Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang keberanian dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa melalui Pertempuran Surabaya tahun 1945. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan semangat kepahlawanan yang perlu terus hidup, tidak hanya di medan perang, tetapi juga dalam perjuangan membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan.
Di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), makna Hari Pahlawan diwujudkan, salah satunya dalam bentuk pengabdian akademik. Melalui refleksi terhadap sejarah berdirinya fakultas, karya para tokoh pendirinya, serta dedikasi mereka yang menorehkan warisan keilmuan ekonomi bangsa, FEB UI menegaskan bahwa perjuangan sejati tidak berhenti di masa lalu. Semangat kepahlawanan terus hidup dalam setiap langkah sivitas akademika, mulai dari ruang kuliah, penelitian, hingga pengabdian masyarakat, sebagai wujud nyata perjuangan intelektual demi kemajuan Indonesia.
Kilas Balik Berdirinya FEB UI
FEB UI didirikan pada tanggal 18 September 1950 dengan nama Fakulteit Ekonomi Djakarta, setelah jurusan Sosial Ekonomi yang waktu itu merupakan bagian dari Fakulteit Hukum dan dan Ilmu Masyarakat (kini menjadi FH UI) memisahkan diri dan mendirikan fakultas baru. Fakulteit Ekonomi Djakarta lahir sebagai cerminan dari tuntutan tanah air akan pengajaran dan penyebarluasan ilmu perekonomian pada masa awal kemerdekaan.
Perjalanan FEB UI ternyata tidak hanya berisi peristiwa-peristiwa institusional atau birokratis. Beberapa nama besar telah mengukuhkan karyanya bukan hanya sebagai akademisi, melainkan juga sebagai pengembang ekonomi nasional. Sekarang, nama-nama ini telah diabadikan sebagai nama-nama gedung di lingkungan FEB UI.
Soenario Kolopaking: Dekan Pertama dan Dosen Tunggal
Prof. M. R. Soenario Kolopaking, seorang sarjana Hukum, menjabat sebagai dekan pertama (1950-1951) usai pendirian FEB UI. Seorang akademisi multitalenta yang juga pernah menjadi Menteri Keuangan ke-3 dalam Kabinet Sjahrir I. Walaupun masa jabatannya sebagai dekan sangat singkat, ia tetap dihormati sebagai peletak dasar pendirian FEB UI. Selama tiga bulan pertama setelah pendirian FEB UI, ia merupakan dosen satu-satunya. Berarti, kala itu, FEB UI memiliki hanya satu dosen tunggal dengan sarjana Hukum, yang sekaligus menjabat sebagai dekan
Di tengah kesibukannya di bidang lain, ia mengundurkan diri sebagai dekan pada tahun 1951, yang menimbulkan situasi darurat pada masa itu. Atas jasanya, namanya sekarang diabadikan sebagai nama Gedung Pembelajaran B.
Soemitro Djojohadikusumo: Arsitek Ekonomi Nasional
Usai pengunduran diri Soenario, terjadi darurat kekosongan jabatan dekan FEB UI. Uniknya jika dibandingkan sekarang, kala itu para mahasiswa justru ikut berinisiatif mencari dekan pengganti. Mereka bahkan sempat menghubungi Mohammad Hatta, yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, untuk mencari bantuan.
Mereka pun akhirnya menghubungi seorang ekonom muda yang tengah membangun karirnya di pemerintahan—Soemitro Djojohadikusumo. Meski baru berumur tiga puluhan tahun, reputasinya sudah lumayan meluas berkat pola pikir ekonomi yang ia bawa dari studi doktoralnya di bawah bimbingan Jan Tinbergen.
Nama Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo tentu tidak hanya melekat sebagai nama gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) FEB UI dan nama jalan di depan kampusnya di Depok. Ia juga merupakan salah satu ekonom yang paling berpengaruh di Indonesia abad ke-20, melalui kebijakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Menteri Keuangan di berbagai kabinet pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Melalui ide-ide seperti investasi besar-besaran dalam sektor publik, penekanan peran negara dalam pembangunan, dan pengembangan industri substitusi impor yang dicetuskan dalam Soemitro Plan, ia meletakkan fondasi ekonomi negara yang menekankan industrialisasi nasional dan pembangunan jangka panjang berbasis riset dan perencanaan.
Soemitro membawa perubahan intelektual dan kelembagaan di FEB UI masa itu. Fakultas menjadi bukan hanya tempat mengajar teori, melainkan juga pusat perumusan kebijakan pembangunan nasional. Ia berhasil menjalin kerja sama kemitraan dengan University of California (UC) Berkeley dan menyelenggarakan pertukaran mahasiswa serta tenaga pengajar.
Tak hanya itu, ia juga mendorong pembentukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) pada 1953, lembaga riset ekonomi pertama di Indonesia. Ia percaya bahwa baik pendidikan dan perumusan kebijakan ekonomi harus berdasarkan data empiris membawa budaya penelitian berbasis data dan analisis kebijakan yang terukur. Dari lembaga ini kemudian lahir generasi ekonom yang nantinya juga berperan besar dalam sejarah Indonesia dan FEB UI sendiri, yakni Widjojo Nitisastro, Emil Salim, dan Ali Wardhana.
Soeria Atmadja: Estafet Kepemimpinan
Pada tahun 1957, di tengah ketegangan politik yang disebabkan gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Soemitro terpaksa meninggalkan Indonesia dan tinggal di luar negeri. Posisi dekan digantikan oleh Prof. Mr. Djokosoetono (1958-1962), yang kemudian dilanjutkan Prof. Rd. Solaeman Soeria Atmadja.
Meski jabatannya tidak begitu panjang (1962-1964), Prof. Soeria berhasil melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjaga keberlanjutan fondasi yang telah dibangun oleh dekan-dekan sebelumnya. Pengakuan atas dedikasinya sebagai Dekan FEB UI menjadi dasar penghormatan namanya dalam bentuk Auditorium Soeria Atmadja di Gedung Dekanat FEB UI.
Widjojo Nitisastro: Arsitek Pembangunan Ekonomi dan Pelopor Lembaga Demografi di Indonesia
Prof. Widjojo Nitisastro merupakan salah satu ekonom paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia sekaligus tokoh penting FEB UI. Lahir di Malang pada 23 September 1927, Widjojo menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi doktoral di UC Berkeley dan meraih gelar Ph.D. di bidang Ekonomi.
Sebagai akademisi, Widjojo Nitisastro dikenal sebagai pelopor pengembangan riset demografi dan kebijakan ekonomi di Indonesia. Pada tahun 1964, ia mendirikan Lembaga Demografi (LD) yang menjadi pusat kajian kependudukan pertama di Indonesia, meneliti hubungan antara dinamika penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Bersama rekan-rekannya—Ali Wardhana, Emil Salim, dan Mohammad Sadli. Widjojo tergabung dalam kelompok ekonom yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley”, yang memainkan peran strategis dalam perumusan kebijakan ekonomi nasional di masa Orde Baru.
Di tingkat nasional, Widjojo menjadi arsitek utama Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), yang menjadi dasar kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia selama beberapa dekade. Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam dunia ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa, FEB UI mengabadikan namanya sebagai simbol dedikasi seorang ilmuwan yang mengabdikan pengetahuannya untuk kemajuan ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan dengan mengabadikannya pada Kompleks Kampus Widjojo Nitisastro FEB UI Depok.
Nathanael Iskandar: Pelopor Riset Kependudukan
Nathanael Iskandar, atau yang lahir dengan nama Tan Goan Tiang di Cianjur tahun 1916, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah FEB UI. Berasal dari keluarga sederhana, Nathanael muda telah menunjukkan semangat pantang menyerah dengan membantu perekonomian keluarganya sembari menempuh pendidikan di Hollands-Chineesche-Kweekschool (HCK). Kemahirannya dalam bahasa Belanda membawanya menjadi guru di berbagai sekolah Protestan, bahkan menjabat sebagai Kepala SMAK 1 BPK Penabur antara tahun 1951 hingga 1958.
Setelah kemerdekaan Indonesia, ia melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi UI dan meraih gelar Master of Arts pada tahun 1954, sebelum menempuh program doktoral bidang kependudukan di Princeton University pada 1968. Kontribusinya semakin nyata ketika ia dipercaya memimpin Lembaga Demografi FEB UI sejak awal pendiriannya pada tahun 1964, menjadikannya pionir dalam pengembangan riset kependudukan di Indonesia.
Untuk mengenang jasanya, FEB UI menamai salah satu gedung utamanya sebagai Gedung Nathanael Iskandar (Gedung A) yang kini menjadi pusat kegiatan akademik dan kelembagaan, mulai dari ruang perkuliahan, Career and Development Center (CDC), hingga Lembaga Demografi itu sendiri.
Dalam semangat Hari Pahlawan, perjuangan masa kini terwujud melalui dedikasi di bidang pendidikan. Teguh Dartanto, Ph.D., Dekan FEB UI periode 2021–2025, menegaskan, dikutip dari laman Neraca.co.id pendidikan harus menjadikan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya, oleh karena itu pendidikan harus mengajarkan skill dasar sebagai manusia yaitu: keterampilan untuk menyelesaikan masalah, keterampilan untuk berinteraksi dengan orang lain, keterampilan untuk menjadi pribadi yang resilien, keterampilan untuk memahami sebuah kebenaran (curiosity & social awareness) dan keterampilan untuk memberikan dampak sosial. Pesan ini menegaskan bahwa pendidikan adalah bentuk perjuangan untuk kemanusiaan.
Melanjutkan semangat itu, Yulianti, Ph.D., Dekan FEB UI periode 2025–2029, menyatakan, “Saya ingin mahasiswa merasa punya ruang untuk menyampaikan pendapat. Tidak perlu menunggu diundang, datang saja. Pintu saya terbuka,” ungkap Yulianti dalam wawancara yang dilakukan dengan Badan Otonom Economica setelah acara pelantikan Dekan FEB UI. Ucapan ini mencerminkan kepahlawanan modern dalam bentuk keterbukaan, keberanian berdialog, dan komitmen membangun lingkungan akademik yang inklusif.
Kedua pandangan ini menjadi pengingat bahwa nilai kepahlawanan sejati kini terletak pada perjuangan untuk memerdekakan pikiran, menghidupkan empati, dan menumbuhkan manusia berdaya melalui pendidikan.
Penulis: Evram Bonardo, Naomitha Angel
Editor: Tim Redaksi
Ilustrasi: Johana Sakina Daila
Referensi
Badan Otonom Economica. (2007). FEUI: Lintas Perjalanan Percik Pemikiran. Pustaka LP3ES Indonesia.
Rachdityo , G., Hapsari, R., & Kurnia, Y. (2025). Jejak Sumitro Djojohadikusumo: Dari Rotterdam Hingga Jakarta School of Economic. Media Keuangan. https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/jejak-sumitro-djojohadikusumo-dari-rotterdam-hingga-jakarta-school-of-economic
Ruang Prasarana dan Infrastuktur – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. (2025). Ui.ac.id. https://feb.ui.ac.id/ruang-prasarana-dan-infrastuktur/
Sejarah FEB UI – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. (2015). Ui.ac.id. https://feb.ui.ac.id/sejarah-feb-ui/
Syarif, M. (2025). Dekan FEB UI Jadi Pembicara Nobel Prize Dialogue, Usung Semangat Transformasi & Inklusivitas | Neraca.co.id. Neraca.co.id. https://www.neraca.co.id/article/168854/dekan-feb-ui-jadi-pembicara-nobel-prize-dialogue-usung-semangat-transformasi-inklusivitas

