Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Umum

Burnout, Produktivitas, dan Erosi Kepercayaan Sosial di Indonesia

by Qonita Hasna Az-Zahro
23 April 2026
in Umum

Kesehatan mental kini menjadi sorotan yang mendesak di Indonesia. Berdasarkan survei World Health Organization (WHO) tahun 2025, lebih dari 60 persen pekerja muda mengaku pernah mengalami gejala burnout seperti stres berat, sulit tidur, dan kehilangan semangat bekerja 1RRI. (2025, 25 Oktober). Fenomena burnout di kalangan pekerja muda. https://rri.co.id/kesehatan/1925961/fenomena-burnout-di-kalangan-pekerja-muda. Fenomena ini tidak hanya mengganggu kehidupan pribadi, tetapi juga merembet ke aspek ekonomi dan sosial masyarakat. Ketika semakin banyak orang merasa lelah secara emosional, sulit fokus, atau kehilangan semangat bekerja, dampaknya tidak berhenti pada individu. Produktivitas kerja menurun, hubungan sosial menjadi lebih rapuh, dan partisipasi dalam kegiatan komunitas ikut melemah. Apakah menurunnya semangat kerja, meningkatnya kesepian, dan melemahnya empati sosial hanyalah persoalan psikologis individu atau gejala dari krisis sosial yang lebih dalam?

Kesehatan mental memiliki hubungan yang kuat dengan kemampuan seseorang berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Penelitian berbasis Indonesian Family Life Survey (IFLS) menunjukkan bahwa memburuknya kondisi kesehatan mental berkaitan dengan penurunan partisipasi kerja dan keterlibatan dalam komunitas. Peningkatan satu poin pada indeks kesehatan mental yang lebih buruk berkaitan dengan penurunan probabilitas bekerja sekitar 25,3% dan penurunan partisipasi komunitas sekitar 26,8% 2Sibbald, G. G., Ananta, A., Dartanto, T., & Widyawati, D. (2025). Mental health and social exclusion in Indonesia: A public health perspective. Journal of Public Health Research, 14(4). https://doi.org/10.1177/22799036251380782. Temuan ini menunjukkan bahwa individu dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik lebih rentan mengalami ketertinggalan dalam aspek sosial maupun ekonomi. Secara fungsional, gejala seperti kelelahan emosional, penurunan motivasi, dan gangguan konsentrasi dapat menghambat produktivitas serta kemampuan dalam membangun relasi sosial di lingkungan kerja maupun masyarakat. Selain itu, stigma sosial terhadap individu dengan gangguan mental sering kali mempersempit akses mereka terhadap dukungan dan peluang yang seharusnya tersedia. Akibatnya, hal tersebut menciptakan siklus berulang, ketika kesulitan memperoleh pekerjaan atau dukungan sosial justru memperburuk kondisi psikologis. Jika tidak tertangani, permasalahan ini berpotensi memberikan dampak negatif yang luas terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.

Human Capital Theory:  Kesehatan Mental dan Produktivitas
Kesehatan mental yang buruk memiliki dampak langsung terhadap produktivitas tenaga kerja, sebagaimana dijelaskan dalam teori Human Capital. Manusia dipandang sebagai bentuk modal yang bernilai tinggi karena memiliki kemampuan menghasilkan output ekonomi melalui pendidikan, keterampilan, serta kondisi fisik dan mental yang optimal. Dengan demikian, kesehatan mental bukan sekadar aspek pribadi, melainkan komponen penting dalam produktivitas ekonomi 3Becker, G. S. (1964). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education. National Bureau of Economic Research.. Ketika individu mengalami stres, depresi, atau kelelahan emosional, kemampuan berpikir jernih, berinovasi, dan bekerja secara efektif menurun, sehingga nilai modal manusianya juga berkurang. Saat kesehatan mental seseorang terganggu, dampaknya tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tetapi juga memengaruhi sekitarnya. Gangguan mental dapat menurunkan rasa saling percaya antar individu.  Individu yang mengalami depresi atau kecemasan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, menghindari interaksi publik, dan kehilangan kepercayaan diri untuk berkontribusi dalam komunitas. Akibatnya, ikatan sosial melemah, jaringan solidaritas menyusut, dan masyarakat kehilangan unsur perekat yang selama ini menjaga kekompakan serta kemampuan untuk bekerja sama. 

