Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

An Economic Model of Love: “Pesan Ekonom untuk Si Pencinta”

by Muhammad Ghathfan Arrade
4 Mei 2024
in Kilas Riset, Penelitian

Perkara cinta tidak hanya menjadi persoalan bagi sosiolog, filsuf, antropolog, ataupun psikolog, tetapi juga ekonom. Tiga orang ekonom dari universitas yang berbeda, Gigi Foster, Mark Pingle, dan Jingjing Yang, menjawab rasa penasaran orang-orang tentang cinta dari sudut pandang ekonom. Dalam penelitiannya yang berjudul Are We Addicted to Love? A Parsimonious Economic Model of Love, ketiga ekonom tersebut menggunakan model persamaan matematis untuk menjelaskan apa dan bagaimana cinta berubah. Model matematis yang  digunakan cukup rumit, tetapi, dalam tulisan ini, akan dijelaskan dengan cara yang sederhana dan “sedikit” mudah dipahami.

Pendahuluan

Cinta adalah suatu konsep abstrak yang sudah lama menjadi perhatian manusia. Bahkan, melalui kitab suci, Tuhan memerintahkan manusia untuk saling mencintai satu dengan lainnya. Rasa penasaran manusia tersebut menyebabkan  cinta menjadi salah satu objek kajian yang dapat diperdebatkan dan didiskusikan secara akademis. Berbagai rumpun ilmu pengetahuan, terutama ilmu sosial dan humaniora, telah mencoba untuk mempelajari tentang abstraknya cinta. Ilmu ekonomi sebagai salah satu bagian dari ilmu sosial seakan tak ingin ketinggalan untuk mengambil peran dalam mengkaji abstraknya masalah ini. Berbagai ekonom dengan kepakaran, dan tentunya dibantu oleh kehebatan asumsi “ceteris paribus”, telah mencoba untuk “mengawinkan” teori-teori ekonomi dengan apa yang disebut sebagai cinta yang abstrak.

Dalam paper yang dibahas di dalam tulisan ini, sang ekonom menggunakan beberapa asumsi untuk mendukung persamaan matematis mereka. Secara garis besar, terdapat empat asumsi yang digunakan.  Asumsi pertama ialah seseorang dapat jatuh cinta tanpa disengaja. Artinya, kepada siapa, bagaimana, dan di mana dia akan jatuh cinta tidak dapat ditentukan dengan kesadaran penuh. Kedua, perkembangan rasa cinta terhadap sesuatu itu dapat dikendalikan. Terdapat usaha-usaha tertentu yang dapat meningkatkan atau menurunkan rasa cinta. Ketiga, cinta memiliki titik jenuh untuk bertumbuh. Hal ini sejalan dengan Hukum Gossen 1 atau the law of diminishing marginal utility. Keempat, mekar dan meluruhnya rasa cinta itu memiliki sensitivitas yang berbeda-beda pada setiap hubungan. Asumsi-asumsi tersebut perlu  dipahami sebelum lanjut untuk membaca bagian berikutnya dari paper ini. Dari asumsi itu pula kita dapat menyimpulkan bahwa sang ekonom mengibaratkan cinta sebagai suatu barang konsumsi. 

Bagaimana Cinta Terbentuk?

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, si ekonom menjelaskan cinta menggunakan model persamaan matematika. Model persamaan matematika yang digunakan adalah model persamaan diferensial. Model persamaan diferensial digunakan karena sifat cinta diasumsikan dinamis yang berarti cinta dapat berubah. Berikut adalah persamaan matematis yang ditawarkan oleh si ekonom:

Variabel  dalam persamaan tersebut menunjukkan perubahan rasa cinta terhadap sesuatu. Namun,  dalam penelitian ini, variabel tersebut hanya sebatas menggambarkan rasa cinta kepada seseorang saja. Variabel E adalah effort atau usaha dalam hubungan percintaan. Usaha tersebut dapat berupa komunikasi dengan orang yang dicintai, memberikan hadiah, atau kegiatan apapun yang bertujuan untuk menjaga tumbuhnya perasaan cinta. Effort dalam hal ini diasumsikan bersifat terbatas atau scarce.

Selain dijelaskan oleh variabel, persamaan tersebut juga memuat beberapa parameter. Parameter pertama adalah b0. Parameter b0 adalah tingkat desirability atau perasaan ingin memiliki orang yang dicintai. Desirability juga dapat kita simpulkan sebagai tingkat ketertarikan terhadap orang yang dicintai. Parameter kedua adalah b1, yang merupakan tingkat sensitivitas rasa cinta terhadap usaha atau variabel E. Notasi ln atau logaritma natural yang berada di sebelah kanan parameter b1 menunjukkan adanya diminishing returns dari usaha. Artinya, akan ada titik dimana usaha yang diberikan terhadap cinta mulai berkurang. Parameter keempat, -r1 menunjukkan derajat berkurangnya rasa cinta terhadap orang yang dicintai. Parameter ini sesuai dengan asumsi di awal yang menyebutkan bahwa cinta mengikuti Hukum Gossen 1. Parameter terakhir, r2 adalah derajat inersia. Inersia dalam konteks ini adalah kecenderungan cinta untuk tidak berubah selama tidak ada gangguan dari luar yang mempengaruhinya.

Variabel dan parameter dari persamaan ini tidak datang dengan sendirinya. Si ekonom menemukannya di dalam lirik-lirik lagu dan juga bait puisi dengan tema percintaan dari beberapa musisi, penyair dan band terkenal, seperti Elvis Presley, ABBA, Shakespeare, dan Samuel Taylor. Penggalan lirik atau bait tersebut diambil oleh si ekonom karena dianggap dapat mewakili apa yang dirasakan oleh orang-orang mengenai cinta.

Bagaimana Cinta Berubah?

Diagram di atas merupakan visualisasi dari persamaan sebelumnya. Sumbu x adalah besaran atau tingkat cinta pada objek atau orang yang dicintai dan sumbu x’ merupakan tingkat perubahan cinta. Bentuk kurva cekung ke bawah atau konkaf menunjukkan sifat cinta yang dapat memudar atau diminishing. Simbol x bar menunjukkan keadaan cinta yang stabil atau tidak mengalami perubahan sama sekali. Keadaan cinta yang stabil didapatkan dari persamaan berikut:

Setelah menentukan kondisi cinta yang stabil, pembahasan berikutnya beralih pada penjelasan bagaimana cinta dapat berubah. Fenomena bagaimana cinta berubah  digambarkan melalui diagram berikut:

Jika tingkat cinta awal cukup tinggi dibanding tingkat cinta yang stabil (x bar), maka memudarnya cinta dapat dicegah. Namun, jika tingkat cinta awal sangat tinggi dibanding tingkat cinta yang stabil, maka tingkat cinta akan terkoreksi hingga tingkat cinta yang stabil.  

Pengaruh Rasa Ketertarikan

Perceived desirability atau ketertarikan pada orang yang dicintai dapat berubah seiring waktu.  Berdasarkan model matematis sebelumnya, perubahan daya tarik memiliki pengaruh terhadap tingkat cinta kepada orang yang dicintai. Perubahan ini terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhi hubungan terhadap orang yang dicintai. Faktor-faktor tersebut meliputi pengalaman baik maupun buruk bersama orang yang dicintai. Perubahan rasa ketertarikan ini dijelaskan dengan persamaan berikut:

Persamaan ini menjelaskan bagaimana rasa ketertarikan awal mendekati rasa ketertarikan dalam jangka panjang. Dengan kata lain, rasa ketertarikan itu mengalami perubahan secara bertahap dan monoton. 

Diagram di atas merupakan gambaran keterlibatan rasa ketertarikan dalam model persamaan rasa cinta sebelumnya. Untuk menyederhanakan analisis, kita hanya perlu  memusatkan perhatian pada kondisi A dan E. Kondisi A dan E menunjukkan adanya perbedaan tingkat ketertarikan awal. Pada kondisi A, tingkat ketertarikan awal lebih rendah dibandingkan  kondisi E. Implikasinya adalah rasa cinta tidak mampu mendapatkan momentum untuk terus bertumbuh. Rasa ketertarikan awal yang terlalu rendah menyebabkan rasa cinta hanya mampu bertahan sementara. Sementara itu, kondisi E menunjukkan tingkat rasa ketertarikan awal yang tinggi. Tingkat ketertarikan awal yang tinggi membuat rasa cinta akan bertahan lebih lama. Rasa cinta mendapat momentum untuk mempertahankan pertumbuhannya hingga jangka panjang.

Peran Usaha

Effort atau usaha adalah satu-satunya yang bisa dikendalikan oleh si pencinta. Usaha bersifat scarce atau langka sehingga ada batasan-batasan dalam melakukan usaha. Dampak dari adanya kelangkaan ini adalah si pencinta harus mengeluarkan usaha optimal untuk mendapatkan rasa cinta yang maksimal. Namun, usaha yang optimal juga harus beriringan dengan rasa ketertarikan yang tinggi. Pada jangka panjang, rasa ketertarikan yang rendah  akan mengakibatkan rasa cinta menghilang. Sehingga, effort optimal dengan rasa ketertarikan yang rendah hanya akan berujung sia-sia.

Pesan Ekonom untuk Si Pencinta

Model matematika nan rumit dalam paper ini sebetulnya merupakan pengantar kepada suatu pesan. Menilik kembali apa yang telah dijelaskan sebelumnya, usaha dan rasa ketertarikan, terutama rasa ketertarikan awal, memainkan peran penting dalam urusan percintaan. Usaha yang diberikan harus diiringi dengan rasa ketertarikan yang tinggi. Rasa ketertarikan yang rendah merupakan hal yang buruk dalam jangka panjang. Rendahnya rasa ketertarikan akan mengakibatkan tidak efektifnya usaha dalam meningkatkan rasa cinta. Jika rasa ketertarikan rendah, terutama saat awal rasa ketertarikan muncul, sebaiknya tidak perlu memberikan usaha yang maksimal atau bila perlu tidak memberikan usaha sama sekali, mengingat bahwa usaha bersifat terbatas. Sekadar tambahan, perlu diingat kembali bahwa objek yang dicintai merupakan orang lain. Orang lain tentunya memiliki pilihan untuk menerima atau menolak cinta yang diberikan. Oleh karena itu, terdapat risiko yang disebut sebagai penolakan. Risiko ini tidak diperhitungkan dalam persamaan matematika sebelumnya, tetapi disebutkan sebelum model matematika tersebut dikembangkan. Demi kebaikan diri sendiri, jika risiko (penolakan) ini muncul pada objek yang dicintai (orang lain), maka lebih baik mencari objek lain yang lebih pantas untuk dicintai.

 

 

Reviewed From

Foster, G., Pingle, M., & Yang, J. (2019). Are we addicted to love? A parsimonious economic model of love. Journal of Economic Behavior & Organization, 70–81.

https://doi.org/10.1016/j.jebo.2019.07.009

 

Editor: Nurul Sekararum, Kornelius Pardosi, Manuel Exaudi

Ilustrator: Syifa Carla

Related Posts

Exploring Resilience in Adult Women Abused as Children: Insights from a Swedish Qualitative Study
Kilas Riset

Exploring Resilience in Adult Women Abused as Children: Insights from a Swedish Qualitative Study

Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A ReviewDemystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review
Kilas Riset

Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A ReviewDemystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide