Di ekonomi yang semakin mencekik, harga segelas cocktail mungkin sudah setara dengan biaya makan 3 hari anak kost. Tidak heran jika Generasi Z perlahan mulai mencari cara baru untuk ‘bersenang-senang’. Terbukti dari isi timeline sosial media yang perlahan bertransformasi dari dunia malam menjadi pendakian gunung atau lari pagi. Hal ini menandai transformasi Gen Z dalam memaknai kesenangan dan status sosial di tengah tekanan ekonomi serta kesadaran akan kesehatan.
Antara Tren dan Tekanan Mental: Mengapa Gen Z Memilih Sadar?
BPS mencatat konsumsi alkohol penduduk usia ≥ 15 tahun mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Di kelompok usia produktif (15–24 tahun), angka konsumsi merosot tajam dari 0,21 liter pada 2023 menjadi hanya 0,13 liter pada 2025. Penurunan hampir 40% dalam dua tahun ini mengonfirmasi bahwa kelompok muda adalah motor utama di balik pergeseran budaya konsumsi ini.
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga turut menjadi bahan pertimbangan generasi muda dalam keputusan untuk minum alkohol. Generasi muda menganggap minum alkohol sebagai aktivitas yang kontraproduktif terhadap stabilitas emosional dan kejernihan berpikir. Sebagai generasi yang tumbuh di ruang yang terus berkembang, kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi mendorong mereka untuk lebih selektif terhadap apa yang mereka konsumsi.
Di tahun 2018, Ruby Warrington meluncurkan sebuah buku yang berjudul Sober Curious. Judul bukunya menjadi populer dan kerap dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di generasi muda zaman sekarang. Gerakan ‘sober curiosity’ memberi dorongan agar manusia meninjau ulang hubungan mereka dengan alkohol, dan mempertimbangkan untuk menguranginya atau berhenti sama sekali demi kesehatan fisik maupun mental. Gerakan ini menawarkan perspektif bahwa kualitas interaksi sosial dan kesehatan fisik-mental dapat dicapai dengan lebih optimal tanpa harus bergantung pada pengaruh suatu zat.
Selera Baru di Balik Gaya Hidup yang Berkembang
Pergeseran tren ‘sober curious’ di Indonesia tidak hanya didorong oleh kesadaran kesehatan, tetapi juga oleh kalkulasi dompet yang semakin realistis. Di tengah tekanan ekonomi, harga minuman beralkohol meroket tajam, terutama pasca berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160 Tahun 2023 tentang kenaikan tarif cukai etil alkohol. Bagi Gen Z, menghabiskan jutaan rupiah untuk satu bottle service di klub malam kini terasa kurang masuk akal dibandingkan mengalokasikan dana tersebut untuk hobi lain.
Sebagai substitusi, geliat industri kopi dan minuman non-alkohol justru mencapai puncaknya. Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) 2025, Indonesia kini menduduki peringkat kedelapan dunia dalam konsumsi kopi domestik, dengan angka yang diproyeksi menembus 4,81 juta kantong pada 2026. Kopi bukan lagi sekadar penahan kantuk, melainkan mata uang sosial baru.
Ruang-ruang publik kini beralih fungsi. Jika dulu meja-meja bundar di bar menjadi pusat interaksi, kini gerai kopi yang jumlahnya mencapai 461.991 unit (Data GoodStat, Desember 2025) menjadi markas utama. Tren Work From Cafe (WFC) mempertegas bahwa Gen Z lebih memilih bersosialisasi sambil tetap produktif. Dibandingkan generasi tua yang melihat kopi sebagai konsumsi sehari-hari, Gen Z cenderung mengonsumsi kopi secara lebih kasual dan situasional (Jakpat, 2024). Artinya, bagi generasi muda ini, nilai kopi tidak hanya terletak pada khasiat, tetapi juga pada experience yang menyertainya. Fenomena ini turut mendorong pertumbuhan industri kopi di Indonesia yang diperkirakan mencapai 11,58 miliar dolar pada 2025 (Statista, 2025).
Selain kopi, munculnya ‘demam’ minuman artisan seperti matcha dan teh susu premium, seperti Teazzi atau Chagee, menawarkan alternatif gaya hidup yang dianggap lebih estetik dan ‘bersih’. Pilihan ini memperkuat citra diri yang sehat tanpa kehilangan momen berkumpul dengan teman.
Dari Party ke Pace: Pergeseran Cara Gen Z Indonesia Menikmati Hiburan
Gerakan ‘sober curious’ mulai meluas di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, banyak warganet yang menganggap dunia malam sebagai hal ‘wah’ yang dapat dibanggakan. Namun, semuanya berubah, timeline sosial media yang dahulu diwarnai oleh dunia malam perlahan beralih ke sisi terang, seperti aktivitas lari pagi, pilates, tennis, padel hingga pendakian gunung. Yang awalnya hanya berniat ikut-ikutan atau FOMO, perlahan mulai terbawa arus hingga akhirnya menjadi rutinitas harian.
Dalam wawancara bersama Faiq, mahasiswa Manajemen Bisnis, mengaku bahwa dirinya terpengaruh dunia malam karena lingkungan dan pergaulan. Yang awalnya hanya sebatas nongkrong di kafe, perlahan-lahan bergeser ke klub malam. Yang awalnya hanya murni penasaran berujung rasa gengsi jika tidak bergabung.
“Di dunia malam, ada strata sosial yang terasa nyata saat kita bisa show off. Rasanya “keren” bisa duduk di sofa atau table bersama pengusaha atau orang-orang dengan background tertentu sambil menghabiskan banyak uang untuk lifestyle tersebut. Padahal kalau diingat sekarang, itu sebenarnya memalukan,” ujar Faiq.
Perlahan-lahan, Faiq mulai menjauhi dunia malam, terlebih lagi ketika Faiq mengetahui bahwa satu botol alkohol itu mengandung kadar gula yang sangat tinggi. Efeknya sangat nyata, dia bisa naik 6 kg dalam sebulan hanya karena minum. Padahal, dirinya dahulu membutuhkan usaha ekstra dalam mendapatkan berat badan yang ideal. “Keinginan untuk kembali ke sana (dunia malam) tentu masih ada. Tapi, saya tahu diri. Jika saya ke klub lagi, saya tidak akan bisa hanya duduk dan mendengarkan musik; pasti akan ikut minum karena tekanan lingkungan setelah jam 12 malam. Jadi, lebih baik berhenti total,” Faiq menambahkan.
Bagi seorang Faiq, definisi keren itu adalah saat seseorang sehat, memiliki badan yang ideal, serta menjaga pola makan dan jam tidur. Faiq sekarang memilih untuk melakukan pola hidup sehat dengan melakukan workout di pagi hari, seperti push up dan sit up sebelum akhirnya melakukan aktivitas berat. Faiq juga berpesan supaya tidak mendengarkan omongan orang yang bilang lemah karena tidak minum, “Daripada buang uang berjuta-juta untuk merusak organ tubuh, lebih baik uangnya dialokasikan untuk investasi seperti crypto atau membantu orang yang membutuhkan. Ingat, alkohol itu merusak otak dan lambung, bahkan bisa memicu perilaku kasar hingga pembunuhan. Mabuk itu bisa bikin orang resek dan berbahaya bagi orang lain. Berhentilah sebelum terlambat, tidak ada hal bagus dari menjadi seorang alkoholik,” tutup Faiq.
Perspektif Lapangan: Antara Tren dan Realitas Pasar
Dari sisi pelaku industri, pergeseran ini dirasakan sebagai tantangan sekaligus peluang. Dalam wawancara bersama seorang pengelola toko minuman beralkohol di sebuah pusat perbelanjaan, mengungkapkan bahwa konsumsi alkohol belum hilang sepenuhnya, namun polanya berubah menjadi lebih ‘ekonomis’.
Ia menyebutkan bahwa penjualan minuman beralkohol di toko ritel masih banyak dibeli karena harganya jauh lebih murah dibanding di bar atau klub. Tak hanya karena murah, Gen Z kini lebih menyukai mixed drinks dengan varian rasa buah seperti mangga atau blueberry dengan kadar alkohol rendah (sekitar 20%). Hal ini menunjukkan bahwa ada keinginan untuk tetap menikmati alkohol, namun dalam bentuk yang lebih ringan, manis, dan ramah di kantong sebagai jembatan antara budaya party lama dan versi diri yang baru. Meskipun minuman non-alkohol kian populer, inovasi di toko minuman alkohol seperti ini tetap terbatas pada variasi rasa minuman campuran, bukan beralih sepenuhnya ke produk non-alkohol.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup Gen Z masih berada dalam fase transisi. Walau tren hidup sehat mulai menguat, namun jejak budaya party masih tetap bertahan dalam bentuk yang lebih adaptif. Pada akhirnya, industri dan konsumen sama-sama sedang mencari titik tengah baru di mana kesenangan tidak harus selalu berarti mengorbankan kesehatan maupun finansial.
Kurasi Gaya Hidup: Menemukan ‘High’ dalam Kesadaran
Fenomena ‘sober curiosity’ di Indonesia bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan sebuah bentuk rekalibrasi nilai di kalangan anak muda. Pergeseran dari budaya party ke healthy mencerminkan bagaimana Gen Z melakukan kurasi terhadap gaya hidup yang lebih pragmatis dan berkelanjutan. Di satu sisi, tekanan ekonomi memaksa mereka menjadi konsumen yang lebih cerdas; di sisi lain, kesadaran akan kesehatan mental dan fisik menjadi kompas utama dalam menentukan apa yang pantas masuk ke dalam tubuh mereka.
Transformasi ini membuktikan bahwa definisi ‘keren’ telah mengalami pergeseran radikal. Jika dulu status sosial diukur dari kemewahan meja di klub malam, kini validasi sosial ditemukan dalam disiplin lari pagi, performa badan yang ideal, hingga produktivitas di gerai kopi. Hiburan tidak lagi dipandang sebagai bentuk pelarian destruktif atau escapism semata, melainkan sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas hidup.
Pada akhirnya, meskipun industri alkohol tetap mencoba beradaptasi dengan format yang lebih ekonomis, arus utama generasi ini telah memilih jalannya sendiri, yakni gaya hidup yang lebih jernih, lebih sehat, dan tentu saja, lebih masuk akal secara finansial. Menjadi bagian dari ‘sober generation’ bukan berarti menolak kesenangan, melainkan memilih kesenangan yang tidak menghancurkan masa depan.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2025). Konsumsi alkohol oleh penduduk umur ≥15 tahun dalam satu tahun terakhir (liter per kapita), 2023–2025. Badan Pusat Statistik.
Fares, O. H., & Panetta, M. (2024, November 26). The rise of ‘sober curiosity’: Why Gen Zers are reducing their alcohol consumption. The Conversation. https://theconversation.com/the-rise-of-sober-curiosity-why-gen-zers-are-reducing-their-alcohol-consumption-243775
GoodStats. (2026, January 16). Indonesia punya kedai kopi terbanyak. https://goodstats.id/infographic/indonesia-punya-kedai-kopi-terbanyak-ZjYfQ
Jakpat. (2024). Indonesia consumer on coffee. Jakpat Survey Report.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160 Tahun 2023 tentang tarif cukai etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol, dan konsentrat yang mengandung etil alkohol.
Statista. (2025). Coffee market revenue in Indonesia.
United States Department of Agriculture. (2025). Indonesia coffee annual report. USDA Foreign Agricultural Service.
Zahira, A. (2025, December 24). Warga RI Ramai-Ramai Tinggalkan Minuman Alkohol, Ada Apa? CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/research/20251224144032-128-697058/warga-ri-ramai-ramai-tinggalkan-minuman-alkohol-ada-apa

