Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Cerpen

Kisah di Suatu Negeri

by Harnendra Abikusumo
23 Juli 2021
in Cerpen, Sastra

Di suatu masa, seorang filsuf yang sangat pintar ditugaskan oleh rajanya untuk pergi berkelana jauh dari negeri tercintanya.  Sang Filsuf tidak tahu apa-apa tentang  penugasan itu. Sedangkan, sang Raja yang merasa  kepintarannya dikalahkan oleh sang Filsuf tidak  ingin kekuasaannya terhadap rakyat kalah, ia tahu betul sang Filsuf tidak bisa diatur. Hatta selama beberapa lama, negeri sang Raja damai tanpa gangguan para perusuh dan bandit, sang Raja pun dapat tidur dengan tenang setiap malamnya. Sedangkan, sang Filsuf yang hanya ditemani oleh seekor kuda ditengah-tengah ketandusan berkata,  “O…betapa mulianya rajaku, beliau memberikanku kuda yang dapat berbicara dan membawaku ke tempat paling nyaman di  dunia ini.”

Sang Kuda berkata, “Wahai penasihat raja yang maha berilmu, inilah tempat  kematian para makhluk yang bernyawa, tidakkah engkau termasuk daripadanya?”

“Wahai  kudaku yang bernyawa, bukankah tempat kematian sama indahnya dengan di mahligai negeri?” balas sang Filsuf.

“Apa hal engkau malah bergembira di tempat pembantaian, tubuhmu tidak akan menjadi pohon,” ucap sang Kuda.

“Bukankah itu keindahan dari hidup? Dan wahai kuda, sahabatku pernah mengatakan bahwa abu-abu hanyalah teori, dan emas pohon sejatinya adalah hijau,” begitu kata sang Filsuf.  Lalu, mereka melanjutkan  perjalanan di tengah tandus. 

Di tengah perjalanan, sang Filsuf melihat Oasis, “Lihatlah kudaku, ada air, engkau dapat minum disana.”

Sang Kuda yang tidak melihat apa-apa  berkata, “Sungguh,  engkau sudah dibutakan pada kehidupan, wahai filsufku.”

Sang Filsuf yang terhina menjawab, “Apa yang kau bicarakan, Rocinante, aku melihatnya, marilah kita bergegas!”

Mereka berdua  berlari ke tempat yang ditunjuk oleh sang Filsuf. Setelah didatangi, betul ucapan sang Kuda,  tidak ada apa-apa, dan mereka berdua sekarang benar-benar kehausan.

“Pikiranmu sungguh  membunuh, wahai filsufku, waspadalah pada pikiranmu itu,” keluh sang Kuda.

“Engkau  sungguh benar, wahai kudaku, seharusnya aku tidak mendengar bisikan setanku, sungguh setan  ini menginginkanku mati bersama dengannya menuju ketiadaan.”

Hatta, mereka melanjutkan  perjalanan menuju ketidaktahuan. Pada persimpangan ketandusan, sang Filsuf membaca  petanya dan bertanya kepada sang Kuda, “Kemana kita akan pergi? Ke kiri kah, menuju pengembaraan De La Mancha, atau ke kanan kah, menuju pengembaraan Odiseius, atau lurus, menuju ke pengembaraan kita?”

Sang Kuda yang keheranan bertanya, “Wahai filsufku, bukankah sejak awal ini adalah pengembaraanmu dan bukan aku? Sejak kita memulai pengembaraan, engkau tidak sekalipun menaiki punggungku, ataupun menaruh beban yang kau pikul itu ke tubuhku.”

“Wahai kudaku, tentu sudah kau ketahui pasti, bila kulakukan itu engkau pasti tidak akan mau mengikuti aku,” ucap sang Filsuf. Hatta, diputuskan bahwa mereka  berjalan lurus. 

Beberapa hari kemudian, sang Filsuf meninggal dalam perjalanannya kemudian sang Kuda bergegas pulang ke negerinya untuk menyampaikan berita duka itu pada paduka raja di  mahligainya. Sesampainya sang Kuda, ia langsung menghadap sang Raja dan berkata, “Wahai  Paduka Raja Diraja, ampunilah hamba yang datang mengotori lantai indah mahligai raja,  hamba datang untuk memberi tahu berita duka, sang Filsuf, penasihat paduka, meninggal di  Sumur Air di tengah padang tandus, 14 hari lalu, paduka.”

Sang Raja dengan raut wajah yang  tidak berubah bertitah, “Wahai sang Kuda, bukankah engkau tahu, sang Filsuf harus hidup  menderita. Tanpa penderitaan, sang Filsuf akan menjadi bandit di negeriku. Lalu, apakah ia  mempunyai kata terakhir untuk dunia ini?”

“Wahai Paduka Yang Mulia, beliau berkata, ‘Telah datang malaikatku dan membawakan kabar gembira, katanya, akan dibebaskan semua  urusanku menuju ketidakurusan, dan telah datang penantianku yang panjang. Kata malaikatku,  ketidakadilan yang kuderita akan dibalaskan, namun aku tidak menginginkan yang demikian  karena tidak ada ketidakadilan yang ku derita. Hatta, aku bertanya lagi, mengapa Sang Hyang memberikanku air disaat aku membiarkan diriku kehausan yang sangat demi dapat sampai ke  tujuan. Lalu, sang Malaikat menjawab, Sang Hyang melakukan itu karena engkau telah sampai  pada tujuanmu dan engkau dibiarkan mencicipi air itu seteguk, sungguh engkau adalah orang  yang beruntung’ begitu perkataannya sebelum ia meninggal, Paduka Raja.”

Sang Raja yang  mendengar cerita tersebut langsung menahan sang Kuda dan memerintahkan hulubangnya  untuk menyiksanya di penjara. 

Di penjara, sang Kuda yang sudah babak belur bertanya pada sang Hulubalang, “Mengapa engkau  setiap  memukulku dengan alat itu, malah  engkau yang meraung kesakitan?”

Sang Hulubalang menjawab, “Karena ini yang akan  kurasakan bila aku tidak menuruti keinginan Paduka Raja.”

“Tidak, bukan itu pasti alasannya, engkau meraung kesakitan karena hati nuranimu engkau tusuk-tusuk, engkau bunuh ia dan  engkau hidupkan lagi ia. Sungguh aku merasa kasihan padamu,” ucap sang Kuda.

Sang  Hulubalang makin keras menyiksa sang Kuda dengan suara alatnya yang berdendang hingga ke kamar sang Raja. Di mahligai raja, sang Permaisuri bertanya pada suaminya, “Wahai Kakanda, mengapa  engkau memenjarakan binatang jujur seperti sang Kuda, bukankah engkau membutuhkan makhluk semacam itu di kediaman kita?”

Sang suami menjawab, “Tidak ada orang jujur yang  bodoh seperti sang Kuda, kejujuran didapatkan dari pengalamannya tentang ketidakjujuran. O..bayangkan bila seorang nabi tidak mengetahui ketidakjujuran, Zarathustra pasti tertawa dari  kejauhan mendengar lelucon semacam itu dan segera turun gunung untuk menyabdakan  ajarannya. Memang, negeriku membutuhkan seseorang yang jujur tetapi apakah baik  memasukkan ide tentang kebaikan ke telinga para pendusta istana yang tidak akan segan  mengambil mahligaiku disaat diriku terlihat lemah, sungguh ia lebih jahat daripada para  pendusta itu. Biarkan ia mati dipenjara itu dengan penuh luka ditubuhnya, karena itu adalah  balasan yang setimpal untuk makhluk yang berkata jujur kepada semua orang.”

Beberapa hari kemudian, sang Kuda mengalami keadaan setengah hidup dan mati. Sang  Algojo yang melihat hal itu merasa kasian terhadapnya, dan ingin menyudahi penderitaannya  itu. Sang Algojo yang sudah siap menerima hukuman karena melawan titah Raja menyiapkan pedang andalannya. Hatta, sang Kuda berkata kepadanya, “Wahai pemberi kasih,  jangan kau memainkan pedang itu padaku dan membuatku takut, sungguh tidak ada ketakutan yang kurasa, sudahilah aku disini, karena sejatinya sang Malaikat telah berkata padaku bahwa sebentar lagi penderitaanku akan berakhir.”

Sang Algojo yang sudah berniat melawan titah  rajanya mengurungkan niatnya dan membiarkan sang Kuda mati perlahan-lahan akibat luka lukanya di seluruh badan yang mengeluarkan darah itu. Sang Malaikat yang tidak terima hal  itu menimpa sang Kuda yang baik, melakukan protes kepada Sang Hyang, “Wahai Tuanku,  mengapa engkau tidak membalaskan ketidakadilan yang diderita oleh makhluk ciptaanmu?”

Sang Hyang berfirman, “Bagaimana aku harus membalas, apa engkau tidak melihat sang Algojo dan kebimbangan nuraninya. Apakah engkau tahu apa yang ada di hati setiap orang.  Aku sudah memberikan kebebasan kepada setiap makhluk ciptaanku, tetapi nyatanya mereka  tidak menggunakan akalnya dalam bertindak. Biarkan itu sejalan dengan apa adanya, karena  sejatinya kebaikan dan keburukan sudah saya buat untuk saling melengkapi, mereka yang  melabeli dirinya dengan kebaikan, pada kenyataannya, lebih buruk daripada pembunuh.  Biarkan. . . Biarkan itu berjalan sebagaimana mestinya.” 

 

Editor: Qurratu Aina, Alfina Nur Afriani

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide