“Negara ‘tak bosan-bosannya mempermainkan amarah kita. Perppu Cipta Kerja yang trabas-trobos kiri kanan malah disahkan di tengah penolakan ramai berkumandang. Kacau!” ujar Melki, Ketua BEM UI.
Tepat satu hari sebelum DPR mengadakan Rapat Paripurna yang akan membahas mengenai pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Cipta Kerja (Perppu Ciptaker), aksi penolakan terhadap peraturan tersebut kembali dijalankan oleh mahasiswa di depan Gedung DPR RI pada Senin (20/3).
Diketahui pula bahwa aksi ini dihadiri oleh mahasiswa dari luar Jabodetabek, seperti mahasiswa dari Universitas Padjajaran dan Universitas Pattimura. Selain dari elemen mahasiswa, masyarakat turut meramaikan titik aksi untuk menyuarakan penolakan mereka terhadap Perppu ini.
Penolakan Perppu Ciptaker Menjadi Fokus Utama Massa Aksi
Setelah melakukan long march dari depan Gedung TVRI hingga Gedung DPR RI, aksi dimulai dengan pembacaan orasi dari berbagai perwakilan universitas dengan damai. Selain itu, mereka juga menggaungkan lagu-lagu perjuangan untuk membakar semangat.
Fadli Yudhistira (Fadli) selaku Menteri Sosial Politik BEM UPN Veteran Jakarta mengaku bahwa pada dasarnya mahasiswa memiliki berbagai macam tuntutan yang ingin diutarakan pada aksi ini. Namun, ia berujar bahwa aksi ini sudah menjadi kesepakatan bersama sehingga tuntutan aliansi lain dikesampingkan. “Tuntutan kita (mahasiswa) secara besarnya adalah menolak Perppu Cipta Kerja karena begitu urgent dan kita lihat ini begitu mepet untuk melakukan penolakan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua BEM UI, Melki Sedek Huang (Melki) mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang bermain-main dengan amarah rakyat sekaligus hukum. “Indonesia ini negara demokrasi. Kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan Puan (Puan Maharani), bukan di tangan Gibran (Gibran Rakabuming), bukan di tangan Jokowi, dan bukan di tangan mereka semua yang kita pilih pada saat pemilu!” tegasnya saat menyampaikan orasi.
Ia menambahkan, “Kawan-kawan, yang terdampak dari Perppu Cipta Kerja bukan hanya kita para mahasiswa. Para buruh, para petani, para nelayan, seluruh rakyat Indonesia terdampak dari buruknya Perppu Cipta Kerja!”
Aksi Diisi dengan Kericuhan antara Massa dengan Pihak Lain
Geram karena perwakilan pemerintah tidak ada yang menggubris aksi ini, massa mulai merusak kawat berduri yang telah dipasang oleh aparat keamanan, mencorat-coret dinding Gedung DPR menggunakan cat semprot, hingga melakukan pembakaran ban sehingga area aksi dipenuhi kepulan asap hitam.
Aksi semakin memanas ketika pihak aparat keamanan enggan untuk melakukan blokade jalan di depan Gedung DPR yang memaksa massa aksi juga untuk menutupi jalan tersebut. Aksi blokade yang bertujuan untuk memberikan tekanan kepada anggota DPR agar keluar menemui massa aksi ini justru menimbulkan keributan antara mahasiswa dengan pihak keamanan dan para pengguna jalan. Namun, keributan ini berhasil diredakan dan keadaan kembali kondusif.
Perppu Ciptaker akan Memberikan Efek Domino dalam Kehidupan Masyarakat
Dalam aksi ini, sejumlah wanita yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) turut hadir untuk menolak keras Perppu Ciptaker. Menurut mereka, peraturan ini sudah menyalahi konstitusi karena sudah ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya. “Ketika Perppu ini disahkan nantinya, Perppu ini akan menjadi neraka bagi pekerja serta mahasiswa dan surga bagi para pejabat,” ujar salah satu perwakilannya.
Mereka juga mengatakan Perppu Ciptaker akan memberikan dampak domino dalam kehidupan masyarakat karena peraturan ini akan terus bergulir untuk pekerja dan mahasiswa. Oleh sebab itu, mereka berharap Perppu ini akan dicabut oleh pemerintah. Perwakilannya melanjutkan, “Karena bagaimanapun, sebagai orang tua, kami berpikir tentang kelangsungan hidup anak kami jika nantinya Perppu ini disahkan dan diberlakukan.”
Pengesahan UU Ciptaker dan Aksi Lanjutan yang Menanti
Pada Selasa (21/3), pemerintah memutuskan untuk mengesahkan Perppu Ciptaker menjadi UU Ciptaker. Lantas, hal ini menimbulkan amarah bagi masyarakat yang telah melakukan tuntutan penolakan terhadap peraturan tersebut. Dalam Instagram-nya, Melki berpendapat, “Kita tak bisa lagi percaya pada legislatif, produk hukum bodoh mereka selalu membuat kita sakit hati.”
Dengan disahkannya UU Ciptaker ini, massa dari berbagai universitas setuju untuk melakukan konsolidasi dan menggelar aksi yang lebih besar. “Kami akan memenuhi titik-titik pemerintahan serta melawan dengan membawa ribuan mahasiswa dan rakyat untuk berjalan kami, juga akan mengadakan konsolidasi lanjutan dan kembali turun ke jalan dengan masa yang lebih masif lagi,” tegas salah satu perwakilan mahasiswa dalam press release.
Editor: Anindya Vania dan Muhammad Ramadhani


Discussion about this post