Absenteeism dan Presenteeism
Kerugian ekonomi akibat gangguan kesehatan mental umumnya muncul melalui dua mekanisme utama, yaitu absenteeism dan presenteeism. Absenteeism merujuk pada hilangnya waktu kerja karena pekerja tidak dapat hadir akibat kondisi kesehatannya, sedangkan presenteeism menggambarkan situasi ketika pekerja tetap hadir di tempat kerja, tetapi tidak mampu bekerja secara optimal. Dalam konteks kesehatan mental, kedua mekanisme ini sangat relevan karena gejala seperti kelelahan emosional, gangguan konsentrasi, menurunnya motivasi, kecemasan, dan depresi dapat secara langsung menurunkan kapasitas individu untuk bekerja secara efektif. Akibatnya, perusahaan tidak hanya menghadapi kehilangan jam kerja, tetapi juga penurunan kualitas output, perlambatan penyelesaian tugas, serta tambahan biaya organisasi akibat terganggunya ritme kerja. Pada kondisi presenteeism, pekerja memang hadir secara fisik, tetapi secara kognitif dan emosional tidak sepenuhnya terlibat dalam pekerjaan, sehingga konsentrasi mudah terpecah, pengambilan keputusan melambat, dan kualitas kerja menurun. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa absenteeism dan presenteeism merupakan komponen penting dari kerugian produktivitas akibat gangguan mental, terutama karena pengaruhnya terhadap konsentrasi, kelelahan, dan motivasi kerja.

Penelitian menunjukkan bahwa kerugian akibat presenteeism sering kali lebih besar dibandingkan dengan absenteeism. Kontribusinya dapat mencapai 18–60% dari total biaya produktivitas yang hilang pada sepuluh penyakit utama, termasuk depresi 4Goetzel, R. Z., Long, S. R., Ozminkowski, R. J., Hawkins, K., Wang, S., & Lynch, W. (2004). Health, Absence, Disability, and Presenteeism Cost Estimates of Certain Physical and Mental Health Conditions Affecting U.S. Employers. Journal of Occupational and Environmental Medicine, 46(4), 398–412. Artinya, banyak pekerja yang tetap datang bekerja tetapi tidak dapat memberikan performa terbaiknya. Artinya, kerugian ekonomi tidak hanya terjadi ketika pekerja tidak masuk kerja, tetapi juga ketika mereka tetap bekerja dalam kondisi mental yang tidak prima. Dalam konteks Indonesia, dampak ini terlihat sangat besar. Studi Arulsamy (2025) menemukan bahwa kecemasan dan depresi menimbulkan beban ekonomi tahunan sebesar IDR 463,811.33 miliar, setara dengan 2,1% PDB Indonesia, dengan 88,5% dari total kerugian tersebut berasal dari kehilangan produktivitas tenaga kerja. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa pekerja melaporkan rata-rata 34 hari kerja hilang per tahun dan mengalami penurunan produktivitas sebesar 51% saat tetap bekerja 5Arulsamy, K., Effendy, E., Mardhiyah, S., Amin, M. M., Husada, M. S., Camellia, V., Stona, A.-C., & Finkelstein, E. A. (2025). The economic burden of anxiety and depression in Indonesia: evidence from a cross-sectional web panel survey. Frontiers in Public Health, 13. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1667726. Dengan demikian, kesehatan mental tidak dapat dipandang semata sebagai isu kesejahteraan individu, melainkan juga sebagai isu ekonomi yang memengaruhi efisiensi kerja, kualitas sumber daya manusia, dan kinerja pembangunan secara lebih luas. 

Social Capital: Kesehatan Mental dan Partisipasi Sosial
Hubungan antara kesehatan mental dan kehidupan sosial dapat dipahami melalui konsep Social Capital. Robert Putnam (2000) mendefinisikan Social Capital sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk mendapatkan manfaat bersama. Kepercayaan dan jaringan sosial membantu masyarakat melakukan aksi kolektif secara lebih efisien. Namun, ketika partisipasi sosial menurun, Social Capital juga ikut terkikis. Kepercayaan antar individu berkurang, kerjasama menjadi lebih sulit, dan hubungan sosial semakin rapuh. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat kehilangan salah satu unsur penting yang menjaga kohesi sosial.

Social Capital dapat dipahami melalui tiga unsur utama, yakni kepercayaan, norma timbal balik, dan jaringan sosial. Ketiganya memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial tetap hidup. Pertama, kepercayaan. Ketika seseorang mengalami kecemasan atau depresi, rasa tidak aman sering meningkat. Interaksi sosial menjadi lebih defensif dan hubungan antar individu menjadi kurang terbuka. Kedua, timbal balik sosial. Dalam masyarakat yang sehat, orang saling membantu dengan harapan bahwa bantuan tersebut akan dibalas di masa depan. Namun ketika banyak individu mengalami kelelahan mental, kemampuan untuk memberi dukungan kepada orang lain ikut menurun. Ketiga, jaringan sosial. Gangguan mental sering membuat individu menarik diri dari lingkungan sosial. Ketika jaringan sosial menyusut, akses terhadap informasi, peluang kerja, dan dukungan emosional juga ikut berkurang.

Apakah Isu Mental Penting?
Kesehatan mental memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan sosial dan ekonomi Indonesia. Dalam konteks pembangunan nasional, kesehatan mental bukan lagi isu medis semata, melainkan fondasi daya saing ekonomi dan ketahanan sosial bangsa. Produktivitas nasional bergantung pada kualitas sumber daya manusia, yang tidak hanya ditentukan oleh keterampilan dan pendidikan, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang stabil. Data UNICEF menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 15,5 juta orang, menghadapi masalah kesehatan mental, sementara satu dari dua puluh remaja mengalami gangguan mental 6UNICEF Indonesia. (2024). Adolescent health profile 2024: Advancing adolescent health in Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/media/23796/file/adolescent-health-profile-2024.pdf. Selain itu, prevalensi depresi di Indonesia pada 2023 tercatat sebesar 1,4%, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 2%. Namun, hanya 10,4% remaja atau anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan 7 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Depresi pada anak muda di Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5532/1/03%20factsheet%20Keswa_bahasa.pdf. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menghambat kontribusi generasi muda terhadap pembangunan dan bahkan mengubah potensi demografi menjadi beban sosial. Dalam jangka panjang, lemahnya kesehatan mental berisiko menurunkan kohesi sosial, solidaritas, dan kemampuan masyarakat untuk bekerja sama menghadapi tantangan ekonomi maupun sosial. Kesejahteraan psikologis berperan langsung dalam meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, karena individu yang bahagia dan sehat mentalnya lebih kreatif, kolaboratif, dan berdaya. Dengan demikian, investasi pada kesehatan mental harus dilihat sebagai strategi pembangunan, bukan pengeluaran sosial. Di tengah perubahan global yang menuntut adaptasi cepat, hanya masyarakat yang kuat secara mental yang mampu menjaga stabilitas sosial dan melanjutkan pertumbuhan ekonomi. Negara yang sehat mentalnya akan lebih stabil secara sosial dan lebih maju secara ekonomi.

Dari Stigma ke Solusi
Dalam banyak kasus, hambatan terbesar bukan hanya soal tersedia atau tidaknya layanan, melainkan rasa malu, takut dihakimi, dan anggapan bahwa persoalan mental sebaiknya diselesaikan sendiri. Stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi salah satu penghalang utama bagi masyarakat untuk mencari bantuan. Di tingkat sosial, orang dengan gangguan mental masih kerap dipandang sebagai pribadi yang lemah, tidak stabil, berbahaya, atau sulit pulih. Pandangan seperti ini membuat banyak individu memilih diam karena khawatir ditolak oleh lingkungan, keluarga, atau tempat kerja. Masalahnya tidak berhenti pada stigma yang datang dari luar. Banyak orang yang kemudian menyerap anggapan negatif itu dan mulai memandang dirinya sendiri sebagai beban, tidak berharga, atau tidak layak dibantu. Perasaan malu dan rendah diri seperti ini membuat seseorang semakin enggan mencari pertolongan profesional, padahal dukungan sejak awal sangat menentukan proses pemulihan 8 Klinik Sejiwaku. (2025). Stigma masyarakat terhadap kesehatan mental: Penyebab dan solusinya. https://kliniksejiwaku.com/stigma-masyarakat-terhadap-kesehatan-mental-penyebab-dan-solusinya/. Dalam konteks Indonesia, keadaan ini sering terlihat dalam kecenderungan sebagian masyarakat untuk menahan sendiri tekanan emosional yang mereka alami atau membatasinya hanya di lingkup keluarga. Akibatnya, masalah yang sebenarnya masih bisa ditangani sejak dini justru berkembang menjadi lebih berat.

Hambatan lain juga muncul pada tingkat yang lebih struktural. Stigma tidak hanya hidup dalam pandangan masyarakat, tetapi juga dapat terlihat dalam kebijakan dan praktik kelembagaan yang belum sepenuhnya berpihak pada kesehatan mental. Kurangnya akses layanan yang memadai, terbatasnya fasilitas konseling di banyak daerah, hingga adanya diskriminasi di lingkungan kerja menunjukkan bahwa persoalan ini juga bersifat institusional. Saat sistem belum memberi ruang yang aman dan mudah dijangkau, masyarakat yang sudah ragu untuk mencari bantuan menjadi semakin terhalang. Akibatnya, masalah yang sebenarnya dapat ditangani sejak dini justru berkembang menjadi lebih berat. Karena itu, langkah awal yang penting adalah membangun pemahaman bersama bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan merupakan bagian dari kualitas hidup manusia.

Namun, perubahan cara pandang ini tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia kerja, komunitas, dan media. Ketika masyarakat mulai melihat kesehatan mental sebagai bagian wajar dari kehidupan manusia, individu akan merasa lebih aman untuk berbicara mengenai pengalaman mereka dan mencari bantuan tanpa rasa takut. Lembaga pendidikan dapat menjadi ruang awal untuk membangun kesadaran tentang kesehatan mental. Sekolah dan universitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga lingkungan sosial tempat siswa dan mahasiswa memahami diri sendiri serta orang lain. Selain pendidikan formal, komunitas juga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan sosial. Banyak individu merasa lebih nyaman berbagi pengalaman dengan orang-orang yang berada dalam situasi serupa. Oleh karena itu, ruang aman di tingkat komunitas perlu diperkuat, terutama bagi remaja dan kelompok rentan. Kelompok dukungan sebaya, kegiatan sosial berbasis komunitas, serta layanan konseling daring dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan tenaga profesional. Di tingkat kebijakan publik, pendekatan yang selama ini berfokus pada pengobatan perlu dilengkapi dengan upaya pencegahan seperti edukasi kesehatan mental, deteksi dini, serta ketersediaan layanan konseling di berbagai daerah dapat membantu masyarakat mendapatkan bantuan lebih cepat.

Kesimpulan
Kesehatan mental memiliki peran penting dalam membentuk kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Gangguan kesehatan mental tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja, hubungan sosial, serta partisipasi dalam kehidupan komunitas. Ketika kondisi psikologis masyarakat memburuk, kemampuan individu untuk bekerja secara optimal, membangun kepercayaan, dan berkolaborasi dengan orang lain juga ikut melemah. Dampak ini dapat terlihat melalui menurunnya peluang kerja, melemahnya jaringan sosial, serta munculnya kerugian produktivitas seperti absenteeism dan presenteeism. 

Dalam perspektif pembangunan, kesehatan mental perlu dipandang sebagai bagian dari kualitas sumber daya manusia. Masyarakat yang sehat secara mental cenderung lebih produktif, kreatif, dan mampu bekerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial maupun ekonomi. Sebaliknya, jika masalah kesehatan mental diabaikan, potensi sumber daya manusia dapat terhambat dan kohesi sosial dalam masyarakat dapat melemah. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan mental tidak dapat dibebankan pada individu semata. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak melalui pendidikan, penguatan komunitas, serta kebijakan publik yang memperluas akses layanan kesehatan mental. Dengan mengurangi stigma dan membangun sistem dukungan yang lebih terbuka, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis. Pada akhirnya, masyarakat yang kuat secara mental akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk berkembang, bekerja sama, dan menjaga kesejahteraan sosial secara berkelanjutan.

Referensi[+]

Referensi
↵1 RRI. (2025, 25 Oktober). Fenomena burnout di kalangan pekerja muda. https://rri.co.id/kesehatan/1925961/fenomena-burnout-di-kalangan-pekerja-muda
↵2 Sibbald, G. G., Ananta, A., Dartanto, T., & Widyawati, D. (2025). Mental health and social exclusion in Indonesia: A public health perspective. Journal of Public Health Research, 14(4). https://doi.org/10.1177/22799036251380782
↵3 Becker, G. S. (1964). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education. National Bureau of Economic Research.
↵4 Goetzel, R. Z., Long, S. R., Ozminkowski, R. J., Hawkins, K., Wang, S., & Lynch, W. (2004). Health, Absence, Disability, and Presenteeism Cost Estimates of Certain Physical and Mental Health Conditions Affecting U.S. Employers. Journal of Occupational and Environmental Medicine, 46(4), 398–412.
↵5 Arulsamy, K., Effendy, E., Mardhiyah, S., Amin, M. M., Husada, M. S., Camellia, V., Stona, A.-C., & Finkelstein, E. A. (2025). The economic burden of anxiety and depression in Indonesia: evidence from a cross-sectional web panel survey. Frontiers in Public Health, 13. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1667726
↵6 UNICEF Indonesia. (2024). Adolescent health profile 2024: Advancing adolescent health in Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/media/23796/file/adolescent-health-profile-2024.pdf
↵7 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Depresi pada anak muda di Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5532/1/03%20factsheet%20Keswa_bahasa.pdf
↵8 Klinik Sejiwaku. (2025). Stigma masyarakat terhadap kesehatan mental: Penyebab dan solusinya. https://kliniksejiwaku.com/stigma-masyarakat-terhadap-kesehatan-mental-penyebab-dan-solusinya/

Related Posts

Hidup Perempuan yang Melawan: Eksistensi Semangat Kartini Modern
Soft News

Hidup Perempuan yang Melawan: Eksistensi Semangat Kartini Modern

FEB UI AWARDS 2026: Wujud Apresiasi Prestasi FEB UI 
Hard News

FEB UI AWARDS 2026: Wujud Apresiasi Prestasi FEB UI 

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide