ini, Stablecoin diharapkan dapat menggabungkan keunggulan dari berbagai sistem, seperti nilai stabil dari fiat dan sifat terdesentralisasi dari kripto.
Evaluasi kelayakan Stablecoin sebagai mata uang dilihat dari beberapa indikator utama seperti fungsi dasar uang (alat tukar, penyimpan nilai, dan pengukur nilai), hukum peredaran uang, serta konsep impossible trinity—yang menyatakan bahwa stabilitas nilai, kebebasan arus modal, dan otonomi kebijakan moneter tidak dapat dicapai secara bersamaan. Selain itu, kemampuan Stablecoin untuk mendukung keuangan terdesentralisasi (DeFi) menjadi sorotan, mengingat DeFi kini berkembang pesat dan membutuhkan alat pembayaran yang stabil namun tetap bebas dari kendali terpusat. Dalam konteks ini, Stablecoin berperan sebagai tulang punggung DeFi yang memungkinkan berbagai aplikasi berjalan tanpa perantara, seperti pinjaman, perdagangan, dan investasi.

Gambar 5. Applicability comparison.
Perbandingan berbagai jenis mata uang berdasarkan fungsi dan karakteristiknya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun jenis yang unggul dalam semua aspek. Emas, misalnya, unggul sebagai penyimpan nilai dan desentralisasi, namun tidak praktis sebagai alat tukar. Mata uang fiat seperti USD berfungsi baik dalam hampir semua indikator kecuali desentralisasi dan fleksibilitas (fineness). Bitcoin memiliki keunggulan desentralisasi dan efisiensi, tetapi tidak stabil dan kurang tepat sebagai ukuran nilai. Stablecoin berbasis aset mendekati stabilitas fiat namun kurang dalam fleksibilitas dan desentralisasi. Stablecoin berbasis kripto menawarkan desentralisasi dan kemampuan penyesuaian, namun masih lemah sebagai pengukur nilai. Sementara itu, Stablecoin berbasis algoritma unggul dalam desentralisasi dan penyesuaian suplai, tetapi masih perlu ditingkatkan dari sisi kestabilan nilai dan fungsinya sebagai penyimpan nilai. Tabel ini menunjukkan bahwa setiap jenis memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing, tergantung pada konteks penggunaannya.
Dari sisi kebijakan moneter, Stablecoin menghadirkan tantangan baru bagi otoritas keuangan nasional. Penggunaannya yang semakin luas dapat mengurangi pendapatan perbankan, memperlemah efektivitas kebijakan suku bunga, dan bahkan mengurangi penerimaan negara dari pencetakan uang. Selain itu, kemampuan Stablecoin untuk bergerak bebas lintas batas memungkinkan aliran modal global yang lebih cepat, yang dapat memicu ketidakseimbangan ekonomi di negara-negara dengan sistem keuangan lemah. Akibatnya, pemerintah kehilangan sebagian kontrol terhadap transmisi kebijakan moneter domestik.
Terakhir, terdapat berbagai risiko yang melekat pada penggunaan Stablecoin. Risiko-risiko tersebut meliputi potensi pelanggaran pajak karena sifat anonim, biaya transaksi yang tinggi pada beberapa platform, serta kerentanan terhadap serangan siber atau kegagalan sistem. Selain itu, Stablecoin juga dapat disalahgunakan dalam kejahatan finansial seperti pencucian uang dan penipuan, serta berpotensi menjadi instrumen manipulasi harga pasar. Jika tidak diatur secara ketat, penyebaran Stablecoin dalam skala besar dapat mengganggu kedaulatan moneter suatu negara karena penerbit atau bursa besar dapat mengendalikan suplai uang secara global.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Stablecoin memegang fungsi fundamental dan posisi unik dalam ekosistem cryptocurrency, menunjukkan pertumbuhan pasar yang pesat dan fondasi teoretis yang terus membaik, yang diperkirakan akan terus mengubah sistem pembayaran, perbankan, keuangan, dan kehidupan kita. Jurnal ini menyimpulkan bahwa Stablecoin memfasilitasi pertukaran antara mata uang fiat dan cryptocurrency serta bertindak sebagai tempat lindung nilai yang aman. Selain itu, Stablecoin secara signifikan mengurangi kebutuhan pertukaran yang sering antara mata uang fiat dan cryptocurrency , dan sebagai instrumen pembayaran yang memadai, Stablecoin dapat mengurangi sirkulasi mata uang fiat serta transaksi bank yang sering menjadikannya infrastruktur yang sangat diperlukan dalam ekosistem pembayaran. Meskipun demikian, terdapat hambatan terhadap implementasi penuh Stablecoin di dunia nyata akibat berbagai risiko yang terlibat, terutama yang berkaitan dengan kedaulatan nasional mata uang fiat. Ke depan, artikel ini menyarankan penelitian lebih lanjut yang menganalisis penerapan Stablecoin secara empiris, mengeksplorasi aplikasi praktis yang lebih luas, serta memperbaiki struktur Stablecoin, desain algoritma, atau mengajukan rencana regulasi yang sesuai untuk mengatasi risiko dan masalah yang ada.
Oleh: Kornelius Hasiholan Pardosi
Editor: Tim Kilas Riset
Ilustrator: Johana Sakila Daila
Reviewed from: Li, D., Han, D., Weng, T., Zheng, Z., Li, H., & Li, K. (2024). On Stablecoin: Ecosystem, architecture, mechanism and applicability as payment method. Computer Standards & Interfaces, 87, 103747. https://doi.org/10.1016/j.csi.2023.103747

