Dalam dekade ini, tempat-tempat nongkrong untuk anak muda sudah bertebar di mana-mana dalam bentuk yang berbeda-beda. Kafe dan coffee shop banyak hadir dengan segala inovasi dan menu-menu menarik mereka. Salah satu inovasi yang hampir semua kafe atau coffee shop lakukan adalah pemutaran musik di tempatnya. Akan tetapi, tidak hanya kafe dan coffee shop saja yang menyetel musik, warung tradisional—seperti warung kopi (warkop)—tentunya tidak mau ketinggalan. Beberapa warkop sekarang ini sudah menyetel musik di warung mereka. Musik-musik yang disetel adalah musik yang ramai dan membuat suasana warkop lebih hidup. Dengan adanya musik-musik Jawa metal (jamet) ini, beberapa warkop mengalami peningkatan pendapatan.
Dari peradaban paling awal hingga masa kontemporer, musik memegang peranan primer dalam masyarakat di seluruh dunia. Musik merupakan salah satu bentuk physical surrounding yang dapat memengaruhi konsumen dalam membeli produk. Menurut Bruner (1990), banyak praktisi pemasaran yang mendukung pendapat bahwa musik dapat digunakan sebagai stimulus, baik pada lingkungan jasa retail maupun pada iklan televisi dan radio. Hasil penelitian tentang pengaruh musik terhadap suasana hati dari Wessman & Ricks (1966) menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dari mendengarkan musik. Oleh sebab itu, musik menjadi salah satu elemen dalam kegiatan yang dilakukan orang-orang di zaman ini. Pusat perbelanjaan, tempat gym, kafe-kafe, dan lainnya sudah menjadikan musik sebagai komponen dalam menjalankan usahanya. Tidak mau kalah, beberapa warkop juga sudah menggunakan musik untuk menarik perhatian pembeli.
Salah satu jenis musik yang paling terkenal dan sering diputar di warkop adalah musik jamet. Musik jamet awalnya adalah akronim dari Jawa metal. Musik jamet ini adalah musik yang digunakan orang-orang yang bergaya keren seperti anggota band metal. Akan tetapi, istilah tersebut sudah meluas. Musik jamet sudah tidak hanya berkaitan dengan musik-musik metal, melainkan musik-musik viral, seperti musik atau lagu DJ, remix, musik jedag-jedug, dan lain-lain. Musik-musik jamet inilah menjadi magnet untuk warkop-warkop agar lebih ramai pembeli.



Dari TikTok ke Warkop: Lahirnya Fenomena Musik Jamet
Musik Jamet belakangan ini semakin populer, terutama di kalangan anak muda dan komunitas tongkrongan. Jenis musik ini identik dengan irama yang dinamis, beat cepat, serta volume tinggi. Musik remix, jedag-jedug, hingga dangdut versi remix kerap digolongkan sebagai bagian dari musik jamet oleh masyarakat awam (Tyas Titi, 2024). Namun, dari manakah asal muasal musik jamet yang kini menjamur di berbagai platform digital hingga menjadi pilihan utama di berbagai warung kopi dan tempat nongkrong?
Jedag-jedug, remix, hingga dangdut kerap kali terlintas di benak kita ketika membahas musik jamet. Namun, apa sebenarnya perbedaan dari ketiga jenis musik dan lagu ini? Nyatanya ketiga hal ini memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lainnya. Melansir dari kumparan.com, JJ atau jedag-jedug sendiri merupakan musik remix yang memiliki kemiripan dengan Electronic Dance Music (EDM) dan biasanya ditambahkan bumbu-bumbu dangdut atau biasa kita sebut koplo. Perpaduan musik yang bertempo cepat dan keras ini yang membuat terkadang beberapa konten dilabeli sebagai konten jamet jika menyertakan musik ini dalamnya.
“Itu (musik jenis elektronik) saya inget banget naik di Indonesia sekitar 13 tahun lalulah, udah mulai naik tuh, gara-gara adanya YouTube, dulu ada Myspace.”
– Gerald Liu, mantan personel grup musik Weird Genius.
Ternyata, sebelum dikenal luas melalui media sosial yang sering kita gunakan saat ini, musik jedag-jedug sudah hadir sejak era 1990-an dan pada masa itu lebih dikenal sebagai musik elektronik atau Electronic Dance Music (EDM). Seiring waktu, banyak musisi dan DJ yang mulai mengembangkan genre ini, termasuk subgenre seperti dutch house yang mulai populer pada awal 2010-an (Muhammad Bimo, 2024). Musik dengan ritme cepat dan hentakan kuat ini juga telah menyebar melalui platform media sosial, seperti YouTube dan Myspace. Memasuki tahun 2019, kepopuleran musik jedag-jedug semakin meningkat, terutama dengan kemunculan TikTok yang semakin digemari, ditambah dengan situasi pandemi COVID-19 yang mendorong masyarakat lebih aktif mengakses konten digital. Sejak saat itu, musik jedag-jedug mendapat tempat di kalangan pengguna media sosial.
Beat Naik, Omzet Naik: Transformasi Warkop Lewat Musik
Melalui beberapa wawancara yang Tim Economica lakukan, sebagian besar pemilik dan konsumen warkop setuju bahwa musik jamet memang memiliki dampak yang memengaruhi kenyamanan selama di lingkungan warkop dan di tempat tongkrongan. Indra selaku pemilik warkop berpendapat bahwa lirik lagunya memang cocok untuk anak tongkrongan dan menyampaikan bahwa setelah memainkan musik ini, warkop menerima dampak positif berupa kenaikan pada omzetnya.
“A great customer service experience can turn a one-time customer into a lifelong repeat customer.” – Shep Hyken
Pendapatan dari warkop tidak hanya berasal dari banyaknya pelanggan baru yang berdatangan, tetapi juga dari pelanggan setia yang selalu datang karena merasa puas atas layanan warkop.
“Tentu berpengaruh, kalau lagunya enak-enak (dan) cocok dengan suasana hati pasti ngaruh. Tempatnya (harus) nyaman dan lagunya keras tapi jangan terlalu keras.” Ujar Sap Tjun selaku pecinta musik jamet ketika ditanyakan bagaimana pengaruh musik jamet dengan keputusan memilih warkop.
Melalui studi yang dilakukan Stout and Leckenby (1988), disebutkan bahwa musik atau lagu pada iklan dengan tempo yang lebih cepat dikaitkan dengan respons yang umumnya positif, sedangkan lagu dengan tempo sedang atau lambat justru menerima respons yang kurang baik. Hal ini membuktikan bagaimana respon positif dari konsumen mengenai musik jamet yang diputar dengan tempo yang cepat dan keras yang membuat sisi marketing dan advertisement dari warkop berpengaruh secara positif.
Dalam dunia usaha warkop, omzet dan kepuasan pelanggan merupakan dua aspek yang tidak bisa dipisahkan. Fandy Tjiptono (2016) menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan seorang konsumen adalah faktor emosional. Musik adalah salah satu media yang mengubah emosi seseorang, kita bisa menjadi senang, sedih, bersemangat hanya melalui musik saja. Oleh karena itu musik sering digunakan di berbagai hal bahkan sudah tidak asing digunakan dalam meningkatkan penjualan suatu tempat.
Strategi warkop yang menggunakan musik jamet merupakan salah satu upaya menciptakan suasana warkop yang meriah dan menyenangkan. “Yang saya rasakan happy aja gitu, ada perasaan semangat. Mood menjadi lebih bagus, menghidupkan suasana.” Ucap Sap Tjun.
Melalui berbagai pertanyaan yang Tim Economica ajukan, sebagian besar konsumen merasa nyaman dengan suasana warkop yang meriah dan menyenangkan sehingga membuat konsumen baru berdatangan dan konsumen setia juga bertambah, alhasil membuat penjualan warkop meningkat.
Beat Cepat, Mood Tepat: Psikologi di Balik Musik Jamet
Nyatanya, sampai batas tertentu, musik telah digunakan untuk membangkitkan suasana hati dan berbagai asosiasi dengan orang, tempat, dan waktu (Furnham & Milner, 2013). Kerap kali kita mendengarkan musik dan perasaan serta mood kita berubah karenanya. Keberadaan musik sudah hadir bahkan dari sebelum kita lahir dan memberikan banyak dampak terkhususnya untuk suasana hati hingga mood kita dalam menjalani hari.
“Salah satu alasan yang paling sering disebutkan untuk mendengarkan musik adalah bahwa musik menimbulkan emosi yang kuat” – (Juslin & Laukka, 2004)
Modern ini, penelitian mengenai musik dan pengaruhnya terhadap psikologi manusia sudah berhamburan di mana-mana. Salah satu hasil penelitian mengenai musik disebutkan oleh Juslin dan Vastfjall pada 2008, dimana musik dengan tempo yang cepat dan nada yang ceria dapat memicu perasaan positif mirip kebahagiaan serta keceriaan. Sama halnya dengan musik jamet, di mana musik ini cenderung memiliki tempo yang cepat dan nada yang ceria serta bersemangat, banyak konsumen warkop merasakan hal yang sama ketika ditanyakan bagaimana dampak musik ini terhadap suasana hari mereka.
Selain menyenangkan, faktanya mendengarkan musik dengan tempo yang cepat dan bersemangat, seperti musik jamet, rock, dan musik bernada cepat lainnya, dipercaya dapat memengaruhi suasana hati dan bahkan menginspirasi tindakan kita (Kendra Cherry, 2024). Melansir dari Klikdokter, dalam hal berolahraga, mendengarkan musik bertempo cepat, bisa sangat bermanfaat untuk membantu kita saat melakukan olahraga dengan interval intensitas tinggi. Hal ini terbukti dalam jurnal Psychology of Sport and Exercise, bahwa musik dengan nada dan lirik yang ceria dapat membuat latihan dengan interval intensitas tinggi akan terasa lebih mudah dari biasanya (Krisna Octavianus, 2019). Bahkan, hal ini dapat memotivasi orang yang tidak aktif berolahraga untuk mulai berolahraga.
Terakhir, salah satu manfaat mendengarkan musik jamet adalah meredakan stres dan menghidupkan suasana. Sap Tjun berpendapat bahwa “Lebih enjoy ke arah senang dan menikmati suasana bersama dengan teman-teman,” ketika ditanyakan bagaimana musik jamet berpengaruh terhadap diri sendiri dan teman. Hal ini juga terbukti melalui artikel Harmony & Healing yang ditulis David Victor (2023) bahwa faster music dan upbeat music tidak hanya membuat individu merasa lebih waspada dan berpikir lebih cepat, namun juga memberi perasaan optimis dan positif tentang kehidupan.
Dari Mood Booster ke Mood Buster? Dampak Buruk Musik Keras bagi Psikologi
Meskipun memiliki banyak manfaat, musik jamet juga menyimpan berbagai dampak negatif yang bisa dirasakan oleh pendengar maupun nonpendengar. Banyak keluhan yang biasa dilontarkan oleh tetangga yang merasa terganggu atas pemutaran musik jamet yang terlalu keras di lingkungan mereka. Contohnya, seperti kasus di Pangkalpinang, Maret 2024, di mana Warkop Komang terkena gugatan warga akibat menggelar live music keras hingga larut malam. Warga mengadu karena suara musik “memekakkan telinga” dari sore (check‑sound) hingga dini hari dan acara tersebut bahkan digelar tanpa izin resmi. Tidak jarang ini juga terjadi di beberapa lingkungan warga yang menyebabkan terganggunya tetangga dan warga sekitar.
Ditambah lagi, tidak semua selera musik orang sama antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan selera musik ini seharusnya tidak menjadi sumber konflik, selama kita mampu saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu bersikap dewasa dan toleran dalam menikmati musik sesuai porsinya. Bahkan, kadang di lingkungan keluarga pun, banyak anak-anak yang merasa terganggu ketika salah satu pihak keluarga yang menyetel musik terlalu keras di malam hari, bahkan hingga mengalami gangguan pendengaran, gangguan tidur, stres, kecemasan, gangguan kesehatan mental, gangguan konsentrasi, gangguan keseimbangan, dan gangguan kesehatan kardiovaskular (Kompasiana, 2023).
Tak hanya berdampak pada nonpendengar, musik jamet nyatanya juga memberikan dampak negatif bagi pendengarnya. Seseorang yang sering mendengar musik dengan tempo yang cepat ketika sedang membaca, memiliki pemahaman membaca yang kurang dari kemampuan rata-rata orang (William Forde Thompson, E. Glenn Schellenberg, & Adriana Katharine Letnic, 2012). Temuan ini mengungkapkan bagaimana mendengarkan musik dengan tempo yang cepat dan keras memiliki risiko besar untuk mengganggu pemahaman bacaan. Selain itu, melalui penelitian oleh Kim dan Zauberman (2019) berjudul “The effect of music tempo on consumer impatience in intertemporal decisions” secara langsung menyatakan bahwa musik bertempo cepat cenderung meningkatkan ketidaksabaran dan membuat sikap tergesa-gesa saat waktu tunggu, di mana mereka merasa lebih lama saat menunggu secara subjektif. Ini juga yang menyebabkan tempat perbelanjaan tidak pernah memutar musik dengan tempo cepat dan keras, yakni guna membuat pelanggan berlama-lama di dalam tempat perbelanjaan.
Dalam hal kesehatan juga, dijelaskan bagaimana suara keras atau kebisingan, termasuk musik yang keras, dapat memicu hipersensitivitas pendengaran, kecemasan, dan iritabilitas pada beberapa individu (Micah Abraham, 2022). Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan bahkan ketegangan. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders menyebutkan bahwa paparan suara keras dari musik keras (musik jamet, rock, hip hop, dan lain sebagainya) secara terus-menerus dapat menjadi penyebab utama gangguan pendengaran yang diinduksi oleh kebisingan (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL). Hal ini yang dapat merusak sel-sel rambut halus di koklea, bagian telinga bagian dalam yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal suara ke otak.
Musik adalah salah satu media yang mengubah emosi seseorang. Oleh karena itu, musik dapat digunakan sebagai magnet oleh warkop-warkop untuk menarik perhatian para pembeli. Keberadaan musik menjadi pertimbangan orang-orang dalam menentukan warkop yang akan dikunjungi. Keberadaan musik jamet di warkop dapat memicu perasaan positif, seperti kebahagiaan dan keceriaan. Banyaknya orang yang menyukai musik-musik yang diputar di warkop membuat pendapatan warkop meningkat.
Akan tetapi, pemutaran musik-musik jamet di warkop ini memiliki dampak negatif bagi pendengar maupun nonpendengar. Orang yang sering mendengar musik jamet atau musik dengan tempo cepat memiliki pemahaman membaca yang kurang dari rata-rata dan musik tersebut terkadang membuat orang menjadi tidak sabaran. Bagi nonpendengar, penyetelan musik bervolume tinggi di malam hari dapat mengganggu lingkungan sekitar warkop. Kesimpulannya, penyetelan musik jamet di warkop memang memiliki pengaruh positif, tetapi warkop juga harus mempertimbangkan dampak negatif dari penyetelan musiknya.
Referensi
Rukmana, F. I., 2501409080. (2015). Pengaruh Musik DJ terhadap Persepsi, Perilaku, dan Penampilan para Pengunjung di Liquid Café Semarang [Skripsi]. In A. Rachman S. Pd, M. Pd., J. Wiyoso S. Kar, M. Hum., A. Nuryatin M. Hum., E. Raharjo M. Hum., S. Syah S. ,. M. Hum., & S. Aesijah M. Pd., Jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. https://lib.unnes.ac.id/22745/1/2501409080.pdf
Nourwahida, C. D., & Nugroho, M. N. (2020, October 8). Fenomena Electronic Dance music terhadap gaya hidup di kalangan remaja urban (Studi kasus Komunitas Martin Garrix Indonesia). https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/54487
Bruner, G. C. (1990). Music, mood, and marketing. Journal of Marketing, 54(4), 94–104.
Kirana, M. W. (2024). PERAN MUSIK DALAM PRODUKTIVITAS BEKERJA DI DEPARTEMEN PRODUCT PT PINTAR PEMENANG ASIA. In Titis Setyono Adi Nugroho, Kustap, I Nyoman Cau Arsana, Daniel De Fretes, & Prof. Dr. Andre Indrawan, Program Studi Musik. http://digilib.isi.ac.id/17057/2/MAULA%20WAYTISI%20KIRANA_2024_BAB%20I.pdf
Setiyaningrum, A. (2006, Juli). Pengaruh musik pada perilaku berbelanja konsumen. MUIN, 35(7), 38. Diakses dari Universitas Indonesia Library: https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/old44/92220-MUIN-XXXV-7-Juli2006-38.pdf
Djohan. (2024). Psikologi musik. PT Kanisius Yogyakarta.
Wessman, A. E., & Ricks, D. F. (1966). Mood and personality. Holt, Rinehart, & Winston.
Kinapti, T. T. (2024, November 19). Arti Kata-kata JJ, Istilah Populer yang Sering Digunakan di Media Sosial. merdeka.com. https://www.merdeka.com/jatim/arti-kata-kata-jj-istilah-populer-yang-sering-digunakan-di-media-sosial-239021-mvk.html?page=3
Istilah, P. D. (2023, July 27). Mengenal Arti JJ dan Istilah Populer Lainnya di Tiktok. Kumparan. https://kumparan.com/pengertian-dan-istilah/mengenal-arti-jj-dan-istilah-populer-lainnya-di-tiktok-20sEzWk9Uov
Aprilianto, M. B. (n.d.). Asal Muasal Tren Musik Jedag Jedug alias Indo Bounce, Viral! IDN Times. https://www.idntimes.com/hype/entertainment/membedah-tren-musik-jedag-jedug-indo-bounce-00-sd4vv-580dbl
Imam. (2023, Desember). Pengaruh musik dan emosi pada psikologis seseorang. Psikologi UMA. https://psikologi.uma.ac.id/pengaruh-musik-dan-emosi-pada-psikologis-seseorang/&sa=D&source=docs&ust=1752115995022776&usg=AOvVaw3sp2gXLtB09Wogb-netVMt
Lundqvist, L. O., Carlsson, F., Hilmersson, P., & Juslin, P. N. (2008). Emotional responses to music: Experience, expression, and physiology. Psychology of Music, 37(1), 289‑301. https://www.google.com/url?q=https://journals.sagepub.com/doi/epdf/10.1177/0305735607086048&sa=D&source=docs&ust=1752115995022208&usg=AOvVaw1-2WFSHy5W9hM0CwMX1QJp
Cherry, K. (2024). How listening to music can have psychological benefits. Verywell Mind. https://www.google.com/url?q=https://www.verywellmind.com/surprising-psychological-benefits-of-music-4126866&sa=D&source=docs&ust=1752115995023327&usg=AOvVaw3uGNyqE800JiSoBzPQVbZl
Dwiputra, K. O. (2019). Manfaat mendengarkan musik tempo cepat saat olahraga. KlikDokter. https://www.klikdokter.com/gaya-hidup/sehat-bugar/manfaat-mendengarkan-musik-tempo-cepat-saat-olahraga
Victor, D. (2023). How music can reduce stress and improve mental health. Harmony and Healing. https://www.harmonyandhealing.org/how-music-can-reduce-stress/
Babel Today. (2024, Maret 10). Aksi Live Music Warkop Komang Menuai Protes Warga. Babel Today.com. https://babeltoday.com/aksi-live-music-warkop-komang-menuai-protes-warga/&sa=D&source=docs&ust=1752115995029358&usg=AOvVaw2tmetLyOLWIn7w4_kRxonh
Diyana, T. N. (2023). Tetangga yang Suka Menyetel Musik Keras, Apakah Mereka Berhak atau Egois?. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/tominurdiyana/655c8e3eee794a3f703b8e32/tetangga-yang-suka-menyetel-musik-keras-apakah-mereka-berhak-atau-egois
Thompson, W. F., Schellenberg, E. G., & Letnic, A. K. (2011). Fast and loud background music disrupts reading comprehension. Psychology of Music. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0305735611400173?casa_token=gzLStoWB89MAAAAA:IsZKo085w_PlLVQygHJ0kWE9iWAdkCHeD7i9OQ1-qe7fZ9Vha5OefPgv0i2kXmQdzjmj8Nvi8EACJg&casa_token=HRsID2LChpUAAAAA:_CqlHto2z-AocppiABbaJ1t_s_uj95gONk_GPILi44UZz7JjkXR7ilrG86M5De33jPzy879cDcKQFw
Abraham, M. (2022). Hypersensitivity To Sound And Anxiety Disorders: Symptoms, Causes and Proven Solutions. CalmClinic. https://www.calmclinic.com/anxiety/symptoms/hypersensitivity-to-sound
NIDCD. (n.d). Noise-Induced Hearing Loss. NIDCD. https://www.nidcd.nih.gov/health/noise-induced-hearing-loss

