Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Cerpen

Alunan Musik Kematian

by LitangSagara
24 Juni 2025
in Cerpen, Sastra

“Baba!!!” 

Bertepatan dengan itu, cairan kental berwarna merah menyembur ke berbagai arah diiringi dengan runtuhnya gedung-gedung di sekitarnya. Dunia seketika berhenti berputar, dengan nafas tercekat dan berderai air mata, Aku luruh, dengan tubuh bersimpuh di tanah kelahiran yang kini telah menjadi abu. Jerit tangis pilu begitu menggema di telinga, semua orang berlarian mencari tempat yang aman dipenuhi dengan ketakutan. 

“Baba ….“ Aku terisak dalam dekapan Umma dengan wajah penuh debu akibat reruntuhan bangunan beberapa saat lalu. Para manusia tak punya hati itu kembali menyerang pemukiman kami secara membabi buta. 

Umma terus memeluk seraya merapalkan kalimat-kalimat penenangnya agar Aku berhenti meraung. Namun, Aku terus memberontak lalu berlari sekencang mungkin ke tempat di mana mereka telah mengambil salah satu kebahagiaan kami. Dengan nafas memburu serta penampilan yang sudah tak tentu rudu, Aku berlari. Sesak di dada sudah tidak terhiraukan. 

Setibanya di sana, Aku mencari keberadaan Baba. Tidak peduli pada mereka yang berusaha mencegah agar diri tidak memasuki kawasan yang masih dalam keadaan bahaya itu. 

“Jangan, Nona. Kamu tidak diperbolehkan memasuki kawasan ini, ini terlalu bahaya untukmu!” cegah salah seorang Tentara mencekal lenganku membuat langkah ini terhenti. 

Ku pandangi wajahnya yang masih muda itu dengan tatapan menyipit. “Aku tak peduli! Aku ingin bertemu dengan Baba! Aku mau bertemu Baba!” Tanpa rasa takut, Aku menghardiknya. 

“Tapi kawasan ini berbahaya untukmu!” 

“Aku tidak peduli!” Usai berkata demikian, Aku mendorong tubuh tegap tersebut, lalu berlari mencari keberadaan pria yang begitu sangat berarti dalam hidup ini. Semoga saja darah yang menyembur tadi bukanlah dia. Semoga saja pahlawanku masih bernafas. 

Keadaan benar-benar riuh, semua orang berjalan ke sana kemari. Suara sirene ambulans saling bersahutan, begitu juga dengan para petugas medis yang berlarian  menangani korban-korban akibat ledakan bom. Tubuhku yang kecil sesekali terimpit oleh para petugas medis, ataupun tentara, membuat diri ini semakin kesulitan mencari keberadaan Baba. 

Lisanku terus melafalkan permohonan pada Sang Ilahi agar menjaganya. Hingga tanpa sengaja, manik mata ini terfokus pada sebuah reruntuhan bangunan. Di sana, dengan jarak sekitar lima meter, Aku melihatnya dalam keadaan telungkup, sekujur tubuh itu bersimbah darah. Hampir setengah tubuhnya tertimpa puing-puing beton. Tanpa babibu, Aku langsung berlari ke arahnya. 

“Baba!” tutur diri ini sesaat telah tiba di hadapan Baba. Aku kembali menangis, air mata telah luruh dengan sendirinya. Allah … mengapa harus Baba yang menderita seperti ini? Mengapa, harus Baba yang mengalami semua ini? 

Dengan segera, Aku memangku kepala Baba di paha seraya terisak. “B–Baba yang kuat, ya. Zalfa cari bantuan dulu ….” Bahkan, untuk sekadar berbicara pun rasanya sungguh tak sanggup. Berkali-kali Aku menelan saliva dengan begitu susah payah, kerongkongan rasanya amat tercekat. 

Seraya mengelus-ngelus pipi Baba, Aku menelisik ke seluruh penjuru, berharap ada seseorang untuk dimintai pertolongan. Ah, ada seorang tentara di sana, lekas dengan sekencang mungkin Aku berteriak meminta tolong. Berkali-kali kata itu terus menggema, hingga terdengar olehnya dan langsung berlari ke arah kami. Aku menunduk menatap Baba dengan seulas senyuman, berusaha memberikan kekuatan padanya agar sedikit lebih lama lagi bertahan. Meskipun tiada henti air mata mengalir. 

“Sabar, ya, Ba. Mereka sebentar lagi ke sini. Selamatin, Baba.” 

Baba tampak menarik nafas dalam, tangan besar yang berlumuran darah tersebut menyentuh pipi ini. Aku terus tersenyum meski hati penuh luka tercabik, tidak kuat harus melihat penderitaan yang dirasakan Baba. Pasti begitu sakit rasanya. 

“Z–Zalfa … B–Baba mohon, jadilah anak yang soliha dan t–tolong pergi d–dari sini. Kembalilah ke tempat Ummamu dilahirkan,” ucap Baba dengan nafas tersengal-sengal. 

“Iya, Ba. Iya, Zalfa sama Umma akan pergi ke sana, setelah Baba sembuh, ya?” Usai mengatakan itu, Aku menggenggam tangan Baba yang tengah memegang pipi ini tanpa peduli akan darah yang sudah memenuhi tangan tersebut. 

“Tanpa B–Baba, Nak.” Baba menarik nafas hingga terdengar suara tarikan nafasnya. “K–kalian harus pergi t–tanpa Baba,” sambungnya. Sontak saja, Aku menggeleng dengan tegas. 

Sampai kapan pun Aku tidak akan meninggalkan Baba sendirian. Jika kami harus pergi ke negara kelahiran Umma, maka Baba juga harus ikut! Tidak boleh ada yang tertinggal.

 “Enggak, Ba! Baba harus ikut … Zalfa gamau pergi tanpa Baba. Baba akan sembuh, kita akan selamat dan hidup dengan bahagia seperti saat Zalfa kecil dulu. Iya kan, Ba?”

 Baba berusaha membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, walaupun dengan susah payah. “Baba jangan banyak bicara, itu akan membuat tenaga Baba terkuras banyak. Lebih baik, Baba hemat energi Baba, ya? Zalfa sayang Baba, Zalfa nggak mau kehilangan Baba. Dunia Zalfa bakal hancur kalau Baba pergi … tolong bertahan, ya, Ba? Zalfa tau, kok, Baba itu kuat! Baba pasti bisa melewati semua ini.”

“S–sakit, Nak … Sakit … Baba sudah tidak kuat lagi, Nak—“

“Enggak! Baba harus kuat! Baba jangan ninggalin Zalfa sama Umma. Baba harus liat adik Zalfa lahir ke dunia ini, Ba … Zalfa mohon ….”

Sudah, Aku tidak sanggup lagi harus berpura-pura tegar. Tubuh ini bergetar menangis tersedu-sedu, menatap pada pria yang dahulu begitu gagah dan hebat, kini tengah terbaring lemah akibat terkena serangan bom. Awalnya, Baba ingin menyelamatkan anak-anak di gedung sekolah ini, namun takdir berkata lain. Saat semua telah dievakuasi, belum sempat Baba keluar, serangan tiba-tiba itu langsung menghantam bertubi-tubi secepat kilat. Ledakan mengerikan begitu terdengar di mana-mana, diiringi dengan jerit sakit serta tolong. Suara bom dan senjata itu terus berjatuhan menghantam bumi kami yang damai ini. 

Alhasil, seluruh bangunan beserta semua benda yang terkena serangan itu pun hancur berkeping-keping, tanpa meninggalkan sedikitpun bangunan yang utuh. 

Melihat Baba penuh luka, membuatku kembali mengingat saat kecil dulu.  Di mana, semuanya masih begitu damai dan tentram, kami bisa dengan bebas bermain dan melakukan aktivitas tanpa rasa was-was akan adanya serangan dari Zionis tak berhati itu. Saat di mana, Aku yang membantah Umma untuk lekas makan dan malah setia menunggu kedatangan Baba yang pulang bekerja. 

Rasanya begitu sesak, apalagi saat mengingat Aku yang langsung berlari ke arah Baba dengan seragam tentaranya di ambang pintu kala itu dan langsung digendong. Hujaman kecupan bertubi-tubi mendarat di seluruh wajah, sampai Aku tergelak karena ulah Baba yang jahil menggelitik. Setelahnya, Aku memeluk leher Baba penuh sayang lalu kami berjalan ke arah dapur menemui Umma yang tengah mempersiapkan makan malam. 

Suasana pada malam itu penuh dengan kehangatan dan canda tawa. Bahkan, sebelum tidur pun Baba menyempatkan diri membacakan sebuah dongeng, hampir setiap malamnya. Terkadang, Baba juga menceritakan bagaimana ia kecil dulu, hingga berakhir Aku yang terlelap. Meskipun, Baba begitu sibuk sebagai seorang Abdi Negara, namun Baba tidak pernah melepas tanggung jawab nya begitu saja. 

 Baba adalah laki-laki terbaik yang hadir di hidupku. Baba begitu sempurna, menjadi seorang ayah dan suami sekaligus kepala keluarga. Dia, cinta pertamaku. Aku begitu menyayanginya, rasanya, tidak akan ada seorang laki-laki mana pun yang bisa menandingi rasa sayang yang diberikan oleh Baba. 

Semua begitu terasa indah, hingga pada akhirnya Aku berusia sebelas tahun. Tepat di hari ulang tahunku, Baba dipanggil oleh atasannya untuk bertugas mengatasi kekacauan di suatu tempat, ya, Zionis itu mulai berulah. Sejak hari itu, tak ada lagi tawa lepas, saat terdengar ledakan bom dan suara tembakan, Baba berusaha menenangkan Aku yang hampir terlelap. 

“Jangan takut, itu adalah suara musik. Indahkan? Dia tidak akan melukai anak kesayangan Baba. Kalau dia berani macam-macam terhadap kamu, umma, maka Baba yang akan berdiri paling depan melawannya. Baba akan menjadi superhero untuk keluarga Baba!” Begitu lembut suara Baba saat itu sambil terus mengelus suraiku. 

“Wah, nanti Baba bisa terbang dong, seperti Spider-Man?!” Aku bertanya dengan antusias dan pastinya langsung diangguki oleh Baba. “Pastinya!” jawab pria itu membuat diri ini merekahkan senyum lebar. 

Semenjak hari itu, ketika suara ledakan bom menghantui kehidupan kami, Aku berusaha untuk biasa saja dan menikmatinya. Seperti kata Baba, itu adalah alunan musik yang indah. 

“B–Baba s–sudah tidak k–kuat lagi, Nak,” adu Baba membuatku kembali tertarik pada kenyataan. Aku membalas perkataan Baba, namun tidak dihiraukannya. Ia justru malah melafazkan kalimat syahadat, hingga usai dan berakhir—

“BABA!!!” 

Seluruh penjuru langit dan bumi hari itu menggema oleh teriakanku. Aku menangis tersedu-sedu. Baba–pahlawanku, pahlawan semua orang, telah memejamkan mata untuk selamanya. Letnan tersebut gugur di pangkuan sang putri usai melafazkan syahadat, bertepatan dengan azan magrib yang berkumandang dengan keadaan berlumur darah. 

Hari itu, seluruh langit dihiasi oleh duka serta luka. Di hari itu, bukan hanya Letnan Baba yang syahid, melainkan ada begitu banyak nyawa yang juga menjadi korban para Zionis tak berhati. Bukan hanya dewasa dan tua, melainkan seluruh usia pun tanpa pandang bulu dihancurkannya. Sungguh, kekejaman begitu terus terjadi di negara yang menjadi tempat berdirinya masjid Al-Aqsa. Sekaligus, menjadi kiblat pertama umat muslim. 

Hingga akhir hayatnya, Baba benar-benar membuktikan perkataannya. Demi melindungi keluarga dan semua orang, ia berdiri paling depan. Tanpa gentar, hingga merelakan jiwa raganya. Alunan musik itu telah membunuh Baba. Baba … sungguh mulia dirimu. Semoga Allah, menempatkanmu di surga bersama para ahli-ahli surga lainnya. Zalfa dan Umma kini telah hidup tanpa perlu rasa cemas akan ledakan bom itu, namun Zalfa tetap merindukan tanah kelahiran Zalfa, Ba. Beserta kenangan kita.

Setetes cairan mengalir begitu saja dari celah mata, Aku merindukan suasana saat kami masih tertawa lepas tanpa takut apapun. Kini, semua hanya menjadi kenangan. Aku harus kuat, untuk Umma dan Haidar–adikku yang lahir tepat setelah dua minggu kematian Baba.

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide