Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Cerpen

Akhirnya Semua Terjawab Sudah oleh Kita Bersama

by Muhammad Absar Al Ghifari
5 November 2025
in Cerpen, Sastra

Raka, Bintang, Mawar, dan Bayu sekelompok anak muda yang sedang asyik duduk di sekitar pohon randu di salah satu sekolah lusuh Desa Harapan Citra, desa yang letaknya sangat terpencil dan sangat nyaris tidak ada di peta. Raka, seorang anak dari petani yang miskin, meskipun dari keluarga yang jauh dari kata cukup, akan tetapi dia memiliki otak yang cemerlang, walaupun sering kali diremehkan karena latar belakang keluarganya, dia tidak pedulikan hal-hal tersebut dan fokus akan pengembangan otaknya untuk kebaikan diri dia dan keluarganya di masa yang akan datang.

Bintang, berbeda jauh dari Raka temannya, dia ini putra dari kepala desa Harapan Citra yang selalu saja merasa lebih unggul jika disandingkan dengan teman-temannya, inilah ciri teman yang di tempat obrolan selalu berpakaian rapi, selalu tahu akan tren yang lagi hangat di masyarakat Indonesia, dan sungguh sangat menyebalkan juga—jika memiliki teman seperti Bintang ini. Akan tetapi, kurang saja jika tidak ada teman seperti dia di tempat obrolan.

Mawar, gadis dengan pesona dan semangat yang sangat menyala di antara teman yang lainnya, bagaimana tidak. Dia tak pernah takut melawan ketidakadilan di desa tersebut. SementaraDan Bayu… dia teman yang sangat berbeda dari teman lainnya. Bayu mengidap penyakit mental berupa Gangguan Kecemasan Akut yang lumayan parah, yang dimilikinya sejak kecil. Ia sering sekali mengalami serangan panik yang sangat kacau saat berada dalam situasi sosial yang menekan, ia takut sekali berbicara di depan banyak orang, sering meragukan diri sendiri, dan cenderung menarik diri ketika mendapat tekanan di dirinya yang sangat hebat. Karena itu, ia menjadi sasaran empuk untuk diejek.

Burung-burung berkicau dengan lancang di langit desa tersebut yang sangat sepi dilihatnya, tetapi disisi lain obrolan sangat asyik diperlihatkan oleh sekelompok pemuda di sekolah tersebut. “Aku sih mikir ya … jika saja kita punya perpustakaan digital di sini, pasti anak-anak desa bisa belajar lebih nyaman juga banyak sumbernya,” ujar Bayu pelan, tangannya yang mencoret-coret tanah dengan ranting kecil. Bintang tertawa mengejek. “Hahaha perpustakaan digital di desa ini? serius kamu? Di Desa seperti ini? Psst-psst-psst Bayu… Bayu, kamu pasti bermimpi lagi ya? Bayangkan saja Listrik saja mati nyala-mati nyala, sinyal juga kayak setan, apa lagi mau bik—” “Yaaa setidaknya dia punya ide yang bagus,” sahut Mawar cepat memotong percakapan Bintang, dengan menatap tajam menuju ke arah Bintang. Raka Mengangguk. “Benar itu, gagasan Bayu sangat-sangat bagus sebenarnya. Masalahnya ada di sumber dayanya—” “Lagian, siapa juga sih yang mau dengarin Bayu? Toh dia bahkan ngomong saja susah. Ini lagi kasih ide? Hahaha gila sih itu.” Bintang mendengus, sangat merendahkan Bayu dari percakapannya. Suasana mendadak senyap seketika. Bayu menunduk, menggigit bibirnya yang sudah kering sejak lama, seolah kata-kata itu menancap lebih dalam dari sebuah pisau yang baru diasah oleh tukang daging. “HEH KAU! Mulutmu itu bisa dijahit enggak, sih, Bintang?” Mawar melotot dengan nada kasar. Bintang mengangkat bahu dengan santai. “Loh ada yang salah? Aku Cuma ngomong jujur saja.” Bayu bangkit, membersihkan celananya yang penuh dengan tanah. “Dahlah aku pulang dulu,” ucap dia, melangkahkan kaki dan kemudian pergi tanpa menoleh lagi. Mawar memandangi punggung Bayu dengan mata berkabut.

**

Bayu merebahkan diri di atas ranjang kayu di rumahnya. Langit-langit biliknya penuh dengan coretan-coretan rancangan, sketsa panel surya, sketsa bangunan-bangunan yang tampaknya seperti gedung sekolah, dan yang lebih lagi ialah diagram sirkuit yang sederhana. Semuanya hanya tinggal harapan yang mengendap di setiap sudut kamar Bayu. Ia menggenggam secarik kertas yang berisi konsepnya, jika mereka bisa memanfaatkan tenaga surya untuk menyalakan beberapa komputer lama di sekolah tersebut, anak-anak di desa akan bisa belajar dari internet.

Namun, setiap kali ia ingin berbicara, suara-suara ejekan selalu menghantui pikirannya. Dan hasilnya percuma saja, semua itu akan menjadi kertas yang menguning seperti dedaunan jati di desa tersebut. Bayu yang asyik melamun melihat coretan kertasnya di dinding kamarnya, tiba-tiba…

Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan di jendela membuatnya tersentak. “BAYU, Bayu buka Bayu,” suara Mawar terdengar lancang. Bayu beranjak malas dari kasurnya, menggeser penutup kayu dari jendelanya. “Kenapa?” Mawar melompat masuk tanpa permisi, memang unik gadis satu ini, yang tidak sama sekali kelihatan gadisnya tersebut. “Kenapa kamu selalu saja diam sih kalau diejek?” tanya Mawar sambil membersihkan celananya dari serpihan kayu. “Hah, karena kalau aku jawab pun, mereka bakal makin menyerangku.” Bayu menghela napas. Mawar yang berdiri di depan jendela sontak langsung duduk di tepi ranjang. “Dengar aku Bayu, aku tahu rasanya diremehkan. Aku ini perempuan kamu tahu dong Bayu? Di desa ini, perempuan selalu saja enggak pernah dianggap bisa bikin perubahan.” Bayu menatap Mawar lama, lalu tersenyum kecil “He’eh benar sih, tapi kamu enggak ada perasaan takut sama sekali.” “Ya, karena aku tahu aku itu benar.” Keheningan sejenak mengisi ruangan kecil itu sebelum Mawar bertepuk tangan.

“Oke-oke, mulai sekarang kita bikin ide ini jadi nyata, sangat nyata! Aku nggak peduli Bintang mau ngomong apa, kita mulai dari nol ya kakak.” Menjulurkan jari kelingking, dengan sedikit bercanda di hadapan Bayu. “Maksudmu?” Bayu mengangkat alisnya. “Maksud aku, kita mencari barang-barang bekas, bikin panel surya dari barang bekas tersebut. Bisa mungkin dari pecahan kaca dan logam tua, kamu toh yang ngerti soal itu, kan?—” “Kamu yakin kita bisa?” Bayu menatap Mawar dengan mata berbinar.

Mawar tersenyum. “Aneh itu unik. Dan unik itu keren bagiku.” Mawar senyum balik ke Bayu. Jari kelingking mereka saling bertemu, sekilas saja udara dari jendela membuat suasana menjadi istimewa. Mawar melompat ke jendela, memberi kedipan mata ke arah Bayu.

**

Malam hari di desa tersebut sangat sepi dan dingin, hanya suara serangga seperti jangkrik dan juga tonggeret yang sangat nyaring terdengar. Bayu duduk di kasurnya dengan kertas-kertas yang tadinya di dinding sekarang sudah diletakkan di kasur untuk merancang apa saja yang dibutuhkan untuk besok hari bersama Mawar. Dia akhirnya mengerjakan rancangan tersebut pada tengah malam, yang di mana orang-orang lain sudah tidur termasuk Mawar yang sangat terlelap di rumahnya di kasur yang empuk, di sisi lain Bayu tetap berusaha untuk merancang proyek yang ia beri nama sebagai “Misi Impian”, karena ini adalah Impian dia sudah dari kecil. Mempunyai panel surya yang akan digunakan sebagai pasokan Listrik, untuk digunakan berbagai elektronik di desanya dia, termasuk juga alat-alat di sekolahnya seperti komputer-komputer dapat menyala kembali. Walaupun, komputer yang sudah sangat kuno, akan tetapi itu tetaplah berguna bagi anak-anak untuk menemukan ilmu yang bisa didapatkan dari mana saja.

Kukuruyuk…

Suara ayam berkokok pun terdengar, Bayu terbangun tanpa disadari dia sudah tertidur sangat lelap. Akan tetapi, proses merancang panel surya itu sudah selesai dan siap untuk dibuat bersama Mawar, walaupun dengan muka Bayu yang masih ada kotoran di bola matanya.

Hari itu tiba, mereka mulai bekerja diam-diam. Raka akhirnya ikut bergabung, entah dari mana dia mengetahui bahan-bahan dan alat-alatnya, tanpa disuruh dia membawa alat seadanya dari Gudang rumahnya. Mereka mengumpulkan baterai bekas, mencari cermin pecah, dan mencoba membuat rancangan panel surya yang sederhana. Namun, masalah muncul Ketika mereka membutuhkan kapasitor dan kabel tembaga yang lebih bagus. Terlihat dari kejauhan, Bintang mendatangi mereka, dia pun akhirnya merasa tertarik. “Jadi… kalian beneran mau bikin ini? Gila sih kalian semua—” “Apa urusanmu hah?” Mawar mendengus kesal.

Bintang menyeringai. “Bah santai dong, aku cuma mau lihat seberapa jauh kalian akan gagal hahaha—” “Kamu bisa ikut kalau mau.” Bayu menatap Bintang sejenak. Bintang terdiam, “Apa maksud?—” “Kamu selalu meremehkan kami, tapi aku tau kamu juga pintar, Bintang. Kalau kamu mau bantu sih nggak papa, ini bukan soal harga diri lagi. Ini soal desa kita.” Bintang mengernyitkan dahi, tapi kemudian tertawa kecil. “Oke, tantangan aku terima!’’

Keempat remaja tersebut mulai mengutak-atik berbagai barang rongsokan yang sudah mereka kumpulkan, mereka berempat melakukan projek ini di sebuah gubuk kosong di belakang sekolah di desa mereka tempat tinggal. Raka, yang sedari awal hanya memotong kabel tembaga saja, mulai menghela napas Panjang. “Aku sih nggak mau pesimis, ya … tapi ini semua kayak proyek gagal juga sia-sia.” Mawar menoleh tajam. “Gagal itu kalau kita nggak mulai dari sekatanng! Lagian juga, kita kan nggak perlu sempurna dulu—”

“HACIHH!!” Bintang, yang sedang mencoba Menyusun kepingan kaca untuk reflector panel surya, bersin sangat keras. “Hahh … Dasar debu kurang ajar! Bayu, kalau alergiku kambuh gara-gara proyek ini, aku bakal nyalahin kamu seumur hidup—” “Santai saja, Bangsawan Desa Harapan Citra. Aku yakin ketahanan tubuhmu cukup kuat buat hadapi ini semua.” Bayu, yang sedang merangkai sirkuit sederhana hanya tertawa kecil. Bintang mendelik. “Bayu bercanda? Ini keajaiban!” Mawar menepuk bahu Bayu dengan bangga. “Lihat kan, kamu bisa kok. Harusnya sering-sering ngeledek Bintang.” Berbisik kecil ke arah Bayu, Raka tertawa. “Udah, udah, mending kita harus fokus. Kita harus cari cara agar Listrik dari panel ini bisa stabil.” Lagi asyik-asyiknya mereka memasang sambungan pertama kabel tembaga, tiba-tiba percikan kecil dari salah satu kabel.

Zzzzzt! zzzzt!

“ASTAGA!” Bintang melompat mundur dan teriak kencang, hampir menjatuhkan semua panel. Mawar menahan tawa. “Wah-wah-wah, Bintang ternyata takut Listrik loh semua! Jangan-jangan nanti jadi Sejarah, ‘Putra Kepala Desa Takut Kesetrum!—” “Bukan takut ya Mawar! Aku Cuma … waspada, kali saja ada hal tak terduga menimpa kita kan, hehe.” Bintang mendengus. Bayu tersenyum kecil melihat mereka bercanda, untuk pertama kalinya ia merasa nyaman berada di antara mereka.

**

Hari demi hari, juga minggu demi minggu mereka lewati dengan proses, sudah menunjukkan hasil yang sempurna dan sesuai dengan keinginan bersama. Meski mereka semakin dekat dengan keberhasilan, bukan berarti jalan mereka mulus-mulus saja kedepannya. Beberapa warga desa mulai mempertanyakan proyek mereka.

“Apa gunanya listrik-listrik kayak begini?” seorang bapak tua bernama, Pak Karyo berkata saat melihat anak-anak itu mengutak-atik panel surya. “Listrik PLN aja masih sering mati-matian. Mending waktu kalian buat belajar bertani saja sana.” Ibu Raka, yang melihat anaknya sibuk dengan proyek ini, juga tampak khawatir, “Raka, kamu yakin ini ada gunanya? Ibu butuh kamu buat bantu di sawah, Nak.” Desa mereka belum memiliki infrastruktur listrik yang cukup memadai. Bahkan, ide menggunakan panel surya tersebut hanya dianggap “mubazir” karena PLN masih belum stabil hingga saat ini. Juga banyak warga yang hanya menganggap Pendidikan formal tidak sepenting bekerja di ladang sawah milik keluarga mereka. Dan yang terakhir, anak-anak dari keluarga miskin seperti; Raka, tidak didorong untuk berpikir maju, sementara anak kepala desa seperti; Bintang, selalu saja diprioritaskan oleh semua Masyarakat.

Melihat penolakan itu, Bayu mulai merasa cemas di dalam dirinya muncul. “Mungkin mereka benar … mungkin ini nggak akan berhasil.” Mawar menatapnya tajam. “Hei, jangan balik ke mode pesimis kamu!—” “Tapi kita harus punya cara biar mereka mengerti manfaatnya.” ucap Raka sambil menghela napas. Bintang, yang biasanya paling sinis, tiba-tiba tersenyum miring. “Aku punya ide, kita bikin saja demonstrasi besar-besaran!”

Mereka pun mulai menyusun rencana agar proyek ini bisa diterima oleh warga desa. Setelah menghadapi keraguan dari para warga desa, keempat remaja itu berkumpul di gubuk belakang sekolah keesokan harinya untuk menyusun strategi.

“Kita nggak bisa Cuma ngomong kesana-kesini doang,” ujar Mawar sambil mengetuk-ngetukkan pensil ke papan tulis yang mereka ambil dari kelas. “Harus ada bukti nyata, bukan hanya teori dari opini kita semua.—” “Tapi bukti kayak apa lagi?” tanya Bayu, masih terlihat ragu. Bintang bersandar dengan santainya. “Bagaimana kita bikin saja pertunjukan, buat warga desa, agar terkejut dan kagum sekaligus juga terkesan dengan kita semua!?” Raka mengangguk, ikut berpikir. “Iya boleh tu, kita harus kasih mereka sesuatu yang bisa mereka lihat dan rasakan langsung. Bukan hanya sekadar teori dan opini dari kita saja.” Setelah berlama-lama di tempat tersebut, mereka pun mulai menyusun rencana besar. Yang mereka beri nama sebagai “Demonstrasi Teknologi Panel Surya”, tentu saja nama ini berasal dari ide Bayu yang kini jadi pemimpin untuk rencana besar ini. Bayu menatap mereka satu per satu, lalu menunduk menatap sketsanya. Jantung nya berdebar, ini bukan sekadar proyek kecil lagi. Ini tentang membuktikan bahwa mereka ini yakin akan bisa mengubah desa ini. “Baiklah,” kata terakhirnya, suaranya penuh dengan tekad dan keyakinan. “Kita mulai dari mana?”

**

Keesokan harinya, mereka berkumpul lagi di belakang sekolah, tempat mereka menyimpan bahan-bahan bekas yang mereka kumpulkan selama ini; Bayu mengeluarkan komponen utama dari tasnya, pecahan cermin yang ia susun di atas lempengan seng bekas, baterai lama yang mereka dapat dari gudang di rumah Raka, serta kabel tembaga hasil bongkaran radio tua. Raka mengambil obengnya, lalu mulai mengencangkan baut-baut di rangka besi. “Kalau saja panel ini bisa bekerja, kita bisa pakai buat listrik sekolah dulu.” Mawar menyeka peluhnya, lalu memandang mereka. “Tapi kita nggak bisa sekadar nyalain komputer tua. Warga enggak bakal peduli, kita harus buat sesuatu yang bener-bener berguna buat mereka.” Bintang, yang sejak tadi hanya mengamati, akhirnya angkat bicara. “Warung Ibu Reni—” “Maksudmu?” Bayu mengangkat alisnya.

“Kalau kita bisa pasang lampu tenaga surya di warungnya, warga desa bakal langsung lihat manfaatnya,” jelas Bintang. “Orang-orang sangat suka nongkrong di sana tiap malam. Kalau tiba-tiba warung Ibu Reni itu punya lampu yang nggak mati-mati, mereka pasti sangat penasaran.” Mawar bertepuk tangan. “WOW! Ide yang sangat bagus itu! Dan satu lagi, kita bisa buat film pendek tentang desa kita. Kita proyeksikan di warung itu pakai listrik dari panel surya kita.” Raka tersenyum, “Dua bukti sekaligus, biar mereka lihat langsung hasil kerja kita.” Bayu menatap teman-temannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa idenya benar-benar bisa menjadi kenyataan.

Hari-hari dilewatkan dengan penuh kerja keras mereka bersama, di bawah terik sinar matahari, mereka membongkar barang bekas, mencoba merakit panel surya pertama mereka. Tentu saja, tidak semua berjalan secara lancar. Saat siang tiba, Bayu berteriak panik ketika salah satu kabel meledak kecil dan kali ini mengeluarkan asap pekat yang sangat hitam. “MAWAR! Matikan saklarnya cepat!” Mawar buru-buru menarik kabel utama, sementara Raka tertawa. “Kita hampir bikin kebakaran di sekolah.” Bayu mendesah, wajahnya lesuh. “Aku nggak yakin kita bisa menyelesaikannya—” “Hei, siapa yang bilang kita akan berhenti?” Mawar menepuk bahu Bayu. Sejak saat itu, mereka bekerja lebih serius. Mereka mencari kapasitor bekas dari radio tua, menyesuaikan posisi reflektor kaca agar panel bisa menyerap lebih banyak cahaya, dan menguji berbagai cara agar listrik bisa bertahan lama. Meskipun Lelah, mereka sering kali bercanda. “Hei Bintang, kau kelihatan serius sekali. Jangan-jangan kau sudah Insaf ya?” ejek Mawar. Bintang mendengus. “Aku hanya ingin melihat ekspresi terkejut warga nantinya, itu pasti sungguh sangat menyenangkan. Hahaha.” Semua tertawa, termasuk Bayu, untuk pertama kalinya ia merasa tidak sendirian.

Malam tiba, warga mulai berkumpul di depan warung Ibu Reni. Banyak yang datang karena beredar gosip “anak kepala desa ikut proyek aneh ini.” Di depan warung yang gelap, Bayu dengan tangan gemetar menekan saklar, lampu-lampu kecil menyala, menerangi seluruh warung Ibu Reni!

DOR! Lampu menyala, orang-orang terperangah kagum, beberapa anak kecil bersorak kegirangan, sementara orang dewasa saling berbisik. Kemudian, di dinding warung, proyektor kecil mereka mulai menampilkan video tentang desa mereka, tentang sekolah tua, tentang harapan, dan tentang masa depan yang lebih baik.

“Kita bisa mengubah desa ini! Kita punya Listrik sendiri, kitab isa belajar lebih banyak, dan kita bisa membawa des akita dari ketertinggalan!” Mawar melangkah ke depan, suaranya lantang. Pak Karyo, yang selama ini skeptis, menggaruk kepalanya. “Jadi … ini bisa jalan benaran? Tanpa perlu bayar listrik yang mahal itu?” Bintang tersenyum percaya diri. “Sangat bisa Pak! Energi matahari itu gratis. Kita hanya perlu alat yang tepat saja untuk bisa hal itu terjadi!” Warga mulai bertepuk tangan. Bahkan kepala desa terlihat mengangguk-angguk, seolah baru menyadari bahwa anak-anak ini tidak main-main. Akhirnya Semua Terjawab Sudah.

**

Tahun di kalender terus bertambah saat itu, Bayu di tengah peresmian perpustakaan digital pertama di desa mereka, terlihat di dinding tertulis prasasti kecil berupa tulisan. “Untuk mereka yang percaya bahwa masa depan dimulai hari ini” Bayu menatap sekelilingnya. Mawar yang tersenyum bangga, Raka yang sibuk menjelaskan panel surya ke anak-anak kecil, dan Bintang yang untuk pertama kalinya terlihat benar-benar bangga. Masa depan memang dimulai hari ini, dan itu semua, karena mereka selalu bersama.

Mawar melangkah mendekat dan menepuk bahunya. “Hei, kita berhasil sayang.” Bayu salah tingkah dan tersenyum kecil. “HAH? APA? E-e… iya … benar kita berhasil.” Mawar ketawa karena wajah Bayu yang memerah karena dipanggil “Sayang” oleh dirinya, benar saja semua ini tidak akan berjalan tanpa adanya seorang teman yang selalu kasih semangat dan motivasi di dalam perjalanan kita yang panjang tersebut. Hari ini, semua pertanyaan telah terjawab. Dan ini semua tidak akan terjadi jika kita tidak bekerja sama, sekali lagi

ini semua karena mereka bersama-sama.

 

 

Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide