Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

Ulasan Buku “The Book Thief”: Keteguhan di Tengah Perpecahan

by Angeline Novita
18 Agustus 2024
in Sastra, Umum

Berlatar pada Perang Dunia II sekaligus era Nazi di Jerman, buku “The Book Thief” karya Markus Zusak ini berfokus pada kehidupan seorang gadis muda asal Jerman bernama Liesel Meminger. Masa muda Liesel yang seharusnya diwarnai dengan kebahagiaan pun terpaksa harus dicampuri oleh peperangan dan pergolakan politik.

Dititipkan oleh sang ibu, Liesel tinggal di kota Molching bersama orang tua angkatnya, Hans Hubermann dan Rosa Hubermann. Hans Hubermann hadir sebagai pria yang tenang dan penuh kasih sayang. Setiap malam, ia membacakan buku untuk Liesel dan mengajarinya cara membaca. Di sisi lain, walaupun keras dan mudah marah, Rosa Hubermann juga menyayangi Liesel layaknya anaknya sendiri.

Terpaksa didewasakan oleh keadaan, Liesel tumbuh menjadi anak yang tangguh, berani, dan mandiri. Walau begitu, Liesel hidup dengan dihantui bayang-bayang kematian adik laki-lakinya dan sering kali mengalami mimpi buruk. Kehidupan Liesel diisi dengan tergabung dalam Bund Deutscher Mädel (bagian dari Hitler Youth khusus perempuan), mengantar pesanan laundry, belajar membaca dengan Hans, bermain bersama sahabatnya, Rudy Steiner, dan sesekali mencuri.

Haus akan literasi dan pengetahuan, Liesel beberapa kali mencuri buku. Tindakannya ini pertama kali ia lakukan kepada seorang penggali kubur yang tengah menguburkan mendiang adiknya, kemudian ia pula mencuri tumpukan buku yang dibakar saat peringatan ulang tahun Hitler, yang dilanjutkan dengan beberapa kegiatan pencurian buku lainnya.

Persahabatan Jerman dan Yahudi

Pada masa pemerintahan Adolf Hitler, pembantaian kelompok Yahudi terjadi di mana-mana. Hasilnya adalah entah pengungsian bagi yang mampu secara finansial atau kematian bagi yang tidak.

Suatu hari, rumah keluarga Hubermann didatangi oleh Max Vandenburg, seorang pria Yahudi yang sedang bersembunyi dari kejaran Nazi. Bukanlah orang asing, Max merupakan anak dari teman lama Hans ketika masih bekerja bersama di militer Jerman pada Perang Dunia I. Kedatangannya menghadirkan dilema moral pada keluarga Hubermann, mengingat konsekuensi berat yang dapat menimpa mereka jika diketahui membantu menyembunyikan orang Yahudi. Namun, terlepas dari dilema tersebut, mereka tetap menunjukkan kemanusiaan dan keberanian yang luar biasa dengan menyembunyikan Max di basement rumah.

Mendapati bahwa mereka memiliki beberapa kesamaan, dimulai dari mimpi-mimpi buruk yang menghantui setiap malam hingga pengalaman dengan kehilangan dan kematian, Max pun menjadi sahabat baru bagi Liesel. Bahkan, selama berada di persembunyian rumah Liesel, Max menciptakan buku untuk Liesel yang ia berikan judul “The Word Shaker”.

Ini menjadi salah satu aspek yang menarik dalam buku ini. Di tengah penindasan yang dilakukan oleh orang Jerman pada Yahudi, Liesel dan keluarganya sebagai orang Jerman justru berteman dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk seorang Yahudi tanpa terpengaruh oleh stigma yang terbentuk di masyarakat. Hal ini sekaligus mengingatkan kita untuk tidak menerima mentah-mentah apa yang menjadi pemikiran masyarakat, melainkan tetap kritis serta berdiri teguh melawan kebencian dan ketidakadilan.

Melihat Dunia melalui Kacamata Malaikat Maut

“Even death has a heart.”

Menarasikan kisah Liesel melalui perspektif malaikat maut merupakan aspek terunik dari buku karya Markus Zusak ini. Alih-alih menampilkan sisi stereotip malaikat maut yang terkenal suram dan menyeramkan, penulis menunjukkan sisi emosional dan manusiawi dari malaikat maut. Sepanjang cerita, pembaca dapat melihat betapa rapuhnya malaikat maut dalam melaksanakan pekerjaannya, yaitu mengambil jiwa-jiwa yang meninggal. Tidak hanya itu, sisi humanis malaikat maut juga terlihat ketika ia harus menyaksikan kehilangan yang dialami oleh orang-orang yang ditinggalkan. Dengan menggunakan sudut pandang ini, penulis mengajak pembaca untuk merasakan lebih dalam sisi emosional dari perang dan konflik.

“I’ve seen so many young men over the years who think they’re running at other young men. They are not. They’re running at me.”

Tidak sekadar menjadi narator dan saksi atas kejadian-kejadian di hidup Liesel, ia juga tidak jarang memberikan komentar-komentar tentang manusia dan kematian, mendorong pembaca untuk berefleksi dan memahami cerita lebih dalam. Sudut pandang ini juga mengingatkan pembaca tentang betapa dekatnya kematian dengan kehidupan manusia serta mengajak pembaca untuk melihat kompleksitas antara kehidupan dan kematian.

Sejarah Nyata di Balik Tirai Fiksi

Kisah Liesel Meminger memang bukan diambil dari kisah nyata, namun Markus Zusak memadukan fakta sejarah di Jerman pada era Nazi dengan kisah fiksi, seperti penindasan kelompok Yahudi, pengeboman beberapa kota di Jerman, pembakaran buku oleh organisasi Nazi, kamp kematian di Polandia, dan peristiwa Kristallnacht.

Tidak hanya memberikan konteks sejarah untuk mendukung latar cerita, penggabungan antara fiksi dan peristiwa sejarah mampu menciptakan rasa emosional bagi para pembaca, mengingat apa yang terjadi di buku benar-benar terjadi di dunia nyata pada masanya. Ini mendorong pembaca untuk merasakan dampak perang dan kekejaman rezim Nazi secara lebih personal. Juga, membangkitkan kesadaran pembaca atas peristiwa-peristiwa sejarah di Jerman.

Pelajaran Hidup dari si Pencuri Buku

Walaupun “The Book Thief” berlatar belakang Perang Dunia II sekaligus memperlihatkan kekejaman rezim Nazi, Markus Zusak mampu menghadirkan kisah yang inspiratif dan penuh makna. Kisah Liesel Meminger adalah bukti bahwa selalu ada ruang untuk persahabatan, cinta, dan ketulusan, bahkan di tengah-tengah penderitaan. Keberanian paling kuat dapat ditemukan dalam kondisi paling putus asa.

Liesel juga mengajarkan pembaca untuk terus melanjutkan hidup, walau di tengah rasa kehilangan atau duka, yaitu dengan cara membaca. Kecintaannya pada buku membantu Liesel untuk mengatasi rasa duka atas kehilangan adiknya juga memahami dunia di sekitarnya.

Secara keseluruhan, buku ini sangat membekas di hati pembaca. Tidak hanya direkomendasikan untuk para pecinta kisah fiksi sejarah, tetapi juga untuk semua orang yang ingin memahami bagaimana hangatnya kasih sayang, pengorbanan, dan persahabatan mampu menjadi cahaya dan harapan di tengah dunia yang penuh kegelapan dan kekejaman.

Related Posts

Nyeri
Sastra

Nyeri

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind
Kilas Riset

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide